
Deli yang melihat apa yang terjadi antara Dina dengan pengunjung langsung menuju meja tersebut. Dia menatap keempat pengunjung yang sudah dalam keadaan pucat pasi itu.
"Maaf ada apa ya? Kenapa wajah kalian berempat seperti itu?" tanya Deli dengan ramah kepada pengunjung yang tadi bertemu dengan Dina.
"Bukan urusan loe. Kafe ini bawa sial" ujar salah satu wanita mengata ngatai kafe Bunda membawa sial bagi mereka.
"Maksud loe apaan? Jangan asal ngomong aja ya. Bisa fitnah jatuhnya." ujar Deli mulai tersulut emosinya mendengar fitnah yang dilontarkan oleh empat orang pengunjung itu.
Dina yang baru kembali dari dalam rumah melihat Deli agak bersitegang dengan empat orang pembeli yang tadi juga mengata ngatai dirinya. Dina melangkahkan kakinya menuju empat orang itu. Dina ingin memastikan apalagi keributan yang dibuat oleh empat orang tamu itu.
"Ada apa Del?" tanya Dina kepada Deli.
Dina menatap kepada ke empat orang itu. Wanita yang tadi nyolot mendadak diam.
"Dia enak aja ngomong kalau kafe ini bikin mereka sial" ujar Deli menceritakan kepada Dina apa yang dikatakan oleh pengunjung wanita tadi.
"Apa? Sial? Emang dia tau apa arti kata sial?" tanya Dina bertanya kepada Deli.
"Itulah. Seenaknya saja dia mengatakan kalau kafe kita pembawa sial. Gue nggak habis pikir kenapa bisa orang mengatakan kata kata sejelek itu" ujar Deli sambil tertunduk sedih.
"Untung kafe nggak ada pengunjung lain Din. Kalau ada, apa tanggapan mereka saat mendengar kafe kita dianggap kafe sial" ujar Deli memakai kata ganti kita.
Keempat pengunjung yang mendengar Deli memakai kata ganti kita, menjadi makin pucat pasi. Ternyata kafe tempat mereka biasa makan itu adalah kafe milik Dina.
Dina menatap ke empat pengunjung kafe.
"Biar gue yang urus Deli" ujar Dina sambil menatap tajam ke arah empat pengunjung itu.
"Yup. Gue pikir mereka juga kenal elo. Karena, saat gue yang ngomong dia bisa nyolot. Sekarang saat loe ada, dia terlihat sangat pucat pasi" ujar Deli yang sudah bisa membaca suasana yang terjadi sekarang.
Deli kemudian pergi dari hadapan ke empat pengunjung itu. Dia menuju container. Bunda menatap Deli.
"Ada apa?" tanya Bunda kepada Deli.
Deli kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Bunda.
"Mereka benar benar nggak punya hati. Enak aja ngomong usaha orang sebagai kafe sial bagi mereka" ujar Bunda yang ternyata juga marah saat mendengar hal itu.
"Biar Dina yang menyelesaikan Bun, sepertinya ke empat orang itu kenal dengan Dina" ujar Deli yang sudah menyerahkan penyelesaian masalah tersebut kepada Dina.
Deli dan Bunda memandang Dina dan ke empat orang itu yang sedang terlihat bercengkrama. Beberapa pengunjung masuk. Deli dan Dian dengan sigap melayani mereka semua.
"Jadi kalian kira, dengan orang jadi pelayan kafe itu sangat rendah?" tanya Dina sambil menatap tajam ke arah empat orang itu.
"Saya Dina Wijaya Kusuma, tidak pernah mengajarkan seseorang untuk menganggap remeh orang lain. Apapun jabatan mereka." ujar Dina setengah murka. Dina sangat kesal dengan ke empat karyawan perusahaannya itu.
Dina terpaksa memelankan suaranya karena tidak mau mengganggu para pengunjung yang duduk di area kafe.
__ADS_1
"Kalian tau siapa yang kalian caci maki tadi?" ujar Dina sambil melihat ke arah Deli yang sedang melayani pengunjung kafe.
"Dia itu sekretaris dari Tuan Jero Edwardo, kalian tahukan perusahaan itu? Perusahaan yang terkenal di negara ini. Dia sekretarisnya, apa jabatannya lebih rendah dari kalian? Maka jawabannya adalah tidak. Lebih rendah kalian dari pada dia" ujar Deli menekankan setiap kata kata yang dikeluarkan dari dalam mulutnya. Dia ingin menekankan kepada karyawannya itu bahwasanya jabatan bukan sesuatu yang penting dalam hidup.
