Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 98


__ADS_3

"Ooo ooo, jadi Deli yang masak nasi goreng untuk Tuan Demian" ujar Dian sambil menatap ke arah sahabatnya yang satu itu.


Deli hanya bisa menatap Dina dan Dian bergantian, dia sudah bisa membayangkan dirinya tidak akan bisa lepas dari cengkraman pertanyaan dari Dina dan Dian nantinya. Apa lagi tadi Deli pergi mencari Dina bersama dengan Demian. Serta sikap Demian selama mereka berada di air terjun terlihat bukan antara sesama rekan kerja. Demian begitu perhatian dengan Deli selama mereka berada di kawasan air terjun,


"Oh ya Deli, apa tadi Jero ke sini?" tanya Felix yang teringat dengan permintaan Dina supaya Jero datang ke kafe Deli dan meminta maaf kepada Deli karena ucapan Jero kemaren kepada Deli.


Deli diam mendengar pertanyaan dari Felix, dia kemudian menatap kepada Demian. Demian mengangguk meminta Deli untuk menceritakan apa yang terjadi kepada semua orang yang ada di sana sekarang ini.


" Tadi benar Tuan Jero dayang ke sini" ujar Deli kepada Dina dan yang lainnya.


FLASH BACK


Jero yang berada di dalam mobil, berpikir bagaimana caranya dia harus meminta maaf kepada Deli. Jero merasa dirinya tidak layak untuk meminta maaf kepada Deli.


"Gimana caranya minta maaf sama dia ya? Kan gue atasan, jadi layak gue mau ngomong apa sama bawahan gue" ujar Jero yang pusing sendiri tidak tau bagaimana caranya meminta maaf kepada Deli.


"Masak iya gue harus minta maaf, mana di sana kafe lagi. Kemana muka gue harus gue letakkan" lanjut Jero sambil berpikir keras bagaimana cara meminta maaf kepada Deli yang tidak akan membuat reputasi dirinya turun bebas.


"Tapi kalau gue nggak minta maaf ke Deli bisa jadi harga saham perusahaan akan kembali turun bebas. Gue akan kena marah Papi dan juga sangat berdampak buruk terhadap perusahaan" ujar Jero yang sudah memikirkan dampak dari kalau dia tidak melakukan apa yang diminta oleh Dina tadi.


"Oke gue akan minta maaf kepada Deli, tapi setelah itu gue akan buat perhitungan dengan dia. Dia akan merasakan bagaimana nantinya" ujar Jero yang pada akhirnya membuat niat jahat kepada Deli.


"Loe akan membuat malu gue dengan meminta maaf kepada elo di tengah orang ramai, maka gue akan membuat hal yang sama bahkan lebih pedih dari pada itu." ujar Jero yang sudah berubah menjadi membenci Deli karena permintaan dari Dina.


"Loe Dina yang harus bertanggung jawab atas perbuatan loe sendiri. Sahabat terbaik yang selalu loe puja puja itu akan menerima semua akibatnya Dina." ujar Jero yang menanamkan kebencian di dalam hati dan otaknya kepada Deli.


"Gue janji, gue akan menggunakan berbagai cara untuk membuat sahabat loe itu menjadi hancur. Loe akan menyesal Dina atas permintaan dan juga tindakan loe yang membuat harga saham perusahaan gue turun" lanjut Jero dengan wajah penuh kebencian dan amarah.


Jero kemudian melajukan mobilnya dalam keadaan penuh emosi dan amarah ke arah kafe Bunda Deli. Dia akan melakukan hal yang diminta Dina, tetapi setelah itu dia akan memberikan balasan yang setimpal dengan apa yang diterimanya nanti di kafe Bunda Deli.


Jero mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi, dia ingin cepat sampai di kafe tersebut dan cepat menyelesaikan apa yang diminta oleh Dina. Setelah itu Jero akan pulang ke mansion dan menyusun rencana rencana untuk pembelasan kepada Deli.


Akhirnya setelah berkendara tidak beberapa lama dan dalam keadaan emosi, Jero akhirnya sampai juga di kafe Bunda Deli. Jero memarkir mobilnya tepat di belakang sebuah mobil mewah yang sama sekali tidak di kenal oleh Jero siapa pemilik mobil mewah tersebut.

__ADS_1


"Keren juga ne mobil, mobil keluaran terbaru bulan ini, gue aja belum mendapatkannya masih inden, ee ee orang ini sudah memilikinya" ujar Jero saat melihat mobil mewah yang berada di depannya sekarang ini.


Jero kemudian turun dari dalam mobil, dia melangkahkan kakinya dengan berat untuk masuk ke dalam kafe Bunda. Bunda yang melihat siapa yang datang langsung menghampiri Jero dengan ramahnya. Keramahan ciri khas dari keluarga Bramantya selama ini.


"Selamat malam Tuan Jero, silahkan masuk. Tuan Jero mau pesan makanan apa?" tanya Bunda kepada Jero yang terlihat sedang mencari cari seseorang dari gerakan matanya.


Bunda memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jero.


"Tuan Jero mencari siapa?" tanya Bunda sambil memegang pundak Jero untuk menyadarkan Jero dari fokus dirinya mencari seseorang di kafe itu.


