
Dokter menimbang ninbang apa yang diminta oleh Nyonya besar Edwardo itu. Dokter benar benar dalam posisi sulit untuk saat ini. Apakah akan menerima atau menolak keinginan dari Nyonya besar itu.
"Dokter bagaimana?" tanya Mami sambil menatap dengan tatapan penuh intimidasi kepada sang dokter yang terlihat sedikit agak panik itu.
"Apa yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya dokter yang akhirnya pasrah dan menerima permintaan dari Nyonya besar itu, demi kelangsungan karier dan juga keluarga dokter itu sendiri.
"Permintaan saya tidak susah kok dokter." ujar Mami membuka pembicaraan dengan dokter tersebut.
"Dokter lihatkan di luar ada Jero dengan wanita cantik?" tanya Mami kepada dokter.
Dokter semakin tidak mengerti dengan pertanyaan dari Mami. Dokter hanya bisa menganggukkan kepalanya saja dengan pertanyaan yang diberikan oleh Mami kepada dirinya itu.
"Kedua orang itu saling cinta dokter. Tetapi mereka berdua sama sama egois untuk mengungkapkan perasaan masing masing. Makanya, saya mohon dokter untuk membantu saya" ujar Mami kepada dokter dengan tatapan memohon.
Dokter yang berpikiran kepalang tanggung dan juga sudah siap membantu Mami, menganggukkan kepalanya.
"Apa yang harus saya lakukan Nyonya besar?" tanya dokter itu kembali.
Mami kemudian membisikkan ke telinga dokter apa yang harus dilakukan oleh dokter itu. Dokter mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mami.
"Saya tidak menerima kegagalan dokter" ujar Mami kepada dokter tersebut.
" Siap Nyonya besar" jawab dokter yang sudah mengerti dengan permintaan Nyonya besar itu.
"Terimakasih atas bantuannya dokter" jawab Mami kepada dokter tersebut.
"Kapan kita mulai Nyonya?" tanya dokter kepada Mami.
"Sekarang saja dokter. Lebih cepat lebih baik" ujar Mami yang sudah tidak sabaran ingin lagi mewujudkan rencananya itu.
Dokter kemudian mengambil nafas sebentar, dia mempersiapkan dirinya untuk berakting lebih lagi.
"Nyonya, apa saya boleh membawa dua orang perawat untuk melanjutkan misi ini Nyonya?" tanya doker memberikan penawaran kepada nyonya untuk membawa dua orang perawat guna mendukung kegiatan mereka ini.
"Kok gitu dokter?" tanya Mami tidak paham dengan maksud dokter membawa tambahan dua orang perawat dalam kegiatan mereka kali ini.
__ADS_1
"Nyonya serahkan saja sama saya" kata dokter.
"Nyonya tolong tidur ya. Saya akan memulai kegiatannya" ujar dokter meminta Nyonya untuk tidur, mereka akan memulai drama kali ini.
Mami kemudian tidur kembali. Dia mengikuti perintah yang diberikan oleh dokter.
"Suster Rina, suster susan tolong saya" ujar Dokter memanggil dua orang dokter itu untuk masuk ke dalam ruang rawat Mami.
Kedua orang suster yang dipanggil oleh dokrer masuk dengan bergegas ke ruangan rawat Nyonya besar. Jero dan Deli yang melihat menjadi kaget luar biasa. Mereka berdua tidak menyangka kalau Mami masih belum juga sadar, setelah sekian lama dokter berada di dalam.
Saat kedua suster sudah sampai di dekat dokter. Dokter kemudian menjelaskan semuanya kepada kedua suster tersebut. Kedua suster akhirnya mengangguk setuju dengan keinginan dari Nyonya besar dan dokter. Kedua suster membantu dokter menyiapkan alat alat untuk membuat drama ini menjadi seperti nyata.
"Jero gimana Mami?" tanya Papi yang baru datang dari mansion dengan nafas yang masih tersengal sengal karena harus berlari dari lobby rumah sakit yang sangat luas itu.
"belum ada penjelasan dari dokter papi, bagaimana nya keadaan Mami sekarang. Dokter dengan suster masih ada dalam ruangan Mami" jawab Jero yang melihat jam tangannya.
"lama kali papi. ini udah satu jam lewat Mami di periksa Papi, tapi dokter masih belum memberitahukan apa apa kepada kita" ujar Jero memberitahukan kepada Papi, kalau dokter masih belum memberitahukan kepada mereka bagaimana kondisi Mami sebenarnya.
