
"Sini kunci mobil, biar Gue yang mengemudi." ujar Jero sambil meminta kunci mobil kepada Felix.
Felix memberikan kunci mobil kepada Jero. Jero melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dia sebenarnya tidak ingin cepat sampai di rumah, dia malas bertemu dengan kedua orang tuanya. Apalagi nanti pasti akan membahas masalah Frenya lagi. Masalah yang tidak akan ada habisnya. Ntah sampai kapan, masalah itu akan terus ada antara Jero dan kedua orang tuanya.
"Loe malas pulangkan ya?"
Jero menggangguk.
"Gue males aja kalau Mami selalu menanyakan dan menyarankan hal yang sama terus. Selalu tentang Frenya. Mereka tidak tau bagaimana sebenarnya Frenya. Makanya gue heran kenapa mereka melarang gue dengan Frenya." ujar Jero dengan wajah sedikit menahan kesal.
Felix melihat Jero lagi lagi kesal dengan kedua orang tuanya. Apalagi ini karena Frenya, seorang perempuan yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan perhatian dan cinta Jero. Tetapi Felix masih belum bisa berbuat apa apa. Frenya sangat rapi menyimpan siapa dirinya sebenarnya. Berkali kali Felix hampir berhasil dan berkali kali itu pula Felix harus menerima kegagalan karen Frenya begitu cerdi.
"Jero, gue cuma mau bilang bahwasanya tidak ada orang tua yang memiliki niat buruk terhadap anaknya. Mereka pasti selalu berniat baik. Begitu juga dengan Papi dan Mami. Mungkin saja mereka mengetahui sesuatu, tetapi mereka tidak ingin memberitahukan kepada elo. Itu semua dilakukan supaya elo bisa mencari tau sendiri kebenarannya." ujar Felix.
"Ntahlah Felix. Gue sampai sekarang masih belum tau apa yang mengakibatkan Papi dan Mami tidak suka dengan Frenya." kata Jero sambil tetap melajukan mobilnya menuju rumah utama.
Mereka berdua cukup lama terdiam. Felix paham dengan perasaan Jero sekarang. Tetapi apa yang bisa dilakukan oleh Felix. Felix cuma anak angkat dari keluarga itu. Berkat kelyarga itulah Felix bisa menjadi seperti sekarang ini.
"Apa gue aja yang pulang ke rumah. Loe ke apartemen. Nanti gue ngomong ke Papi dan Mami, kalau loe ada urusan ke anak cabang perusahaan. Gimana?" ujsr Felix memberikan sebuah alasan kepada Jero
"Sampai kapan Felix, gue harus kucing kucingan dengan Papi dan Mami. Papi dan Mami akan tinggal di sini selamanya. Jadi, lebih baik gue hadapin ajalah, dari pada masalah ini dibiarkan berlarut larut." ujar Jero yang tidak setuju dengan usulan Felix.
"Oke sip jalau itu pilihan elo. Tapi satu hal jangan pernah melawan kepada Papi dan Mami. Ingat itu Jer. Sekesal kesal elo, lebih baik elo pergi, jangan sampai melawam" Felix mengingatkan Jero tentang hal itu. Felix takut Jero bisa melewati batasnya nanti.
"Aman. Gue nggak akan melawan. Gue akan pergi saat gue nggak tahan dengan apa yang dikatakan Mami nanti." jawab Jero.
Mobil sedan hitam mengkilap itu, akhirnya masuk kedalam gerbang rumah utama. Jero dan Felix turun dari dalam mobil. Mereka melihat Papi dan Mami sudah duduk di teras rumah sambil membaca koran dan majalah. Beberapa cemilan ada di atas meja. Serta dua cangkir teh hijau.
"Sepertinya mood mereka sedang baik." ujar Jero.
Felix mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero. Mereka berdua akhirnya turun dari dalam mobil.
"Sore Mami dan Papi." sapa Jero.
Jero dan Felix menyalami Mami dan Papi. Kedua orang tua itu menatap ke arah kedua putranya yang sudah besar besar.
"Sepertinya ada aura aura yang sedang berbahagia ini." ujar Papi.
Felix memandang Jero. Jero mengangkat pundaknya tanda tidak tau apa apa.
__ADS_1
"Maksud Papi?" tanya Jero tidak paham.
"Alah. Kalian ya, mentang mentang kami udah tua, jadi nggak tau gimana cara cari informasi gitu?" tanya Mami.
