
Sebulan kemudian, seperti biasa Kirana menjalani kehidupannya dengan berbagai kesibukannya di kedai Hapsa dan aktivitasnya sebagai mahasiswi kedokteran. Fahad juga sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter dan rumah sakit yang saat ini di kelolanya.
Syakir, yang saat ini juga sibuk dengan tugas kuliahnya, dan kini menjadi teman sekampus Kirana. Beasiswanya masih bisa digunakan dengan satu semester kemarin dianggap cuti karena sakit. Saat ini, aturannya harus bisa mengejar mata kuliahnya dengan full time siang malam ikut dalam perkuliahan.
Hari ini kesibukan Kirana sangat padat, pagi-pagi sekali Kirana sudah berangkat ke kampus untuk kuliah pagi dan dilanjutkan untuk ujian praktek dengan salah satu dosen.
Kirana sudah sampai kampus dan masuk ke dalam kelas lalu duduk dan mulai membaca materi yang akan diajarkan nanti. Kelas masih tampak sepi, hanya ada beberapa gelintir orang termasuk Syakir.
Syakir dan Kirana beberapa mata kuliah bersama dalam satu kelas, hanya saja Kirana tidak mengenali Syakir. Syakir sengaja mengubah nama panggilannya menjadi Muhammad. Banyak perubahan pada Syakir, selain itu Syakir masih menggunakan beberapa alat dan perlengkapan untuk menyamarkan wajah agar tidak dikenali oleh banyak orang terutama Kirana.
Sejak awal, ingin sekali Syakir mengajak bicara pada Kirana, karena ingin mengetahui kabar kesayangannya dan mengetahui kabar kehamilan Kirana.
Hati Syakir menjadi gelisah dan cemas, ingin rasanya mendekati istri tercintanya itu. Syakir memberanikan diri untuk menghampiri Kirana yang tampak serius membaca modul yang akan di presentasikan.
"Assalamu'alaikum, Ukhty Kiran," panggil Syakir dengan suara pelan dan dengan suara yang dibuat-buat.
Merasa namanya dipanggil, Kirana yang masih membaca modul pun langsung menoleh ke arah sebelah. Sosok Syakir yang di kenalnya sebagai Muhammad, merupakan mahasiswa baru yang sangat jenius. Kemampuan lelaki itu sangat mumpuni dan tidak bisa di tandingi oleh beberapa temannya yang paling pintar di kelasnya. Kedua mata Kirana menatap lekat kedua mata Syakir dan wajah penuh brewok itu mirip sekali seperti orang keturunan Mesir.
"Waalaikumsalam, ada apa Muhammad?" tanya Kirana dengan wajah ramah sambil menutup modulnya dan spontan mengusap perutnya yang sudah membesar.
Syakir juga secara reflek menatap Kirana dan usapan tangan ke perut besar itu. Sadar ditatap begitu lekat oleh Syakir, Kirana pun menghentikan aktivitas usapan tangannya ke perut besar itu.
"Kamu sakit, Kirana? Ada apa dengan perutmu?" tanya Syakir setengah berbisik sambil sedikit menunduk menatap Kirana.
Kirana melirik ke arah kiri dan kanan, takut yang lainnya melihat apa yang baru saja dilakukannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Muhammad, Kirana tidak apa-apa, Alhamdulillah Kirana sehat, perut Kirana agak sakit, karena lapar, belum sarapan," ucap Kirana lembut sambil meringis.
Syakir mengambil sesuatu bungkusan dari dalam tas ranselnya lalu diberikan kepada Kirana, dengan meletakkan bungkusan itu di atas meja.
"Makanlah, anakmu butuh asupan bergizi dari Ibunya," ucap Syakir setengah berbisik.
Kirana membelalakkan kedua matanya dengan rasa terkejut luar biasa. Kirana menerima bungkusan itu dan membukanya. Kirana tampak menundukkan kepalanya, dirinya malu sekali dengan ucapan jujur Syakir yang mengetahui kehamilannya.
"Semua orang juga tahu kamu sedang mengandung, tidak perlu kamu tutupi, malah itu semua akan menyiksamu," ucap
Syakir pelan sambil tersenyum tipis.
Kirana mengangguk pelan dan membalas senyuman Syakir.
"Senyumanmu, mengingatkan Kirana pada seseorang yang sangat spesial di hati Kirana," ucap Kirana lemah. Senyum itu sangat mirip dan bahkan sama persis dengan Syakir.
