
"Kamu dengar bukan Deli apa yang saya katakan sama kamu?" ujar Jero sambil menatap ke arah Deli dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat sama sekali.
"Saya tidak mau di panggil kakak atau yang lainnya saat kita hanya berdua saja. Saya maunya kamu memanggil saya Tuan. Sedangkan kalau di dekat keluarga kita, kamu harus memanggil saya sayang." lanjut Jero mengatakan apa yang ingin dikatakannya kepada Deli.
"Saya sama sekali tidak berminat kalau kamu memanggil saya sayang. Karena saya tidak sayang dengan kamu" lanjut Jero masih mengata ngatai Deli.
"Saya hanya menganggap kamu sebagai sebuah mainan yang akan saya mainkan apabila saya sedang bosan" ujar Jero masih dengan santainya berkata kepada Deli.
Deli sudah tidak sanggup lagi mendengar setiap kata kata yang akan dikeluarkan oleh Jero. Deli lebih memilih untuk mengambil handuk kecil miliknya. Dia berjalan meninggalkan Jero sendirian di kamar.
Tak terasa air mata Deli menetes di pipinya saat dia berada di dalam kamar mandi. Sebuah penghinaan sudah didapatkan oleh Deli di hari pertama pernikahannya.
"Bunda, Deli harus kuat menghadapi semuanya. Ini adalah keputusan Deli. Apapun itu Deli harus bisa menjalaninya. Mau sulit, mau mudah Deli harus bisa melaluinya." ujar Deli sambil menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipi Deli.
Deli kemudian membasuh wajah cantiknya. Dia akan bersiap siap untuk tidur. Tadi sebenarnya Deli sudah tertidur nyenyak. Tetapi dia dibangunkan oleh Jero dengan menggunakan kaki. Sebenarnya Deli ingin marah besar, tetapi Deli tidak melakukan itu karena semua anggota keluarganya ada di sana. Deli benar benar dalam kondisi sulit untuk saat ini.
"Membangunkan gue aja pake kaki. Emang manusia nggak ada sopan santun sedikitpun" ujar Deli marah marah sendirian dengan apa yang dilakukan oleh Jero tadi terhadap dirinya.
Deli kemudian mengeringkan wajahnya yang tadi sangat basah itu. Deli kemudian menatap ke wajahnya yang sekarang terlihat sangat bersedih.
"Hay yang punya wajah ayo semangat. Ini semua adalah pilihan dari kamu. Jadi, kamu harus bertanggung jawab atas pilihan yang telah kamu pilih sendiri." lanjut Deli memberikan motivasi ke dirinya dengan cara dia sendiri.
__ADS_1
Deli kemudian berjalan keluar kamar. Doa melihat Jero sudah tidur di atas ranjang bagian tengah. Jero merentangkan kaki dan tangannya lebar lebar.
"Seperti bintang laut aja" ujar Deli berkata dengan suara lemah.
Deli takut Jero mendengar apa yang dikatakannya barusan. Makanya Deli. Mengatakan hal itu dengan nada suara yang sangat pelan sekali.
"Gue di sofa aja" ujar Deli yang tidak mau mengambil keputusan dengan tidur atas ranjang.
"Kalau di ranjang bisa di bunuh gue" kata Deli sambil merebahkan badan dan kepalanya ke atas sofa.
Mata Deli sama sekali tidak bisa terpejam walaupun sudah satu jam dia membolak balikan badannya di atas sofa. Deli masih saja tetap terjaga.
"Kenapa mata gue nggak bisa di ajak kompromi. Gue udah mengantuk, tapi mata gue masih tetap nggak mau tidur." ujar Deli mengomel sendirian karena dia sama sekali masih belum bisa tertidur.
"Kenapa loe harus hadir dalam hidup gue. Gue nggak minta kok." lanjut Deli menatap Jero dengan tatapan dingin.
