Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BUKAN SALAH TAKDIR


__ADS_3

Hari ini jadwal Kirana untuk memeriksakan kandungannya yang sudah mulai membesar ke rumah sakit.


Di hari ini juga, Syakir membatalkan menemani Kirana untuk memeriksakan kandungan istri tercintanya itu. Tiba -tiba saja sepulang dari kampus, Syakir di cegat oleh beberapa orang dan langsung di bawa pergi ke suatu tempat.


"Bisa -bisanya kamu melepaskan diri dari tanggung jawab kamu?" ucap salah satu mafia.


"Saya tak melepas tanggung jawab. Bukankah saya mengantarkan paket itu tepat pada orang yang membelinya? Salah saya dimana? Saya memang ingin berhenti dan fokus pada kuliah saya. Tapi, saya tidak berkhianat dan tak pernah membuka rahasia besar ini," tegas Syakir dengan suara lantang.


Ia merasa apa yang ia lakukan adalah hal yang benar bukan sesuatu hal yang salah. Sedikit pin Syakir tak merasakan gentar atau takut. Ia malah merasa bersalah jika masih berada di jalan yang tak sesuai dengan tuntunan ajaran agamanya.


"Tapi nama kamu, wajah kamu, semua tentang dirimu sudah tercium oleh pihak kepolisian. Kalau seperti ini, kami tak bisa membantu kamu lagi," ucap ketua mafia itu menasehati Syakir.


"Itu resiko besar yang harus saya hadapi karena telah terjun ke dunia berdosa ini," ucap Syakir pasrah.


Ketua mafia itu hanya tertawa keras sambil menatap tajam ke arah Syakir sambil memberika kode kepada seluruh anggotanya.


"Oke. Sekarang kamu boleh pergi," ucap Ketua mafia itu melepas Syakir yang ingin keluar dari jalurnya sendiri.

__ADS_1


Skip ...


Kirana sudah duduk di ruang tunggu. Ia mendapat antrian nomor dua puluh untuk pemeriksaan USG dan kandungannya.


"Kirana?" teriak Fahad keras saat melihat Kirana duduk termenung sambil mengusap pelan perut besarnya.


Kirana mengangkat wajahnya dan menatap lekat ke arah wajah Fahad lalu tersenyim manis.


"Hei Fahad? Kau tugas sore ini?" tanya Kirana pelan.


Fahad hanya mengangguk pasrah. Antara senang dan tidak senang ia bertemu kembali dengan Kirana. Ia sudah mulai terbiasa selama sebulan ini tanpa kehadiran Kirana dan komunikasi intim dengan Kirana walaupun sejujurnya Fahad tersakiti dengan cara ini. Ia sama sekalibtak bisa melupakan senyum Kirana yang manis dan tulus berada di dalam pikirannya setiap saat.


"Apa kabar kamu, Kirana?" tanya Fahad sedikit berbasa basi.


"Baik Fahad. Alhamdulillah sekali. Kamu sendiri bagaimana? Anna?" tanya Kirana lembut.


"Aku baik -baik saja Kirana." jawab Fahad singkat.

__ADS_1


"Anna? Apa kabarnya?" tanya Kirana mengulang. Fahad belum menjawab. Bukan karena lupa tapi memang ia tak ingin menjawab pertanyaan Kirana.


Fahad melamun teringat dengan Anna.


"Fahad? Kau dengar pertanyaanku?" tanya Kirana pelan.


Fahad mengangguk pelan.


"Aku ada pasien. Maaf aku tinggal dulu," ucap Fahad seperti terburu -buru.


Ia merasa ada sesuatu yang aneh yang di sembunyikan dan ini tentang Anna.


Fahad langsung pergi begitu saja meninggalkan Kirana. Ia harus pergi dan menghindari pertanyaan yang membuatnya sakit hati.


Fahad berbelok di koridor depan dan menghentikan langkahnya. Tubuhnya ia sandarkan di dinding.


"Maafkan aku, Kirana. Sebenarnya, Anna ingin sekali bertemu dengan kamu, tapi ... aku tahu itu akan sulit bagimu saat ini," ucap Fahad lirih pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tak pernah menyalahlan takdir pertemuannya dengan Kirana. Ia hanya menyalahkan waktu yang hadir selalu tidak tepat.


__ADS_2