
Fahad dan Kirana sudah berada di pemakaman Fatima sejak pagi. Umi Amira mendekati Kirana dan meminta maaf secara langsung dari hati ke hati sebagai perempuan yang sudah di poligami.
"Maafkan segala kesalahan dan dosa Fatima, Kiran. Ampuni dia, ikhlaskan semua perbuatan buruknya hingga membuat kamu sakit hati dan kecewa selama ini. Fatima sudah tidak ada, Umi pikir tali silaturahmi kita juga jangan putus. Umi titip Syifa, umi belum sanggup mengurus Syifa bersamaan dengan Aby Fatih yang membutuhkan perawatan dan perhatian khusus," ucap Umi Amira pelan menjelaskan.
Kirana mengangguk pasrah. Amanah yang begitu berat dari Fatima. Dua bayi mungil harus sekaligus dia urus bersamaan.
"Kirana sudah ikhlas untuk semuanya. Semoga Fatima tenang di sana. Kirana akan terus mendoakan yang terbaik untuk Fatima. Masalah Syifa, Kirana akan mengemban amanah dari Fatima dengan baik. Tapi, jika umi rindu dan ingin menemui Syifa, maka pintu rumah Kiran akan selalu terbuka untuk Umi Amira dan Aby Fayih. Semoga Aby Fatih cepat sembuh," ucap Kiran pelan.
"Terima kasih Kirana, kamu benar -benar begiru baik. Tak salah, jika Syakir lebih memilihmu kareba hatimu terbuat dari emas. Kesabaran kamu dan ketulusan cinta kamu sudah teruji dengan sangat baik. Umi titip Syifa. Umi harus pergi," ucap Umi Amira pelan.
"Sama -sama Umi. Doa terbaik juga untuk Umi Amira dan Aby Fatih," jawab Kirana pelan dan singkat.
Umi Amira langsung pergi meninggalkan Kirana di tempat pemakaman umum itu. Tatapan Kirana terus tertuju pada gundukan tanah merah yang masih basah dan tertutup oleh taburan bunga mawar berwarna merah dan putih.
"Kita pulang yuk? Sudah makin terik. Lagi pula kamu harus banyak istirahat," titah Fahad tegas.
"Sebentar lagi ya?," jawab Kirana pelan.
Kirana masih mencoba mengikhlaskan semuanya. Sakit hatinya, kecewanya dan semua hal yang pernah Fatima dan Syakir torehkan berbentuk luka sayatan di hatinya.
Kalau di ingat kembali. Saat iti adalah hari terburuk bagi Kirana. Pernikahan yang tersembunyi dan akhirnya di ketahui Kirana. Di saat itu juga, Kirana harus bisa menerima semuanya denagn lapang dada karena rasa cintanya kepada Syakir begitu dalam. Kirana di beri kekuatan lebih untuk kuat menghadapinya.
Hanya tangisan demi tangisan yang bjsa mengungkapkan rasa campur aduk di dalam hatinya.
Tapi kini semua itu sirna di terpa oleh angin yang mengikuti arah kehidupan.
"Aku memaafkan kamu, Fatima. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Tenanglah di sana. Syifa akan ku jaga dengan baik," ucap Kirana pelan.
__ADS_1
Kirana langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju keluar dari tempat pemakaman umum itu.
Fahad juga berjalan persisi di belakang Kirana. Dari kejauhan ia melihat Syakir berdiri jauh dan bersembunyi di balik pohon beringin yang rindang dan tertutup oleh pohon kamboja dengan bunga kamboja yang mulai berguguran.
Skip ...
Satu bulan kemudian ...
Kondisi Syifa sudah lebih baik. Bayi mungil yang lahir belum genap di usia kandungan tujuh bulan itu memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga ia bisa melewati masa sulitnya.
Berat bayi sudah mulai bertambah. Kedua matanya juga sudah bisa membuka lerlahan. Tangisannya pun sudah keras dan bisa mengeluarkan air mata. Seluruh bagian vital tubuhnya dan semua organ tubuhnya dalam kondiai baik serta sempurna.
Setiap hari Kirana selalu datang ke rumah sakit untuk melihat perkembangan kondisi Syifa. Seolah memang sudah memiliki ikatan batin yang baik. Setiap Kirana datang untuk melihat Syifa. Bayi mungil itu selalu terbangun dan membuka kedua matanya lalu menatap Kirana dan sudut bibirnya seperti tertarik ke atas seilah sedang mengajak Kirana tersenyum.
