Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 75


__ADS_3

"Bentar, pria gesrek? Nah gue jadi curiga ini" ujar Dina memandang Deli. Dina sangat penasaran sekali dengan siapa yang dimaksud oleh Deli itu


Dina dari tadi menunggu nunggu Deli untuk kesal dan mengucapkan semuanya. Ternyata memang benar Deli mengucapkan semuanya saat hari telah malam, bertepatan dengan rasa kantuk yang sudah menyerang mata mereka bertiga.


"Besok gue cerita. Capek gue kalau sekarang" ujar Deli sambil memeluk guling miliknya dan berusaha menghindar dari kejaran kedua sahabatnya itu.


Dina dan Dian tidak akan membiarkan Deli lepas begitu saja dari kejaran pertanyaan dan rasa ingin tahu mereka berdua. Mereka harus mendapatkan jawaban dari kata pria gesrek yang diucapkan Deli dalam keadaan sadar.


"Yah nggak asik" jawab Dian dan Dina kompak. Mereka berharap Deli mau menceritakan saat ini juga.


Mereka berdua kemudian mendekat ke arah Deli. Mereka berharap Deli mau melanjutkan ceritanya. Mereka benar benar penasaran dengan pria gesrek tersebut.


"Bodo amat" jawab Deli menatap ke mata rekan rekannya yang berada di sana.


Deli kemudian mengambil gulingnya dan memeluknya. Dina dan Dian dengan kompak menarik guling tersebut. Mereka tidak membiarkan Deli untuk beristirahat. Deli yang sudah pasrah dengan apa yang diinginkan oleh Dina dan Dian akhirnya membuka mulutnya kembali.


"Besok ya Nak Dina dan Nak Dian. Mamak Deli pengen tidur dulu. Besok Mamak kalian ini harus menemui pria gesrek itu. Mamak tidak mau kehilangan fokus saat menemui dia. Oke. Besok, pas tidur di rumah Dian. Oke." ujar Deli sambil menutup matanya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Tapi" ujar Dian yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"No tapi tapi. Gue beneran capek anak orang. Gue besok harus kerja. Kalian enak mau jam berapapun berangkat bisa. Nah gue? Bisa bisa dimakan gue sama Tuan Jero terhormat itu. Oke kita tidur ya. Please" ujar Deli memohon kepada Dian dan Dina untuk diizinkan tidur.


"Ya udahlah. Awas kalau loe nggak cerita besok. Kami akan paksa loe untuk ngomong" ujar Dian mengancam Deli.


"Nggak ada kata kata, gue besok kantor. Kalau elo berdua okelah bisa telat. Nggak ada alasan itu sama sekali" ujar Dian sambil menatap ke arah Dina meminta persetujuan. Dina mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Dina.


Deli menatap Dian dan Dina. Dia mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian.


Mereka kemudian memejamkan mata untuk menuju alam mimpi. Hari yang berat dilalui oleh Dian. Hari penuh drama dilalui oleh Deli. Sedangkan Dina tetap dengan kesibukannya memimpin begitu banyak bisnis yang harus dikendalikan oleh dirinya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi harinya, Deli sudah bangun terlebih dahulu dibandingkan kedua sahabatnya yang masih enak bergelung di atas kasur sambil masih memakai selimut. Mereka berdua masih belum terlihat tanda tanda untuk bangun. Deli membiarkan saja kedua sahabatnya itu untuk melanjutkan tidur mereka. Deli sama sekali tidak berniat untuk membangunkan kedua sahabatnya itu


"Kalau dia telat mah nggak akan ada yang komplent, kalau gue yang telat, uwow sudah pasti tu herder menyalak ndak jelas aja" ujar Deli melibat keadaan kedua sahabatnya itu.


Deli yang telah selesai mandi, memakai pakaian kantornya. Hari ini dia memakai atasan kemeja warna biru muda dan rok yang panjangnya sepuluh centi di bawah lutut berwarna dongker. Tak lupa Deli membelitkan scraf warna senada di lehernya yang jenjang itu. Deli sengaja melakukan itu untuk menghindarkan tatapan pria gesrek itu.


