
"Mari tidur, udah jam sepuluh malam. Sudah waktunya bagi kita untuk beristirahat" ujar Mami mengajak semua anggota keluarga untuk beristirahat malam.
Semua anggota keluarga, baik dari keluarga Bramastya maupun keluarga Edwardo sudah berdiri dari duduk mereka masing masing.
Merkea berjalan ke dalam kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Hal berbeda terjadi kepada Jero, Jero masih duduk terdiam menatap kearah Deli.
"Aku tidur dimana?" tanya Jero kepada Deli.
Deli termenung sambil menatap kosong ke depan. Jero menepuk pundak Deli.
"Hay, kita tidur dimana?" ujar Jero mengulang pertanyaannya kepada Deli.
"Maaf, tadi aku termenung. Ayuk ikut aku, kamar di atas" ujar Deli mengajak Jero untuk masuk ke dalam kamar mereka yang terletak di lantai dua mansion.
"Oh baiklah" ujar Jero.
Deli berjalan di depan Jero. Jero mengikuti dari belakang kemana arah Deli berjalan menuju kamar mereka.
"Hay Jero gendong lah Deli. Romantis dikit napa" ujar Mami menyoraki Jero yang terlihat berjalan beriringan dengan Deli.
Jero dan Deli pura pura tidak mendengar teriakan dari Mami. Mereka berdua terus saja berjalan menuju kamar mereka yang berada di lantai dua rumah peristirahatan itu.
"Anak kamu tu Pi. Masak iya malam pertama jalan beriringan gitu nggak gandengan minimal, gendongan maksimal" ujar Mami protes kepada Papi.
"Mana Papi tau Mami. Mereka segan kali makanya nggak melakukan apa yang Mami katakan" jawab Papi sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan istrinya itu. Bisa bisanya Mami meneriaki Jero untuk menggenong Deli ke dalam kamar mereka.
"Payah" ujar Mami yang langsung menutup pintu kamarnya.
Papi hanya diam saja melihat kelakuan dari Mami
Deli kemudian berhenti di depan pintu kamar untuk dirinya dan Jero. Kamar yang sudah disiapkan oleh Dian untuk mereka berdua.
"Ini kuncinya" ujar Deli memberikan kunci kamar kepada Jero.
__ADS_1
"Buka aja langsung" Jero meminta Deli untuk membuka pintu kamar mereka. Dia sangat malas untuk melakukan hal kecil itu.
"Pemalas" ujar Deli dengan sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh Jero.
"Hay, aku bukan pemalas, tapi sedang malas aja melakukannya. Lagian hal sepele itu masak harus aku yang melakukan" ujar Jero menjelaskan kepada Deli kenapa dia tidak mau melakukannya.
"Apa gunanya punya istri kalau hal sepele masih kita yang mengerjakan" lanjut Jero mengomel kepada Deli yang seenaknya saja menyuruh Jero untuk membuka pintu kamar mandi.
"Hem" jawab Deli dengan pelan.
Deli menempelkan kartu untuk pembuka pintu kamar mereka. Deli membuka handle pintu tersebut.
Saat pintu terbuka, betapa kagetnya Deli melihat apa yang ada di dalam kamar tersebut. Sebuah kasur lengkap dengan tebaran kelopak bunga mawar di atas kasur. Belum lagi aroma aroma cinta yang tercium dalam kamar.
"Kamu yang melakukannya?" tanya Jero kepada Deli.
"Tidak. Palingan Dian dan Dina" jawab Deli yang memang tidak melakukan semua itu.
"Oh mereka. Mereka melakukan sesuatu yang tidak berguna" ujae Jero dengan nada dingin
"Kalau mau mandi, di situ kamar mandinya" ujar Deli menunjukkan letak kamar mandi yang ada di kamar tersebut.
"Makasi" jawab Jero.
Jero meletakkan tas yang berisi pakaiannya di atas kasur. Jero kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Jero melihat bathup yang berisi kelopak bunga mawar.
"Apa apaan ini sangat lebay sekali" ujar Jero dengan nada sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Dina dan Dian.
Jero memilih untuk mandi di bawah shower saja. Dia tidak mau mandi di dalam bathup itu. Padahal tadi Jero sudah memimpikan untuk mandi dan bersantai di dalam bathup ternyata apa yang diinginkan Jero hanya sia sia belaka. Jero sama sekali tidak bisa mandi di sana.
