
Tok tok tok. Dina mengetuk pintu kamar Dian. Dina sungguh tidak ingin lama lama memendamnya sendiri. Dina ingin berbagi dengan sahabatnya itu. Hanya Dian satu satunya sahabat Dina yang bisa menjadi tempat Dina berbagi kali ini. Apalagi ini menyangkut kepada Deli sahabat baik mereka berdua.
"Masuk aja Din, nggak gue kunci" ujar Dian dari dalam kamar berteriak sambil tetap memainkan jari jarinya di atas gadget terbarunya untuk mendesain semua desain pakaian yang ingin dibuat oleh Dian.
Dina kemudian masuk ke dalam kamar Dian. Dina melihat Dian sedang serius dengan gadgetnya. Sehingga kepala Dian hampir aja putus karena sepanjang hari selesai makan siang sebelum makan siang kerjaannya hanya itu saja.
Dina duduk di sebelah Dian. Dina memijit kepalanya yang terasa pusing itu. Dina sama sekali ragu mau mulai dari mana apa yang akan diceritakan kepada Dian.
"Ada apa? Kelihatannya berat sekali mau loe sampaikan ke gue" ujar Dian yang mematikan gadgetnya dan menghentikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Dian melihat Dina yang saat ini sedang kalut dan sibuk dengan apa yang dipikirkannya sedari tadi. Dian menatap ke mata sahabatnya itu.
"Ada apa?" ujar Dian menanyakan hal yang sama untuk ke dua kalinya kepada Dina.
Tetapi hasilnya tetap sama. Dina tetap diam seperti orang yang tidak tahu harus mengatakan dan menjawab apa kepada Dian.
"Ais Din, Dina. Gimana gue bisa tahu loe ada masalah apa, kalau loe hanya diam aja kayak gini Dina Wijaya Kusuma paling cantik sedunia" ujar Dian memandang kesal kepada sahabatnya yang sudah mengganggu kerjaannya dengan alasan ada perlu penting, tetapi pada akhirnya dia hanya diam saja tidak ngomong apapun.
Dian yang capek bertanya terus kepada Dina, lebih memilih untuk diam saja lagi. Dia sudah nggak tau harus bertanya dengan gaya seperti apa kepada Dina. Jadi, dari pada dia kesal sendiri dengan ulah Dina, makanya Dian lebih memilih untuk diam.
Dina melihat Dian sudah terdiam dan tidak bertanya tanya lagi merasakan kalau Dian kecewa kepada dirinya. Tetapi Dina masih belum tau mau mulai dari mana ceritanya itu.
'Tapi kalau gue nggak cerita sama Dian, sama siapa lagi mau gue tumpahin apa yang ada dalam pikiran gue ini ya?' ujar Dina dalam hati dan pikirannya sendiri berkata sendirian.
'Gue harus coba cerita ke Dian apa yang gue rasakan sekarang ini' lanjut Dina dalam hatinya dan mencoba menguatkan hatinya untuk berbicara kepada Dian apa yang Dina rasakan saat ini.
"Jadi gini Yan" ujar Dina mulai membuka percakapannya dengan Dian.
Dian yang mendengar Dina sudah membuka suaranya, mulai berusaha fokus mendengar apa yang akan diceritakan oleh Dina kepada dirinya.
"Tadi gue mendapati Deli larut dalam lamunannya. Gue nggak tau apa yang dipikirkan oleh Deli." lanjut Dina mencoba untuk berbagi dengan Dian.
"Terus saat gue minta dia untuk masuk ke kamar menemani Jero, dia dengan spontan mengatakan malas" lanjut Dina mengatakan apa yang terjadi saat dia bercakap cakap dengan Deli selepas acara makan siang keluarga.
Dina kemudian terdiam sesaat. Dian tetap dengan sabar menunggu Dina membuka kembali mulutnya untuk mendengar kelanjutan cerita dari Dina.
"Satu hal yang buat gue makin heran dengan dirinya. Dia berpura pura menerima telpon dari Jero, saat gue mendesak dia untuk menatap mata gue dan mengatakan kalau pernikahannya itu baik baik saja" lanjut Dina menjelaskan kepada Dian apa yang terjadi selama dia berbincang bincang dengan Deli tadi di ruang keluarga.