"Turunan bule mah memang suka melihat yang jenjang jenjang dan natural seperti gue. Jadi, gue harus menghindari hal itu" ujar Deli sambil tetap memoles makeup ke wajah cantiknya dengan gaya natural.


Deli, Dina dan Dian tidak suka sama sekali memakai make-up yang tebal. Jangankan untuk memakai, melihat orang memakai make-up tebal, mereka bertiga seperti melihat topeng yang sedang berjalan.


Setelah selesai memakai make-up nya. Deli mengambil sepatu, sebuah sepatu tinggi dengan kisaran tujuh centi. Deli kemudian keluar dari kamar. Dia menuju meja makan, di sana terlihat kak Hendri sudah memakai pakaian kerjanya. Dia sudah siap untuk berangkat ke perusahaan.


"Mana Dian sama Dina, Del?" tanya Hendri yang melihat Deli keluar kamar sendirian, tanpa kedua sahabatnya itu. Hendri sudah tau kalau Dian pasti ketiduran karena rasa capeknya kemaren. Jadi Hendri mau tidak mau harus profesional terhadap semua kegiatan yang akan dilakukan.


"Biasa Kak, masih tidur" jawab Deli sambil duduk di kursi di depan Hendri.


"Bener tebakan gue" ujar Dian sambil menatap ke arah Kodim tempat mereka bekerja kalau lulus tes.


Deli mengambil sarapannya. Dia harus bergegas ke perusahaan karena jam delapan dia sudah harus berangkat kembali menuju perusahaan Demian Perez untuk mengambil dokumen kerja sama yang belum tentu di terima perusahaan Perez atau tidak sama sekali.


"Bergegas banget Del, mau kemana coba?" tanya Ayah bertanya kepada Deli, saat melihat Deli makan dengan sangat bergegas.


Ayah dan Hendri keheranan melihat gaya Deli sarapan untuk hari ini. Deli sarapan benar benar ngebut.


"Deli takut telat Ayah. Dari rumah Deli ke perusahaan dulu. Siap itu harus ke perusahaan Perez untuk mengambil dokumen kerjasama yang belum tau hasilnya" ujar Deli sambil masih mengunyak sarapannya.


"Ya udah, kamu makan hati hati. Nanti keselek, jadi susah sendiri" ujar Ayah mengingatkan Deli untuk makan dengan hati hati.


Deli kemudian kembali diam. Dia melanjutkan makan sarapan yang tinggal dua suap itu. Selesai menikmati sarapannya, Deli berpamitan kepada Ayah, Bunda dan Hendri.

__ADS_1


"Hati hati di jalan sayang. Jaga diri ya. Kalau ada yang macam macam lawan aja. Jangan takut" ujar Ayah yang sebenarnya cemas membiarkan Deli datang sendirian ke perusahaan Perez untuk mengambil dokumen kerjasama itu.


Ayah mengenal siapa itu Demian Perez, seorang pengusaha muda yang kembali membangkitkan perusahaan Perez yang hampir tenggelam di dunia bisnis.


Demian Perez kemudian datang dengan ide ide kreatifnya da merombak seluruh manajerial perusahaan milik keluarganya itu. Akhirnya perusahaan Perez kembali bangkit dan menjadi bagian dari perusahaan perusahaan dengan pendapatan yang luar biasa itu.


Deli kemudian berangkat menuju perusahaannya. Dia kali ini tidak membawa bekal sarapan untuk Jero dan Felix. Mereka berdua tidak ada yang mengabari Deli untuk membawakan bekal.


Deli kali ini membawa mobil Ayah. Mobil yang lebih mewah dari pada mobil Kak Hendri. Deli mengemudikan mobilnya keluar dari pagar rumah sekaligus pagar masuk kafe. Bertepatan dengan Deli yang hilang di tikungan jalan. Dua mobil mewah parkir di depan kafe.