Jero yang dari tadi tidak mendengar Bunda menjadi kaget saat Bunda dengan beraninya memegang pundak Jero. Jero dengan lembut melepaskan tangan Bunda dari pundaknya.


"Maaf Nyonya, aku ke sini mencari Deli. Apa Deli ada?" tanya Jero sambil melihat sebentar ke arah Bunda dan kembali matanya berkeliling mencari keberadaan Deli saat ini.


"Ooo, ooo Tuan Jero mencari Deli, Deli ada di dalam, mari ikut Bunda, Bunda akan antarkan Tuan Jero ke tempat dimana Deli berada sekarang" ujar Bunda berjalan di depan Jero.


Bunda akan mengantarkan Jero ke tempat dimana Deli berada sekarang. Jero mengikuti Bunda dari arah belakang. Jero memang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Deli dan menuntaskan apa yang diminta oleh Dina.


' Ini semua demi perusahaan gue' ujar Jero dalam hatinya.


"Nak Jero di sana di dekat Tuan itu Deli duduk" ujar Bunda mengantarkan hanya sampai di situ saja Jero.


"Makasi Nyonya" jawab Jero


Bunda kembali ke container untuk membuat pesanan pengunjung yang bisa dikatakan tidak seramai biasanya. Sedangkan Ayah kali ini tidak berada di kafe, Ayah tadi harus ke supermarket membeli beberapa kebutuhan yang habis untuk membuat minuman.


Jero kemudian berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Bunda tadi. Dia melihat Deli sedang mengobrol dengan seorang pria yang terlihat seperti pebisnis handal itu.


Betapa kagetnya Jero saat melihat siapa yang sedang mengobrol dengan Deli tersebut. Jero berusaha menahan hatinya, dia terlihat santai saja.


"Tuan Jero" ujar Deli berdiri dengan wajah terkejut saat melihat Jero datang mendadak seperti sekarang ini.


Apa lagi sekarang Deli sedang bersama dengan Demian, Deli tidak mau kalau anggapan Jero selama ini dianggap oleh Jero adalah sebuah kebenaran.

__ADS_1


"Deli" ujar Jero dengan santainya.


Demian sama sekali tidak berdiri, dia sekarang terlihat sangat marah dengan Jero.


"Demian" sapa Jero yang akhirnya terpaksa harus menyapa Demian.


Jero takut kalau nanti dia tidak menyapa Demian, akan berakibat kepada kerjasama perusahaan Edwardo dengan perusahaan Perez Grub.


"Jero" jawab Demian dengan terlihat sangat enggan menyapa Jero.


Demian sama sekali tidak menutupi rasa tidak sukanya dengan Jero. Jero melihat rasa tidak suka yang diperlihatkan oleh Demian secara terang terangan itu.


'Kesalahan loe berikutnya Deli, loe sudah membuat rekan bisnis gue menjadi tidak suka sama gue' ujar Jero mulai menghitung semua kerugian yang diterima oleh dirinya karena permintaan Dina tadi.


"Silahkan duduk Tuan Jero" ujar Deli masih ramah kepada Jero.


"Tidak perlu Deli, Saya ke sini hanya mau mengatakan, kalau saya meminta maaf kepada kamu, karena perkataan saya kemaren sudah menyinggung perasaan kamu dan sudah merendahkan kamu" ujar Jero yang pada akhirnya bisa juga mengeluarkan kata kata itu walaupun dengan menahan rasa kesal dalam hatinya.


Beberapa pengunjung yang mengenal Jero menatap dengan menahan senyum mereka saat mendengar Jero mengatakan permintaan maaf kepada Deli yang para pengunjung tahu kalau Deli adalah bawahan Jero.


Jero melihat ke arah pengunjung, pengunjung yang mendapat tatapan tajam dari Jero akhirnya tidak lagi melihat ke arah Jero. Mereka tidak ingin berurusan dengan Jero Edwardo.


"Tidak perlu meminta maaf Tuan, Saya sudah memaafkan Tuan" jawab Deli dengan sugguh sungguh.


Demian sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa apa, Demian hanya diam saja mendengar percakapan antara Deli dengan Jero. Demian sama sekali tidak mau membuka suaranya. Demian takut kalau sampai dia bersuara maka urusan akan semakin runyam saja.


Jero bisa membaca semua itu. Jero tau kalau Demian juga marah kepada dirinya. Tapi Demian masih berusaha untuk tidak ikut campur dalam urusan antara Jero dan Deli, hal berbeda yang dilakukan oleh Demian.


"Baiklah Deli, terimakasih sudah memaafkan saya, kalau begitu saya pamit dulu" ujar Jero.


Jero sama sekali tidak menunggu jawaban dari Deli, Jero langsung saja meninggalkan tempat terkutuk yang sudah membuat dirinya menahan malu itu. Jero melangkahkan kakinya menuju mobil.


Jero mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi untuk meninggalkan kafe itu.

__ADS_1


"Deli, loe akan menerima semuanya, itu janji gue Deli. Janji seorang Jero Edwardo" ujar Jero sambil berteriak dengan sangat kerasnya.


__ADS_2