__ADS_1
"Dari mana loe tau kalau dia boong menerima telpon?" ujar Dian yang penasaran kenapa Dina bisa mengatakan kalau Deli menelpon boongan.
"Dian Dian. Ponsel Deli sama sekali nggak hidup. Gue nampak dengan mata kepala gue sendiri dia menekan salah satu nada dering. Loe kan tau sendiri kalau dia nggak pernah sama sekali memakai nada dering khusus untuk siapapun. Gue hafal apa bunyi nada deringnya" kata Dina yang nggak mau diragukan sama sekali oleh Dian apa yang diceritakan oleh Dina kepada Dian.
Dian terdiam cukup lama sekali. Dia tidak menyangka kalau Dina juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. Dian terdiam cukup lama sekali. Dina menatap ke arah Dian.
"Ada apa?" tanya Dina kepada Dian karena melihat Dian yang langsung terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Dina kepada dirinya.
"Gue juga pernah melihat Deli terdiam dan termenung Din. Malahan dia secara kasat mata menghapus air matanya" ujar Dian berbagi cerita dengan Dina apa yang juga pernah di lihat oleh Dian waktu itu.
"Kapan??" tanya Dina yang sekarang makin yakin kalau hubungan rumah tangga Jero dan Deli sama sekali tidak sehat.
"Tadi pagi. Kan dia yang buat sarapan. Gue pas itu keduluan bangun, pengen minum ceritanya. Kiranya gue nengok Deli ada di dapur dan termenung, bayangin aja bisa dia goreng hangus. Untung aja nggak bauk kemana mana. Saat itulah gue nampak dia menghapus air matanya" lanjut Dian menceritakan apa yang dilihat dan disaksikan oleh Dian di dapur subuh tadi.
"Gue sekarang makin yakin Yan, kalau apa yang ditampilkan oleh Jero dan Deli itu tidaklah yang sebenarnya" ujar Dina menyimpulkan apa yang sedang terjadi dalam hubungan Jero dab Deli.
"Jadi menurut kamu hubungan yang mereka tampilkan sama sekali tidak sehat, maksud gue hanya tampilannya saja?" ujar Dian meminta Dina lebih menjelaskan secara spesifik lagi apa yang ada dalam pikirannya.
"Yup, kalau kalau gue pikir pikir memang seperti itu. Loe nggak lihat bagaimana cara Deli menjawab setiap perkataan orang orang. Deli kadang hanya tersenyum saja. Jerolah yang paling mendominasi setiap pertanyaan yang diberikan kepada Deli" ujar Dina mengatakan apa yang dilihatnya dan disimpulkan sendiri oleh Dina dari apa yang terjadi saat percakapan pagi itu.
Dina dan Dian sama sama terdiam. Dalam pikiran mereka masing masing berkecamuk tentang keadaan Deli sebenarnya.
"Yan gimana kita bisa menolong Deli. Deli saja tidakk ada minta tolong sama kita. Apa yang mau kita tolong" ujar Dina yang juga tidak tau harus menolong Deli dari segi mananya.
"Kita nggak bisa langsung ngomong ke Deli kalau rumah tangganya dalam keadaan tidak baik baik saja. Bisa ngamuk ngamuk dia nanti. Belum Jero yang harus dihadapi." ujar Dina memaparkan kepada Dian apa efek dari tuduhan mereka yang mengatakan kalau rumah tangga Deli dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Huft gue jadi pusing. Mau bantu tapi nggak tau harus bantu apa. Dibiarin gue sedih lihat sahabat gue itu" ujar Dian yang langsung terlihat lemas seketika karena baru sekali ini dia sama sekali tidak bisa membantu sahabatnya keluar dari masalah.
"Mau gimana lagi Yan. Kita hanya bisa menunggu saja lagi, saat Deli membuka mulutnya, siapapun yang membuat sahabat gue menderita, dia akan tanggung sendiri akibatnya. Gue nggak main main kali ini. Dia akan menerima buah dari semua akibatnya" ujar Dina dengan tatapan tajam yang siap berkorban apapun demi sahabat terbaiknya itu.
"Sama, walaupun gue nggak sekeren elo tapi gue bisa pastikan kalau anak itu akan menerima akibatnya dari apa yang telah dilakukannya kepada sahabat gue" ujar Dian yang sama dengan Dina akan melakukan semuanya untuk Deli yang telah berbuat semuanya untuk mereka.
