
Kepada para penumpang untuk membetulkan duduknya dan memasang sabuk pengaman. Sebentar lagi pesawat akan landing." kata pramugari yang berdiri di depan.
Felix yang mendengar suara merdu pramugari langsung terbangun dari tidur nikmatnya. Dia melihat Dina yang tertidur sambil memeluk tangan Felix. Felix baru sadar kalau Dina memeluk tangannya. makanya untuk perjalanan jauh Dina lebih suka memakai pilotnya yang ini dari pada yang biasanya.
"Din bangun Din. Sebentar lagi pesawat akan landing." kata Felix membangunkan Dina dengan cara mengguncang tangan Dina yang sedang memeluk tangan Felix.
Dina yang melihat tangannya memeluk tangan Felix langsung melepaskan pegangan tangannya. Dina terlihat malu sendiri.
"Santai aja Din. Nggak masalah" kata Felix.
"Maaf Lix. Dari tadi pastinya tangan aku memeluk tangan kamu ya?" tanya Dina sambil menatap Felix.
"Lumayan lama Din" jawab Felix.
Dina kemudian duduk dengan tenangnya. dia sangat malu sekali karena berani beraninya dia memeluk tangan Felix. Dina meminum air mineral yang berada di aras meja kecil di samping kursi penumpang.
Tak terasa mereka sudah landing. Pilot Dina yang baru ini pasti sangat mulus saat landing dan terbang. Tidak kasar seperti pilot yang lainnya.
Mereka bertiga lalu turun dari pesawat. Dihadapan mereka sudah ada tiga mobil yang menunggu.
"Tuan Jero dua mobil akan menuju rumah Anda. Satu untuk anda tumpangi. Sedangkan yang satu lagi untuk coklat sepuluh kardus milik Tuan yabg tuan tinggalkan di toko saya" kata Dina menerangkan.
Saat Jero mendekat ke arah mobil, tiba tiba pintu mobil terbuka. Deli turun dengan anggunnya dari atas mobil.
"Loh kenapa ada kamu?" kata Jero yang kaget melihat Deli turun dari mobil milik Dina.
"Maaf Tuan Jero. Saya lupa mengatakan kalau Deli adalah sahabat terbaik saya. Ayahnya juga yang mengelola perusahaan saya yang di negara ini" kata Dina sambil memeluk Deli
"Udah lama menunggu Del?" tanya Dina kepada sahabatnya itu.
"Nggak, barusan sampe. Gimana penerbangan loe?" kata Deli sambil melepaskan pelukannya dengan Dina.
"Biasa aja" jawab Dina dengan santai.
"Bisa nggak temu kangennya di kafe. Saya lapar." kata Jero sambil memegang perutnya yang sudah berbunyi.
Jero tadi di atas pesawat hanya makan sedikit. Jero paling tidak suka memakan makanan beku yang dihangatkan kembali.
"Gimana kalau makan ke kafe milik Deli saja. Gue kangen lontong gulau tunjang Bunda" kata Dina kepada Deli.
" Asiap. Kalau habis kamu terpaksa makan yang lain" ucap Deli yang tidak yakin lontong gulai tunjang masih ada siang begini
Juan sekretaris Dina langsung membukakan pintu untuk Dina. Jero menarik tangan Felix menuju mobil mereka.
__ADS_1
"Maaf Jer gue sama Dina. Loe sama Deli aja" kata Felix sambil berjalan ke arah mobil Dina.
"Oh. Gue kira loe semobil dengan gue." jawab Jero sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jero kemudian naik ke atas mobil untuknya begitu juga dengan Deli. Tiga mobil itu beriringan menuju rumah Deli. Mereka akan makan siang di sana sesuai dengan permintaan Dina. Tidak terasa perjalanan jauh dari bandara menuju rumah Deli akhirnya selesai juga. Tiga mobil mewah parkir di luar pagar rumah Deli. Bunda dan Hendri melihat tiga mobil mewah berhenti langsung keluar dari tempat mereka berada.
"Bunda" teriak Dina saat melihat seorang perempuan yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri.
"Sayang, Bunda kangen sama kamu sayang. Kenapa kamu tidak pernah menghubungi Bunda selama di sana" kata Bunda sambil membawa Dina ke dalam pelukannya.
Jero dan Felix yang melihat keakraban antara Dina dan Bunda Deli langsung geleng geleng tidak percaya. Dina yang melihat raut wajah Felix hanya bisa tersenyum.
"Hay kakak gantengku. Nggak kangen sama adik kamu yang terkenal kejam ini?" tanya Dina kepada Hendri yang juga sudah dianggapnya sebagai kakak laki lakinya.
Dina kemudian memeluk Dina sesaat.
"Kakak kira kamu akan makin besar Din. Ternyata tidak masih tetap sama" kata Hendri dengan santainya.
"Kakak, Bunda, Deli ada yang mau aku katakan" kata Dina.
"Apa?" tanya Deli penasaran.
Dina kemudian menarik tangan Felix ke arah Bunda dan Hendri.
