Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 78


__ADS_3

Demian yang marah membuat semua karyawan perusahaan Perez menjadi sangat takut. Mereka tidak menyangka sesosok pria tampan, muda dan sangat pintar itu bisa marah seperti ini. Mereka semua tidak pernah melihat Demian yang marah besar. Jangankan untuk marah, saat meeting perusahaan saja, Demian tidak pernah meninggikan nada suaranya. Hal ini membuat semua orang menjadi heran.


Semua karyawan menatap ke arah Deli. Mereka yakin CEO sekaligus Presiden direktur mereka bisa marah seperti ini, karena wanita yang disisinya itu tidak dihargai oleh resepsionis. Apalagi sekarang mereka melihat Demian menggenggam tangan Deli dengan sangat erat.


"Siapa wanita itu bagi presdir kita ya?"


"Oh bahagianya jadi wanita itu"


"Pastinya wanita itu juga dari kalangan terhormat"


Begitu banyak kalimat kalimat yang di dengar oleh Deli. Tetapi, Deli yang sudah terbiasa dengan kalimat kalimat seperti itu hanya membalas dengan tersenyum saja. Dia sama sekali tidak memikirkan ucapan ucapan yang keluar dari mulut mulut karyawan Demian.


Demian terus saja menggenggam tangan Deli sampai mereka berada di dalam ruangan Demian. Deli menatap heran ke arah Demian. Deli menunggu niat Demian untuk melepaskan tangannya. Tetapi, semakin Deli menunggu Demian seperti tidak ada niat untuk melepaskan genggaman tangannya dari tangan Deli.


"Maaf Tuan, apakah tangan saya sudah bisa dilepaskan?" kata Deli sambil menatap tangannya yang masih digenggam erat oleh Demian.


"Eh maaf" ujar Demian kagok.


Demian baru sadar, kalau dia dari tadi menggenggam tangan Deli. Sejak dari lobby, selama dia marah marah sampai dia berada kembali dalam ruangannya.


Demian terlihat sangat canggung. Dia tidak menyangka selama itu menggenggam tangan Deli.


"Santai aja Tuan Demian. Saya tidak akan melaporkan anda ke pihak berwajib karena sudah berani menggenggam lama tangan saya" ujar Deli tersenyum kepada Demian yang terlihat sangat kesal dengan dirinya sendiri.


"Ah kamu masih bisa bercanda Deli. Aku udah syok takut kamu menampar aku, karena sudah berani memegang tangan kamu lama lama" ujar Demian yang akhirnya bisa rileks kembali setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Deli.


"Tuan Demian, saya tidak akan langsung menampar seorang laki laki. Apa lagi tadi saya tahu Tuan lindungi saya. Makanya saya tidak berontak." jawab Deli dengan nada seriusnya.


"Saya benar benar mengucapkan terimakasih kepada Tuan Demian. Jarang jarang ada presdir yang langsung turun ke bawah karena resepsionis mereka tidak menghargai tamu" kata Deli sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum kepada Demian.


"Kamu bisa aja Deli. Oh ya sampai lupa silahkan duduk. Kamu mau duduk dimana terserah saja. Anggap aja ruangan sendiri" ujar Demian sambil berjalan menuju baru kecil yang ada di ruangannya itu.


Deli berjalan mengikuti Demian. Rasa malu karena kejadian kemaren sudah tidak diingat oleh Deli tadi. Sudah impas dengan adegan pegangan tangan lama lama yang dilakukan oleh Demian tadi.


Deli kemudian duduk di kursi mini bar. Dia menatap Demian yang sedang membuatkan Deli secangkir teh hangat.


"Tuan Demian tidak meminta office boy untuk melakukannya?" tanya Deli yang heran dengan sikap Demian yang membuat sendiri minuman untuk tamunya.


"Kalau untuk tamu spesial seperti kamu, aku rela buatnya sendiri" ujar Demian sambil meletakkan secangkir teh yang telah siap diracik nya untuk Deli.


"Nggak ada sianida nya kan ya Tuan?" ujar Deli sambil mengerjap ngerjakan matanya kepada Demian.


"Pelet yang ada" jawab Demian sambil tersenyum.


"Yah tanpa di pelet pun siapapun wanita yang Tuan Demian katakan aku cinta kamu akan langsung nerima Tuan Demian" ujar Deli yang langsung menutup mulutnya saat sadar apa yang telah diucapkannya kepada Demian.