"Kalian lihat pelayan yang satu lagi. Kalian kenal siapa dia?" tanya Dina kepada ke empat karyawannya itu.
Ke empat karyawan itu makin syok saat melihat siapa yang ditunjuk oleh Dina.
"Bukankah itu Nona Dian, CEO dari perusahaan Sanjaya Grub, Nona?" tanya salah seorang pria yang pernah melakukan meeting dengan Dian.
"Yup benar. Dia adalah Nona Dian CEO dan pewaris tunggal perusahaan Sanjaya. Apa dia lebih rendah dari kalian? Jawabannya adalah tidak." ujar Dina sekali lagi memberikan contoh yang memukul telak ke empat pengunjung kafe itu.
Ke empat pengunjung kafe tertunduk lesu. Apalagi wanita yang tadi sempat memaki Deli dan Dina. Memandang rendah kepada Deli dan Dina.
"Maafkan kami Nona" ujar salah seorang wanita yang dari adi tidak terlihat sifat sombongnya.
"Saya tidak menyalahkan kalian. Memang pekerjaan kami pelayan, jadi layak kalian sebagai pengunjung menghina kami. Tapi sekarang posisi saya baliak. Saya adalah CEO dari perusahaan tempat kalian mencari nafkah" ujar Dina dengan gamblang nya.
Ke empat pengunjung kafe itu langsung terdiam. Dia tidak menyangka Dina akan mengatakan hal itu. Mereka sudah bisa membayangkan apa ujung dari perkataan Dina nantinya.
"Saya Dina Wijaya Kusuma, memecat dengan tidak hormat dan tanpa pembayaran pesangon kepada Anda" ujar Dina menunjuk kepada wanita yang telah mengatakan kafe Bunda adalah kafe sial.
"Kesalahan anda bukan karena menghina saya dan sahabat terbaik saya. Tetapi, anda telah menghina kafe dimana pemilik kafe ini adalah orang tua pengganti saya. Mereka telah saya anggap sebagai orang tua kandung saya. Saya tidak Terima kalau orang tua saya di caci. Jadi, maafkan saya. Anda saya pecat" ujar Dina sambil menunjuk kiri wanita yang tadi mengatakan kafe Bunda adalah kafe sial.
"Satu lagi, kemanapun kamu akan pergi melamar, mereka akan tau kalau kamu dipecat dari perusahaan Wijaya Kusuma. Karena, semua perusahaan tahu kami akan memecat orang yang bermasalah." ujar Dina melempar bom kedua ke depan wajah wanita sombong tersebut.
"Kalian bertiga temui saya besok pagi ke ruangan." ujar Dina berpesan kepada ketiga orang karyawannya yang lain. Dina tidak akan memecat mereka bertiga. Tetapi Dina akan memberikan mereka syok terapi yang bisa membuat mereka jera dan mengingat semua kejadian yang terjadi hari ini.
"Baik Nona" jawab ke empat karyawan itu.
Deli dan Dian datang mengantarkan pesanan untuk meja tersebut. Mereka terlihat diam saja, tidak bergeming. Deli dan Dian meletakan hidangan di atas meja. Setelah itu mereka bertiga kemudian pergi dari hadapan ke empat pengunjung tersebut.
"Loe apain mereka?" tanya Deli yang mengetahui kalau Dina pasti berbuat sesuatu kepada ke empat pengunjung itu.
"Nggak gue apa apain. Gue hanya menyuruh mereka menghadap ke gue besok" kata Dina menjawab pertanyaan dari Deli.
"Serius loe nggak ngapa ngapain?" tanya Deli yang sedikit ragu dengan jawaban Dina tadi.
"Serius, ngapain juga gue pake boong" jawab Dina meyakinkan Deli kalau dia sama sekali tidak berbohong kepada Deli.
"Syukur deh. Gue kira loe pecat mereka" ujar Deli.
"Satu iya." jawab Dina membenarkan ucapan Deli.
"Yang mana?" tanya Deli penasaran.
"Yang ngomong kalau kafe Bunda adalah kafe pembawa sial" ujar Dina menjawab siapa yang dipecat oleh dirinya tadi.
__ADS_1
"Kalau itu gue setuju. Dia memandang orang hanya dari derajatnya saja. Nggak seharusnya dia seperti itu. Kalau itu yang loe pecat gue dukung" ujar Deli mendukung keputusan Dina.
"Gue juga. Ada ya manusia se sombong itu banget" ujar Dian yang nggak habis pikir dengan karyawan Dina yang satu itu.
