Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 59


__ADS_3

"Udahlah Tuan, jangan bahas lagi, sekarang mari kita pergi ke tujuan kita masing masing, kita harus mengejar waktu Tuan. Saya tidak mau anda gagal dalam menjalankan bidak Anda berikutnya. Saya akan naik taksi online saja ke tempat Dina. Tuan pastikan restoran sudah siap. Nanti kirim pesan aja ke saya, kalau restoran itu telah siap. Maka saya akan mengajak Dina untuk makan ke sana." ujar Deli dengan sangat bersemangat. Deli benar benar ingin sahabat dan Tuannya itu berbaikan. Deli melihat mereka berdua sama sama tersiksa karena pertengkaran ini.


"Oke sip, nanti kalau sudah beres semua, saya akan WA kamu. Sekali lagi makasi. Op jangan pakai emosi. " ujar Felix yang sudah melihat Deli akan marah karena Felix sekali lagi mengucapkan maaf kepada Deli.


Mereka berdua kemudian pergi ke tujuan tempat tujuan masing masing. Felix menyerahkan ke Deli bagaimana cara Deli membawa Dina ke restoran tempat mereka akan makan siang. Felix percaya Deli akan berhasil membawa Dina ke restoran. Apalagi posisi Dina yang sedang bahagia, maka tidak butuh usaha keras, Deli bisa membawa Dina.


"Kita kemana Nona?" tanya sopir taksi online kepada Deli, sambil melihat Deli yang duduk di kursi belakang mobil.


"Sesuai aplikasi" jawab Deli dengan jawaban singkat dan padat serta ringkas tanpa sedikitpun melihat ke arah sopir taksi online itu.


Sopir taksi terdiam mendengar cara Deli menjawab pertanyaan dari dia. Sopir taksi kemudian melajukan mobilnya menuju tempat yang sesuai dengan yang ada di aplikasi.


"Gue bener bener gagal paham dengan mereka berdua. Mereka yang ribut tapi sekompleks orang menjadi kesusahan. Mereka bener bener, kalau nggak mandang satu sahabat dan satu bos, ogah gue harus kayak gini" ujar Deli mengata ngatai sendirian.


"Gue yang harusnya kerja hari ini, malah harus keliling mall mencari barang barang untuk wanita yang ngambek, sekarang malahan harus membawa wanita yang ngambek itu ke restoran tempat mereka akan makan siang romantis. Nasib nasib, nasib jomblower" ujar Deli semakin menjadi jadi curhat colongan di taksi online.


Sopir taksi yang mendengar omelan dari Deli hanya bisa mengurut dada saja. Sopir taksi tidak menyangka cantik cantik begitu masih suka ngomong sendiri.


"Semoga orang ini dalam posisi sehat sehat saja tidak ODGJ" ujar Sopir berdoa dalam hatinya.


"Dari tadi dia mengomel aja, seperti ada sesuatu yang membuat dia luar biasa kesal" ujar Sopir taksi dalam hatinya. Sopir taksi setengah percaya kalau Deli ODGJ separo lagi tidak percaya sama sekali kalau Deli adalah ODGJ.


Sopir sedikit menyesal karena menerima orderan dari Deli. Sopir melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Dia sangat takut kalau Deli akan kumat di atas mobilnya. Sopir taksi tidak mungkin membawa pasien yang sedang sakit jiwa itu ke rumah sakit sendirian, minta bantu teman agak berisiko, antara temannya mau nolong dengan tidak mau nolong.


Deli merasa kalau sopir membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Deli tidak ingin nyawanya berakhir di tangan sopir itu. Deli masih ingin hidup seribu tahun lagi kalau bisa.

__ADS_1


"Pak bisa pelankan sedikit laju mobilnya? Saya masih belum menikah Pak. Jadi, tolong pikirkan nasib saya juga. Saya tidak mau kematian saya masuk koran Pak. Jadi, tolong dengan sangat Bapak menurunkan kecepatan mobil Bapak. Saya takut di belakang" ujar Deli yang tidak sadar kalau ucapannya semakin membuat sopir ingin melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.


"Atau kalau Bapak masih membawa mobil dalam kecepatan seperti ini, saya akan memberikan Bapak bintang satu. Karena saya rasa Bapak tidak memikirkan keselamatan penumpang, karena membawa mobil dengan kecepatan tinggi" ujar Deli mulai mengancam sopir taksi online.


