
"Baiklah Papi. Aku sangat senang Papi mau langsung pulang ke sini" ujar Hendri yang menghargai Papi mau kembali ke sini karena suatu hal.
Setelah itu telpon antara Papi dan Hendri diakhiri oleh Papi. Mereka kemudian kembali bercerita tentang toko preloved milik Deli, Dina dan Dian yang dalam sehari sudah bisa menjual dua ts brended
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi hari keluarga Bramantya terlihat sangat sibuk. Kesibukan yang sudah biasa terlihat di rumah itu sejak pukul empat d🤣
ini hari. Tetapi yang terlihat sibuk hanya Ayah, Bunda dan Kak Hendri saja. Sedangkan tiga anak gadis Ayah dan Bunda masih terlelap tidur karena capek setelah membongkar semua barang barang milik Dian yang akan di preloved kan.
Dian terbangun paling pertama, dia melihat jam sudah pukul enam pagi. Dian melihat Deli yang masih tidur.
"Del, Deli bangun Deli, udah jam enam. Elo mau telat ke kantor? Pengen di marahin Jero?" ujar Dian membangunkan Deli dari tidur lelapnya.
Deli yang mendengar sayup sayup suara Dian membangunkan dirinya, perlahan lahan membuka matanya. Dia menatap Dian lama.
"Apa?" tanya Deli kepada Dian yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Loe ke kantor nggak? Atau ambil cuti? Tengok tuh jam udah jam berapa sekarang?" ujar Dian meminta Deli untuk melihat jam dinding.
"Busyet, udah jam enam lewat aja. Okelah gue bangun lagi. Nggak mungkinkan gue masih molor. Gila aja kali." ujar Deli sambil meraih handuk dan berlari ke kamar mandi.
Dina mendengar suara suara panik di sebelahnya. Dia perlahan membuka mata dan mengumpulkan ceceran ceceran nyawa yang berterbangan dimana mana.
"Ada apa Yan?" tanya Dina kepada Dian yang kembali merebahkan badannya di ranjang.
"Biasa Deli telat bangun." ujar Dian sambil melihat ke kamar mandi, dimana Deli sedang mandi seperti orang kesetanan itu.
"Kalau Deli terlambat bukan biasa tapi tumben dia terlambat. Kalau elo iya biasa telat" lanjut Dina sambil tersenyum penuh makna dan arti kepada Dian.
Sedangkan di mansion Edwardo, Jero terlihat sedang mengambil ponselnya. Dia beberapa kali ingin mengirim pesan chat tetapi selalu dihapusnya kembali.
"Ada apa bro?" tanya Felix sambil duduk di sebelah Jero di meja makan yang sepi orang itu.
"Gue males sarapan di rumah. Kita cari sarapan luar gimana?" tanya Jero yang senang melihat Felix ternyata tidak telat bersiap siap itu.
'Efek jatuh cinta lagi ya gini, semalam kayak orang panik sekarang bahagia banget' ujar Jero yang melihat Felix hari ini berbeda dari hari sebelum dia baikan dengan Dina kembali.
"Oke. Kita ke kafe Bunda bagaimana?" ujar Felix yang keceplosan menyebut nama kafe Bunda bukan kafe Deli seperti biasanya.
"Cie kafe Bunda. Okelah yang sekarang punya Bunda" ujar Jero yang nggak bisa mendengar sedikitpun kesalahan ucapan dari Felix.
__ADS_1
"Udah males bahas. Mau sarapan di luar atau nggak?" tanya Felix kepada Jero yang kalau nggak dilarang akan terus melanjutkan mengejek Felix sampai dia merasa puas.
"Hahahahaha. Oke mari ke kafe Bunda" ujar Jero berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
Jero masuk ke dalam mobil dan duduk dibagian pengemudi. Felix yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum saja. Dia kemudian masuk ke bagian kursi penumpang di sebelah Jero.
"Gue sengaja milih untuk bawa mobil. Bisa kena marah Bunda gue, kalau nampak menantunya nyopirin gue" ujar Jero sambil melirik sekilas Felix yang sudah susah mnahan rasa sabarnya.
"Hem yayaya yayaya. Anggap ajalah gitu dulu ya bro. Biar loe senang. Lagian Alhamdulillah banget gue nggak perlu capek bawa mobil. Sekali sekali di supiri presiden direktur" ujar Felix yang nggak mau kalah mengejek Jero dengan kata katanya.
Mereka berdua terdiam sesaat. Mobil serasa sepi, seperti tidak ada orang di dalam mobil lagi. Padahal sebelumnya lumayan ribut dan membuat telinga mereka berdua sama sama memerah mendengar jawaban masing masing.
"Jero" ujar Felix memanggil Jero yang terdiam.
"Ehm kalau nggak ada maunya panggil Jero. Pas ada maunya manggil abang. Loe emang lah ya jadi orang" ujar Jero dengan nada pura pura kesal.
"Nggak asik manggil Abang" jawab Felix sambil menahan senyumnya.
"Jer, kalau para rekan bisnis kita melihat cara kita berdua seperti ini, gue bisa yakinkan mereka nggak akan takut lagi sama kita." ujar Felix yang memikirkan hal itu.