Jero, Felix dan Papi serta Mami turun dari dalam mobil. Mereka berencana untuk sarapan di kafe Bunda.


Bunda dan Ayah yang melihat siapa yang datang langsung menyambut Tuan dan Nyonya besar Edwardo.


"Selamat pagi Tuan Edwardo sudah lama sekali kita tidak berjumpa" ujar Ayah menyapa Tuan besar Edwardo.


"Saya kemaren sempat ke luar Tuan Bramantya, makanya saya jarang kemari. Nah kemaren sore baru pulang, paginya langsung ke sini" ujar Tuan Edwardo berbicara kepada Ayah.


"Mari silahkan duduk. Mau pesan apa?" tanya Ayah sambil menaruh daftar menu ke depan Tuan dan Nyonya Edwardo.


"Pesan seperti biasa saja Tuan. Kami mau makan katupek gulai tunjang, gulai toco masing masing nya dia porsi." ujar Tuan Edwardo menyebutkan pesanan mereka berempat.


"Satu lagi Tuan, jangan lupa gorengan" ujar Nyonya besar menambahkan pesanan untuk mereka berempat.


Mami melihat lihat ke sekeliling, dia seperti mencari seseorang. Mata Mami menatap ke setiap pojok kafe. Setiap ada pelayan yang membawakan pesanan pengunjung, Mami pasti menatapnya dan langsung menggeleng saat melihat bukan orang yang di maksud oleh Mami.


"Siapa yang Mami cari Mi?" tanya Felix saat melihat Mami menatap ke berbagai sudut kafe.


"Menantu Mami sama sekretaris Jero yang cantik dan baik itu. Mami yakin dia pasti pintar." ujar Mami dengan nada yang sudah aneh. Mami sudah memiliki satu stock untuk Kak Hendri.


"Tumben muji orang Mi. Ada apa?" tanya Papi yang heran Mami memuji orang lain.


Mereka sekeluarga tau kalau Mami sangat jarang memuji orang lain. Mami akan bersikap biasa saja seperti tidak ada kejadian apapun atau seperti tidak tau kalau ada yang lebih pintar dibandingkan keluarga mereka.


Mami sangat tahu kalau dia memang dari dahulunya tidak pernah memuji orang atau bahkan meremehkan orang. Mami akan bersikap datar saja kepada semua orang. Sikap yang sangat jarang dipakai oleh orang lain.


Dina dan Dian yang terlambat bangun itu langsung bergegas menyiapkan kebutuhan mereka. Mereka gerak cepat memakai pakaian dan juga make up. Mereka tidak boleh telat terlalu lama. Bisa malu mereka nanti di kantor. Setelah selesai bersiap siap, Dina dan Dian menuju Container untuk mengambil sarapan. Saat itulah Dian melihat keluarga Edwardo sudah berada di kafe.


"Din, itu keluarga calon mertua loe udah datang. Nggak loe sapa mereka" ujar Dian berkata kepada Dina sambil memonyongkan bibirnya ke arah keluarga Edwardo sedang duduk menunggu sarapan mereka datang.


"Dina, kamu mau ke situ Nak?" tanya Bunda kepada Dina yang terlihat ingin melangkahkan kakinya menuju ketempat kekasih dan juga keluarganya itu berada.


"Iya Bun. Apa sarapan mereka sudah di antar?" tanya Dina kepada Bunda yang terlihat sedang menyiapkan sarapan.


"Ini sedang Bunda siapin Nak. Tolong kamu bawa sekalian ya ke sana." ujar Bunda meminta tolong kepada Dina.


"Oke Bun. Sini, Dina bawain sekalian" ujar Dina sambil mengambil semua sarapan yang akan dihidangkan untuk keluarga besar Edwardo.


Sedangkan Dian langsung melihat Hendri yang sudah duduk menyilangkan kakinya. Dian menuju ke tempat Hendri berada sambil membawa nasi goreng untuk sarapan.


