
Deli yang tertidur di balkon terbangun karena angin dingin yang sudah mulai menusuk ke tulang tulangnya. Deli kemudian melihat ke depan, ternyata matahari sudah mulai tergelincir dan akan kembali pulang ke peraduannya. Langit terlihat sudah berwarna orange, angin pun seakan membelai pipi Deli, untuk membangunkan Deli dari istirahatnya yang sama sekali tidak ada gangguan dari siapapun. Belum lagi burung burung yang sudah terbang kembali menuju sarang mereka yang tidak berapa jauh dari rumah peristirahatan milik Dian.
"Untung saja nggak ada orang yang kemari, jadi gue bisa tidur dengan nyaman" ujar Deli sambil merentangkan tangannya lebar lebar dan menghirup udara sore yang sangat dingin tersebut.
Deli memenuhkan paru parunya dengan udara bersih yang sangat jarang bisa di temui oleh Deli di ibu kota yang padat penduduk dan padat kendaraan itu. Di kota tidak udara sehat yang bisa mereka hirup, tetapi udara yang sudah bercampur dengan asap kendaraan, asap pabrik dan asap hasil pengolahan rumah tangga. Tetapi itulah kehebatan orang kota, mereka kebanyakan sakit bukan karena udara yang mereka hirup, tetapi akibat kerja yang terlalu diforsir karena gaya hidup yang melebihi dari pendapatan.
"Yah karena keenakan tidur di sini tanpa ada yang mengganggu, aku jadi lupa waktu. Bunda masak menu makan malam dengan siapa tadi ya?" ujar Deli yang memang sampai lupa waktu saat tidur di balkon, sehingga dia tidak menemani Bunda memasak untuk makan malam semua anggota keluarga yang sangat ramai itu.
"Walaupun Bunda udah biasa masak banyak, tetapi tidak seperti ini" ujar Deli melanjutkan penyesalannya karena tidak menolong Bunda saat menyiapkan menu makan malam.
"Kasihan Bunda yang harus masak banyak tetapi bekerja sendrian. Maafkan Deli, Bunda." ujar Deli meminta maaf ke Bunda dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar oleh Deli sendiri saja.
__ADS_1
Satu sisi Deli menyesal ketiduran di balkon sehingga lupa waktu karena suasana yang nyaman dan mendukung untuk Deli menikmati tidurnya itu. Tetapi di sisi lain Deli menjadi tidak bisa membantu Bunda untuk memasak menu makan malam.
"Apa yang harus gue katakan kepada Bunda nanti ya?" lanjut Deli yang tidak tahu harus mengatakan apa kepada Bundanya karena sudah tidak membantu Bunda masak menu makan malam.
Padahal Deli tahu kalau hanya dia yang bisa membantu Bunda untuk bergelut di dapur. Dina dan Dian memang bisa membantu tetapi tidak secepat Deli. Dina dan Dian saat akan menggoreng, mereka akan langsung memakai helm karena takut wajah cantik mereka akan terkena cipratan minyak panas. Dina dan Dian tidak mau hal itu terjadi, makanya Dina dan Dian memakai pengaman yang luar biasa lengkap, untuk menghindari hal hal yang tidak mereka inginkan.
Deli kemudian berjalan masuk kembali ke rumah peristirahatan itu, kali ini dia akan menuju kamarnya dengan Jero. Deli berencana untuk mandi dan mengganti pakaiannya yang sudah seharian dia pakai.
"Semoga dia tidak ada di dalam" ujar Deli berdoa dalam hatinya, Deli berharap Jero tidak ada di dalam kamar. Deli tidak mau semua kegiatannya akan menjadi sangat berat dan terasa lama, karena Jero masih ada di dalam kamar.
"Kamu apa nggak bisa ketok pintu dulu baru masuk ke dalam kamar" ujar Jero dengan sedikit kesal kepada Deli yang masuk tanpa mengucapkan salam dan juga tidak permisi kepada Jero
__ADS_1
"Sempat sekali saja kamu lewat dari pintu itu sayang, maka bisa aku pastikan kamu tidak akan ada lagi dalam keluarga Soepomo dan keluarga Kusuma Wijaya. Ada dengar Deli?" ujarJero yang berusa menakut nakuti Deli agar dia menjadi gadis dan istri penurut.
"Kamu tenang saja Tuan Muda Jero yang terhormat, saya tidak akan berbuat sesuatu yang bukan kelas saya. Saya akan mandi sebentar di sini, karena kamar mandi umum letaknya hanya ada di masnion bawah saja, saya malas ditanya tanya hal yang tidak ingin saya jawab" lanjut Deli mengatakan apa tujuannya datang kamar mereka berdua.
"Satu hal lagi Deli, saya minta kamu untuk tidak turun ke ruang makan, saya ingin kamu tetap duduk di sini." ujar Jero yang sudah memiliki rencana di otaknya yang licik itu.
Dalam dunia bisnis saja siapa yang tidak akan mengenal Jero, ke setiap pengusaha yang ada di negara I,ditanyakan mereka akan langsung menjawab kalau mereka sangat kenal dengan Jero. Pengusaha muda yang membuat perusahaan Soepomo mengepakkan sayapnya lebih tinggi lagi.
" Maaf sebelumnya Tuan muda Jero, kenapa saya dilarang untuk turun dan makan di meja makan" ujar Deli yang protes dengen keputusan Jero yang melarang dirinya untuk ikut makan di lantai satu rumah peristirahatan itu.
Jero sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Deli. Jero tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Deli kepada dirinya. Jero kemudian mengunci Deli dari luar kamar, Jero memasukkan kunci kamarnya ke dalam saku saku celana Jero, tetapi emang dasar Jero yang ingin membuat ulah dengan Deli, dia sengaja meminta Deli untuk menunggu sendirian di kamar rumah peristirahatan itu. Deli hanya bisa bersabar dan merenungi nasibnya yang tragis itu, dia tidak bisa membayangkan perutnya yang dalam kondisi lapar. Deli benar benar dalam keadaan sangat lapar dan perlu istirahat untuk mengisi bahan bakarnya kembali.
__ADS_1
Jero telah sampai di meja makan, dia melihat semua anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan dengan menempati posisi yang sama saat sarapan tadi pagi. Bedanya kali ini Deli tidak ikut dalam acara makan malam dua keluarga besar itu. Delitidak diizinkan oleh Jero untuk ikut acara makan malam yang sebentar lagi akan dilakukan oleh semua anggota keluarga.
Deli kemudian berjalan menuju ranjang yang kasurnya baru dibelikan oleh Dian. Deli merebahkan badannya di atas kasur. Pelan pelan Deli memejamkan matanya. Dalam sekejap Deli sudah kembali tertidur, Deli sebenarnya susah untuk tidur apalagi dia dalam keadaan haus. Tetapi dari pada hatinya sakit dengan semua kejadian seperti itu Deli memilih untuk tetap dan tidak melakukan suatu hal apapun saat ini. Deli fokus dengan matanya yang sudah mengantuk tersebut. Deli akhirnya tertidur kembali dengan air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Dalam hidup Deli baru sekali ini dia di larang ikut makan malam.