
Suasana di ruang makan begitu sangat hening, hanya terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan piring. Tekad bulat Fatima pun muali mengendur karena rasa takut dan cemas.
Fatima takut Syakir murka dan marah kemudian menalaknya. Hal ini yang sedang tidak diinginkan oleh Fatima.
Keduanya makan dengan tenang dan dengan pemikirannya masing-masing. Begitu juga dengan Syakir yang berusaha untuk jujur, namun lidahnya tiba-tiba saja begitu kelu, dan sulit untuk berkata dengan jujur.
Namun, disaat yang bersamaan dengan tekat dan keyakinan yang bulat pulang, keduanya pun berbicara hingga saling memberikan waktu hingga terkekeh pelan menyadari kebodohan mereka sendiri.
"Fatima?" panggil Syakir yang bersamaan dengan Fatima memanggil Syakir.
"Mas Syakir?" panggil Fatima dengan lembut hingga keduanya saling menatap dan terkekeh geli.
"Lady First, silahkan duluan, apa yang ingin kamu katakan Fatima?" tanya Syakir lembut.
"Mas Syakir saja duluan, ceritaku itu penting tidak penting," ucap Fatima pelan menjelaskan.
"Kamu duluan, kamu itu wanita, segala sesuatunya harus didahulukan," ucap Syakir pelan dan segera menghabiskan makanannya.
Fatima langsung menundukkan kepalanya terlihat lesu dan takut.
"Hei cantik, kenapa wajahmu lesu seperti itu? Kamu sakit, Fatima?" tanya Syakir pelan.
Fatima menggelengkan kepalanya pelan.
"Fatima tidak sakit, bahkan Fatima sedang baik-baik saja. Bicaralah Mas Syakir," ucap Fatima lembut.
Syakir sudah menghabiskan makanannya dan kini meneguk air putih dalam gelas hingga tidak bersisa. Syakir mengangguk pelan mendengar ucapan Fatima.
"Baiklah, Mas akan memberi tahukan kamu, bahwa Mas diterima bekerja sebagai kurir pengantar barang ke Amerika," ucap Syakir penuh kebahagiaan. Kedua matanya tampak berbinar sangat senang dengan berita hari ini.
Kedua mata Fatima langsung terbuka lebar mendengar kataa Amerika. Kirana disana, pasti dengan mudahnya Syakir menemui istri pertamanya itu. Istri yang disayangi dan dicintai begitu tulus. Ada rasa cemburu di hati Fatima, rasa tidak terima yang begitu kuat.
'Aku mati-matian mencari uang hingga menjual mahkota kegadisanku, tapi kenapa hatimu masih saja beku kepadaku Mas Syakir? Cepat atau lambat, kamu harus tahu yang sebenarnya terjadi, dan semua yang kau lakukan demi kamu, untuk kamu, Mas Syakir!' batin Fatima menjerit keras. Hatinya berkali-kali dibandingkan dan disakiti hanya karena cinta.
"Kamu kayak kurang senang?" tanya Syakir menatap lekat kedua mata Fatima.
__ADS_1
Fatima hanya berusaha tersenyum kecut.
"Mas Syakir berpikir aku akan senang? Aku cemburu Mas," ungkap Fatima pelan semua yang dirasakan dalam hatinya.
Syakir juga nampak terkejut dengan ucapan Fatima yang tidak biasa.
"Cemburu?! Cemburu dengan siapa?" tanya Syakir pelan.
"Kirana! Istri kesayangan kamu, Mas? Kepada siapa lagi aku harus cemburu?" tanya Fatima dengan nada meninggi dan rasa kesal.
Syakir tertawa pelan. Dirinya semakin bingung, apakah ada yang salah, kalau hati Syakir tetap ingin bersama Kirana.
"Apa urusanmu Fatima, Mas sudah mengalah untuk tunggal bersamamu, tidak dengan Kirana, padahal Kirana itu sedang mengandung anakku!! Tapi, Kirana tidak menuntut dan tidak cemburu kepadamu, Fatima!!" teriak Syakir yang tampak murka.
"Itu semua karena matamu terlalu buta, telingamu tidak mendengar dan hatimu terlalu beku untuk melihat kebaikan dan ketulusanku selama ini, yang melebihi ketulusan Mbak Kirana!!" teriak Fatima lantang dan kesal.
Syakir menatap lekat Fatima yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya itu.
