
"Oke mobil sudah di teras lobby, mari kita pergi" ujar Jero memberitahukan kalau mobil yang disedikan oleh pihak hotel sudah menunggu mereka di teras lobby.
Mereka berempat kemudian menuju mobil yang telah menungguu kedatangan Jero dan ketiga rekannya. Sopir kemudian memasukkan barang barang milik mereka ke dalam bagasi mobil. Sedangkan Jero dan yang lainnya masuk ke dalam mobil. Jero dan Felix duduk di kursi bagian belakang, sedangkan Deli dan Dina duduk di bagian belakang sopir.
Mobil melaju menuju bandara dengan kecepatan tinggi saat melewati tol. Pesawat milik KW Grub sudah stanbay dan siap mengantarkan mereka menuju negara asal mereka yaitu negara I.
Suasana menuju bandara hening diam tak ada yang berbicara. Mereka sama sekali tidak ada berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Suasana bener bener aneh dirasakan oleh Deli. Tetapi dia bukan siapa siapa diantara mereka berempat, jadi Deli lebih memilih untuk diam. Deli tidak ingin memperkeruh suasana yang sudah keruh ini, malahan dia akan menjernihkan suasana bersama dengan Dian. Deli dan Dian akan memberikan nasehat kepada Dina untuk tidak larut dalam emosinya saat ini.
Perjalanan menuju bandara yang seharusnya terasa singkat karena hanya tiga puluh menit saja, apa lagi semua lewat jalan tol, menjadi terasa sangat lama oleh Deli, karena keadaan yang seperti saat sekarang ini. Keadaan yang seperti di medan perang Dingin, dua kubu saling diam diaman tanpa ada satupun berniat untuk memulai percakapan.
"Kesal gue. Kenapa jadi diam diaman kayak gini banget coba" ujar Deli merasa kesal sendiri dengan keadaan yang ada.
"Tapi walaupun gue kesal. Gue nggak bisa berbuat apa apa, jadi terpaksa gue harus menikmati aja semuanya. Nasib nasib" ujar Deli berkata dalam hati.
Deli tidak mungkin menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Deli harus tau diri dengan posisinya sekarang.
Mobil akhirnya masuk ke dalam area bandara. Sopir langsung mengantarkan rombongan itu menuju terminal penerbangan khusus pesawat jet pribadi.
Jero dan yang lainnya turun dari pesawat, saat itulah Jero sekilas melihat wajah dan mencium wangi parfum Freya. Tetapi saat Jero melihat ke arah itu, wanita yang dikira sebagai Freya sudah ilang dari pandangan.
"Kenapa loe?" tanya Felix saat melihat Jero terdiam cukup lama melihat sebuah mobil yang telah berlalu dari bandara.
"Gue seperti melihat Frenya. Tapi gue ragu, lagian ngapain pula dia ke negara ini" ujar Jero menjawab sendiri pertanyaannya. Jero tetap melihat ke arah mobil yang telah pergi itu.
"Hahahahaha. Mana ada dia akan ke sini, loe ada ada aja" ujar Felix yang sudah tahu kalau Frenya memang menuju negara J hari ini. Tetapi Felix sengaja tidak memberitahukan kepada Jero.
Setelah sopir menurunkan semua barang barang milik mereka. Jero dan yang lainnya melakukan chek in untuk melakukan penerbangan menuju negara I.
Selesai melakukan chek in, mereka semua kemudian masuk ke dalam ruangan khusus untuk menunggu penerbangan dengan memakai privat jet. Mereka berempat menunggu pramugari meminta mereka untuk masuk ke dalam pesawat sesuai dengan prosedur penerbangan memakai pesawat pribadi.
Setelah menunggu selama lima belas menit, seorang pramugari datang meminta mereka untuk masuk ke dalam pesawat. Pramugari menjadi penunjuk jalan untuk mereka masuk ke dalam pesawat yang akan mengantarkan mereka ke negara I.
Deli dan Dina naik terlebih dahulu Deli duduk di tepi sebelah kaca. Dina sengaja memilih duduk di kursi yang tidak dalam bentuk Posisi berdampingan.
Felix yang melihat hal itu hanya bisa pasrah saja. Dia duduk di kursi yang kemaren didudukinya saat mereka melakukan penerbangan berdua. Sedangkan Jero duduk di sebelah Deli. Dia tidak ingin Deli merasa tertekan sendirian saat pesawat akan lepas landas.
"Selamat pagi kami ucapkan kepada seluruh penumpang penerbangan pesawat KW Grub. Kali ini penerbangan akan di politi oleh Saya Kapten Juan dan co pilot saya Kapten Jeri. Kita akan terbang selama delapan jam dengan transit satu kali di bandara negara UEA. Cuaca diperkirakan dalam keadaan sedikit berangin, tetapi masih bisa dikondisikan. Akhir kata kami dari Perusahaan KW Grub mengucapkan selamat menikmati penerbangan selama delapan jam perjalanan ini." ujar Pilot Juan.
