
Syakir sudah berada di bandara. Kedatangannya di Amerika ada beberapa misi yang harus diselesaikan. Salah satunya pekerjaannya sebagai kurir.
Syakir sudah berada di apartemen dan menunggu pembeli yang akan mengambil obat-obatan itu di salah satu kafe yang tidak jauh dari sana.
Anita sudah memberi kabar bahwa sebentar lagi, suruhan bos besar akan datang dengan ciri-ciri sebagai berikut.
"Hei, Syakir, selamat sampai di Amerika?" tanya Anita pelan dalam sambungan teleponnya.
"Sudah sejak tadi, dan aku mencari tempat tinggal untuk aku menetap disini," ucap Syakir menjawab lembut.
"Ohhh.. baiklah, yakin tidak bergabung?" tanya Anita masih berusaha mencari jalan untuk membuat Syakir mau.
"Yakin Anita, aku sudah punya mimpi, dan mimpi itu ada disini. Aku jaga rahasia ini, kamu dan Dani tidak usah risau," ucap Syakir pelan.
"Aku percaya padamu, Syakir. Selesaikan tugasmu, dan jangan pernah hubungi aku lagi, kecuali urusan pekerjaan," ucap Anita dengan suara tegas.
Sambungan telepon itu pun sudah diakhiri oleh Anita. Syakir sudah bersuap menuju kafe yang diminta di jam yang telah ditetapkan. Syakir berjalan tepat di depan kampus yang akan dimasukinya dahulu.
'Aku sudah telat satu semester, mana mungkin aku masuk kembali. Tapi akan ku coba, siapa tahu beasiswa itu masih berlaku, dengan membawa rekam jejak riwayat sakit yang diderita olehku selama ini,' batin Syakir di dalam hatinya.
Syakir pun berlalu dan melangkah lurus ke arah Kafe yang dituju. Tas ransel yang berisi barang haram itu sudah berada di punggungnya dan Syakir sendiri memakai perlengkapan menyamar.
Tepat di seberang kampus ada sebuah kafe baru yang nampak sangat ramai sekali Kedai HAPSA. Ada seorang perempuan dengan perut yang sudah buncit dan membesar.
"Kirana," lirih Syakir menatap perempuan yang semakin terlihat cantik Din masa kehamilannya itu.
Langkah kaki Syakir pun dipercepat dan betapa terkejutnya saat melihat dokter yang memeriksa Kirana saat itu menjemput istrinya dengan seorang anak kecil.
"Assalamu'alaikum, Kirana? Maaf terlambat," ucap Fahad pelan sambil memggandeng Anna.
"Waalaikumsalam, tidak apa-apa Fahad. Hai cantik, kita mau kemana sekarang?" tanya Kirana sambil sedikit menunduk mengajak Anna bicara.
__ADS_1
"Mau beli mainan untuk dedek bayi," ucap Anna pelan sambil mengusap perut Kirana yang sudah membesar.
Kirana pun memegang pipi Anna dengan gemas.
"Dedek bayinya aja belum lahir, masa sudah mau dibelikan mainan?" tanya Kirana pelan. Kepada Anna.
"Mama Kirana, dirumah sudah ada kamar untuk dedek bayi. Papa sudah memberikan satu kamar khusus tepat di sebelah kamarku," ucap Anna pelan tanpa berdosa.
Senyum Kirana langsung menghilang, lalu menatap Fahad yang pura-pura tidak mendengar dan menatap ke arah lain.
"Yuk, kita berangkat sekarang, nanti kemalaman," ucap Kirana menengahi.
Ketiganya seperti sudah keluarga kecil yang bahagia, Ada suami, istri, anak dan bayi yang masih dalam kandungan.
Fahad sudah duduk di belakang kemudi dan siap mengantarkan kedua perempuan kesayangannya itu. Sudah beberapa kali, Fahad melamar Kirana, namun Kirana selalu menolak dengan alasan masih memiliki status suami, walaupun sudah beberapa bulan tidak ada kabar.
"Kita mau kemana?" tanya Fahad pelan saat melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kamu yang telepon mau ngajak keluar, sekarang malah kamu yang tanya aku, kita mau kemana? Kamu ini gimana sih, Fahad?!" tanya Kirana dengan sedikit kesal. Tubuhnya mulai gampang terasa pegal dan nyeri di bagian punggung dan pinggang.
