Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 114


__ADS_3

Enam buah mobil yang akan mengantarkan keluarga Bramantya ke rumah peristirahatan milik keluarga Sanjaya yang berdekatan dengan rumah peristirahatan keluarga Edwardo tempat akan dilangsungkannya pernikahan antara Deli dengan Jero.


Semua penumpang sudah tertidur dengan tenang, sehingga semua pengawal kompak untuk membawa mobil dalam kecepatan agak tinggi, mereka harus cepat sampai di rumah peristirahatan.


Tepat pukul sebelas malam, enam buah mobil yang membawa keluarga besar Bramantya sudah memasuki halaman rumah peristirahatan milik keluarga Sanjaya.


Semua pengawal membangunkan para penumpang di mobil mereka masing masing.


"Udah sampe aja?" tanya Dina kaget saat pengawalnya membangunkan Dina dan Deli.


"Siap sudah Nona. Kita sudah sampai" jawab pengawal sambil menatap ke arah Dina.


"Kok bisa cepat? Kalian ngebut?" tanya Dina kepada pengawalnya itu.


"Maaf Nona. Tidak terlalu ngebut cuma kecepatan delapan puluh kilometer per jam" ujar pengawal menjawab pertanyaan dari Dina.


"Mantap. Itu bawa mobil atau bawa gerobak?" tanya Dina sambil menatap ke arah pengawal yang membawa mobil dalam kecepatan penuh.


"Maaf Nona" ujar pengawal yang hanya bisa meminta maaf saja.


Dina dan Deli turun dari dalam mobil. Mereka menuju ke tempat keluarga mereka yang sudah duduk di teras rumah.


"Din kok bisa cepat sampainya?" tanya Dian yang kaget mereka cukup cepat sampai di rumah peristirahatan.


"Mereka bawa mobil ngebut. Kayaknya mereka waktu kita tidur membawa mobil kayak orang di kejar hantu" ujar Dina sambil menatap ke arah pengawalnya yang hanya bisa menunduk saja.


"Sudah jangan dimarahi juga. Mari kita masuk. Sudah malam" ujar Ayah mengajak keluarga besarnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ayah, apa Ayah sudah menghubungi Papi mengatakan kalau kita sudah ke sini?" tanya Dina kepada Ayah yang terlihat sudah hampir masuk ke dalam rumah.


"Sudah Din. Tadi saat di mobil Ayah menghubungi Papi untuk memberikan kabar kita sudah jalan ke sini" jawab Ayah sambil menatap ke arah Dina dan Deli.

__ADS_1


"Oh baiklah." ujar Dina.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam rumah. Sedangkan para pengawal menurunkan semua barang barang milik keluarga besar itu.


"Ayah Bunda, kamar Ayah dengan Bunda di sini ya" ujar Dian menunjukkan kamar Ayah dan Bunda yang terletak di lantai satu rumah peristirahatan.


"Sedangkan yang lainnya di atas aja. Silahkan pilih kamar yang mana mau" kata Dian selanjutnya kepada sahabat sahabatnya.


"Kita bertiga satu kamar aja. Kapan lagi tidur bareng bareng" ujar Dian yang menginginkan mereka untuk tidur bertiga dalam satu kamar.


"Untuk para pengawal di lantai ini ada kamar tiga lagi di lorong itu. Silahkan beristirahat di sana" ujar Dian kepada para pengawal.


"Dian, kita coba pakaiannya besok lagi saja. Kalau masalah kebesaran atau kekecilan kita kondisikan saja nanti" ujar Ayah yang teringat kalau Dian ada membawakan mereka pakaian untuk mereka pakai saat acara pernikahan Deli dan Jero.


"Oke Ayah, kita istirahat dulu aja" jawab Dian yang setuju untuk mencoba pakaian yang dia bawa besok saja.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam kamar masing masing. Deli dan kedua sahabatnya berada dalam satu kamar. Mereka ingin menghabiskan malam ini hanya bertiga saja.


"Belum tau. Kalau Jero masih butuh gue, gue lanjut. Kalau nggak tentu gue keluar" jawab Deli yang berharap masih diizinkan oleh Jero untuk terus bekerja di perusahaannya itu.


Deli tidak ingin hanya duduk duduk saja di mansion keluarga Edwardo. Apalagi kalau sempat Jero meminta mereka untuk pindah rumah, maka akan semakin kesepian Deli saat ditinggal kerja oleh Jero.


"Terus loe manggil Jero gimana besok setelah menikah? Nggak mungkin loe manggil Tuan Jero" lanjut Dian yang kali ini penasaran dengan panggilan ala yang akan dipakai oleh Deli kepada Jero.