"Serius? Kalau aku mengatakan kepada kamu. Aku Demian Perez mencintai kamu Deli Bramantya, semenjak kamu berkaca di kaca mobil aku. Apa kamu mu menerima aku?" ujar Demian sambil memandang ke arah Deli.


"Haha haha haha, nggak lucu Tuan. Mana ada seorang Demian Perez mencintai aku yang hanya seorang orang biasa ini" ujar Deli sambil mengalihkan pandangannya ke arah luar.


Deli kemudian berdiri dari kursinya. Dia berjalan menuju kaca besar yang dijadikan oleh Demian sebagai dinding ruangannya. Demian memencet salah satu tombol. Kaca yang tadinya buram itu berubah menjadi sangat bening. Sehingga bisa melihat semua pemandangan dan kejadian yang ada di luar.


Deli menatap pemandangan itu dengan sangat bahagia. Dia menatap mobil yang hilir mudik di jalan. Deli juga melihat sebuah gerobak makanan yang begitu ramai dikunjungi oleh pembeli.


Akui


"Itu penjual apa Tuan?" tanya Deli kepada Demian.


"Yang mana?"


Demian berjalan mendekat ke arah Deli. Demian melihat arah telunjuk Deli. Demian sudah tau apa yang ditanyakan oleh Deli kepada dirinya.


"Itu penjual nasi goreng gerobak. Rasanya sangat nikmat, aku setiap hari makan di sana. Tapi hari ini belum sempat, karena menunggu kedatangan kamu." ujar Demian sambil menatap Deli dengan tatapan yang hanya Demian seorang yang tau maknanya.


Deli yang sangat suka nasi goreng langsung perutnya berbunyi nyaring. Demian yang berada di depan Deli, bisa mendengar bunyi perut Deli tersebut.


"Laper buk" ujar Demian menatap ke arah Deli.


"Sebenarnya nggak laper, cuma saat mendengar kata nasi goreng, perut jadi langsung tidak tau malu" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Demian.


"Ayuk ke bawah" ujar Demian langsung menyambar tangan Deli.

__ADS_1


"Kebiasaan" jawab Deli.


"Haha haha haha, biar cepat aja jalannya" jawab Demian tanpa melepaskan tangan Deli dari gengaman tangannya.


"Serah deh" jawab Deli pasrah dengan kelakuan Demian.


Demian dan Deli kemudian masuk ke dalam. Lift yang langsung akan mengantarkan mereka ke lobby perusahaan.


"Tuan, gimana dengan dokumen kerjasaanya?" tanya Deli yang ingat tujuannya bertemu dengan Demian adalah untuk mengambil dokumen kerjasama antara dua perusahaan.


"Gampang itu. Tinggal loe bawa aja. Udah saya tanda tangan" jawab Demian sambil melihat sekilas kepada Deli.


"Jadi, kerjasamanya jadi juga berjalan kan ya?" tanya Deli kepada Demian.


"Jadi, asalkan setiap meeting ada kamu"


"Maunya. Mana ada kesepakatan kerjasama kayak gitu" ujar Deli memberengut kepada Demian.


"Ada" jawab Demian.


"Serah Tuan Demian aja lah. Suka suka Tuan Demian." ujar Deli pasrah dengan apa yang dikatakan oleh seorang Demian Perez.


Mereka berdua telah sampai kembali di lobby perusahaan Perez Grub. Demian dan Deli berjalan menuju pintu keluar perusahaan. Mereka berdua menjadi tatapan semua karyawan yang ada di lobby. Mereka baru sekali ini melihat presdir mereka membawa seorang wanita ke perusahaan. Mereka semua tidak tau sebenarnya Deli mau ngapain ke perusahaan Perez Grub.


Mereka kemudian keluar dari perusahaan sambil berjalan kaki. Setiap karyawan yang berselisih jalan dengan Demian, selalu menganggukkan kepalanya, Demian membalas dengan menganggukkan kepalanya juga walau hanya sekilas. Untuk tersenyum Demian sama sekali tidak melakukannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jero di perusahaan.


Demian tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Deli, membawa Deli untuk menyebrang jalan. Beberapa wartawan mengambil moment tersebut. Deli tidak menyadari sama sekali. Begitu juga dengan Demian. Demian juga tidak tahu kalau ada wartawan di sekitaran perusahaan nya itu.


