Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 138


__ADS_3

Dina dan Dian kemudian menyebrang untuk menuju penjual bubur ayam yang berada tepat di depan rumah sakit tersebut. Warung bubur ayam itu memang sangat terkenal di kalangan para dokter dan juga suster yang bekerja di Rumah Sakit KW group milik Dina. umumnya para dokter dan suster memilih untuk sarapan di warung bubur tersebut daripada kantin rumah sakit kalau seandainya menu makanan yang disediakan rumah sakit tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh para dokter dan para suster yang sedang bertugas.


"Gila bener ini. Masak iya warung bubur ayam bisa seramai ini banget coba" ujar Dina yang sangat heran melihat warung bubur ayam tersebut yang sangat ramai dikunjungi oleh para pembeli.


"Namanya aja bubur ayam viral. Ya jelas rame lah Mana enak lagi kalau orang kesehatan mah cari makanan itu enak plus sehat" kata Dian menjawab keheranan yang dilontarkan oleh Dina sebentar ini.


"Tapi ini benar-benar rame loh. Warung pinggir jalan bisa seramai ini para pembelinya, ini benar-benar enak berarti" lanjut Dina mengutarakan kekagumannya tentang warung bubur ayam yang sangat ramai itu apalagi ternyata warung tersebut sangat viral di kalangan para anak muda yang ada di kota tersebut.


"Sepertinya itu bukan viral di kalangan anak muda saja Din. Lo tengok tuh para pembelinya pakai mobil-mobil mewah, yang beli sepertinya juga nggak satu atau dua porsi saja, tetapi kelihatannya banyak yang membeli dengan partai besar. Gue bisa jamin ini bubur ayam pasti luar biasa enaknya" kata Dian yang juga ikut-ikutan memuji warung bubur ayam yang sangat ramai tersebut


Salah seorang manajer rumah sakit yang ternyata itbaru selesai sarapan di sana melihat kedatangan Dina. Manager tersebut langsung berdiri dan menyusul Dina ke arah antrian yang sangat panjang itu.


"Maaf mana Dina, Nona mau beli bubur ayam yang ada di tempat ini" tanya Manager kepada Dina.


"Oh iya pak saya. Rencananya mau membeli bubur ayam yang ada di warung ini. Tetapi antriannya ternyata sangat panjang sekali, saya jadi cemas entah saya bisa mendapatkan bubur ayamnya entah tidak" kata Dina mengutarakan kecemasannya saat melihat warung yang begitu ramai oleh para pembeli.


Dina menjadi cemas apakah dirinya bisa mendapatkan bubur ayam tersebut atau dia hanya akan capek-capek mengantri saja dan pulang kembali ke rumah sakit dalam keadaan tangan kosong tanpa membawa bubur ayam yang enak itu.


"Nona Dina mau berapa porsi?" tanya Manager yang akhirnya menanyakan berapa porsi Dina mau membeli bubur ayam yang ada di warung tersebut.


"Sebentar Manager saya tanyakan dulu kepada Dian ya biar Dian hitung dulu berapa porsi yang harus dibeli bubur ayamnya untuk sarapan" kata Dina yang sama sekali tidak tahu berapa porsi dirinya akan membeli bubur ayam tersebut.


"Yan kita mau beli berapa porsi bubur ayam itu? Ini ada manajer yang akan menolong kita memesankan bubur ayam ke pemilik warung" ujar Dina bertanya kepada Dian berapa banyak bubur ayam yang akan mereka pesan dan bawa ke rumah sakit untuk sarapan keluarga besar mereka hari ini.

__ADS_1


"Bentar gue hitung dulu ya kata Dian menjawab pertanyaan dari Dina Berapa porsi mereka harus membeli bubur ayam hari ini.


Dian kemudian menghitung Berapa banyak bubur ayam yang akan dibeli oleh dia dan Dina.


"Sekitar dua puluh porsi lah Din. Tapi pengawal nggak mungkin, nggak akan kita kasih kan?" kata Dian menyebutkan berapa bersih bubur ayam yang akan mereka beli


"Iyalah pengawal gue dikasih masa pengawal gue harus puasa. Kita beli dia puluh lima porsi aja gimana" ujar Dina yang menambah lima porsi untuk para pengawalnya.


"Setuju pesan dia puluh lima aja lah dari pada kurangkan bikin malu aja. Masa pengawal nggak kita kasih. Mereka capek loh, nggak ada istirahat, nggak ada tidur-tidur. Kita masih lumayan bisa tidur, mereka sama sekali tidak tidur untuk menjaga keamanan kita semua" kata Dian yang memperhatikan kesejahteraan para pengawal Dina.


"Tolong pesankan dua puluh lima porsi aja Pak bubur ayamnya" kata Dina meminta tolong kepada manajer yang tadi menawarkan diri untuk membelikan pesanan bubur ayam yang akan dibeli oleh Dina dan Dian.


