
Beberapa hari kemudian ...
Anna sudah mulai bisa beradaprasi dengan baik di apartemen Kirana. Kirana sengaja mengajak Anna tinggal di apartemennya bersama Maya, Ibra dan Syifa.
Kirana mulai mencari satu pengasuh dan satu asisten rumah tangga untuk mengurus rumah dan ketiga anaknya bila ia sibuk kuliah. Soal kedai sudah di berikan kepada Maya untyk di kelola dengan baik.
Seharusnya, Kirana menempati rumah besar Fahad. Kirana menilak dan sementar runah itu di jadikan rumah singgah saja. Karena ia ingin mental Anna bisa di sembuhkan dulu. Ia tidak mau Anna trauma jika melihat rumah besarnya dan masih tinggal di sana. Tentu Anna akan histeris setiap hari mengungat Fahad dan Bu Wardah.
Anna sudah mulai mau makan walaupun masih menempel pada Kirana dab tak mau lepas dari Kirana sedikit pun. Anna sepeeti ketakutan dalam sendiri dan dalam sepi. Anna selalu tidur bersama Kirana dan harus memeluk wanita yang selalubia harapka menjadi pengganti Ibunya.
Memang doanya terkabul hingga takdir membawa Anna menjadi anak Kirana saat ini.
Beberapa bulan kemudian ...
Kehidupan Kirana terasa sangat lengkap sekali. Ia bahagia berada di antara ketiga anaknya. Bersama Ibra, anak kandungnya, Syifa, anak Fatima yang di amanahkan kepada Kirana dan kini Anna yang juga harus di urus bersama.
"Umi kan mau ulang tahun. Kita pergi makan yuk Umi," ucap Anna meminta.
Selama ini Kirana memang sibuk kuliah dan mengerjakan tugas tugas kampusnya yang tak pernah ada kata selesai.
Kirana menatap Anna dengan senyuman manis.
"Kamu ingat tanggal ulang tahun Umi? Dati mana kamu tahu?" tanya Kirana bingung.
__ADS_1
Anna masih terlalu kecil membajas soal ulang tahun. Usianya juga masih bisa di katakan terbilang sangat muda.
"Dari Papah Fahad. Papah Fahad selalu melingkari hari ulang tahun Umi. Setiap ranggal yang sama setiap bulannya, Papah selalu membeli kue ulang tahun kecil untuk di tiup oleh kita berdua di kamar Papah. Papah selalu bilang, kalau mau Umi Kiran menjadi Mama Anna. Anna harus berdoa amsetiap hari dan memohon dengan sungguh sungguh," ucap Anna pelan.
Ingatannya bersama Papah Fahad menjadi kenangan tersendiri bagi Anna. Anna sedikit pun tidak menangis mengingat Papah Fahad. Malahan Kirana yang sedih dan trenyuh sambil menitikkan air matanya lalu memeluk Anna dengan erat.
"Anna sayang ... Kamu mau makan apa? Kamu pilih restaurant mana yang mau kamu tuju. Biar nanti Umi Kiran yang pesan dengan semua menu yang kamu suka," ucap Kirana pelan.
"Oke. Janji ya Umi. Tidak sibuk di haru ulang tahun Umi," ucap Anna pelan.
"Iya sayang. Umi janji sama Anna," ucap Kirana pelan.
Satu bulan menjelang ulang tahun Kirana. Anna sudah mempersiapkan semuanya bersama asisten sekaligus pengacara Papah Fahad yang di percaya bertugas mengurus Anna.
Kedua mata Kirana sudah di tutup oleh kain gelap. Anna menggandeng Kirana menuju salah satu resaturant pilihan Anna tanla di ketahui oleh Kirana.
Selama ini Kirana bertanya mau makan di mana, Anna selalu menjawab nanti saja Umi. Sampai hari H nya ternyata Anna sudah mempersiapkan sebuah acara yang pernah di buat oleh Papah Fahad namun tak pernah terlaksana.
"Kapan Umi bisa buka matanya? Umi mau di bawa kemana?" tanya Kirana yang sudah merasa tak nyaman berjalan dengan mata di tutup.
"Sebentar lagi Umi. Umi memang gak mau mencari Aby untuk kami beryiga?" tanya Anna pelan.
"Umi kan sudah punya suami. Suami Umi sekarang lagi mencari uang buat Ibra, Syifa dan kamu, Anna," jawab Kirana dengan senyuman.
__ADS_1
Sebenarnya mereka sudah berada di sebuah restaurant yang sudah di pesan oleh Anna.
"Gitu kah? Lalu, kapan aby pulang?" tanya Anna pelan.
Kieana diam. Otaknya mulai berpikir untuk mecari jawaban yang tepat dan benar hingga tak menimbulkan pertanyaan baru bagi Anna yang cukup kritis akan hal hal yang berbau sensitif.
"Kita tunggu saja. Pasti aby akan pulang," ucap Kirana pelan.
Dadanya berdegup dengan keras. Jantungnya terus terpacu seperti akan ada sesuatu hal besar terjadi.
"Umi ... Anna buka ya, tutup matanya," ucap Anna pelan.
Kirana mengangguk pasrah dan menunggu saat itu. Akan ada kejutan apa ini yang telah menantinya.
"Umi pegang ini," ucap Anna pelan memberikan sebuah kotak kecil.
"Apa ini?" tanya Kirana pelan sambil meraba raba kotak kecil itu.
Rasanya makin campur aduk. Sampai sebuah tangan terasa sedang membuka ikatan yang menutupi kedua matanya.
Ikatan itu sudah terlepas. Kirana mengerjapkan kedua matanya yang lentik beberapa kali untuk menormalkan kembali pandangannya agar tidak berbayang akibat sinar lampu yang menyorot pada kedua retina itu.
"Barakallah fii umrik wanita kesayangan Mas."
__ADS_1