Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
155


__ADS_3

Suasana di dalam kamar rawat Deli sedikit agak panas dan menaikkan suhu ruangan. Jero, Hendri, Juan, Dina dan Dian saling mengeluarkan aura tatapan membunuh mereka masing masing.


Deli sebenarnya sudah ingin melarang. Tetapi dia tidak bisa mencegahnya. Hendri, Juan, Dina dan Dian melakukan semua itu karena mereka semua sayang kepada Deli.


Akhirnya Deli hanya bisa menatap ke arah mereka semua. Deli sama sekali tidak bisa melakukan apa apa lagi. Dia hanya bisa pasrah saat mendengar dan mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini.


Pintu kamar rawat Deli kemudian terbuka dengan lebar. Terlihat dari arah luar Ayah, Papi, Bunda dan Mami berjalan masuk kembali ke dalam ruang rawat Deli bersama dengan seorang dokter yang akan memeriksa keadaan Deli.


Saat melihat dokter tersebut, wajah Deli tiba tiba berubah menjadi sangat pucat pasi. Deli takut kalau dokter tersebut akan membuka rahasia penyakitnya yang selama ini sudah lama disembunyikan oleh Deli dari orang orang yang disayanginya itu. Deli tidak mau orang orang yang disayanginya mencemaskan keadaannya sepanjang hari. Makanya dia langsung saja memutuskan untuk merahasiakan semuanya dari keluarga besarnya.


Dokter kemudian berjalan mendekat ke arah brangkat tempat Deli terbaring dalam kondisi yang terlihat sudah sangat bugar dibandingkan dari pada saat Deli masuk ke dalam rumah sakit pas malam hari.


"Bagaimana keadaannya Nyonya?" ujar Dokter menyapa Deli yang sekarang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Sebelum menyapa pasiennya, dokter tersebut terlebih dahulu menyapa Dina dan Juan pemilik Rumah Sakit tempat dokter sedang bekerja itu. Dina dan Juan sedikit menganggukkan kepala mereka berdua ke arah dokter dan suster yang akan memeriksa keadaan Deli.


" sudah lumayan dokter tidak ada yang saya rasakan sakit lagi. Kapan saya boleh pulang ke rumah ya dokter?" Kata Deli bertanya kepada dokter tersebut.


Dokter kemudian memeriksa keadaan Deli. Deli mengatakan dirinya sudah agak baikan. Dokter akan memeriksa dengan sangat teliti apakah yang dikatakan oleh Deli sudah sebenarnya atau hanya bohong saja.


"Permisi Nyonya, saya akan memeriksa Nyonya terlebih dahulu" ujar Dokter yang mulai perlahan memeriksa keadaan Deli.

__ADS_1


Dokter kemudian tersenyum apa yang dikatakan oleh Deli memang benar. Deli memang sudah dalam kondisi sehat dan tidak perlu dikhawatirkan lagi.


Deli memang sama sekali tidak betah untuk berada di rumah sakit terlalu lama. Dia mah sangat merasa bersalah sekali kepada setiap orang, karena hanya karena menunggu dirinya di rumah sakit mereka semua tidak bisa bekerja seperti biasanya.


Apalagi terhadap ayah dan bunda, orang tua Deli itu hanya bisa mendapatkan uang, apabila mereka langsung turun tangan bekerja sendiri. Tetapi telah beberapa hari ini mereka sama sekali tidak bekerja, hal ini menjadi semakin membuat Deli merasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Hal itu disebabkan karena Deli sangat tahu bagaimana keuangan keluarganya yang memang bergantung kepada jualan sehari hari di kafe.


"Kita lihat sampai besok ya Nyonya. Kalau Nyonya sudah tidak sakit lagi, tidak demam atau sakitnya tidak kambuh lagi, maka Nyonya akan kami perbolehkan untuk pulang ke rumah" kata dokter menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Deli kepada dirinya.


"Terimakasih dokter" jawab Deli sambil melihat ke arah dokter tersebut dan mengagumkan kedua tangannya di depan dada sebagai ucapan terimakasih karena dokter telah menjawab keinginannya untuk bisa pulang ke rumah.


