
Dina yang tidak mau mengganggu fokus Dian dan juga Deli, akhirnya memilih untuk merias sendiri wajah cantiknya dengan riasan sederhana. Deli, Dina dan Dian sama sekali tidak suka dengan riasan wajah yang tebal, mereka menggap kalau tebal itu seperti buaduat.
"Selesai" ujar Dian yang akhirnya selesai juga berjuang menghias wajah cantik Deli menjadi lebih cantik lagi.
Dian telah berjuang selama lebih dari satu setengah jam untuk membuat wajah Deli menjadi secantik ini.
Dina yang mendengar teriakan dari Dian langsung beranjak dari posisi duduknya. Dia menuju ke arah Deli dan Dian berada.
"Wow loe cantik banget Deli. Serius ini elo?" tanya Dina yang kaget melihat perubahan wajah Deli.
"Ternyata bener kata orang orang. Kalau kita tidak pernah dandan, sekalinya dandan akan membuat orang menjadi kaget saat melihat kita. Nah ini buktinya, wajah loe bener bener berubah" ujar Dina memuji kecantikan dari Deli.
"Ini karena sahabat kita ini Din. Dia mengubah wajah gue menjadi seperti sekarang ini. Gue aja kaget saat lihat wajah gue bisa menjadi seperti ini" ujar Deli menjawab pujian yang diberikan oleh Dina kepada dirinya. Menurut Deli wajahnya bisa seperti sekarang ini karena Dian.
Deli kemudian dibantu oleh Dina dan Dian memakai pakaian untuk acara pernikahannya. Setelah itu, Dian membantu memasang alas kaki milik Deli yang baru dibelikan oleh Dina.
"Sempurna" ujar Dian dan Dina bersamaan.
Mereka kemudian menggandeng Deli menuju cermin yang ada di ruangan itu. Mereka bertiga melihat ke arah cermin. Sebuah air mata lolos dari mata mereka bertiga.
"Ops jangan menangis. Gue nggak sanggup lagi kalau harus memperbaiki riasan elo lagi Deli. Jadi, gue mohon jangan menangis ya." ujar Dian menghapus air mata Deli yang menetes itu.
"Kalian berdua juga nggak boleh nangis. Kalau kalian nangis gue akan ikut nangis juga" ujar Deli meminta kedua sahabatnya untuk berjanji tidak akan menangis lagi.
"Janji, kami tidak akan menangis lagi" jawab Dina dan Dian kompak.
Mereka bertiga kemudian berpelukan. Berpelukan dalam status sebagai tiga gadis cantik. Sebentar lagi salah satu dari mereka akan mengubah statusnya menjadi seorang istri.
"Kita fhoto yuk. Biar ada kenang kenangannya" ujar Deli mengajak mereka bertiga untuk ber fhoto.
__ADS_1
Mereka bertiga mengambil fhoto berkali kali. Hingga ketukan di pintu membuat semua aktifitas ber fhoto mereka berhenti mendadak.
"Masuk" ujar Dian meminta seseorang yang mengetuk pintu itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Bunda membuka pintu kamar Dian.
"Bunda" ujar Deli yang langsung berjalan menemui bundanya yang berdiri di depan pintu.
Bunda tidak masuk ke dalam kamar karena kaget dengan tampilan Deli yang sangat cantik itu. Deli benar benar terlihat sangat cantik sekarang.
"Anak Bunda cantik sekali" ujar Bunda berusaha menahan tangisnya.
Bunda tidak ingin karena dia menangis, Deli juga ikut ikutan menangis. Sehingga membuat riasan wajah Deli menjadi tidak cantik lagi.
"Kita fhoto berempat yuk. Kita tidak pernah saat sekali ber fhoto berempat" ujar Bunda mengajak Deli, Dina dan Dian untuk fhoto bersama.
"Setuju Bunda. Ayuk sini kita ber fhoto berempat" ujar Dina yang setuju mereka ber fhoto berempat.
"Wah sudah sudah, mari kita turun. Setelah ini kita akan fhoto keluarga. Kita akan minta bantu pengawal Dina untuk mengambil gambar kita sekeluarga" ujar Bunda memberikan ide kepada ketiga anak gadisnya itu.
"Setuju Bunda. Kita akan fhoto bersama sama di taman belakang rumah peristirahatan. Pemandangan di sana sangat bagus" ujar Dian pemilik rumah peristirahatan memberikan solusi untuk tempat ber fhoto keluarga mereka.