"Tuan Demian, saya kira hari ini Tuan sakit karena tidak singgah ke gerobak saya" sapa penjual nasi goreng dengan ramah kepada Demian.


"Saya tadi menunggu seseorang yang spesial dulu Pak. Akhirnya dia datang, baru saya kemari" jawab Demian sambil melihat ke arah Deli.


"Calon istri Tuan Demian ayu tenan" ujar istri penjual nasi goreng.


"Kalau nggak Ayu mana mau Tuan Demian toh ibuk. ibuk ada ada aja" jawab bapak penjual nasi goreng


"Saya pesan dua porsi ya Pak nasi gorengnya" ujar Demian yang nggak mau pembahasan masalah Deli semakin panjang dan bertele tele.


"Tuan Demian sering datang kemari?" tanya Deli kepada Demian.


"Yup, tiap hari malahan. Kecuali kalau saya sedang di luar" jawab Demian sambil tidak lepas matanya memandang Deli.


Wanita cantik yang sudah membuat dia kehilangan akal sehatnya semenjak Deli berkaca di kaca mobilnya hari itu. Semenjak itulah Demian menjadi sangat sangat ingin bertemu dengan Deli setiap saat.


"Kalau kamu sarapan biasanya dimana Deli?" tanya Demian sambil memandang wajah cantik Deli.


"Kalau aku sarapan di rumah aja Tuan. Bunda dan Ayah membuka usaha kafe. Kami menyediakan sarapan pagi, makan siang, makan malam. Juga menerima pesanan dari kantor dan perusahaan" ujar Deli mempromosikan kafe Bunda kepada Demian.


"Oh ya, dimana letaknya Deli. Sekali sekali bolehlah aku sarapan atau makan siang ke sana" ujar Demian yang penasaran dengan kafe milik Bunda.


"Aku share lock lokasi aja Tuan." jawab Deli kepada Demian.


Demian mengangguk, dia kemudian meminta ponsel Deli dan menyimpan namanya di sana dengan nama Demian. Deli kemudian mengirim share lock kafe Bunda.


Demian melihat lokasinya. Ternyata lokasi itu tidak jauh dari mansion nya.


"Ini dekat sekali dengan mansion aku Deli. Kok aku bisa nggak tahu ya, kalau ada kafe yang semua komen orang orang mengatakan enak" ujar Demian yang memang sudah membaca semua komentar komentar pengunjung kafe.


"Jangan memutuskan hanya dengan membaca komen aja Tuan. Lebih baik Tuan merasakan dulu bagaimana rasanya makan di kafe kami" ujar Deli yang menyarankan untuk Demian datang dan mencoba masakan yang ada di kafe mereka.


"Besok lah aku ke sana" ujar Demian yang juga penasaran dengan rasa masakan yang ditawarkan oleh kafe Bunda.


Istri penjual nasi goreng datang menghidangkan pesanan dua piring nasi goreng pesanan Demian.


"Silahkan dimakan Deli. Mana tau kamu suka, jadi ada alasan saya tiap pagi untuk ke perusahaan kamu" ujar Demian mulai lagi asal ngomong kepada Deli.


"Maksudnya?" tanya Deli yang gagal paham dengan apa yang dikatakan oleh Demian.


"Ya, dengan kamu menyukai nasi goreng ini, jadi, ada alasan aku untuk berkunjung ke Edwardo, minimal mengantarkan nasi goreng kesukaan kamu" ujar Demian sambil tersenyum.


Deli yang mendengar apa yang dikatakan oleh Demian menjadi ternganga. Mulut Deli terbuka lebar, tidak percaya mendengar apa yang dikatakan Demian barusan.

__ADS_1


Demian yang melihat Deli membuka mulutnya lebar lebar, langsung saja menyuapkan Deli sesendok nasi goreng. Deli yang kaget hanya bisa pasrah dengan sikap Demian yang di luar dugaannya itu.


Beberapa karyawan Demian yang ada di gerobak nasi goreng itu, menatap tidak percaya kepada presdir mereka yang terkenal dingin dan acuh itu.


"ternyata dengan kekasihnya, presdir kita romantis juga"


"Iya sangat romantis"


"Gue nggak nyangka. Padahal kalau di perusahaan atau bertemu wanita cantik lainnya, presdir akan selalu kaku dan dingin kayak kulkas. Kali ini kok beda ya."