Setelah Pilot memberikan pengumuman, barulah pramugari memperagakan bagaimana mengatasi permasalahan kalau terjadi keadaan darurat di pesawat.
Selesai pramugari memperagakan keselamatan selama penerbangan, dan para penumpang sudah duduk nyaman di kursi mereka masing masing dan memasang seltbelt.
Pilot mulai menjalankan pesawatnya untuk menuju runaway. Setelah memastikan pesawat sudah siap. Co pilot mulai berbicara dengan pihak bandara untuk meminta izin terbang. Setelah mendapatkan izin terbang, pilot mulai menjalankan pesawat. Pesawat mulai naik dan dan terbang meninggalkan landasan bandara.
Deli menggenggam erat pegangan kursi yang sedang di dudukinya. Urat uratnya terlihat menonjol. Deli memejamkan matanya dengan sangat kuat. Jero menatap ke arah Deli. Dia menyaksikan Deli masih dalam keadaan aman dan terkendali. Setelah dirasa pesawat sudah aman dan tidak berguncang lagi, Deli membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat Jero memandang dirinya dengan rasa cemas.
"Are you oke?" tanya Jero kepada Deli.
__ADS_1
"Ya, i'm oke" ujar Deli menjawab sambil mengacungkan jari jempolnya kepada Jero.
"Keren" ujar Jero.
Pramugari kemudian datang membawa makanan dan juga minuman ucapan selamat datang bagi para penumpang pesawat.
"Nona mau yang mana?" tanya pramugari kepada Dina yang terlihat sedang bermenung.
"Terserah aja" jawab Dina.
Pramugari kemudian meletakkan segelas teh hijau dan pai untuk Dina. Dina menganggukkan kepalanya. Semua kelakuan Dina diperhatikan oleh Felix. Felix tidak melepaskan matanya dari Dina sedetikpun. Bahkan saat pramugari menghidangkan makanan, Felix masih menatap Dina. Dina sama sekali tidak perduli dengan tatapan Felix. Bagi Dina sebelum Felix menjelaskan apa maunya dan menjelaskan bagaimana hubungan mreka selanjutnya Dina tidak akan berbicara hal penting kepada Felix. Kalau bisa dia akan menghindar dari Felix.
Deli merasakan sesak untuk ke belakang, dia kemudian berjalan menuju kamar mandi.
"Mau kemana loe?" tanya Dina kepada Deli.
"Kamar mandi. Kebelet gue" ujar Deli menjawab sapaan Dina.
Deli kemudian melanjutkan jalannya menuju toilet, dia sudah tidak bisa menahan lagi hasrarnya itu.
Saat Deli kembali dari toilet, pramugari sudah berdiri di depan.
"Kepada para penumpang sebentar lagi kita akan mendarat untuk transit penerbangan. Jadi, diharapkan semua penumpang memakai seltbelt dan duduk dengan tenang si kursi masing masing. Kita akan transit selama satu jam. Terimakasih" ujar pramugari menerangkan berapa lama mereka akan transit di bandara itu.
Deli telah selesai memasang seltbeltnya. Dia duduk dengan tenang. Deli sama sekali tidak bergerak. Dia sudah harus membiasakan diri saat take off dan landing pesawat.
Apa yang ditakutkan oleh Jero sama sekali tidak terjadi. Deli sangat tenang saat pesawat landing. Malahan lebih tenang dari pada saat pesawat take off tadi.
"Para penumpang silahkan beristirahat di ruang tunggu, atau juga boleh berkeliling bandara. Kita akan kembali terbang satu jam lagi menuju negara I" ujar pilot memberitahukan jam berapa mereka akan kembali terbang.
"Dina, kita kemana?" tanya Deli sambil menatap ke arah Dina.
"Kita nunggu di ruang tunggu ajalah Del. Atau ada yang mau kamu beli oleh oleh untuk Bunda dan Ayah?" ujar Dina mengingatkan Deli.
"Oleh oleh udah gue beli. Atau kita. Lihat penjual roti aja gimana. Kita beli roti aja" ujar Deli mengutarakan pendapatnya.
"Ye, Bunda aja jualan roti, masak kita pulang juga mau bawa roti" ujar Dina membantah ide yang dikeluarkan oleh Deli.
"Jadi, kita mau ngapain lagi?" tanya Deli yang kehabisan ide mau ngapain selama satu jam.
"Duduk di ruang tunggu ajalah" ujar Dina akhirnya memilih obtions tersebut.