"Mas, berusaha membuka hati Mas, saat ini untuk kamu Fatima, apakah kamu tidak merasakan hal itu?!" ucap Syakir kesal.
Fatima menggelengkan kepalanya pelan.
Beban pikirannya sudah banyak, ditambah lagi beban hidupnya dan kini beban hatinya pun sedang diuji dan dibincangkan.
Syakir menatap tajam ke arah Fatima.
"Kenapa kamu hanya diam, Mas!! Kenapa kamu tidak menjawab, tidak berargumen dengan aku?!!" kesal Fatima dengan sedikit murka.
"Kalau hanya itu tuntutanmu, akan aku kabulkan," ucap Syakir yang begitu kesal dengan mudahnya menjawab.
"Apa yang ingin kamu kabulkan dari sebuah keterlambatan?" tangis Fatima tiba-tiba dengan begitu keras lalu berlari ke arah kamarnya.
Melihat situasi yang menjadi runyam pun Syakir pun mengalah dan berlari berusaha mengejar Fatima.
Fatima sudah duduk di tepi tempat tidurnya menghadap ke arah kaca jendela besar yang menghubungkan dengan dunia luar.
__ADS_1
Syakir memberhentikan larinya dan berjalan dengan langkah kecil. Kedua tangan Fatima menutup wajahnya yang sedang menangis.
Hidupnya seperti ingin di akhiri saat itu juga, Sri pada harus menceritakan aib dirinya yang begitu hina itu kepada Syakir.
"Ada apa sebenarnya Fatima, sepertimu kamu menyembunyikannya sebuah luka tersembunyi?" ucap Syakir pelan dan ikut duduk di samping firma di tepi tempat tidur berukuran besar itu.
Kedua tangan Fatima sudah diturunkan dan kini tatapan wajahnya berpindah ke arah kaca itu. Fatima berusaha menyembunyikan semuanya, namun rasa cemburunya terhadap Kirana sungguh sangat tak beralasan itu malah membuat dirinya semakin ingin mengungkapkan dosa besar yang telah dilakukannya di belakang Syakir.
"Aku ingin mengakui satu dosa besar yang mungkin tidak akan pernah bisa kamu maafkan, Mas. Tapi aku punya alasan yang sangat kuat, alasan yang menurutku sangat masuk akal, walaupun tetap saja aku masuk ke dalam jurang lembah dosa yang semakin membuat aku tidak nyaman menyimpannya sendiri di dalam hati," ucap Fatima pelan dan begitu tenang.
Tangisannya sudah berhenti, sisa air matanya juga sudah dihapus dengan ujung hijab panjang.
Syakir menepuk pelan bahu Fatima hingga membuat tubuh wanita itu bergetar hebat karena kaget.
"Ceritakanlah, aku akan melihat dari berbagai sudut pandang, dan tidak akan menghakimimu dengan sesuatu yang berlebihan," ucap Syakir begitu lembut menenangkan.
Sikap Syakir yang seperti inilah yang membuat Fatima sulit melepaskan lelaki yang teramat dalam sudah menetap lama namanya di hati Fatima.
Fatima menarik napas dalam dan membuangnya perlahan untuk memberanikan dirinya dan menguatkan dirinya saat berkata jujur dari dalam hatinya.
"Aku dan kedua orang tuaku sudah lama tidak berhubungan lagi semenjak mereka mengetahui suatu kebenaran gahwaas Syakir sudah memiliki istri sebelumnya saat menikahiku malam itu," ucap Fatima pelan menjelaskan.
"Lalu?" tanya Syakir pelan hanya menyakan kelanjutannya tanpa menyanggah.
Fatima menatap lekat kedua mata Syakir dengan penuh keheranan.
"Kamu tidak menyanggah sesuatu hal yang membuatmu ingin tahu lebih jauh lagi, Mas?" tanya Fatima sedikit kesal.
"Mas sudah bertanya lalu? Itu tandanya Mas sangat penasaran dengan semuanya," ucal Syakir membela diri.
"Susah memang jika sudah dingin dan beku, apapun yang terjadi pun kamu tidak akan pernah bisa perduli, paling juga hanya bisa menyalahkan tanpa ada solusi yang begitu jelas," teriak Fatima kesal.
"Apa yang terjadi sebenarnya Fatima, jangan buat Mas harus terus membujukmu untuk mengatakan," ucap Syukur dengan sedikit gemas.
"Lupakan!! Dan pergi dari sini!!" teriak Fatima keras dan lantang.
__ADS_1