"Sepertinya Presdir sangat mencintai kekasihnya itu"


Suara suara yang seperti di perusahaan tadi kembali terdengar. Demian dan Deli hanya diam saja. Mereka berdua menganggap tidak mendengar apa yang dikatakan oleh karyawan Demian.


"Jadi, Tuan Demian yang dari tadi nyerocos terus ke aku, ternyata dingin dan kaku kayak kulkas lalu di depan cewek cantik lainnya." ujar Deli mulai menggoda Demian.


"Berarti aku nggak masuk cantik dong. Huft sia sia perjuangan aku yang ingin terlihat cantik hari ini" ujar Deli sambil memanyunkan mulutnya.


"Oh salah kamu, karena kamu berbeda dengan yang lain makanya aku mau ngomong santai dengan kamu."


"kalau yang lain banyak penjilatnya dari pada niat aslinya."


"Aku capek dengan penjilat"


ujar Demian menyebutkan alasannya kenapa dia kaku dan tidak ramah dengan semua orang.


"Maksud kamu?" tanya Deli penasaran dengan Demian.


"Jangan cerita sekarang ya. Aku janji suatu saat aku akan menceritakan kenapa aku bisa menjadi manusia kulkas di hadapan semua orang" jawab Demian yang meminta Deli untuk tidak memaksa dirinya menceritakan apa yang menjadi penyebab dia menjadi manusia kulkas itu


"Oke sip. Ayuk makan, nanti dingin nasi goreng nya lagi" ujar Deli yang tidak suka makan nasi goreng dalam keadaan dingin.


Mereka berdua kemudian menyantap nasi goreng itu. Selama mereka makan, tidak ada percakapan yang berarti antara Deli dengan Demian. Setelah selesai makan nasi goreng, mereka kembali ke perusahaan Demian. Demian kembali menggandeng tangan Deli.


Saat sampai di depan perusahaan, betapa kagetnya Deli mobil miliknya sudah ada di depan lobby perusahaan Demian.


"Loh kok ada dia di sini ya?" tanya Deli kepada Demian.


"Sudah diperbaiki. Tadi itu bannya aja yang kempes. Kamu karena pengen cepat sampai kemari melanjutkan jalan kaki. Jadinya sampe di sini keringetan. Benerka ya?"


Demian mengatakan apa yang terjadi kepada Deli tadi. Deli tersenyum memandang Demian. Deli mengangguk, memang itulah yang terjadi tadi sebelum Deli sampai di perusahaan Demian.


"Kita ambil dokumen dulu ke atas. Nanti, setelah itu kamu boleh pulang kembali ke perusahaan kamu" ujar Demian sambil menggandeng tangan Deli untuk masuk ke dalam perusahaannya


Mereka berdua akhirnya sampai juga di dalam ruangan Demian. Demian memberikan dokumen kerjasama yang telah ditandatangani nya itu.


"Sampaikan kepada Jero, kalau Demian ingin kerjasama ini berhasil dengan sukses" ujar Demian berpesan kepada Deli.


"siap Tuan Demian. Akan saya sampaikan kepada Tuan Jero" jawab Deli sambil menatap Demian.


"Ayuk aku antar ke bawah"


Demian kemudian mengantarkan Deli sampai mobilnya. Bahkan Demian lah yang membukakan pintu untuk Deli.


"makasi Demian. Senang berkunjung ke perusahaan kamu" ujar Deli sambil tersenyum kepada Demian.


"Sama Deli. Senang berkenalan lebih jauh dengan Kamu" balas Demian


"hati hati di jalan ya. Jangan ngebut ngebut"


Demian mengeluarkan pesannya untuk Deli.


"siap" ujar Deli.


Deli mulai menghidupkan mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Edwardo. Demian melihat mobil Deli yang menghilang ditikungan jalan. Demian kembali ke dalam perusahaannya.


Hati Demian sangat berbunga bunga sekarang ini, dia tidak menyangka Deli akan menyambutnya dengan hangat dan tidak marah dengan semua sikap Demian.


Deli yang berada di dalam mobil, terus tersemyum bahagia. Dia tidak menyangka seorang Demian Perez akan memperlakukan dirinya bak seorang Tuan putri. Deli sangat bahagia sekarang.


Walaupun kata orang Demian adalah kulkas, tapi bagi Deli Demian adalah matahari, Demian yang hangat dan selalu tersenyum untuk Deli.

__ADS_1


__ADS_2