"Sekarang kita hanya bisa berdoa saja lagi untuk kebaikan Deli. Kita tidak bisa melakukan apa apa lagi. Kita hanya bisa pasrah dan berharap yang terbaik untuk Deli ke depannya" ujar Dina yang sudah memutuskan untuk tidak melakukan apa apa sampai Deli meminta bantuan kepada mereka berdua.
Dina dan Dian kemudian sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Dina sibuk membaca dokumen kerjasama perusahaannya dengan perusahaan kolega bisnisnya. Sedangkan Dian kembali menghidupkan gadgetnya dan sibuk membuat desain pakaian yang akan diproduksi oleh penjahit nya.
Dina mulai jenuh dengan sosial media yang dibukanya. Isinya adalah curhatan curhatan yang berisi masalah keluarga dan masalah hubungan kekasih. Bahkan sampai konten konten yang nggak jelas.
__ADS_1
"Apa yang lagi lo desain Yan?" tanya Dina kepada Dian yang terlihat sangat sibuk dengan gadget di tangannya.
"Ini sedang membuat desain pakaian untuk dipakai Deli saat pesta pernikahan mereka." ujar Dian yang sibuk membuat detail detail kecil dari pakaian pengantin yang akan dipakai oleh Deli di acara perhelatan pernikahannya dengan Jero.
Dina melihat desain gaun yang sedang dibuat oleh Dian. Dina terdiam melihat desain yang sangat unik itu.
"Ini serius permata semua Yan?" ujar Dina melihat begitu banyak baru permata yang dipakai oleh Dian di gaun yang akan dipakai oleh Deli di malam hari.
"Yup semua permata swarovski. Gue makai kurang lebih delapan puluhan batu permata." ujar Dian memberitahukan kepada Dina berapa banyak batu permata yang akan dipakainya pada gaun yang dipakai oleh Deli nanti.
"Panjang gaunnya berapa meter itu?" ujar Dina yang melihat gaun yang akan dipakai oleh Deli mempunyai ekor yang sangat panjang dan bisa menyapu lantai.
"Sekitar empat meter lah. Gue nggak mau buat yang terlalu panjang kali. Buang buang kain aja" ujar Dian menjawab pertanyaan dari Dina tentang berapa meter panjang ekor gaun Deli nanti saat acara pesta itu
Dina menatap ke arah ekor gaun tersebut. Dian melihat dina sedang berpikir.
"Apa ada masukan?" tanya Dian kepada Dina.
"kalau ekornya di buang gimana?" tanya Dina yang akhirnya mengutarakan apa maksud dan tujuannya kepada Dian.
"Dibuang?" ujar Dian menatap ke arah Dina.
"Ya. Gue rasa kalau dihilangkan akan semakin membuat gaun ini menjadi nggak terlalu ribet." ujar Dina mengatakan alasannya kepada Dian kenapa Dina meminta Dian untuk menghilangkan ekor panjang gaun milik Deli.
"Kebayang nggak loe, Deli mau dansa dengan Jero, tiba tiba Jero menginjak ekor gaun Deli. Terus gubrak, Deli jatuh. Kebayang nggak gimana hebohnya" ujar Dina mengatakan kepada Deli kenapa dia meminta Dian untuk membuang saja ekor gaun milik Deli yang terlalu panjang itu.
Dian memikirkan apa yang dikatakan oleh Dina. Dian berpikir ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Dina.
"Bentar gue coba dulu menghilangkannya" ujar Dian yang kembali menghapus ekor gaun milik Deli
"Loe bikin aja gaun itu menjadi agak slim mengetat ke pinggul Deli. Terus agak melebar di bawahnya." ujar Dina memberikan usulannya kepada Dian.
Dian kemudian menggambar gaun yang ide bagian bawahnya dari Dina. Sedangkan dari Dian, dia akan merancang gaun Deli bagian atasnya. Mereka berdua terlibat obrolan serius untuk menyelesaikan rancangan pakaian untuk Deli.
"keren" teriak mereka berdua saat desain itu telah selesai dibuat oleh Dian.
"god job" ujar Dian.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian melemaskan otot Oto dan juga persendian yang telah kaku karena dari tadi hanya melihat ke layar gadget saja.