Mami kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia memperlihatkan sebuah video yang dikirimkan oleh sahabatnya.
Jero yang penasaran membuka video tersebut. Dia melihat sebuah rekaman video katakan cinta seorang wanita kepada seorang pria.
"Hahahahahahaha." Jero tertawa ngakak.
Felix yang penasaran ikut ikutan melihat apa yang ada di dalam video itu. Ternyata yabg ada di sana adalah video rekaman dirinya dan Dina. Dimana Dina sedang katakan cinta kepada Felix.
"Jadi Felix, kamu laki laki apa perempuan?" tanya Papi.
"Laki laki Pi. Papi kira aku perempuan." ujar Felix.
"Terus kalau emang laki laki, kok nggak kamu yang katakan cinta?" kata Papi.
"Kedahuluan Pi." jawab Felix.
"Boong Pi. Boong dia itu. Katanya pertama tidak cinta. Eeee sekarang udah cinta aja." ujar Jero.
"Dia kerja dimana?" tanya Mami.
Saat mereka akan mulai berbincang serius, suara panggilan azand berkumandang. Keluarga besar masuk ke dalam rumah. Mereka akan melanjutkan diskusi nanti setelah makan malam.
KAFE
"Oooooo, jadi sekarang Dina sudah punya kekasih. Asisten Tuan Muda yang terkenal arogan itukan ya." ujar Ayah yang tidak sempat menyaksikan adegan romantis tersebut.
"Bener Yah. Bayangin aja, masak dia tidak manganggap Dian sebagai sahabatnya. Dia katakan cinta tanpa ada Dian." ujar Dian mengadu kepada Ayah.
"Nah kamu kapan Dian? Jangan perusahaan aja yang kamu urus. Urusan cinta juga." kata Ayah kepada Dian.
"Ye Ayah cuma nampak Dian aja ne. Deli gimana?" Dian melempar bullyan kepada Deli.
"Iya ya, kalian berdua kan sama aja. Sama sama jomblo akut." ujar Ayah sambil melihat ke arah Deli dan Dian.
"Nah akhirnya gue kena juga."
__ADS_1
"Terus besok loe ngantor Del?" tanya Dina.
"Iyalah. Dibunuh bos gue kalau nggak ngantor." kata Deli.
"Gue nitip ya."
"Lah mulai deh gue jadi kurir. Nasib nasib."
"Hahahahahaha. Demi cinta gue Deli. Loe gitu amat." Dina memanjangkan mulutnya. Dia sedikit kesal karema Deli tidak mau membawakan pesanannya.
"No" ujar Deli.
"Bunda Deli Bun." ujar Dina merajuk kepada Deli.
"Hahahahahahaha. Ngadu dia." kata Dian dengan bahagia.
"Iya iya gue bawakan. Masak nggak gue bawa, bisa bisa gue di oper ke negara lain nanti." ujar Deli.
Mereka kemudian melanjutkan cerita ke berbagai hal. Ayah juga memberikan laporan tentang perusahaan Dina yang sedang di kelola oleh Ayah.
"Dina, bisa Ayah berbicara sebentar?" tanya Ayah dengan wajah serius.
"Ada apa Ayah?"
"Nak, kamukan udah kembali lagi ke sini, Ayah minta untuk kamu mengambil alih kembali perusahaan. Ayah ingin beristirahat dan menikmati masa tua Ayah Nak." ujar Ayah kepada Dina.
Dina memandang Deli dan Dian. Kedua sahabatnya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ayah.
"Baiklah Ayah. Sebelumnya Dina mengucapkan terimakasih banyak, Ayah sudah mau menangani perusahaan selama Dina pergi. Tapi, boleh Dina meminta sesuatu?"
"Apa Nak? Kalau Ayah bisa, akan Ayah bantu."
"Maukah Ayah terus membimbing Dina? Juan tidak di sini Ayah. Jadi, Dina tidak tau ke siapa harus bercerita dan meminta pertimbangan."
"Oh kalau masalah itu. Ayah akan selalu membantu kamu."
"Ayah janji?" tanya Dina meyakinkan dirinya
"Janji" jawab Ayah.
__ADS_1
"Makasi Ayah." Dina memeluk ayah sahabatnya yang sudah dianggapnya sebagai ayah sendiri.
"Sama sama sayang." jawab Ayah.