Kirana tersenyum sangat lebar dan kemudian tertawa pelan.
"Mas Syakir, dan kamu itu mirip sekali dengan dia, Muhammad. Kirana tidak tahu kabarnya sudah hampir satu tahun ini, semenjak Mas Syakir sakit dan dalam keadaan koma, kemudian dibawa oleh
Fatima, istri keduanya," ucap Kirana pelan penuh kegetiran. Rasanya luka yang telah disembunyikan lama itu kini, dengan mudahnya terbuka kembali dengan sangat lebar dan menganga.
Syakir begitu menyimak ucapan kesakitan yang dirasakan oleh Kirana. Kirana hanya tersenyum kecut, mengingat semua kejadian yang tidak mengenakkan untuk dirinya dan anak yang dikandungnya.
Kirana harus mengalah dan berdiam diri tanpa ada pembelaan. Semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri dengan rasa ego yang begitu besar hingga tidak ada yang peduli kepada Kirana.
__ADS_1
"Syakir, namanya bagus. Benarkah dia orang spesial bagimu sampai hari ini, Kirana?" tanya Syakir pelan dan sedikit berhati-hati dalam berucap. Cukup ragu menanyakan hal ini kepada Kirana, takut bila menyinggung perasaannya yang labil karena hormon kehamilannya.
Kirana mengangguk pelan dan tersenyum lebar.
"Bukan hanya spesial bahkan sangat spesial sekali, dan tidak akan pernah ada yang menggantikan Mas Syakir di hati Kirana. Biarlah aku menjadi wanita pertama, dan semoga menjadi yang terakhir untuknya. Maaf Muhammad, Kirana malah jadi curhat begini," ucap Kirana pelan sambil tertunduk malu.
"Tidak apa-apa Kirana, boelh kita berteman. Kenapa tidak dimakan, katanya belum sarapan?" ucap Syakir pelan sambil menunjuk pada bungkusan yang sudah terbuka di depan Kirana.
Kirana tersenyum lalu melanjutkan membuka bungkusan itu. Aroma wangi tercium sangat harum dari dalam bungkusan itu, wangi yang sangat khas sekali, wangi yang selama hampir satu tahun ini dirindukan oleh Kirana. Wangi yang kembali mengingatkan nama suaminya di dalam hati Kirana. Wangi yang terus membuat Kirana semakin rindu dan ingin memeluk lelaki kesayangannya itu. Tapi, sayang itu semua hanya wangi aroma masakan uang diinginkan sejak Mama selama mengidam, hanya saja tidak dengan seseorang yang selama ini dirindukan dan telah mengisi hatinya secara penuh dan utuh tanpa ada yang bisa menggantikan.
Kirana membuka, dan benar saja mie goreng kesukaannya pun sudah menggugah selera makannya di pagi hari itu. Kirana lalu menatap Muhammad lekat.
"Kamu memasak makanan ini semua?" tanya Kirana tiba-tiba. Kirana tidak curiga tapi mana mungkin di dunia ini satu orang dengan orang yang lainnya memiliki kesamaan yang begitu persis dan sangat mirip hampir sembilan puluh sembilan persen.
Syakir langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku membelinya, kebetulan di dekat apartemen ku ada penjual bakmi goreng yang enak, dan aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa makanan yang aku bawa ini sangat enak," ucap Syakir pelan kepada Kirana meyakinkan wanita kesayangannya itu.
Kirana mengangguk pelan dan tampak percaya begitu saja dengan semua penjelasan palsu Syakir. Syakir memang semgaja memasak pagi-pagi untuk Kirana. Tiba-tiba pagi itu Syakir terbangun dan mengingat anak yang ada dalam kandungan Kirana seolah-olah memanggil Syakir untuk dekat kepada makanya itu.
"Kirana makan ya, wanginya sudah membuat perut keroncongan," ucap Kirana pelan.
Kirana tampak sangat antusias memakan makanan kesukaannya itu, satu suap demi satu suap akhirnya pun habis tak bersisa. Syakir sengaja duduk berhadapan dengan Kirana yang tampak sumringah memakan mie goreng itu.
Sadar sejak tadi hanya di lihat oleh Muhammad, Kirana pun menatap ke arah Syakir.
__ADS_1
"Ada apa melihatku seperti itu?" tanya Kirana pelan kepada Syakir.