Fahad hanya tersenyum dan terkekeh saat menatap Kirana yang sedikit kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kita nonton yuk?" tanya Fahad pelan lalu menatap ke arah jok belakang untuk menanyakan persetujuan dari Anna.
Kirana juga menoleh ke belakang, karena sejak tadi tidak mendengar celoteh anak itu bergurau dengan bonekanya.
"Lho, kok malah tidur? Memang Anna tidak tidur siang?" tanya Kirana pelan sambil memutar tubuhnya menegakkan duduknya kembali.
"Kamu tahu Kirana, Anna itu antusias dan semangat, waktu tahu akan pergi bersamamu. Begitu mempersiapkan diri dan pakaian apa yang pantas untuk jalan bersamamu. Lihat saja rambutnya pun minta di kepang dua oleh ibu, katanya biar terlihat cantik sama kamu," ucap Fahad dengan suara pelan.
Kirana mendengar penjelasan Fahad pun tertawa lepas. Penjelasan itu benar-benar membuat Kirana tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Fahad kemudian.
"Ya lucu aja, mana ada anak kecil berpikiran sampai segitunya memperhatikan penampilan. Lagi pula kita kan sering pergi bersama," ucap Kirana dengan pelan sambil mengulum senyum tak tertahankan.
"Menikahlah denganku Kirana?" tanya Fahad kemudian. Pandangan Fahad masih tetap lurus ke depan fokus pada jala raya yang di laluinya.
Kirana menatap Fahad dengan tatapan bingung dan aneh.
"Fahad, kamu paham agama kan? Pertama aku ini istri orang, dan aku masih punya suami," ucap Kirana dengan suara tegas.
Fahad menyimak dan menganggukkan kepalanya pelan tanda paham. Fahad menarik napas panjang dan mengeluarkan napas itu perlahan sambil mengangkat bahunya.
"Aku mengerti dan sangat paham dengan statusmu saat ini Kirana. Aku menyukaimu dan aku ingin menjadi Papa untuk bayimu itu. Kenapa tidak kamu lepaskan Syakir, toh sudah tidak ada kabar, tidak menafkahimu juga," ucap Fahad pelan meminta penjelasan kepada Kirana.
"Aku ingin setia Fahad, kalaupun semuanya sudah berakhir, aku berusaha menjadi orang tua tunggal bagi anakku nanti," ucap Kirana dengan tegas.
Fahad menoleh sekilas melihat keseriusan Kirana saat mengucapkan penjelasan itu.
"Menjadi orang tua tunggal itu tidak mudah, aku sudah pernah dan saat ini masih aku jalani. Untung saja ada Ibu yang bisa menjadi sosok penggantian Mama bagi Anna," ucap Fahad sedikit keras.
"Kita berbeda Fahad, kamu laki-laki dengan sejuta kesibukan, hingga memikirkan anakmu saja kamu kesulitan, tapi aku? Lihat waktu luangku banyak, ada Maya juga, ada teman-teman lainnya yang mensupport kehidupanku. Aku tidak pusing Fahad," ucap Kirana pelan menjelaskan.
"Aku selalu meluangkan waktuku untuk Anna, bahkan setiap hari, mungkin kamu belum mengenalku dengan baik Kirana?" ucap Fahad menjelaskan.
"Aku tidak perlu mengenalmu lebih jauh, karena aku tidak ingin terjebak dalam perangkap yang bisa membuat perasaanku nanti malah terpenjara," ucap Kirana pelan sambil menyapa arah jalan melalubkaca jendela mobil disamping tempat duduknya.
"Kenapa kamu begitu keras Kirana?!" tanya Fahad sedikit terbawa arus kesal.
"Aku bukan keras, tapi aku menjaga diriku sendiri dari dosa besar yang bisa memfitnahku. Pandangan orang akan berbeda dengan kenyataan yang terjadi, karean fitnah itu lebih keji," ucap Kirana tegas dan lantang.
"Bagaimana kalau yang meminta itu Anna? Apa kamu akan menolak juga?" tanya Fahad menatap lekat mata Kirana saat kedua pasang mata itu bertemu.
__ADS_1