Sopir taksi terkejut, Deli mengetahui pemberian bintang di aplikasi taksi onlinenya itu.


"Maaf Nona, tapi saya harus cepat sampai mengantarkan Nona, karena istri saya di rumah sedang mau melahirkan" ujar sopir taksi online berbohong kepada Deli.


Taksi online terpaksa memberikan alasan yang masuk akal kepada Deli, kalau tidak maka Deli akan memberikan bintang satu untuk sopir taksi line itu.


"Oh kalau gitu nggak apa apa Pak, silahkan ngebut, lagian Bapak ngebut, saya jadi cepat sampai di perusahaan itu" ujar Deli yang menyetujui dan mengizinkan sopir taksi online menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi.


"Kalau alasan udah keluarga yang sakit, ya mau gimana lagi, dengan berat hati terpaksa kita mengizinkannya" ujar Deli yang sengaja ngomong dengan keras, agar di dengar oleh sopir taksi online itu.


Akhirnya mobil telah berhenti telat di depan lobby perusahaan yang luar biasa megah dan besar itu.


"Saya bayar lewat aplikasi Pak" ujar Deli yang sangat kesal dengan gaya sopir taksi online melajukan mobil dalam kecepatan tinggi itu. Apalagi tadi Deli mengetahui kalau sopir berbohong mengatakan kalau istrinya akan melahirkan.


Deli kemudian turun dari dalam taksi online. Dia berjalan masuk ke dalam perusahaan Dina, perusahaan yang telah memiliki anak cabang sendiri, walaupun tidak sebesar Edwardo Grub. Deli kemudian berhenti tepat di depan meja resepsionist.


"Permisi Mbak, apa saya bisa bertemu dengan Nona Dina? Saya sudah ada janji dengan Nona Dina untuk bertemu, dan membicarakan beberapa hal" tanya Deli dengan ramah kepada resepsionist yang ada di depannya itu, yang tadi hanya ngobrol aja kerjaannya. Kedua resepsionist tidak hafal berapa banyak tamu yang datang tanpa melihat buku tamu.


"Maaf Nona, Nona kami sedang sibuk, jadi Nona Dina tidak bisa bertemu dengan siapapun saat ini." ujar resepsionist berbicara tanpa melihat ke arah Deli.


"Oh begini cara resepsionist dari perusahaan besar menyambut tamunya?" ujar Deli dengan nada tinggi. Deli sudah bosan dicuekin terus okeh resepsionist itu.

__ADS_1


"Hay gembel, loe jangan banyak gaya ya. Sana pulang, Nona kami tidak bisa bertemu dengan Anda. Anda saja tidak layak untuk masuk ke dalam perusahaan ini, apalagi mau bertemu dengan Nona kami" ujar resepsionist dengan percaya dirinya mencaci maki Deli sampai puas.


Deli bersikap santai saja. Bagi Deli apapun keadaan yang terjadi, dia akan tetap berada di jalan Deli sendiri. Deli tidak akan mengubah haluan dan pandangan hidupnya.


Mereka tidak sadar kalau Deli sedang melakukan video call dengan Dina yang berada di lantai atas ruangannya.


Dina yang mendengar sahabatnya di caci maki oleh pekerjanya, menjadi sangat marah. Dina langsung keluar dari ruangannya. Dia masuk ke dalam lift yang langsung akan berhenti di depan dua orang resepsionist yang angkuh dan sombong itu. Dina sudah mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Baru kemaren kasusnya, sekarang sudah ada lagi kasus baru. Apa yang terjadi dengan perusahaan gue ya? Kok bisa separah itu, karyawan karyawan gue tidak mempunyai etika" ujar Dina yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita wanita yang murah saja menyebutkan apa yang tidak boleh disebutkan itu


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


**Bagaimanakah makan siang antara Felix dengan Dina akan berjalan?


Stay cun di Novel aku ya kakak. Tunggu notifnya. Nantikan episode berikutnya kakak.


singgah di


My Affair


It's My Dream


Kepahitan Sebuah Cinta


Kesetiaan Seorang Istri**

__ADS_1


__ADS_2