
"Baiklah sayang. Hati hati. Felix kamu antar Dina ya." ujar Mami.
"Siap Mi." jawab Felix yang memang sudah berniat untuk mengantarkan Dina pulang.
Dua mobil beriringan meninggalkan mansion Edwardo menuju kafe Deli. Felix sebenarnya ingin mengantarkan Dina ke rumah milik Dina. Tetapi Dina mengatakan kalau dia sudah ada janji dengan kedua sahabatnya. Felix pun tau kalau bagi Dina kedua sahabatnya itu sangat penting. Makanya Felix mengalah dan tidak memaksakan kehendaknya kepada Dina.
Setelah berkendara lumayan lama karena mansion utama keluarga Edwardo terletak di pinggiran kota, dua mobil hitam itu sampai juga di kefe Deli.
"Sayang, aku nggak singgah ya. Ada pekerjaan yang harus aku urus." ujar Felix yang sebenarnya memberikan waktu kepada Dina untuk berbincang bincang dengan kedua sahabatnya.
Dina mengangguk.
"Bilang aja mau ngasih waktu aku diintrograsi mereka kan ya. Pake alasan kerjaan." ujar Dina sambil tersenyum bahagia. Dina sangat senang karena Felix pahan dengan kondisi persahabatan mereka bertiga.
"Saatnya dengan sahabat kamu sayang." ujar Felix kepada Dina.
Felix memarkir mobil Dina di tempat parkir. Setelah itu Felix dan Dina turun dari mobil.
"Dada sayang. Besok aku ke perusahaan." ujar Felix.
"Oke sip. Hati hati di jalan. Sampe kasih tau." ujar Dina.
Saat Felix hendak kembali ke mobilnya, bertepatan dengan Bunda yang baru datang dari dapur.
"Nak Felix nggak singgah? Kok buru buru." ujar Bunda menyapa Felix.
"Nggak Bun. Ada kerjaan yang harus diselesaikan." jawab Felix sambil bersalaman dengan Bunda.
"Oh baiklah. Hati hati di jalan." ujar Bunda.
Felix berlalu ke mobilnya. Dia akan langsung pulang seperti permintaan Dina kepadanya.
"Mana Deli dan Dian Bun?" tanya Dina yang tidak melihat kedua sahabatnya di kafe.
"Ada, sedang bungkusin kue di dalam." jawab Bunda sambil menata sambal sambal yang sudah masak.
"Dina masuk dulu Bun." ujar Dina sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Deli dan Dian terlihat sedang serius membungkus kue kue jajanan pasar. Dina melihat tidak ada Ayah dan Kak Hendri di sana.
"Hay" ujar Dina mengagetkan kedua sahabatnya yang sedang serius membungkus kue.
"Ayam ayam ayam." ujar Dian yang bener bener kaget karena ulah Dina.
"Dasar loe suek." ujar Dian yang beneran kaget.
__ADS_1
"Hahahahaha. Sorry, gue kira loe berdua tau kedatangan gue." ujar Dina sambil duduk di sofa yang masih kosong.
"Kok udah pulang aja? Bukannya ini hari minggu ya?" ujar Deli sambil melihag kalender yang tergantung di dinding rumah.
"Bener minggu. Siapa ngoming senen. Besok baru senen." ujar Dina sambil menganbil satu kue jajanan pasar yang boleh dimakan.
"Terus kok cepat pulang? Nggak kencan dulu?" tanya Deli selanjutnya sambil memandang Dina.
Dina terdiam sesaat dia seharusnya memang harus pergi jalan dengan Felix saat ini. Tetapi ntah kenapa Dina sedikit malas mengajak Felix untuk keluar. Seharusnya Felix yang mengajak Dina.
"Nggak diajak." jawab Dina dengan santainya.
Dina kemudian mengambil plastik kecil kecil untuk ikut juga membungkus jajanan pasar tersebut.
"Ya elo yang ngajak, kalau Felix nggak ngajak elo." kata Dian sambil menatap Dina.
"Ogah gue mah. Sudahlah waktu katakan cinta gue yang ngomong duluan. Eeee sekarang pas ngajak kencan masak gue lagi." kata Dina sambil tetap memakan jajanan pasar yang bagian bagian nggak bisa di jual.
"Loe ngomong ngomong aja, nggak usah pake berkali kali makan pinggiran kue. Loe kira gue nggak mau!" Dian protes kepada Dina, karena dari pertama duduk, pertama bercerita, pertama bungkusin kue, Dina terus aja makan tanpa memikirkan apakah Deli dan Dian nanti akan dapat kue itu atau tidak.
"Hehehehe. Sorry enak." jawab Dina sambil tersenyum kepada Dian.
"Atau loe nggak dikasih makan di rumah calon mertua loe?" lanjut Dian yang sangat niat untuk membuli Dina.
"Cerita apa?" tanya kedua sahabat itu dengan kompak.
