Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 134


__ADS_3

"Kamu tidak perlu datang ke acara makan malam di bawah, Saya akan bawakan nanti satu piring nasi lengkap dengan lauknya untuk kamu." ujar Jero memberikan bom terbaru kepada Deli.


Setelah mengatakan hal yang tidak disangka sangka oleh Deli, Jero kemudian pergi meninggalkan kamar mereka berdua. Jero melangkahkan kakinya menuju meja makan yang terdapat di lantai satu rumah peristirahatan itu.


Deli tidak menyangka kalau dia akan dilarang untuk ikut makan malam bersama dengan keluarganya oleh Jero. Deli memang sudah siap dengan semua penghinaan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Tetapi jangan sekali sekali merembes ke bidang lain, apalagi dengan melarang Deli untuk ikut makan malam bersama keluarga, menurut Deli itu sudah keterlaluan, Tetapi apalah daya Deli yang sama sekali tidak bisa melawan apa yang sudah diputuskan oleh Jero. Deli hanya bisa mengikuti apa yang dimau oleh Jero. Dia tidak bisa lari atau menolak keinginan Jero itu. Deli tidak mau kafe Bunda dan Ayah membayar apa yang tidak Deli lakukan dan Deli menyetujui apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


"Perut gue lapar sangat" ujar Deli berkata sendirian dengan nada pelan yang hanya terdengar oleh Deli sendiri saja. Deli memegang perutnya yang terasa sudah sangat sakit dan minta diisi oleh makanan apapun itu.


Jero yang tadi berjanji akan datang membawa menu makan malam untuk Deli sampai kini tidak sampai sampai juga.


"Mungkin dia sedang makan, makanya belum mengantarkan makan malam untuk gue" ujar Deli berusaha menyenangkan hatinya sendiri dengan apa yang dilakukan oleh Jero saat ini di meja makan.


"Tapi apa mungkin dia mau mengantarkan makan malam untuk gue? Sedangkan dia sudah mengatakan kalau pernikahan ini adalah neraka bagi gue. Apa ini salah satunya?" ujar Deli yang kembali mengingat bagaimana dan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya dan membuat Deli terperangah sewaktu mereka baru saja menikah.


"Kalau memang ini salah satu dari perbuatannya, Deli benar benar ikhlas menerima. Dia berharap Tuhan memberikan jalan terbaik untuk dirinya dan hubungan pernikahannya dengan Jero" lanjut Deli berdoa dengan khusyuk sambil memegang perutnya yang dalam keadaan benar benar sakit.


Deli berusaha menahan sakit perutnya. Dia memang terbiasa mengalami sakit perut seperti ini kalau dia terlambat makan. Tapi tak satupun orang orang yang disayanginya mengetahui penyakit Deli yang seperti ini. Deli selama ini selalu menjaga ritme makannya. Dia tidak pernah terlambat untuk makan. Deli selalu tepat waktu untuk makan.


Akhirnya Deli sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit perutnya. Lambat laun tapi pasti Deli kehilangan kesadarannya. Dia sudah pingsan akibat menahan rasa sakit perut, karena keegoisan seorang suami yang menyimpan dendam dalam hatinya untuk istrinya sendiri.

__ADS_1


"Hay Jero, kemana Deli, kok Mami nggak lihat Deli turun dengan kamu ke sini Nak?" ujar Mami yang sedang menanyakan keberadaan menantu kesayangannya itu kepada Jero. Mami tidak melihat Jero berjalan bersama Deli. Makanya Mami bertanya tentang keberadaan Deli.


Sebenarnya Bunda mau bertanya tentang Deli kepada Jero, tetapi sayangnya sudah didahului oleh Mami dengan pertanyaan yang sama yang akan diajukan oleh Bunda kepada Jero.


"Deli sedang tidak enak badan Mami. Dari siang sampai dengan sore, Deli tertidur di sofa yang ada di balkon rumah. Makanya Deli menjadi demam semenjak itu Mami. Sampai sekarang" ujar Jero memberikan alasan kepada Mami kenapa sampai sekarang Mami sama sekali tidak ada melihat Deli yang turun dari lantai dua kamarnya itu.


"Deli tidur di balkon rumah?" ujar Bunda yang kaget mendengar jawaban yang diberikan oleh Jero tentang anak gadisnya itu.


"Kenapa dia sampai tidur di sana? Apa kalian ribut Nak?" lanjut pertanyaan Bunda mebabi buta kepada Jero.


Jero menyesal telah mengatakan hal tadi. Dia harus mencari alasan lain kepada semua orang tuanya apa yang terjadi dan membuat Deli tertidur di balkon rumah.