"Lucu sekali," ucap Kirana mulai menyayangi Syifa. Rasa sayangnya tentu akan adil dan sama sepeti ia menyayangi Ibra, anak kandungnya itu.
Kirana menoleh ke arah Fahad dan tertawa terkekeh. Ia sadar Syifa bukanlah anak kandungnya. Tapi ... Kirana akan tetap mencintai Syifa sepweyi anak kandungnya sendiri.
"Malah ketawa? Kenapa?" ucap Fahad sedikit kesal. Tadinya mau menggoda Kirana malahan dia yang kena mental sendiri.
"Aneh tahu. Ibra, Syifa dan Anna sudah aku anggap anak sendiri," ucap Kirana tegas.
"Lalu kapan?" tanya Fahad merasa senang, rasanya seperti mendapat angin segar.
"Kapan? Apanya?" tanya Kirana pelan sambil menatap tajam ke arah Fahad. Ia bingung dengan pertanyaan Fahad barusan.
"Kita? Soal kita?" jawab Fahad cepat
__ADS_1
Kirana menggelengkan kepalanya dan menunjukkan cincin pernikahannya yang masih aman dan utuh melingkar di jari manisnya.
Fahad hanya mendesah kasar. Hembusan napasnya terdengar keras pertanda ada rasa kecewa menyelimuti hatinya saat ini.
Kirana melirik ke arah Fahad yang berubah raut wajahnya. Ia tahu Fahad sangat mengharapkan dirinya menjadi ibu pengganti bagi Anna dan menghabiskan sisa waktunya untuk mendampingi Fahad.
Tarikan napas Kirana begitu dalam.
"Maafkan aku, Fahad. Aku sedang tidak ingin mencari masalah dengan kamu. Dari awal aku sudah katakan, aku tidak akan lernah menggantikan posisi Mas Syakir dari hati aku. Aku tidak akan pernah menggesernya dengan lelaki baru sebaik apapun dia," tegas Kirana pada Fahad.
"Tapi ... Syakir sudah menalak kamu. Apa lagi yang harapkan dari lelaki yang sudah tak lagi menginginkan kamu?" tanya Fahad mencoba membuka pikiran Kirana agar lebih realistis berpikir.
"Kamu tahu dari mana, Mas Syakir sudah tak lagi menginginkan aku? Aku yakin sekali dia berbuat itu karena ingin menyelamatkan aku dan keluarga kecilnya bukan benar - benar jngin meninggalkan aku. Atau mungkin dia sedang dalam bahaya atau bisa jadi dia sedang dalam keadaan yang tidak baik - baik saja. Aku kenal betul siapa Mas Syakir. Janjinya pada Ibu dan Bapak. Itu bukan sebuah ucapan janji isapa jempol seirang anak SMA. Dia benar benar dewasa dan bijak mengambil kepurusan itu. Tugasku adalah mendoakannya dan selalu mendoakannya," ucap Kirana pelan menjelaskan.
Skak mat ... Fahad tak lagi bisa berkutik. Tak lagi bisa merayu, membujuk soal ini. Kirana sudah memilih keputusannya sendiri. Kalau pun keputusannya berubah. Hal itu di karenakan karena suatu keajaiban atau takdir yang menjawab semua misteri kehidupan ini. Tapi soal harapan tidak bisa di rengkuh.
"Aku akan tetap sabar menunggumu. Sama seperti kamu yang selalu sabar menunggu Syakir kembali dan pulang ke pelukanmu," ucap Fahad pelan.
Kiran menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan Fahad. Lebih baik, kamu mencari yang lain saja. Orang yang bisa menerima cintamu dan menjaga kasih sayang kamu hingga maut yang memisahkan. Dan itu bukan aku orangnya. Aku bukan orang yang tepat unuk kamu tunggu," ucap Kirana pelan.
Kirana harus menjauh lagi seperti dulu dengan Fahad. Lebih abik ia hanya mengenal dan sebatas kenal. Bukan mengenal segalanya yang akan mengikis iman yang sudah kokoh itu.
"Kirana ...." panggil Fahad lirih.
Kirana tetap diam dan pergi. Ia tak mau salah lagi tentang kedekatannya.
__ADS_1