Dina menarik napas, dia siap dikatakan apapun oleh kedua sahabatnya itu. Walaupun sudah bisa dapat gambaran dari tingkah kedua sahabatnya, Dina tetap harus menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya itu.
Dina cukup lama terdiam. Deli dan Dian sudah penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Dina.
"Woi masih lama menungnya?" tanya Dian sambil melempar bantalan soda ke wajah Dina.
"Nggak. Ini gue mau cerita ke elo berdua." jawab Dina sambil menaruh bantalan kursi yang dilempar Dian tadi.
"Jadi gue kan datang ke rumah itu jam enan tiga puluh sore. Gue memakai pakaian dress untuk acara makan malam. Terus saat gue turun mobil, gue udah di tunggu Felix kan ya. Nah singkay ceritanya, makan malam dilakukan bersama sama." kata Dina.
"Nah pertanyaan gue. Loe kan juga bisa dibilang dari keluarga kaya neh. Gimana cara makan malam elo?" tanya Dina kepada Dian dan Deli.
"Maksud loe?" tanya Dian yang kurang paham dengan maksud dari Dina.
"Maksud gue tata cara makan malam keluarga loe seperti apa." ujar Dina memperjelas maksud dari pertanyaannya.
"Ooooo. Kalau dikeluarga gue biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Ambil makanan sendiri, makan sendiri tidak boleh ngobrol." jawab Dian sambil membayangkan bagaimana dinginnya keluarga mereka saat acara makan malam.
"Kalau gue kalian tau lah ya. Sama dengan Dian." jawab Deli yang memang tidak ada hal istimewa saat makan malam di keluarganya.
__ADS_1
"Emang di rumah Felix kayak apa Din. Penasaran Gue." ujar Dian yang sekarang mengubah posisi duduknya. Dia terlihat serius mendengar apa yang akan diceritakan oleh Dina.
"Huf. Di sana masak iya kita makan mulai dari hidangan pembuka yang disajikan oleh kokinya langsung." ujar Dina mulai menceritakan perihal makan malam di rumah Felix.
"Setelah selesai makan makanan pembuka, lanjut hidangan utama yang juga disediakan langsung oleh koki. Makanannya nggak sekali datang, tapi bergantian." lanjut Dina
"Terakhir baru makanan penutup"
"Hah ribet amat mau makan." ujar Dian sambil geleng kogeleng kepala mendengar tata aturan makan di rumah Felix.
"Nah itulah. Gue nggak habis pikir, kok bisa ya orang makan dengan aturan yang seperti itu riwehnya." ujar Dina.
"Kalau semua orang dalam keadaan kelaperan apa yang terjadi itu. Apa tetap harus protokol lagi. Atau boleh makan langsung?" ujar Deli yang nggak habis pikir dengan cara makan keluarga Booss nya itu
"Kayaknya mereka nggak pernah kelaperan." ujar Dina.
"Orang kaya mana pernah kelaperan, pertanyaan Deli ngasal." ujar Dian menatap Deli.
"Kali aja saking seriusnya kerja tu dua boss lupa makan." Deli masih membela dirinya.
"Loe kan sekretarisnya neh, pernah loe nengok kedua bos loe itu nggak makan siang atau nggak sarapan?" tanya Dian.
Deli menggeleng, Dia memang tidak pernah melihat kedua bosnya itu lupa makan.
"Noh tau jawabannya." kata Dian.
"Sekarang loe jawab gue kenapa nggak pulang?" ujar Dian berbisik. Dian takut ayah akan mendengar ucapannya.
"Kepo." ujar Dina sambil menatap mencemooh ke Dian.
"Ye bukan kepo ogeb. Kami takut terjadi apa apa sama loe." ujar Dian yang kesal mendengar jawaban Dina.
"Hahahahaha. Santai bro." kata Dina yang tau Dian sedang kesal.
"Jadi siap makan malam kami ngobrol tentang kematian keluarga gue. Saking semangatnya ngobrol nggak terasa hari udah malam. Jadi, Nyonya Edwardo melarang gue pulang." kata Dina menjelaskan kenapa dia bisa sampai menginap di sana
"Tumben loe nggak berani pulang malam sendiri. Biasanya berani juga." kata Deli menatap Dina dengan curiga.
"Kalau mansionnya di kota mah gue berani. Ini pinggiran. Kayaknya mereka sengaja beli rumah jauh dari keramaian." kata Dina menjelaskan kenapa dia tidak berani pulang sendirian semalam.
"Oooo. Jadi, mansion mereka jauh. Gue kira tengah kota." ujar Deli yang tidak menyangka rumah bosnha jauh di luar kota.
"Gue juga kaget pas ke sana. Gue udah berkendara lama nggak nyampe nyampe. Ternyata oh ternyata." ujar Dina sambik tersenyum jengkel.
Mereka kemudian kembali membantu Bunda di kafe. Walaupun Dina dan Dian adalah seorang direktur, tapi bagi mereka membantu Bunda adalah sebuah kesenangan tersendiri.
__ADS_1