Jero dan Felix hanya menjadi pendengar setia percakapan antara dua wanita itu. Mereka sama sekali tidak berminat untuk ikut campur. Bagi mereka yang jelas, walaupun Dina dan Deli pengen pergi ke suatu tempat, mereka akan mengikuti saja tanpa banyak komentar. Tetapi mereka berdua sangat senang saat Dina dan Deli memutuskan hanya duduk di ruang tunggu saja. Satu hal yang membuat mereka berdua bahagia.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam ruang tunggu pengguna pesawat pribadi. Jero dan yang lainnya beristirahat di sana. Mereka menikmati hidangan yang disajikan oleh pihak bandara.
"Deli, kamu ada yang jemput ke bandara?" tanya Jero kepada Deli asistennya itu.
__ADS_1
"Di jemput sahabat kami Tuan. Dian namanya" ujar Deli memberitahukan siapa yang akan menjemput dia ke bandara.
"Oh baiklah, saya kira tidak ada. Rencana kalau tidak ada saya akan antarkan kamu" ujar Jero dengan ramah.
"Ada kok Tuan. Jadi, Tuan tidak perlu repot repot mengantarkan saya ke rumah" ujar Deli kepada Jero.
Mereka kemudian sibuk dengan ponselnya masing masing. Setelah satu jam transit, pramugari akhirnya datang dan meminta mereka untuk kembali masuk ke dalam pesawat. Pesawat sudah siap untuk melakukan penerbangan selanjutnya.
Jero dan ketiga rekannya yang lain berjalan menuju pesawat. Mereka akan terbang ke negara I. Penerbangan selama empat jam lagi
Mereka telah duduk di kursi masing masing. Mereka juga sudah memasang seltbelt untuk keamanan selama pesawat take off. Pilot telah selesai memberikan gambaran penerbangan, pramugari juga telah selesai memberitahukan bagaimana kalau keadaan darurat terjadi.
Deli dan Dina tetap membiarkan mereka memakai seltbeltnya. Mereka berdua kemudian memejamkan mata. Mereka akan tidur selama penerbangan kedua itu.
Jero dan Felix yang melihat Deli dan Dina memilih untuk tidur, juga langsung mengambil posisi ternyaman untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh Deli dan Dina. Mereka akan tidur juga selama sisa penerbangan.
Pramugari yang semestinya memberikan menu cemilan, membatalkan niatnya saat melihat keempat penumpang itu telah tertidur.
Tidak terasa penerbangan itu akan berakhir. Pramugari sudah membangunkan keempat penumpangnya untuk duduk dalam posisi yang benar karena sebentar lagi mereka akan landing. Deli, Dina, Jero dan Felix duduk dengan santai. Mereka telah mengenakan seltbelt masing masing.
Pilot mulai menurunkan ketinggian penerbangan. Pilot juga telah bersiap siap untuk landing. Deli yang masih memiliki rasa takut di dalam hatinya berusaha melawan. Akhirnya pilot bisa dengan mulus mendaratkan pesawatnya. Deli juga tidak merasakan pusing atau apapun itu saat pesawat landing.
Mereka semua kemudian turun dari pesawat. Mereka akan keluar dari bandara saat semua barang barang telah diantarkan oleh pramugari keruang tunggu.
'Loe dimana?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Dian kepada Deli.
'Di ruang tunggu. Loe dimana?' tanya balik Deli mengirim pesan kepada Dian.
'Parkiran. Saat udah keluar kasih tau gue. Biar gue susuk ke terminal khusus itu' balas Dian.
Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya barang barang milik mereka diantarkan juga ke ruang tunggu. Deli sudah mengirimkan pesan kepada Dian. Dian sudah menunggu mereka di depan pintu masuk terminal khusus penumpang pesawat pribadi.
Mereka kemudian berjalan keluar, Dian sudah menunggu dan bersandar ke mobil. Dia melihat Deli dan Dina berjalan bersihkan. Sedangkan di belakang mereka ada Jero dan Felix.
"Dina kangen" teriak Dian sambil memeluk Dina.
"Jadi, kangen ke Dina doang?" ujar Deli dengan nada merajuk.
"Udah nggak usah sok merajuk. Mari kita pulang" ujar Dian mengajak kedua sahabatnya untuk pulang.
"Tuan, kami pamit duluan" ujar Deli berpamitan kepada Jero dan Felix.
"Oke hati hati. Nona Dina terimakasih atas tumpangannya" ujar Jero mengucapkan terimakasih kepada Dina.
"Sama sama Tuan Jero" jawab Dina dingin sedingin es.
Felix merasakan semua itu. Felix tidak ingin membantah, tetapi Felix juga tidak sanggup untuk menyapa.
__ADS_1
Deli dan Dina serta Dian masuk ke dalam mobil milik Dian. Mereka bertiga kemudian meninggalkan bandara menuju kafe Bunda. Mereka bertiga akan menginap di sana untuk beberapa hari ini.