
"Deli, kenapa kamu tidak mau masuk ke kamar kamu?" tanya Dina yang sudah duduk di sebelah sahabat baiknya yang sekarang sudah bertukar status menjadi istri seorang Jero Edwardo. Entah kenapa Dina memiliki perasaan yang tidak baik terhadap apa yang terjadi kepada Deli saat ini. Makanya saat Dina melihat Deli duduk sendirian Dina dengan inisiatif berjalan mendekati Deli untuk menanyakan apa yang dipikirkan oleh Dina selama ini.
"Malas aja Din" ujar Deli sambil melihat ke arah Dina. Setelah mengatakan kata malas, Deli kembali sibuk dengan ponsel miliknya. Deli tidak berani menatap mata Dina. Deli takut nanti dia akan menangis dan tanpa sadar membuka apa yang dilakukan Jero kepada dirinya.
Dina menyipitkan matanya tidak mengerti dengan maksud kata malas yang diucapkan oleh Deli kepada dirinya. Dina menatap Deli dengan tatapan menyelidik. Dina tidak mau Deli mengalami suatu masalah dalam pernikahannya.
"Kamu baik baik sajakan sama Jero?" ujar Dina bertanya kepada Deli tentang pernikahannya dengan Jero yang baru seumur toge.
"Baik, emang kenapa?" tanya Deli balik bertanya kepada Dina kenapa sahabatnya itu sampai berpikir ke arah pernikahannya yang dalam keadaan tidak baik baik saja saat ini.
Dina menatap ke arah Deli. Tetapi Deli sama sekali tidak membalas tatapan dari Dina.
"Deli lihat ke mata aku, kalau kamu dalam keadaan baik baik saja" ujar Dina meminta Deli untuk menatap ke wajahnya.
Deli melihat sebentar ke arah Dina. Deli sudah bisa merasakan kalau dia tidak sanggup lagi untuk menatap Dina lebih lama. Deli kemudian menekan nada dering ponsel miliknya.
"Bentar ponsel gue bunyi" ujar Deli yang berpura pura kalau ponsel miliknya berbunyi. Dina menatap ke arah ponsel itu. Dina tau kalau ponsel Deli sama sekali tidak berbunyi. Deli berusaha mengelak dari Dina saat ini.
"Hallo sayang?" ujar Deli pura pura kalau telpon itu datangnya dari Jero.
Dina sudah gatal ingin mengungkap kebohongan Deli. Tetapi Dina menahan hatinya untuk melakukan itu. Dina ingin melihat Deli bisa bertahan sampai dimana dalam upaya menutupi apa yang terjadi terhadap dirinya.
__ADS_1
"Iya sayang, oke aku ke kamar sekarang ya. Tunggu aku di kamar sayang" ujar Deli melanjutkan telpon pura pura itu.
Deli kembali ke tempat Dina berada. Dina menatap Deli dengan tatapan penuh tanya dan ingin meminta penjelasan. Deli mengetahui arti tatapan mata Dina itu. Tetapi dia sedang tidak ingin membahas hal itu kepada Dina. Deli tetap dalam keputusannya untuk tidak menceritakan kepada siapapun apa yang terjadi terhadap dirinya dalam beberapa hari ini.
"Aku ke kamar dulu ya. Jero meminta aku untuk ke kamar" ujar Deli berusaha dengan santai berkata kepada Dina.
Tetapi Dina tahu kalau Deli tidak dalam keadaan baik baik saja. Dina menatap Deli sangat lama, Deli kemudian berlalu dari hadapan Dina.
"Maafkan aku Din, aku nggak bisa menatap mata kamu. Aku harus berperang dengan cara aku. Aku tidak akan membawa kalian berdua dalam permasalahan pernikahan aku" ujar Deli sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi Deli.