"Gue sama sekali nggak minta elo untuk menikahi gue. Gue hanya berniat untuk menyanggupi permintaan dari Mami elo. Ternyata ini balasan yang loe berikan ke gue dengan segala pengorbanan yang gue berikan" lanjut Deli yang tidak habis pikir dengan penderitaan yang diterimanya dari Jero.
Lambat laun, mata Deli sudah mulai bersahabat dengan dirinya. Deli mulai memejamkan matanya untuk masuk ke alam mimpi. Dalam sekejap akhirnya mata Deli tertutup juga. Akhirnya Deli bisa juga tertidur walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulainya.
Karena efek perasaan dan pikirannya tidak menentu, Deli memilih untuk cepat bangun dari istirahat malamnya. Dia terbangun saat mendengar gerakan gerakan dari Jero. Deli melihat Jero sangat gelisah dari tidurnya. Tetapi Deli sama sekali tidak mau menggangu Jero. Deli membiarkan saja Jero dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
Deli kemudian melihat jam yang ada di dinding kamar. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Deli langsung bangun dari tidurnya. Dia pergi membasuh wajahnya ke kamar mandi. Deli kemudian membetulkan pakaian yang tidur yang dipakainya. Deli kemudian turun ke lantai satu rumah peristirahatan. Terlihat semua orang masih pada tidur.
Deli membuka almari pendingin. Dia mengeluarkan semua bumbu bumbu yang akan dimasak untuk sarapan. Kali ini Deli akan masak dalam porsi yang sangat besar karena dua keluarga sedang berkumpul di rumah peristirahatan.
Deli membuat nasi uduk lengkap dengan orak tempe, bihun, ayam bumbu dan sambal kacang. Deli membuat itu dalam jumlah yang sangat banyak. Untuk ayam saja Deli sampai memakai tiga ekor ayam.
Deli mulai mengerjakan semuanya. Dia sudah memasak dua mejik nasi uduk. Setelah memasak dua mejig nasi uduk, Deli mulai membuat bumbu untuk ayam bumbu. Deli kemudian mengungkap ayam bumbu itu. Sambil menunggu ayam bumbunya masak, Deli memotong tempe dan juga kentang untuk membuat sambal orek tempe kentang.
Deli mulai menggoreng kentang dan tempe bersamaan. Deli memakai dua kompor sekaligus. Saking terbiasanya dia memasak, memakai kompor bersamaan sekaligus membuat Deli sudah terbiasa dan tidak lagi terlihat canggung untuk dilakukan oleh Deli.
Deli melakukan semuanya dalam gerakan cepat dan luwes. Dalam dua jam semua masakan yang akan dibuat Deli sudah selesai semuanya. Deli kemudian meletakkan semuanya ke atas meja makan.
Setelah memastikan semuanya terhidang dengan benar, Deli kemudian naik kembali ke kamarnya. Dia melihat Jero sudah tidak ada di atas kasur. Deli merapikan tempat tidur yang dipakai oleh Jero semalam.
Siap merapikan tempat tidur, Deli mengambilkan pakaian yang akan dipakai oleh Jero setelah selesai membersihkan badannya. Deli manaruh pakaian itu di atas tempat tidur. Setelah melakukan hal itu Deli kemudian berjalan menuju balkon. Deli malas bertatapan wajah dengan Jero. Deli lebih memilih untuk menghindar dari pada harus bertemu dengan Jero.
Jero yang telah selesai mandi, masuk kembali ke dalam kamar. Dia sama sekali tidak melihat Deli ada di sana. Tetapi Jero bisa melihat kalau pakaian untuk dirinya sudah diambilkan oleh Deli.
Jero memakai pakaian itu. Dia melihat kalau selera padu padan Deli terhadap warna sangatlah bagus.
Jero yang telah selesai memakai pakaiannya, meminum teh yang sudah dibuatkan Deli. Kemudian Jero memilih untuk keluar dan berjalan menuju lantai satu mansion.
__ADS_1
Deli yang melihat Jero keluar dari kamar, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah itu nanti baru dia akan ke bawah untuk menemani keluarganya sarapan bersama.