"Tu mah ada." ujar Dina menjawab keraguan dan ketidak percayaan Dian ada orang se sombong itu.
"Gue bener bener nggak habis pikir" ujar Dian lagi.
Mereka bertiga kemudian kembali sibuk mengantarkan makanan pesanan pengunjung. Mereka tidak berhenti bekerja.
Sedangkan ke empat karyawan tadi hanya bisa makan dengan pelan. Mereka cukup sedih melihat salah satu rekan mereka di pecat di depan wajah mereka secara langsung. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa apa, nasib mereka saja mereka belum mengetahuinya. Ntah dipecat ntah bagaimana.
Setelah menghabiskan semua pesanan mereka, keempat pengunjung yang bermasalah dengan Dina tadi, pergi meninggalkan kafe setelah membayar semua tagihan makan mereka.
Tepat pukul sebelas malam, Ayah dan yang lainnya merapikan kafe yang sudah tutup. Mereka tidak membuka kafe sampai jam dua belas malam seperti malam minggu.
Deli, Dina dan Dian sudah berada di dalam kamar. Mereka sudah duduk bertiga, kantuk sama sekali belum datang kepada mereka bertiga.
"Dina, maaf sebelumnya, ada masalah apa loe sama Felix, sehingga terlihat diam diakan seperti orang sedang bertengkar" ujar Dian yang memulai pertanyaannya.
Dina menatap Deli. Deli mengangguk.
"Gue yang ngasih tau Dian kalau loe terlihat sedang memiliki masalah dengan Felix. Gue cerita malam, saat loe masuk kamar dan membiarkan gue tidur di sofa" ujar Deli menjelaskan kapan dan kenapa Dian sampai tahu kalau Dina sedang bermasalah dengan Felix.
"Jujur dari diri gue pribadi, gue nggak pengen ini menjadi masalah. Kalau gue tau ujung nya akan menjadi masalah antara gue dengan Felix, gue nggak bakalan cerita tentang semua itu." ujar Dina mengeluarkan isi hatinya yang sesungguhnya.
"Tapi, satu sisi gue sangat bersyukur masalah ini telah gue ceritakan. Jadi, gue bisa tahu Felix ingin hubungan ini seperti apa." ujar Dina.
"Jujur, gue hanya sedih saja melihat dia hanya diam saja ke gue. Gue tau gue dan Juan bersalah. Tapi, saat itu yang terpikirkan oleh kami adalah mata dibalas mata, telinga dibayar telinga. Kalian pahamkan bagaimana stressnya aku saat itu" ujar Dina melanjutkan ceritanya
"Gue pengennya Felix ngonong ke gue. Bukan diam aja kayak gini. Kalau tanya ke gue, apa gue pengen lanjut, maka jawabannya adalah lanjut. Gue mencintai dia. Tapi kalau dia ngomong, gue nggak bisa melanjutkan hubungan lagi. Gue juga nggak masalah. Gue akan pastikan kalau Juan tidak akan mengganggu perusahaan mereka. Kerjasama yang sudah dijalin akan tetap dilanjutkan." ujar Dina sambil melihat ke langit langit kamar.
"Serius, kalau Felux mutusin elo, elonya nggak apa apa?" tanya Dian berusaha menggoda Dina.
"Sedikit nggak apa apa. Banyak oh jangan" jawab Dina.
"Sudah mari tidur, berdoa saja semoga besok Felix menemui gue. Dan membahas semuanya. Biar semua menjadi jelas hubungan ini. Gue capek kalau harus marahan karena cinta" ujar Dina sok puitis itu.
"Yayaya yayaya. Gue juga berharap loe bisa menerima penjelasan dari Felix. Jangan keras kepala yang di kedepankan. Kita sudah dewasa, saatnya cari jodoh bukan cari pacar" ujar Deli dengan bangganya mengucapkan kalimat kalimat yang ntah dari mana datangnya itu.
"Hahahahaha. Sok ngomong jodoh. Dia aja jodohnya ntah dimana. Jodoh kalau nggak dicari nggak bakalan datang calon adik ipar." ujar Dian mencemeeh Deli.
"Bener kakak ipar" ujar Dina menyetujui apa yang dikatakan oleh Dian kepada Deli.
"Udah ah gue capek, pengen tidur" ujar Deli menghindar dari bullyan kedua sahabatnya itu.
Ketiga wanita cantik itu, kemudian tidur. Mereka besok pagi sudah harus menghadapi semua rutinitas yang seperti biasanya lagi. Rutinitas yang membuat mereka kadang menjadi sangat bosan.
__ADS_1