"Loe ada ada aja Yan, gue ya belum tau mau manggil dia apa. Gue aja sampe sekarang belum ada diskusi apapun sama dia" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Dian yang dirasa oleh Deli sangat tidak jelas itu.


"Mana tau sudah menikah panggilannua suamiku, istriku, Ayah, Daddy atau yang lainnya gitu. Masak kau udah suami istri kalah sama anak anak kecil zaman sekarang" ujar menggoda Deli sambil tersenyum penuh arti.


"Ye suamiku. Jijik aku dengernya. Aku belum kepikiran sampe sana mau manggil apa, yang jelas panggil aja besok kok apanya" ujar Deli sambil mengusap tengkuknya saat mendengar Dian meminta dia memanggil Jero dengan kata suamiku.


"Jadi, loe dengan Jero belum ada pembicaraan lebih lanjut selain hanya saat dia mengajak untuk menikah?" tanya Dian sambil menatap ke arah Deli.

__ADS_1


"Sama sekali nggak ada. Jadi, kalau kalian tanya dimana tinggal, jawaban gue nggak tau. Pertanyaan pertanyaan lainnya jawabannya tetap sama, yaitu tidak tau" ujar Deli sambil tersenyum menatap ke arah dua sahabatnya yang ternyata tingkat kadar kekepoan mereka sungguh luar biasa sekali.


"Deli, apa kita akan tetap bisa kumpul bertiga kalau loe udah nikah ya?" ujar Dina yang takut tidak bisa melihat sahabatnya itu.


"Bisa aja, kalau gue dikasih ijin keluar rumah oleh Jero. Kalau dia ijinkan gue mau aja bertemu sama loe bertiga. Loe berdua tau sendirilah kalau udah bersuami harus ada izin dari suami baru bisa istri keluar dari rumah. Kalau nggak ya mana bisa aku keluar" ujar Deli menjawab keinginan kedua sahabatnya untuk mereka bertiga masih bisa bertemu.


"Semoga aja Jero mengizinkan kamu untuk bertemu dengan kami Deli" ujar Dina yang sangat berharap masih bisa bertemu lagi dengan Deli.


Mereka bertiga terdian sejenak. Dina lihat jam dinding kamar yang ternyata sudah menunjukkan angka satu dini hari.


"Yuk tidur, loe nggak mau kan Deli pas di hari pernikahannya memakai mata panda karena tidak tidur semaleman?" tanya Dian kepada Dina.


"Nggak lah. Yuk tidur" ujar Dina.


Mereka bertiga kemudian beristirahat besok mereka harus bangun pagi. Walaupun acara pernikahan Deli dan Jero akan diadakan jam dia, mereka tetap harus bangun cepat karena akan mencoba pakaian untuk menghadiri acara pernikahan itu.


Sedangkan di mansion keluarga Edwardo. Jero sedang tidur tiduran di atas ranjang, dia sedang menatap tajam ke arah fhoto Deli yang sengaja diambilnya secara diam diam itu.


"Sebentar lagi Deli. Sebentar lagi loe akan nerima akibatnya. Loe akan mendapatkan balasan atas apa yang loe lakuin ke gue. Gue akan buat hidup loe semakin asik ke depannya. Tenang aja Deli" ujar Jero sambil tersenyum bahagia.


"Loe memang punya sahabat Dina, tapi loe nggak akan mungkin membuat malu gue dan keluarga gue. Jadi, gue aman melakukan apa aja." lanjut Jero yang sudah memikirkan semuanya dalam otaknya itu.


"Permainan akan dimulai Deli, mari kita lakukan dan kita ikuti aturan mainnya. Selamat menikmati sayang. Loe akan bahagia" kata Jero sambil tersenyum.


Senyum yang apabila dilihat oleh orang lain, akan membuat mereka lari tunggang langgang, saking mengerikannya senyuman yang diberikan oleh Jero itu.


"Saatnya tidur. Besok adalah hari paling membahagiakan dalam hidup gue. Gue akan pastikan kalau dia akan sangat berbahagia dalam menjalankan pernikahannya dengan gue" lanjut Jero sambil menatap jauh ke depan.


Tatapan seseorang yang penuh dendam dalam hatinya. Dendam yang tidak akan pudar selagi belum di lampiaskan kepada orang yang telah dengan sengaja membuat dendam itu menjadi sebuah momok dalam hidupnya.


Jero kemudian memejamkan matanya. Dia tidak ingin besok penampilannya menjadi tidak sempurna karena matanya yang dilingkari oleh mata panda. Jero ingin terlihat sempurna dan bahagia di hari pernikahannya itu. Tidak lama kemudian Jero akhirnya tertidur juga.

__ADS_1


__ADS_2