Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 32


__ADS_3

"Bunda, Ayah, Deli besok pergi perjalanan bisnis selama tiga hari dengan Tuan Jero ke negara J. Ada meeting yang harus dilakukan di sana. Deli izin untuk pergi ya Bunda Ayah." ujar Deli memberitahukan kepada Ayah dan Bunda tentang perjalanan bisnis yang akan dia lakukan selama tiga hari ke depan, sewaktu mereka selesai makan malam.


"Kamu serius sayang? Itu pergi naik pesawat loh Nak. Bunda tau kalau kamu fhobia naik pesawat terbang sayang." ujar Bunda yang sangat tau bagaimana fhobianya Deli saat naik pesawat terbang.


Nada bicara Bunda terlihat sangat khawatir dengan keadaan Deli yang akan terbang dengan pesawat. Bunda sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya melepas Deli untuk naik pesawat terbang sendirian.


"Deli akan berusaha tenang Bunda. Deli nggak mungkin menolak permintaan Tuan Jero. Bunda tau sendirikan bagaimana pekerjaan seorang sekretaris. Apalagi sekarang asisten Tuan Jero sedang tidak ada. Jadi, mau tidak mau Deli harus ikut Bunda. Deli harus menggantikan pekerjaan Tuan Felix. Bunda doakan Deli untuk tidak apa apa aja Bunda. Jangan cemas gitu. Deli jadi cemas juga untuk perginya." ujar Deli sambil menatap Bunda dan Ayahnya bergantian. Deli memberikan mereka kekuatan kalau Deli akan kuat menjalani perjalanan bisnisnya kali ini.


"Tapi nak." ujar Bunda yang masih belum bisa menetralkan perasaannya kembali.


"Bunda. Bunda percaya sama Deli ya. Deki akan bisa menjaga diri Deli dengan baik." ujar Deli berusaha meyakinkan Bunda yang terlihat sangat takut dengan perjalanan Deli kali ini.


Deli sebenarnya juga masih ragu dan takut. Tapi, dia harus bisa demi pekerjaannya. Deli juga tidak ingin kedua orang tuanya khawatir dengan dirinya. Dia tidak mau selama penerbangannya nanti orang tuanya akan berada dalam keadaan cemas memikirkan Deli yang fhobia pesawat terbang tetapi harua tetap terbang juga.


"Kamu langsung istirahat saja bersama Dian. Biar yang ngurus kafe Bunda, Ayah dan Kak Hendri." kata Ayah yang sebenarnya juga cemas dengan keadaan Deli tetapi berusaha ditutupi oleh Ayah.


Ayah juga sengaja mengatakan hal itu, supaya Bunda tidak semakin menjadi jadi mengatakan kecemasannya keoada Deli. Ayah tidak mau Deli terlalu memikirkan ucapan Bunda yang pada akhirnya akan ngawur dan semakin tidak jelas.


Ayah tau kalau Deli sedang dalam keadaan cemas. Serta Ayah juga tau kalau Deli berusaha untuk mengendalikan rasa takutnya demi kedua orang tuanya. Makanya Ayah tidak ingin semakin membuat Deli menjadi mengkhawatirkan kedua orang tuanya.


"Dian belum ngantuk Ayah. Dian bantu bantu di kafe bentar menjelang mengantuk. Boleh ya Ayah. Nanti kalau Dian ngantuk atau capek, Dian akan langsung beristirahat." kata Dian yang memang sama sekali belum mengantuk.


Ntah kenapa matanya sama sekali tidak ingin terpejam. Ntah karena Dian sedang gabut atau karena pekerjaan diperusahaan sedang banyak banyaknya. Makanya, dia sama sekali tidak merasakan kantuk di matanya itu. Atau Dian sedang ingin menatap lama lama pujaan hatinya yang sibuk bekerja itu. Laki laki tipe pekerja keras idaman setiap wanita.


Ayah, Bunda dan Dian keluar kembali ke kafe. Mereka bertiga akan membantu Hendri untuk menjaga dan melayani pembeli yang datang. Apalagi Hendri sama sekali belum makan malam.


"Hendri, makan dulu sana." ujar Bunda meminta Hendri untuk makan malam.


"Dian tolong temank Hendri ya" ujar Bunda meminta Dian untuk menemani anak laki lakinya makan.