"Sabar Nak. Biarkan mereka bekerja sesuai dengan SOP mereka. Kita tunggu saja" ujar Papi menenangkan Jaro yang mulai tidak sabar menunggu kabar dari dokter.
Tiba tiba saat Papi berusaha menenangkan Jero, pintu ruang rawat Mami terbuka dengan lebar. Seorang dokter berjalan keluar dari dalam ruangan itu.
Dokter menyapa ketiga orang itu dengan ramah.
"Bagaimana dengan istri saya dokter?" tanya Papi menatap mata dokter dengan tajam.
"Kita semua sebaiknya masuk ke dalam ruangan Nyonya besar, Tuan" ujar Dokter mengajak mereka bertiga untuk masuk ke dalam ruangan Mami di rawat.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar rawat Mami. Mami terlihat begitu lemah di atas ranjang rumah sakit. Slang oksigen dan juga infus terpasang di tubuh Mami. Papi yang melihat menjadi sangat sedih dengan keadaan istrinya itu.
"mami kenapa dokter?" tanya Jero melihat Mami yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit itu.
"Nyonya besar terkena serangan jantung Tuan Muda" jawab dokter memberitahukan apa sakit yang diderita oleh Mami.
"serangan jantung mendadak? Semenjak kapan Mami menderita penyakit itu Mami" ujar Papi yang kaget mendengar penyakit yang di derita oleh Mami.
__ADS_1
"Serangan jantung itu, tidak bisa kita prediksi kapan mulainya Tuan Besar" jawab dokter menjawab pertanyaan yang dikeluarkan oleh Papi.
"Jero" ujar Mami memanggil nama Jero dengan sangat pelan.
"Deli" panggil Mami kepada Deli sekretaris dari Jero.
Mereka berdua saling berpandang pandangan antara satu dengan yang lainnya.
"Kalian berdua ke sini" ujar Mami masih dengan suara yang terlihat benar benar seperti orang yang sedang sakit parah.
Dokter dan suster yang tau kalau itu hanyalah acting dari Mami, berusaha untuk menahan senyum dan tawanya. Mereka tidak mau kalau rencana ini akan gagal.
Deli dan Jero mendekat ke arah Mami. Mereka berdiri di sebelah kiri dan kanan Mami.
"Ada apa Mami?" tanya Jero mewakili Deli bertanya kepada Mami.
"Mami, ada satu permintaan kepada kalian berdua. Apakah kalian berdua bersedia, mewujudkan permintaan terakhir Mami ini" ujar Mami berkata dengan terbata bata.
"Mami jangan katakan itu Mami. Mami akan sebuh. Kalau perlu kita berobat ke luar negeri Mami" ujar Jero yang telah berlinang air mata melihat Mami dalam kondisi payah seperti sekarang ini.
"Deli, maukah kamu mewujudkan keinginan terakhir saya?" tanya Mami kepada Deli dengan memandang wajah Deli dengan tatapan memohon.
"Kalau saya mampu akan saya wujudkan Nyonya. Tapi saya mohon jangan katakan itu sebagai permintaan terakhir Nyonya" ujar Deli sambil memegang tangan Nyonya besar yang selalu baik kepada dirinya dan keluarga Bramantya.
"Deli, saya mau kamu menikah dengan Jero." ujar Mami menyebutkan permintaannya kepada Deli.
"Saya ingin, melihat anak saya menikah sewaktu saya masih memiliki nafas ini Deli" lanjut Mami mengatakan apa keinginan dan permintaannya kepada Deli.
"Tapi Nyonya" ujar Deli yang tidak ingin menikah dengan Jero.
Deli tidak mencintai Jero. Terlebih lagi Deli mengetahui kalau Jero memiliki kekasih yang bernama Frenya.
Deli menatap Jero dengan tatapan memohon untuk menikah keinginan Mami. Tapi Jero sama sekali tidak menanggapi keinginan dari Deli. Jero tidak melihat ke arah Deli.
"Ya Tuhan apa lagi ini ya Tuhan" ujar Deli dengan sangat pelan.
__ADS_1
Kalimat yang hanya bisa di dengar oleh Deli sendiri. Tidak oleh orang yang ada di sekitar Deli.
"cobaan apalagi ini Tuhan" lanjut Deli yang tidak. mengerti kenapa nasibnya seperti ini