Dian melihat Hendri yang sedang cemberut itu. Dian hanya bisa diam saja. Dia tidak tau akan mulai bertanya apa kepada Hendri. Dian sama sekali tidak berbicara. Saat sudah selesai sarapan, Dian pergi meletakkan piring ke tempat kotor.


"Sayang, aku udah siap. Mari kita berangkat pergi jemput Papi dan Mami" ujar Dian dengan semangat berbicara kepada Hendri.


Hendri diam saja. Dia sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Dian kepada dirinya. Dian yang melihat Hendri hanya diam saja kembali duduk di kursi dekat Hendri.


"Sayang, ada apa?" tanya Dian yang tidak tau salahnya dimana, sehingga membuat Hendri harus terdiam lama. Dian tidak ingin Hendri larut dalam emosinya dan menganggap kalau isi dalam tas hitam itu adalah laptop.


"Kamu malam tadi masih sempat juga mengambil semangko ke rumah kami. Rumah kami dalemnya tu di dakek surau" ujar Hendri sambil menatap tajam Dian. Kali ini Hendri betul betul marah dengan sikap Dian.


"Kamu tau ini jam berapa Dian?" ujar Hendri kepada Dian. Hendri memperlihatkan jamnya kepada Vina.

__ADS_1


Hendri menatap tajam Dian dengan tatapan mematikannya. Dian tidak bergeming sama sekali. Dian masih saja diam.


"Aku tidak marah kok. Kamu mau bangun jam berapapun, saat hari libur. Ini hari kerja Dian. Gimana karyawan kamu bisa disiplin kalau kamunya saja berbuat semau kamu" ujar Hendri kepada Dian.


Dian melihat ke arah Hendri. Dian tau kali ini adalah salah dirinya sendiri. Dirinya telah membuat Hendri menjadi marah. Dian sama sekali tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Hendri.


"Dian, aku berharap mulai ini ke atas kamu beraikap profesional. Aku tau kamu CEO di perusahaan Sanjaya maupun di perusahaan kamu sendiri. Tapi aku minta sama kamu, berikanlah contoh yang baik kepada karyawan kamu" ujar Hendri memberikan nasehat kepada Dian.


Dian hanya diam saja. Dia sama sekali tidak membantah apa yang dikatakan oleh Hendri.


"Kamu marah sama aku Dian?" tanya Hendri kepada Dian.


Dian menggeleng lemah. Dia memang tidak marah sedikitpun kepada Hendri, malahan dia senang Hendri menyemangatinya dan juga memberikan komentar untuk Dian berubah ke hal yang lebih baik lagi.


"Ngapain aku harus marah sayang, malahan aku senang kamu mau menasehati aku saat aku salah. Aku janji, aku tidak akan bangun telat lagi" ujar Dian menjawab perkataan Hendri, sekaligus berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dian berjanji akan berubah kepada Hendri.


"Syukurlah sayang kalau kamu tidak marah dan menyadari kalau kamu salah. Aku nggak akan menghakimi kamu sayang. Bagi aku kalau kamu mau aku nasehati dan berikan masukan, maka akan aku lakukan. Tapi kalau tidak, maka aku akan membiarkan saja lagi." lanjut Hendri sambil tersenyum kepada Dian, kekasihnya yang ternyata hatinya sungguh lebar untuk menerima kritikan dan masukan dari Hendri.


"Ye masak dikasih tau yang baik marah sayang. Lagian ya sayang, aku tu percaya sama kamu. Kamu nggak akan mungkin mau menjerumuskan aku. Makanya aku nggak marah sedikitpun sama kamu" ujar Dian sambil menatap mesra ke wajah Hendri.


"Ehem. Udah sana ke bandara, nanti Papi dan Mami lama menunggu" ujar Bunda yang tiba tiba datang dan berdehem tepat di depan mereka berdua yang sedang saling pandang dengan mesra itu.


"Bunda gangguin aja" ujar Dian sambil tersenyum kepada Bunda.


"Gimana lagi. Udah siang, kalian harus kerja kalau mau goyang goyang kaki saat usia senja" ujar Bunda memberikan pesan kepada kedua anaknya itu.