"Siap Nona Dina, Nona tunggu saja di dalam saya akan pesankan bubur ayamnya dulu. Kalau tidak Nona Dina tunggu aja di rumah sakit nanti akan saya antarkan ke ruang VIP seperti biasa" ujar manager yang meminta Dina untuk kembali saja ke rumah sakit karena pesanan dua luluh lima porsi bubur ayam itu akan siap dalam waktu yang cukup lama.


"Saya tunggu di rumah sakit ajalah manajer, kalau di sini nanti takutnya. Ya gitulah agak panas sedikit. jadi saya tunggu aja lah di rumah sakit ya. Nanti tolong antar saja ke kamar VIP, seperti biasanya" kata Dina yang malas menunggu di warung tersebut karena orang begitu ramai di sana.


Dina merasa risih saat orang-orang melihat ke arah dirinya dan Dian. Dina sama sekali tidak suka menjadi pusat perhatian. apalagi saat Dina melihat cara orang-orang tersebut memandang dirinya. Mereka seperti melihat orang yang baru turun dari sebuah planet.


"Nggak usah aja duitnya non biar duit saya saja" kata manager yang tidak mau menerima uang yang dikasih oleh Dina kepada dirinya.


"Jangan sampai kamu menolak. Ini bukan makan untuk saya saja, tapi untuk seluruh anggota keluarga saya. Jumlahnya bubur ayamnya lumayan banyak sekali. Jadi kamu terima saja ya sisanya kamu ambil" kata Dina yang meminta manajer tersebut untuk mengambil semua uang yang diberikan oleh dirinya.


Manager terlihat tidak ingin menerima uang tersebut. Tetapi dia juga tidak bisa menolak keinginan dari seorang Dina. Akhirnya dengan berat hati manajer menerima uang yang diberikan oleh Dina tadi.

__ADS_1


Setelah drama penolakan uang dari manajerdirawa. Dina dan Dian kembali ke ruangan VIP yang ada di rumah sakit. Mereka akan menunggu dua puluh lima porsi bubur ayam tersebut di kamar VIP tempat Deli dirawat.


"Gue ingat sama Demian tadi" kata Dian yang teringat akan pertemuan mereka berdua dengan Demian yang tadi hampir menabrak Dina dan Dian di jalan saat menuju warung bubur ayam yang viral tersebut


"Kenapa lu ingat sama Demian" tanya Dina yang tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia teringat dengan Demian.


"Lah Iya lah Din, gimana gue nggak ingat sama Demian. Coba lu pikir,apa yang terjadi kalau Demian nanti tiba-tiba mencari keberadaan Deli. Demian menyangka kalau Deli masih single" kata Dian menerangkan kenapa dirinya tiba-tiba teringat dengan Demian.


"Bener juga lo ya, apa yang terjadi coba kalau tiba-tiba Demian yang mencari Deli ke perusahaan dan menanyakan keberadaan Deli kepada Jero. Aduh gue nggak bisa ngebayangin" kata Dina yang akhirnya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Dian sebentar ini.


"Nah itu yang gue cemasin. Lo kok tiba-tiba jadi ogeb begini sih Din jadi orang" kata Dian yang kesal karena Dina terlambat loading dengan apa yang dibicarakan oleh Dian kepada dirinya.


"Maklum panas, mana gue juga belum mandi lagi. Lu tau sendiri lah kalau gue nggak mandi pagi, apa yang terjadi dengan otak gue ini" jawab dina yang memang sama sekali tidak menyambung dengan apa yang dikatakan Dian sebelumnya, sebelum dian menjelaskan lebih terperinci kepada Dina.


"Itu yang gue aja cemasin Din. Kalau seandainya Demian sempat mencari keberadaan Deli, apa yang akan dikatakan oleh Deli kepada Demian" ujar Dian yang tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Deli nanti kepada Demian saat Demian mencari dirinya


"Nggak usah lo pikirin sekarang deh nanti aja waktu Demian sudah bertemu dengan Deli. Satu hal yang jelas nanti kita harus mengatakan kepada Deli kalau kita sudah bertemu dengan Demian, biar Deli bersiap-siap kalau seandainya Demian mencari dirinya nanti" kata Dina yang sedang malas untuk berpikir tentang keberadaan Demian yang sudah kembali lagi ke negara I.


"Sip. Kita akan cari waktu yang tepat untuk mengatakan kepada Deli, kalau Demian sudah kembali pulang" ujar Dian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dina kepada dirinya.


Mereka berdua memang harus memberikan peringatan kepada Deli, kalau Demian sudah kembali. Deli memang harus bersiap siap jangan sampai Demian menemui dirinya saat dia belum siap dengan jawaban yang akan diberikan oleh kepada Demian.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kamar rawat Deli. Mereka berdua melupakan sejenak tentang Demian yang sudah kembali pulang itu.

__ADS_1


__ADS_2