"Aku tahu, kamu tahu bagaimana keadaan aku sekarang. Tetapi aku tidak mungkin bisa bercerita kepada kamu apa yang terjadi sebenarnya. Aku harus bisa menyelesaikannya sendiri." lanjut Deli sambil menatap ke arah Dina yang terlihat sedang menonton televisi itu.
"Saat aku tidak kuat lagi, aku akan datang kepada kamu sahabatku. Aku akan menceritakan semua kepahitan yang sudah aku terima mulai dari hari pertama pernikahan aku" lanjut Deli.
Dina yang sedang duduk di sofa depan televisi, meraih ponsel miliknya. Dia mencari nama Dian di sana. Setelah menemukan nama sahabatnya itu, Dina menghubungi Dian.
"Yan loe dimana?" tanya Dina saat Dian baru saja mengangkat panggilan telpon dari Dina.
"Wuis semangat banget. Gue ada di kamar, sini aja kalau loe ada perlu dengan gue" ujar Dian yang memang sedang bekerja di dalam kamarnya.
Dian menyiapkan beberapa desain pakaian untuk acara pesta penikahan Deli dan Jero yang sudah diputuskan akan dihelat dua minggu lagi di hotel Edwardo, hotel baru milik keluarga besar Edwardo. Dina tadi juga sudah menawarkan untuk memakai KW Hotel miliknya, tetapi Papi bersikeras kalau acara pesta pernikahan itu akan diadakan di Edwardo Hotel. Dina akhirnya mengalah dengan keinginan Papi tersebut. Dina tidak mau memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Oke gue ke sana ya. Ada yang mau gue omongin ke elo" ujar Dina menyebutkan kepada Dian kalau dia ada keperluan dan ingin membicarakan suatu hal kepada Dian.
"Apakah itu penting?" tanya Dian kepada Dina.
" Ya penting" jawab Dina dengan nada pasti.
"Oke ke sini aja" jawab Dian.
Dian sebenarnya juga ada yang mau dia ceritakan kepada Dina. Tetapi karena pekerjaannya yang sangat banyak, membuat Dian tidak juga bisa mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Dina. Dian sudah berusaha mencari waktu yang tepat, tetapi waktu itu sama sekali tidak ditemukan oleh Dian. Akhirnya Dina yang menghubungi Dian dan meminta untuk bertemu.
Dina berdiri dari duduknya. Dia membawa toples kacang tojin yang dari tadi di bawanya kemana mana. Dina juga membawa minumnya yang masih utuh itu. Dina menjadi kehilangan rasa hausnya saat melihat sikap Deli yang tidak mau terbuka tadi kepada Dina. Dina berjalan cepat menuju kamar Dian. Dina tidak mau saat dia bercerita dengan Dian ada ada saja yang akan mengganggu mereka berdua.
"Yan gue langsung masuk ya" ujar Dina berteriak di speaker yang ada di gagang pintu kamar.
"Masuk aja, kuncinya udah gue bukak dari dalam" jawab Dian dari dalam kamarnya.
Dian sudah meninggalkan desaign baju untuk acara perhelatan pernikahan Deli dan Jero. Dina kemudian duduk di sofa yang ada di ruangannya itu. Dina yang mendengar sudah boleh masuk oleh Dian langsung membuka pintu kamar Dian. Dina melihat Dian sedang duduk santai menonton film kartun spongeboooob kesukaan dari Dina sendiri.
"Masih aja nonton spongeeboob elo ya, gue kira loe udah nggak akan nonton film kartun itu lagi" ujar Dina langsung mengejek Dian.
Dina kemudian duduk di sebelah Dian. Dian melihat wajah Dina seperti menyimpan sesuatu yang sudah tidak sanggup di simpannya sendiri. Makanya Dina menghubungi Dian ingin menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Dian.
__ADS_1
"Ada apa" ujar Dian kepada Dina.
Dian menatap wajah Dina yang terlihat menyimpan sesuatu itu. Dian ingin tahu apakah yang dipikirkan oleh Dina sama dengan yang dipikirkan oleh Dian saat ini.