"Bukan takut, tapi segan" Jero mengoreksi perkataan Felix.
Tak terasa karena percakapan gabut di atas mobil itusudah, membuat mereka tidak terasa sudah sampai di kafe Bunda. Jero memarkirkan mobilnya di tepi jalan, karena kafe itu sedikit memiliki tempat parkir.
Jero dan Felix keluar dari dalam mobil. Mereka berdua dengan santainya jalan menuju kafe. Setiap para gadis sampai ibu ibu melihat Jero dan Felix dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Bunda yang dari adi sibuk mengambilkan pesanan orang melihat siapa yang menjadi pusat perhatian.
"Ayah, itu Tuan Jero dan Tuan Felix datang Ayah" ujar Bunda memberitahukan kepada Ayah kedatangan Jero dan Felix ke kafe.
Ayah yang sedang menata pesanan pernah meja keluar dari counteiner dan berjalan mendekati Jero dan Felix.
"Selamat pagi Tuan Jero dan Tuan Felix, mari silahkan masuk" ujar Ayah mempersilahkan Jero dan Felix untuk masuk ke dalam kafe.
Ayah mengantarkan Jero dan Felix ke tempat duduk yang masih kosong dan sedikit di pojokan.
"Mau pesan apa Tuan?" tanya Ayah.
"Tuan Bramantya jangan seperti ini, kami ini masih muda, jadi panggil saja saya Jero dan adik saya Felix. Jangan pakai embel embel aturan lagi" ujar Jero yang masih menganggap Tuan Bramantya sebagai salah satu pebisnis handal.
"Baiklah. Nak Jero dan Nak Felix mau pesan makanan apa?" tanya Ayah sekali lagi.
"Seperti biasa. Bunda juga tau" ujar Felix yang kali ini menjawab pertanyaan dari Ayah.
__ADS_1
Ayah kembali ke container, Ayah mengatakan pesanan Jero dan Felix kepada Bunda. Setelah itu, Ayah mengantarkan pesanan para tamu sesuai dengan nomor meja mereka masing masing.
Deli, Dian dan Dina yang telah selesai bersiap siap dan akan sarapan di kafe, ternganga melihat siapa yang duduk di pojokan tempat mereka biasa duduk saat sarapan.
"Loh kok ada tu orang?" ujar Dina saat melihat Jero dan Felix sudah duduk di kursi mereka.
"Emang dia nggak ngomong Din, kalau mau ke sini?" tanya Deli kepada Dina yang terlihat tidak percaya dengan kedatangan Jero dan Felix ke kafe saat ini.
"Bentar gue tengok ponsel dulu. Semalam saat chat chatan berdua, dia nggak ngomong mau kesini sarapan" kata Dina kepada kedua sahabatnya.
Dina menggeleng saat melihat nggak ada notifikasi pesan yang dikirim oleh FelixFelix ke ponselnya.
"Kalian duluan aja kesana. Gue ambil sarapan dulu" ujar Deli.
"Ikut" teriak Dian yang masih belum bisa sesuai dengan Jero dan Felix sampai sekarang.
Dina berjalan sendirian menuju tempat Jero dan Felix berada. Sedangkan Deli dan Dian mereka menuju counter untuk mengambil sarapan mereka hari ini.
Dina duduk tepat di sebelah Felix. Felix menatap Dina dengan tatapan heran.
"Kok di sini sayang?" tanya Felix kepada Dina yang sudah berada di dekat Felix.
"Iya sayang. Aku pindah ke sini aja. Malas sendirian di mansion. Di sini lebih rame. Tumben makan ke sini?" tanya Dina berbalik bertanya kepada Felix.
"Ooo. Jero pengen sarapan di sini. Makanya datang kemari. " ujar Felix mengatakan alasan kenapa mereka bisa sarapan di kafe Bunda.
Deli dan Dian datang membawa sarapan untuk mereka berlima. Mereka kemudian sarapan. Saat itulah Hendri datang ke tempat Dian.
"Hay sayang sini duduk. " ujar Dian mengajak Hendri untuk duduk di dekat mereka.
"Pagi Tuan Hendri" sapa Jero dan Felix dengan ramah.
Mereka berdua sangat tahu dengan siapa mereka berbincang sekarang. Seorang pria yang dulu merupakan asisten yang paling diaegani oleh para pengusaha pengusaha.
"Sepertinya Tuan Hendri sudah mulai bekerja lagi?" tanya Jero sambil menatap pakaian yang dipakai oleh Hendri.
"Belum Tuan Jero. Baru mau akan." ujar Hendri sambil menatap Jero dengan tatapan bersahabat.
"Oh perusahaan mana Tuan? Beruntung sekali perusahaan yang mendapatkan Tuan bekerja di perusahaan mereka" ujar Jero dengan ramah kepada Hendri.
Mereka kemudian sarapan. Selesai sarapan mereka semua menuju perusahaan masing masing. Hendri hari ini akan ke perusahaan Sanjaya. Dian akan memperkenalkan bagaimana Sanjaya Grub sekarang ini.
__ADS_1