Jero kemudian mendekat ke arah dokter tersebut. Dia sangat penasaran dengan sakit yang diderita oleh Deli saat ini.


"Dokter, kalau saya boleh tahu. Istri saya sakit apa ya? Kenapa tiba tiba bisa pingsan kemaren?" ujar Jero bertanya kepada dokter tentang penyakit Deli yang sampai sekarang tidak diketahui oleh Jero.


"Tuan dan Nyonya semua. Nyonya Deli sama sekali tidak ada sakit apa apa. Kemaren dia pingsan hanya karena kelelahan fisik saja" jawab dokter yang langsung menatap tajam ke arah Deli, karena Deli meminta dia untuk berbohong akan sesuatu yang seharusnya keluarga besarnya itu mengetahui penyakit yang sedang di derita oleh Deli.


Deli memberikan senyuman ucapan terimakasih kepada dokter tersebut. Dokter itu telah membantu dirinya untuk lepas dari rongrongan anggota keluarganya. Deli sangat bersyukur dokter tersebut mau membantunya.


"Ada pertanyaan yang lain Tuan?" tanya dokter dengan ramah kepada Jero.


"Tidak ada. Terimakasih" ujar Jero mengucapkan rasa terimakasih nya kepada Dokter yang telah memeriksa keadaan dari istrinya tersebut.

__ADS_1


"Tuan, Nona, saya undur diri dulu" ujar Dokter berpamitan kepada Juan dan Dina yang berada di dalam ruangan itu.


Juan mengangguk menjawab perkataan dari dokter. Mereka berdua sama sekali tidak mengeluarkan suara masing masing saat mendengar dokter berpamitan untuk pergi meninggalkan ruangan.


"Syukurlah nak, kamu tidak sakit apa apa. Cuma kelelahan saja. Bunda udah mikir macam macam tadi nak" ujar Bunda sambil memegang tangan Deli.


Deli melihat ke arah bundanya itu. Bunda memang sangat terlihat bersedih selama Deli sakit. Tetapi bunda berusaha menutupinya dari Deli. Bunda tidak mau Deli merasa menjadi terbebani karena Delu tahu kalau Bunda mengkhawatirkan Deli saat ini.


"Makasi Bunda" jawab Deli sambil melihat ke arah orang tua yang mengandung dan menjaganya selama ini.


'Tuhan maafkan Deli karena sudah berbohong kepada Bunda. Deli sebenarnya tidak mau berbohong kepada Bunda. Tetapi Deli juga tidak mau membuat Bunda dan yang lainnya bersedih. Maafkan Deli ya Tuhan' ujar Deli meminta maaf kepada Tuhan dalam hatinya sambil menatap ke arah langit langit kamar yang putih bersih itu.


"Besok kita akan pulang ke rumah Bunda sayang. Selama dua minggu. Setelah dari rumah Bunda, baru kita akan pulang ke mansion Mami" ujar Jero memberitahukan kepada Deli kemana mereka akan pulang besok hari.


Deli menatap ke arah Jero. Deli tidak menyangka kalau Jero akan membawa dirinya pulang ke rumah Bunda. Deli mengira kalau Jero akan memaksa dia untuk pulang ke mansion besar milik keluarganya.


"Terimakasih suamiku, kamu memang suami yang terbaik" ujar Vian memuji kebaikan dari seorang Jero kepada dirinya.


Jero tersenyum ke arah Deli. Tetapi senyuman itu tidak sampai menyentuh ke mata Jero. Deli sangat yakin kalau Jeroelakukan hal ini karena ingin terlihat semakin sempurna di mata Ayah dan Bunda.


"Sama sama sayang. Aku akan membuktikan kepada semua orang kalau aku pasti akan memberikan hal yang terbaik untuk kamu" kata Jero sambil sedikit melirik ke arah kakak Deli dan ketiga sahabat Deli yang lainnya.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan oleh Jero sebelumnya. Dia tidak mau terlihat menyikda atau menganiaya Deli. Jero harus bisa menampilkan kepada semua orang kalau dia adalah seorang suami yang sangat sayang kepada istrinya.


__ADS_2