Bunda dan ketiga anak gadisnya itu berjalan ke lantai satu mansion. Mereka berempat melihat Ayah, Hendri dan Juan serta dua orang pengawal kepercayaan Juan juga ikut duduk di sana.
"Ayah, kita fhoto keluarga besar dulu ya" ujar Bunda yang mengajukan pendapatnya kepada Ayah untuk bisa melakukan fhoto keluarga sebelum acara pernikahan Jero da Deli dilakukan.
"Wah bener itu Bunda, kita sudah sangat lama tidak pernah lagi melakukan fhoto keluarga. Apalagi sekarang keluarga kita sudah banyak. Jadi, kita memang perlu mengubah fhoto keluarga kita" ujar Ayah yang setuju dengan keinginan Bunda.
Juan dan Hendri kemudian menyusun dua kursi makan di dekat ruang keluarga yang berdinding putih tersebut. Ayah dan Bunda kemudian duduk di dua kursi tersebut, kemudian ketiga wanita berdiri di bagian belakang pas di tengah tengah. Sedangkan Hendri berdiri di sebelah Dian. Sedangkan Juan berdiri di sebelah Dina.
__ADS_1
Pengawal kepercayaan Juan membantu mengambilkan dokumentasi dari setiap gaya yang ditunjukkan oleh keluarga besar Bramantya tersebut.
Ayah, Bunda, Hendri dan Deli tidak lupa ber fhoto berempat saja. Bunda berencana akan mencetak fhoto mereka berempat dengan ukuran besar. Bunda juga akan mencetak fhoto keluarga mereka yang ramai itu dengan ukuran yang sama besarnya dengan fhoto keluarga Bramantya.
"Adik, kamu cantik sekali hari ini. Sampai sampai Kakak tidak mengenali kamu tadi, saat kami mau masuk gerbang rumah peristirahatan ini" ujar Hendri memuji kecantikan dari seorang Deli.
"Ini berkat tangan ajaib dari calon istri kakak sendiri. Tangan dingin dialah yang membuat aku bisa berdiri di sini sekarang. Kalau tidak, udah bisa dipastikan kalau aku sekarang berada di kuburan karena waktu itu aku hampir saja tertabrak mobil" ujar Deli memuji kebaikan dari Dian kepada Hendri.
"Haha haha kamu masih ingat semua itu Deli. Gue udah hampir lupa. Elo malah ngingetin ke gue lagi" ujar Dian yang memang sudah melupakan pengalaman kejadian naas yang hampir merenggut nyawa Deli.
"Mana bisa gue lupakan itu Dian. Gue akan selalu ingat kebaikan loe berdua ke gue dan ke keluarga gue. Gue nggak mungkin melupakannya" ujar Deli kepada kedua sahabatnya.
"Tuan dan Nyonya besar sudah pukul satu siang. Apa kita bisa berangkat ke tempat acara?" ujar Pengawal bertanya kepada Tuan dan Nyonya Bramantya.
"Oh ya mari kita jalan. Sudah pukul satu siang. Acara pernikahan akan dimulai pukul dua siang" ujar Ayah mengulang kembali pukul berapa acara pernikahan itu akan dimulai.
Deli yang semula sudah siap untuk berangkat, tiba tiba merasakan mules di perutnya.
"Ayah, Bunda bentar. Deli mendadak mules" ujar Deli yang berjalan dengan cepat menuju kamar mandi terdekat.
Deli kemudian mencurahkan perasaannya ke dalam closeet. Deli tidak tahu kenapa dia mendadak bisa sakit perut. Padahal tadi dalam kondisi baik baik saja.
Setelah duduk di dalam kamar mandi selama sepuluh menit. Deli kemudian keluar dari dalam kamar mandi. Deli menuju keluarga besarnya kembali.
"Gimana? masih sakit?" tanya Bunda yang sudah siap dengan segelas teh pahit untuk Deli.
"Lumayan Bun" jawab Deli.
Bunda kemudian memberikan kepada Deli secangkir teh pahit yang akan dijadikan sebagai obat sakit perut. Deli meminum teh pahit itu.
__ADS_1
"Ayuk Ayah kita berangkat. Nanti telat" ujar Hendri sambil memperlihatkan kepada Ayah kalau sekarang sudah lewat dari jam satu siang.
"Oh ayuk masuk ke dalam mobil. Kita berangkat" ujar Ayah meminta mereka untuk masuk ke dalam mobil yang sudah berjejer rapi di depan perkarangan rumah peristirahatan.