Hal itu sangat ditunggu tunggu oleh Dian.


"Bunda pengertian banget. Dian sayang Bunda." ujar Dian sambil memeluk Bunda dari belakang.


Hendri dan Dian kembali masuk ke dalam rumah. Hendri akan makan malam, sedangkan Dian akan menemani Hendri makan malam karena dia sudah makan tadi duluan.


Melihat Hendri dan Dian yang kembali masuk dan menuju meja makan, Deli memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia akan mengepak beberapa pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkannya selama dia melakukan perjalanan bisnis itu. Deli tidak tau apa yang harus dimasukkannya. Makanya dia memasukkan pakaian terbaik yang dia punya ke dalam koper miliknya.


Selesai merapikan pakaian, Deli kembali membaca dokumen dokumen untuk meeting dengan perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan Edwardo. Deli membaca dengan sangat teliti dan mendetail tentang semua isi dari dokumen dokumen tersebut. Deli tidak ingin saat mereka meetinf, dia terlihat tidak menguasak konsep. Deli tidak ingin membuat malu perusahaan Edwardo di depan rekan bisnis yang lain.


Akhirnya Deli terlelap sendiri dengan dokumen dokumen kerjasama yang masih ada di tangan dan menutupi wajahnya. Deli tidak sadar dan sudah langsung tertidur tanpa sempat memasang skincare malam wajahnya.


Dian yang baru saja selesai membantu pekerjaan di kafe dan sudah merasakan letih di badannya, berjalan masuk ke dalam kamar. Dia melihat Deli yang sudah tertidur dengan dokumen dokumen yang menutupi wajahnya. Dian kemudian mengambil dokumen dokumen itu. Dian menyimpan semuanya di atas meja belajar yang sekarang berubah fungsi menjadi meja kerja Deli.


"Gini benerlah sahabat gue serius dalam bekerja. Sungguh beruntung perusahaan Edwardo mendapatkan dia. Coba kalau loe mau jadi asisten gue Del. Gue pasti akan bahagia." ujar Deli sambil merapikan meja kerja Deli yang sedikit berantakan itu.


Dian melihat dompet kecil milik Deli yang tersandar di atas meja kerja. Dian kemudian memasukkan beberapa lembaran uang dollar ke dalam tas kecil itu.


Dian tau kalau Deli belum sempat menukarkan uangnya ke moneychanjer. Tadi saat Dian menjemput Deli ke kantor, Deli sama sekali tidak mengajak Dian untuk pergi menukarkan uangnya, untung sajalah Dian selalu menyediakan uang dollar di dalam dompetnya. Setelah memasukkan uang ke dalam dompet Deli, Dian kemudian memilih untuk tidur di ranjang sebelah ranjang Deli. Dian besok akan bangun pagi hari karena akan mengantarkan Deli ke bandara.


Dian menatap lama ke arah sahabatnya itu. Dian berharap Deli selamat pulang dan pergi dari perjalanan bisnisnya yang pertama ini. Dian sebenarnya juga khawatir Deli naik pesawat. Tetapi Dian tidak mau menambah pikiran Deli. Makanya tadi saat makan malam Dian diam saja tidak menambah atau mengurangi apa yang dikatakan Bunda dan Ayah. Setelah mendoakan kebaikan untuk Deli, Dian kemudian memejamkan matanya untuk beristirahat malam.

__ADS_1


Sedangkan di negara A. Dina dan Felix yang sedang duduk duduk di taman kota mendadak harus berlari mencari toko untuk tempat berlindung. Saat hari sedang cerah tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya tanpa memberikan kode atau peringatan terlebih dahulu. Felix dengan kuat menggenggam tangan Dina untuk berlari. Mereka masing masing memegang paperbag yang berisi belanjaan mereka tadi.


"Hahahahaha. Ternyata hujan turun sayang. Padahal tadi cuaca cerah banget kayak nggak akan hujan." ujar Felix saat mereka sudah berada di sebuah kafe yang menyediakan coffe dan wafel.


"Mau gimana lagi sayang. Mana deras lagi." ujar Dina sambil menatap hujan yang turun dengan deras menyiran ibu kota negara A.


"Hahahaha. Kita nikmati aja sayang. Rencana kita nggak ada untuk duduk di kafe akhirnya kita harus duduk di sini sambil ngopi ngopi." ujar Felix sambil tersenyum menatap Dina yang duduk di sebelahnya.