"Bunda, ini calon suami aku." kata Dina menunjukkan Felix ke depan keluarganya.
"Kamu serius Din? Emang kapan jadiannya?" kata Deli yang tidak yakin kalau Dina dan Felix atasannya memeliki hubungan.
" Semenjak sekarang" jawab Dina dengan percaya dirinya.
"Kak Felix maukah kamu menjadi kekasih ku?" kata Dina main langsung saja.
Deli dan Juan yang sudah tau tabiat Dina, hanya bisa geleng geleng kepala saja.
" Kamu serius Dina?" tanya Felix dengan nada ragu.
"Seriuslah. Aku nggak pernah mengatakan aku suka sama orang kakak. Ini baru, kalau kakak nggak suka juga nggak apa apa." kata Dina dengan santainya, padahal di dalam hatinya dia tidak ingin di tolak oleh Felix.
"Sejujurnya aku juga mencintai kamu semenjak pertemuan pertama kita di kantor kamu. Tetapi aku mau mengatakan kalau aku bukanlah seorang CEO. Aku adalah anak angkat keluarga ku" kata Felix mengungkapkan status dirinya.
"Tidak apa apa kak. Aku menjalin hubungan bukan dengan harta atau dengan nama keluarga. Aku menjalin hubungan dengan kamu." kata Dina sambil menggenggam tangan Felix.
Dina begitu bahagia dia menemukan orang yang tepat untuk mengurus dan mendampingi hidupnya ke depan. Tiba tiba Jero teringat sesuatu.
__ADS_1
"Nona Dina" panggil Jero.
"Kakak jangan panggil Nona lagi. Panggil aja Dina mulai sekarang" kata Dina sambil menatao Felix.
"Haduh Din, nampak kali loe sedang jatuh cinta. Dari tadi yang ngomong Tuan Jero yang loe liatan Tuan Felix" kata Deli sambil memukul kepala Dina.
"Dina, kalau kamu menjalin hubungan dengan Felix, bukan berarti kamu akan membawa Felix keperusahaan kamu kan?" tanya Jero yang takut kehilangan Felix di perusahaannya.
"Tidak kak. Aku udah ada Juan. Jadi kekasih aku ini tetap mendampingi kakak" jawab Dina sambil mengelus lengan Felix.
Tiba tiba terdengar teriakan lantang dari arah belakang mereka.
"Dina sarap, loe katakan cinta nggak nunggu gue hadir. Tega banget loe. Emang sahabat loe hanya Deli doang" kata Dian yang datang datang langsung emosi
"Sorry Nona bos. Gue kira semenjak loe megang kendali perusahaan loe nggak sempat lagi kumpul dengan gue dan Deli" kata Dina sambil memasang wajah tanpa dosanya.
"Mana ada, tanya Bunda dan Bang Hendri, kalau gue tiap makan siang pasti ke sini" jawab Dian yang keceplosan memanggil Hendri dengan panggilan abang
"Tunggu, loe manggil kakak gue dengan panggilan apa tadi? Abangkan ya" tanya Deli.
Hendri dan Dian terlihat salah tingkah. Mereka sudah menyembunyikan sesuatu dari Dina dan Deli serta keluarganya.
"Jelaskan kak" kata Dina dan Deli bersamaan.
"Kami sebenarnya udah jadian selama tiga bulan. Sengaja nggak ngasih tau supaya kalian nggak salah paham" kata Hendri.
"Oh jadi loe kakak ipar kami" kata Dina sambil tersenyum bahagia.
"Op ke kakak nggak boleh emosi" jawab Dian yang berlindung di balik badan kekar Hendri.
"Yayayayaya kakak" jawab Dina dan Deli.
"Udah sana duduk jangan ribut. Bunda tadi masak gulai tunjang dan tembunsu, silahkan makan di meja makan" kata Bunda.
Mereka bertujuh langsung masuk kedalam rumah Deli. Mereka langsung menuju meja makan. Disana sudah terhidang nasi beserta lauknya dan juga minuman dingin. Mereka bertujuh menyantap makan siang itu dengan sangat lahap. Sampai semua yang terhidang tak bersisa.
Felix yang telah selesai makan kembali menuju mobil. Dia mengambil sekotak coklat yang akan diberikan ke Bunda.
"Bunda ini ada oleh oleh dari calon menantu Bunda" kata Felix yang sudah agak mulai mau bercanda.
"Makasi nak Felix. Coklat ini pasti lezat" kata Bunda.
Felix meletakan coklat tersebut ke dalam rumah. Betapa terkejutnya Felix ternyata ada lima kardus coklat yang sama terletak di dalam rumah Deli. Dina melihat ekspresi Felix, dia langsung tersenyum dengan niat baik Felix.
__ADS_1
"Aku nggak salah pilih" kata Dina.
Setelah selesai makan dan ngobrol ringan Felix dan Jero pamit untuk pulang ke rumah utama. Papi dan Mami sudah menunggu mereka di rumah.