Deli mengeluarkan pakaian Jero dari dalam tas tersebut. Dia menaruh pakaian Jero di atas kasur. Setelah itu Deli berjalan menuju sofa yang ada. Dia duduk di sana menunggu Jero keluar dari dalam kamar mandi
Setelah lelah menunggu selama satu jam, Jero sama sekali belum memberikan tanda tanda akan keluar dari dalam kamar mandi. Deli tertidur di atas sofa sambil menunggu Jero. Teh hangat yang dibuat oleh Deli sudah menjadi teh dingin. Sama sekali tidak enak lagi kalau akan diminum oleh Jero.
__ADS_1
Jero yang sudah puas mandi, berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat ke arah Deli yang tertidur pulas di sofa kamar.
"Enak kali dia tidur di sana. Mantap, dia sama sekali tidak menunggu aku baru dia tidur" ujar Jero mengomel sendirian saat melihat Deli sudah lebih dahulu tidur.
Jero kemudian membangunkan Deli memakai kakinya. Deli yang sudah lelah seharian tidak ada istirahat, sama sekali tidak merasakan Jero membangunkannya dengan memakai kaki. Deli masih terlelap tidur.
"dasar kerbau kalau sudah tidur susah dibangunkan" ujar Jero yang kesal dengan kelakuan Deli.
Jero kemudian melihat secangkir teh yang masih penuh dan masih tertutup, tetapi sayangnya sudah sangat dingin dan tidak enak lagi kalau harus diminum oleh Jero.
"Ooo Ooo Ooo dia masih sempat membuatkan saya air teh, tapi sayang nya sudah terlalu dingin" ujar Jero menatap ke cangkir teh itu.
Cangkir teh yang isi tehnya sudah sangat dingin dan tidak bisa dinikmati lagi. Jero kemudian mencoba kembali membangunkan Deli yang tertidur itu. Kali ini tendangan Jero sangat kuat ke bagian kaki Deli. Hal ini membuat Deli merasakan sakit di kakinya itu.
"Ow" ujar Deli terbangun dari tidurnya yang sangat pulas tersebut.
"Kenapa kamu menendang aku Kak?" tanya Deli saat melihat hanya Jero yang ada di sana, dan Deli sudah bisa memastikan kalau yang menendang kakinya dengan sangat kuat tadi adalah Jero.
"Jangan panggil saya kakak kalau kita sedang berdua" ujar Jero dengan nada dingin.
Deli menjadi tersipu sipu, itu terlihat dari wajahnya yang putih, wajah putih Deli sudab bersemu merah di bagian pipinya itu.
"Jangan senang dulu, saya tidak mau dipanggil kakak kalau sedang berdua. Tetapi memakai kata" lanjut Jero sengaja menggantung kalimatnya.
"Kata" ujar Deli yang sudah tidak sabar ingin mendengar apa panggilan yang diminta oleh Jero kepada dirinya
"Panggil saya Tuan" ujar Jero dengan santai
"saya bukan kekasih kamu yang bisa kamu panggil dengan kata kak atau yang lainnya. Saya adalah atasan kamu" ujar Jero mulai mengeluarkan sedikit sedikit bom kepada Deli.
Deli menganga tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Dia tidak menyangka Jero akan melakukan hal itu kepada dirinya. Deli tadi berharap Jero meminta dia memanggil dengan kata abang atau yang lainnya tetapi kenyataannya malahan kata Tuan yang harus digunakan saat mereka berdua.
"satu lagi, kalau kita di dekat semua keluarga atau ada salah satu dari anggota keluarga kita, maka kamu harus manggil saya dengan kata sayang. Saya juga akan memanggil dengan kata itu" ujar Jero yang tidak mau Mami nya memarahi dirinya karena memperlakukan Deli dengan sangat tidak baik.
__ADS_1
Deli hanya mengangguk saja. Dia tidak menyangka pernikahan ini akan langsung menjadi gelap di hari pertama pernikahan dirinya dengan Jero.
Deli langsung paham bagaimana kehidupannya ke depan. Dia harus bisa menahan hatinya dan perasannya. Kehidupan rumah tangga yang romantis tidak akan ditemuinya.