
Fatima mengangguk pelan sambil menatap curiga ke arah Syakir yang terlihat panik.
"Mau bantu Mas?" tanya Syakir tiba-tiba kepada Fatima.
Fatima langsung menatap bingung dan cemas.
"Bantuan apa? Sulit atau tidak?" tanya Fatima pelan kepada Syakir.
"Tidak sulit, tapi nanti kamu harus terlihat natural seolah tidak terjadi apa-apa," ucap Syakir pelan.
"Sudah Mas, Fatima ingin ke Indonesia, jangan halangi kepulangan Fatima," ucap Fatima pelan.
"Tinggal di Amerika bersama Mas. Mas ingin menyelesaikan kuliah kedokteran Mas," ucap Syakir pelan.
"Apa Mas, sudah bisa memaafkan Fatima?" tanya Fatima pelan sambil mengusap perutnya yang mulai terasa keram kembali.
"Tolong jangan bahas hal itu lagi. Mas lagi tidak ingin membahas itu, Fatima," ucap Syakir dengan suara tegas.
"Ya sudah, itu pesawat Fatima sudah akan berangkat. Mas Syakir baik-baik disana, salam untuk Mbak Kirana," ucap Fatima pelan sambil beranjak dan menggeret kopernya menuju arah pesawat.
Syakir hanya diam, tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya.
Tidak lama pesawat yang akan ditumpangi Syakir menuju Amerika pun juga sudah memberikan informasi aja terbang.
Syakir sudah duduk di kursi dalam pesawat, dirinya lolos masuk dengan membawa barang haram, yang entah bagaimana cara pengemasannya, hingga tas ransel itu bisa begitu mudahnya lewat dari alat sensor.
Sejenak Syakir berpikir jika sudah sampai disana. Bagaimana jika bertemu kembali dengan Kirana yang tentu perutnya sudah mulai terlihat membuncit.
'Apa kabarmu Kirana? Mas, sangat rindu padamu,' batin Syakir di dalam hatinya.
Syakir menatap ke arah luar jendela, melihat awan-awan putih yang begitu tipis seperti kapas.
Sekilas teringat dengan senyum Kirana yang begitu tulus dan ikhlas hingga senyum itu terlihat sangat manis dan mempesona. Kedua mata Syakir pun akhirnya terpejam kelelahan karena terlalu lama bermimpi indah dalam pikirannya.
Fatima masih duduk bersandar di kursi penumpang dalam pesawat. Perutnya begitu terasa keram sekali. Kedua matanya berusaha untuk menutup dan melelapkan dalam tidur.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian. Fatima sudah sampai di bandara tujuan ke kampung halamannya. Langkah kaki Fatima terasa ragu dan begitu pelan tak berdaya sambil menggeret kopernya itu.
Fatima mencari taksi online yang akan mengantarkan Fatima ke rumah orang tuanya. Setelah ini sudah tentu, akan banyak nyinyiran yang harus ditelan mentah-mentah.
Fatima sudah berada di taksi online dan melaju dengan tujuan ke rumah kedua orang tuanya, yakni Aby Fatih dan Umi Amira.
Beberapa menit kemudian, Fatima pun sudah berada di depan rumahnya. Rumah yang masih terlihat sama dan cukup mewah.
Langkah kakinya masuk ke dalam rumah mewah yang telah membesarkan Fatima hingga dewasa saat ini.
"Nona Fatima?!" panggil seorang satpam yang telah lama bekerja dirumahnya saat melihat Fatima turun dari taksi online yang ditumpanginya dari bandara.
Merasa namanya di panggil, Fatima menoleh ke arah satpam tua itu dan tersenyum sambil mengangguk pelan. Satpam itu langsung berlari menghampiri Fatima dan mengambil alih untuk menarik kopernya dan membawanya hingga ke dalam rumah.
"Kenapa wajah Nona Fatima terlihat pucat? Nona Fatima sedang sakit? Kenapa tidak meminta jemput supir?" tanya Satpam itu beruntun tanpa jeda.
Fatima menatap ke arah satpam yang begitu bawel dan terlalu mengurusi kehidupannya sambil tersenyum kecut.
"Cukup Pak, Fatima tidak mau merepotkan orang lain," ucap Fatima pelan. Tatapannya lurus ke depan berjalan menuju teras depan rumahnya.
"Maaf, Non, Fatima , Aby Fatih sedang sakit keras," ucap satpam itu pelan memberitahu.
"Sakit keras?! Sakit apa?" tanya Fatima pelan dengan rasa penasaran.