Dina mengangguk membalas senyuman dari Felix. Felix menggenggam jari tangan Dina. Mereka menatap derasnya hujan yang turun.


Ponsel milik Felix bergetar. Felix mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas. Dia melihat Jero melakukan panggilan videocall.


"Jero." ujar Felix.


"Angkat aja sayang." jawab Dina.


Dina menyeruput coffe latte yang dipesannya.


"Hay Jer. Ada apa?" tanya Felix yang melihat Jero berada di ruang keluarga.


"Ada yang kangen" ujar Jero sambil memberikan ponsel miliknya ke Mami.


"Mami" ujar Felix.


Dina yang mendengar Felix mengatakan nama Mami, mendekat ke arah Jero. Dina juga kangen dengan calon mertuanya yang ternyata luar biasa baik itu.


"Mami kangen Felix?" tanya Felix sambil menatap Mami yang sekarang melakukan panggilan video kepada dirinya.


"Hay Mami, Mami apa kabar." ujar Dina menyapa calon mertuanya. Dina memberikan senyuman terbaiknya kepada calon mertuanya itu.


"Baik Dina. Kamu apa kabar sayang." ujar Mami membalas sapaan Dina. Mami kangen dengan Dina. Mami sebenarnya ingin mengajak Dina jalan jalan sambil shoping. Tetapi Dina sangat luar biasa sibuk. Mami hanya bisa berharap suatu saat Dina punya waktu untuk jalan jalan berdua dengan Mami.


"Baik Mi. Oh ya Mi. Mami sedang ngapain?" tanya Dina berbasa basi tetapi tulus.


"Ini siap makan malam sayang. Kamu sedang ngapain di sana?" tanya Mami balik.


"Tadinya pengen jalan jalan sama Kak Felix Mami. Eee kiranya hujan. Akhirnya duduk duduk di kafe aja lagi. Sambil memandang hujan yang ntah kapan akan berhenti." ujar Dina menceritakan mereka berdua mau ngapain eee ternyata batal karena hujan.


"Kamu kapan balik sayang? Mami ingin bertemu kamu." kata Mami sambil tersenyum menatap Dina yang terlihat makin cantik sekarang.


"Rencana besok Mami, besok kalau Dina udah sampai di rumah, Dina akan datang ke mansion Mami." ujar Dina sambil tersenyum cantik.


Jero yang mendengar kalau Felix akan pulang besok, langsung mengambil ponselnya dari Mami. Mami ternganga melihat kelakuan Jero. Mami menatap Papi.


"Penting." ujar Papi.


Mami mengangguk paham.


Sedangkan Dina yang melihat ponsel Jero diambil kembali oleh pemiliknya, langsung memberikan kembali ponsel itu kepada Felix.


"Apa Jer?" tanya Felix saat ponsel sudah kembali ke pemiliknya.

__ADS_1


"Loe dari negara A langsung terbang ke negara J. Gue butuh elo." ujar Jero tanpa basa basi mengungkapkan apa keinginannya kepada Felix.


"Loe percayakan aja ke Deli. Dia pasti bisa mengatasi breefing kali ini." ujar Felix hang sudah tau bagaimana Deli menghendle presentasi kemaren dengan sukses dan lancar.


"Tapi Felix. Gue harap loe tetap hadir Felix. Biar Deli belajar dulu bagaimana cara meeting dengan perusahaan luar. Jadi, besok besok dia sudah bisa karena sudah ada contoh Felix." ujar Jero masih mengharapkan Felix untuk hadir. Niat Jero memang untuk mengajarkan kepada Deli bagaimana cara presentasi di negara asing. Bukan karena tidak percaya dengan kemampuan Deli dalam menghandle pekerjaan yang diberikan oleh Jero.


"Gue diskusikan dulu dengan Dina ya." ujar Felix lagi yang paham dengan maksud Jero memaksa dirinya untuk ikut meeting dan presentasi.


Felix tidak berani menolak kehendak Jero. Bagi Felix Jero dan keluarga Edwardo yang lainnya adalah segala galanya bagi dia.


"Sayang, kamu ada pekerjaan penting di negara kita?" tanya Felix sambil menatap kearah Dina dengan tatapan supaya Dina mengatakan kalau dia tidak ada kegiatan.