"Siap Bunda. Kami pergi sekarang. Kami pamit ya" ujar Dian sambil mencium tangan dan pipi Bunda.


Hendri melakukan hal yang sama dengan Dian. Setelah itu mereka berdua pergi mencari Ayah ke dalam rumah. Mereka bersalaman dengan Ayah.


"Hati hati di jalan Hendri. Jangan ngebut ngebut" ujar Ayah menitipkan pesan seperti itu setiap hari kepada Hendri maupun Deli.


Mereka berdua kembali ke kafe. Dian terlihat ingin berjalan ke suatu tempat.


"Kemana ?" tanya Hendri saat melihat Dian mau pergi melangkahkan kakinya bukan menuju pintu pagar melainkan belok kiri.


Ternyata Dian menuju Dina yang sedang duduk dengan semua anggota keluarganya itu.


"Din, gue duluan ya. Gue mau pergi jemput Papi dan Mami. Nanti pulang kantor loe langsung aja ke rumah. Gue hari ini nggak ke kantor" ujar Dian kepada Dina sahabatnya itu.


Sahabat yang sama sama telat bangun tadi pagi. Untung saja Dina tidak kena marah oleh Felix.


"Nanti jam lima gue ke mansion loe. Gue sama Deli dari sini aja ya. Deli kayaknya hari ini bawa mobil Ayah ke perusahaan" ujar Dina yang sama sekali tidak melihat mobil Ayah, tetapi melihat mobil Hendri di garasi.


"Oke. Loe sama Deli berangkat dari sini aja. Gue jalan duluan ya. Loe hati hati kerja" ujar Dian kepada Dina.


Mereka berdua kemudian berpelukan. Salam perpisahan yang selalu mereka lakukan bertiga. Malahan kalau ada ketiga tiganya di mobil, mobil yang tenang seketika akan menjadi seperti konser. Mereka bertiga berebutan untuk berbicara.


"Tuan Besar, Nyonya Besar dan Tuan Muda Edwardo, Saya permisi mau berangkat kerja dulu" ujar Dian kepada keluarga Edwardo.


"Hati hati Nak. Besok jangan panggil Tuan dan Nyonya lagi, panggil aja Papi dan Mami." ujar Mami yang nggak mau dipanggil dengan kata Tuan dan Nyonya besar, kesannya terlalu mewah dan nggak bisa dihabiskan.


Setelah berpanitan dengan semua orang yang ada di sana, Dian dan Hendri berjalan keluar dari area kafe. Mereka akan pergi menjemput Papi dan Mami ke bandara. Mobil yang mereka tumpangi mulai bergerak meninggalkan parkiran kafe. Tidak berapa lama, mobil mereka menghilang ditikungan jalan besar itu.


Sedangkan keluarga Edwardo masih menikmati sarapan mereka sambil tertawa dan mengobrol ringan.


"Gimana negara A, Mami?" tanya Dina yang suda sangat lama tidak ke negara A. Semenjak keluarganya sudah tidak ada di atas dunia ini, Dina jarang sekali pergi ke negara A.


"Wow keren Din. Kapan kapan kita liburan keluarga ke sana." ujar Mami menjawab pertanyaan dari Dina.


"keren tu Mami. Kita susun jadwal aja. Semoga ne bapak bapak nggak banyak ceritanya kalau sempat banyak cerita, maka bapak bapak turun di jalan" Dina sangat setuju dan luar biasa antusias mendengar mau jalan jalan ke luar negeri bersama keluarga.

__ADS_1


Setelah selesai bercakap cakap. Keluarga Edwardo mulai bergerak meninggalkan kafe. Satu mobil yang ditumpangi oleh Tuan dan Nyonya besar akan kembali menuju mansion. Sedangkan yang mobil satu lagi, sangat penuh, dan barangnya juga luar biasa banyaknya.


Bunda dan Ayah yang melihat kepergiaan semua orang orang hebat itu ikut tersenyum saat mereka semua telah meninggalkan lingkungan kafe.


__ADS_2