"Tadi Deli mengatakan mau melihat pemandangan belakang mansion Bunda, Mami. Ternyata Deli tertidur. Jero tidak mengikuti Deli ke sana. Nah pas udah sekitar jam lima, Aku bangun tidur, masih tidak melihat Deli di kamar" ujar Jero berkata kepada Mami dan Bunda bagaimana kronologis sampai Deli bisa tertidur di balkon rumah yang dingin itu.


"Terus bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Mami yang mulai cemas dengan keadaan menantunya itu.


"Sekarang sedang tidur Mami. Tadi siap Jero kasih obat pereda demam" ujar Jero sambil menatap ke arah Mami nya tersebut. Jero benar benar mandalami actingnya sebagai seorang suami yang istri tercintanya sedang sakit dan harus di jaga dengan baik.


"Apa Deli sakit?" tanya Dina kepada Jero. Dina hanya mendengar sekilas saja saat Jero mengatakan kalau Deli sudah diberi obat pereda demam.

__ADS_1


Dina kaget Deli bisa langsung demam, padahal mereka tadi bertemu dan bisa dikatakan Deli dalam keadaan sehat sehat saja. Sama sekali tidak ada terlihat tanda tanda kalau Deli dalam keadaan tidak baik baik saja. Dina menaruh curiga kepada Jero. Tetapi Dina tidak mungkin akan mengatakan hal itu di tengah tengah keluarga yang ramai itu.


' Gue harus cari tahu semuanya. Gue nggak yakin kalau Deli dalam keadaan sakit. Gue yakin kalau ini adalah kerjaannya si manusia laknat itu' kata Dina dalam hatinya yang sudah bisa menebak siapa dalang di balik pernikahan tidak bahagia Deli itu. Pernikahan yang serasa neraka sejak mulai selesai pembacaan ijab dan qobul.


"Kok bisa Deli sakit Bun?" tanya Dina yang penasaran kenapa bisa sahabatnya yang tadi dalam kondisi baik baik saja mendadak jadi sakit kata suami yang sangat perhatian kepada istrinya itu.


"Deli tadi tertidur di balkon sayang" kata Bunda memberitahukan kepada Dina kenapa Deli bisa sampai demam sekarang ini.


"Di balkon?" ujar Dina dengan nada curiga.


Dina menatap ke arah Dian. Dian mengangguk meminta Dina untuk tidak melanjutkan pertanyaannya itu lagi kepada Bunda dan Mami.


"Sudah ayuk makan dulu. Nanti kita akan lihat Deli ke kamar. Sekarang biarkan dia beristirahat terlebih dahulu" ujar Papi mengajak semua anggota keluarganya untuk menikmati menu makan malam yang sudah dimasak oleh Bunda tadi sore.


Jero yang mendengar keluarganya akan melihat Deli ke kamar selepas makan malam, langsung wajahnya berubah menjadi pucat. Dina dapat melihat perubahan dari wajah Jero. Juan juga melihat hal itu. Sekarang Juan menjadi sangat yakin kalau Deli dalam keadaan sehat tetapi memang ada sedikit permainan yang sedang dimainkan oleh Jero saat ini.


Semua anggota keluarga makan dengan sangat cepat. Mereka semua sama sekali tidak merasakan rasa masakan tersebut. Pikiran mereka tertuju kepada Deli yang sedang sakit di kamar atas.


Dina yang telah selesai makan terlebih dahulu hendak langsung menuju kamar Deli yang berada di lantai atas. Tetapi Juan memegang paha Dina. Juan melarang Dina untuk melakukan hal itu. Dina menatap Juan dengan tatapan protes karena dilarang untuk menemui sahabatnya. Juan menggeleng dengan tegas. Dina akhirnya mengalah dengan keinginan Juan yang sudah tidak bisa lagi di bantah oleh Dina.

__ADS_1


Dina kembali duduk dengan tenang. Ternyata hal itu juga terjadi kepada Dian yang berada di depannya. Dian juga ingin langsung pergi ke kamar Deli saat selesai melakukan sarapan. Tetapi akhirnya Dian membatalkan niatnya itu karena Hendri juga menahan kaki Dian untuk berdiri.


Hendri dan Juan sama sama tidak mau membuat posisi mereka berdua menjadi sulit di depan Jero. Deli sekarang adalah istri Jero, jadi apapun yang menyangkut tentang Deli, harus melalui Jero dahulu kalau ada Jero di dekat mereka. Tetapi kalau tidak, dan itu tidak berhubungan dengan rumah tangga mereka silahkan saja menemui Deli secara langsung. Tapi sekarang ada Jero. Jero juga sudah setuju kalau mereka akan melihat Deli sakit nanti saat mereka sudah selesai makan malam dan bersama sama ke kamar mereka yang di lantai dua.


__ADS_2