"Tidak ada sayang. Emang ada apa ya?" tanya Dina yang penasaran kenapa Felix menanyakan dia ada kegiatan atau tidak.


"Kalau nggak ada, gimana kalau kita pergi ke negara A. Jero minta tolong menemani dia presentasi dan meeting." ujar Felix mengatakan tujuannya membawa Dina ke negara A.


"Tapi udah ada Deli sayang. Kenapa kamu harus ikut juga?" tanya Dina yang ingin mendengar penjelasan lebih detail dari Felix, kenapa dia mengajak Dina untuk menuju negara A bukan langsung pulang ke negara mereka.


"Sayang, kamu kan tau Deli orang baru dalam dunia bisnis. Untuk kemampuan, Aku dengan Jero tidak meragukan kemampuan Deli. Tapi sayang, untuk meeting keluar negeri, ini pertama bagi Deli. Makanya, Jero ingin Deli melihat dan menganalisa bagaimana orang presentasi dan meeting di luar negeri. Jadi, Deli bisa belajar dengan melihat cara cara orang meeting dan presentasi." ujar Felix menceritakan kenapa Jero memaksa dirinya untuk ikut ke negara A.


"Kalau kamu aja yang pergi gimana sayang?" tanya Dina lagi. Dina ingin tau bagaimana tanggapan Felix kalau Dina meminta hanya dirinya saja yang pergi ke negara A.


"Kalau kamu nggak ikut, Aku juga tidak akan ikut sayang. Mana mungkin aku membiarkan kamu pulang ke negara kita sendiri. Itu suatu hal yang tidak mungkin." kata Felix sambil menatap Dina.


"Jadi, kalau memang kamu tidak bisa, maka aku akan batalkan kepada Jero. Aku akan mengatakan kalau kita berdua ada urusan di negara kita." lanjut Felix yang tidak ingin membiarkan Dina pulang sendirian ke negara mereka.


Dina menatap Felix. Felix membalas menatap Dina.


"Sayang, ini demi kebaikan Deli. Saat dia bisa melihat dan memerhatikan setiap orang presentasi, maka dia akan bisa belajar. Oh seperti ini kalau kita presentasi di sini. Oh dari negara ini seperti ini ternyata presentasinya." kata Felix meyakinkan Dina.


"Saat dia melihat banyak presentasi, maka dia bisa belajar untuk mengubah gaya presentasinya. Dia bisa mengambil dari presentasi orang yang baik dan membuang yang jeleknya." lanjut Felix meyakinkan Dina bahwa tujuan mereka sangat baik untuk meminta Felux hadir dalam meetinf besar itu.


Dina memahami setiap kata yang keluar dari mulut Felix. Dina akhirnya paham dengan apa yang diinginkan Felix dan Jero. Lagian kalau dia ikut dengan Felix ke negara A. Dia bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Mereka bisa liburan berdua. Setelah memikirkan hal itu, raut wajah Dina berubah menjadi cerah kembali. Dia terlihat tersenyum bahagia.


"Kenapa senyam senyum?" tanya Felix yang curiga dengan senyum Dina.


"Ye orang senyum salah. Budut salah. Apa lagi nangis kan ya." ujar Dina menggoda Felix.


"Kita ke negara A." ujar Dina dengan semangat.


"Sayang, aku curiga." ujar Felix sambil tersenyum.


"Hahahahaha. Biarin aja. Pokoknya dua hari Deli ikut meeting. Satu hari main dengan aku. Oke. Deal ya." ujar Dina mengangkat jari kelingkingnya ke depan Felix.


"Oke sip." ujar Felix menautkan kelingkingnya dengan kelingking Dina.


"Sayang sudah teduh. Mari kita ke hotel. Besok kita terbang ke negara A." ujar Felix mengajak Dina untuk kembali ke hotel.


"Sip."


Mereka kemudian keluar dari kafe. Berjalan bergandengan tangan menuju hotel. Pasangan itu terlihat sangat mesra dan begitu serasi. Pria sangat tampan dan gagah, wanita cantik. Pasangab yang membuat mata setiap orang memandang akan iri dengan keromantisan mereka yang terlihat sederhana tapi mengena di hati itu.

__ADS_1


__ADS_2