Satpam itu pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Saya tidak tahu Non Fatima, tapi sudah satu bulan ini, dirawat dirumah," ucap satpam itu pelan dan menundukkan wajahnya.
Dada Fatima seolah sedang di hujam batu yang begitu besar. Aby Fatih sakit tentunya karena memikirkan masalah Fatima dan Syakir. Jika, Aby Fatih tahu Fatima saat ini mengandung dan siapa sebenarnya ayah dalam kandungannya itu bukan Syakir, masalah ini pasti akan tambah runyam.
Fatima melanjutkan langkahnya menuju teras. Berusaha untuk setenang mungkin, dan terlihat biasa saja agar tidak di curigai.
"Assalamu'alaikum..." ucap salam Fatima begitu lantang saat memasuki rumah.
Umi Amira yang sedang berada di meja makan untuk mempersiapkan makan siang pun berlari kecil, menghampiri pintu depan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam ... Fatima?" ucap Umi Amira keras dan tampak sangat bahagia.
Mereka berdua saling berlari menghampiri dan berpelukan. Ada kenyamanan tersendiri saat memeluk Umi Amira yang dirasakan oleh Fatima. Pelukan hangat itu benar-benar membuat rasa rindunya kepada Uminya terobati.
"Umi, Fatima rindu," ucap Fatima pelan saat pelukan itu mulai mengendur dan mulai saling melepas satu sama lain.
Kedua perempuan berbeda usia dan saling merindu itu saling bertatap. Seolah memang kasih sayang antara seorang ibu kepada anaknya tanpa batas. Semurka dan semarah apapun orang tua, pasti akan memaafkan.
"Kenapa wajahmu pucat Fatima?" tanya Umi Amira pelan saat melihat Fatima yang terlihat pucat dan letih serta lesu.
Fatima menatap sendu kepada Umi Amira, hatinya sudah patah dan remuk, tidak bisa berkata-kata lagi untuk mengungkapkan segala penderitaan yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Mungkin Fatima lelah Umi," jawab singkat Fatima kepada Umi Amira.
"Mau makan? Umi buat makanan kesukaanmu. Ayok kita ke ruang makan," ucap Umi Amira pelan sambil menarik tangan Fatima untuk menuju ruang makan.
"Umi, masak apa?" tanya Fatima pelan. Harum masakan sudah tercium sangat nikmat, namun lama-kelamaan wangi itu makin membuat perut Fatima terasa sangat eneg dan mual.
"Rendang, kamu suka kan?" ucap Fatima lembut sambil mendudukkan Fatima di kursi ruang makan itu. Umi Amira mengambil piring dan mengisi nasi putih serta beberapa potongan rendang.
Membayangkan daging dengan bumbu rendang akan terasa sangat eneg sekali. Belum lagi bumbu yang kental, pastinya akan membuat perutnya mual. Padahal rendang itu memang kesukaan Fatima, tapi entah kenapa selama hamil ini malah makanan itu menjadi makanan yang harus dijauhkan.
Piring itu sudah berada di depan Fatima, wangi aroma rendang langsung terasa sangat menyengat. Fatima menutup hidungnya dengan menekan keras dengan kedua tangannya agar wangi itu tidak tercium, wangi rempah-rempah bumbu.
"Kamu kenapa Fatima, tidak biasanya. Ink wanginya enak?" tanya Umi Amira pelan yang melihat tingkah aneh Fatima tidak biasa.
Rasa mualnya semakin terasa dan Fatima sudah tidak kuat lalu berlari ke arah wastafel untuk memuntahkan seluruh isi perutnya keluar. Tubuhnya bergetar hebat dan langsung terasa lemas saat muntahan itu hanya mengeluarkan cairan kuning bercampur air liurnya.
Umi Amira berjalan mendekati Fatima dan memijat pundak serta tengkuk leher Fatima dengan pelan.
"Kamu kenapa Fatima? Sakit? Masuk angin mungkin ya?" tanya Umi Amira lembut.
Fatima hanya diam tidak menjawab dan tidak mengekspresikan lewat gerak dan mimik tubuh. Merasakan mualnya saaj sudah membuat Fatima sangat tersiksa.
"Syakir bagaimana kabarnya?" tanya Umi pelan yang tiba-tiba teringat dengan menantu kesayangannya itu sambil memijat pelan tengkuk Fatima.
__ADS_1
Fatima menarik napas panjang, menghilangkan rasa mual diperutnya.
"Mas Syakir baik-baik saja, sekarang sudah bekerja. Fatima ijin untuk pulang sementara waktu," jawab Fatima singkat.