
" Tolong jawab pertanyaan dari saya tadi. Apakah rumah sakit ini sudah berubah kepemilikan atau sudah berubah tujuan, atau memang sudah berubah semuanya dibandingkan dari awal rumah sakit ini berdiri?" Kata Juan masih dengan nada dinginnya. Juan benar benar sudah emosi dan merasa sudah tidak siap lagi untuk membendung emosi yang sebentar lagi seperti akan keluar dari dalam diri dan juga kepala Juan.
Juan benar benar kesal dengan keadaan saat sekarang ini. Semua orang yang sebelum sebelumnya terlihat berani untuk melawan mereka, sekarang berubah menjadi sangat luar biasa takut saat sudah berhadapan dengan Juan dan Dina. Hal inilah yang membuat Juan menjadi sangat kesal. Orang orang yang berada di dalam ruangan ini benar benar seperti menguji kesabaran dari seorang Juan Kusuma Wijaya, penerus pertama dari keluarga Kusuma Wijaya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka semua tidak tahu harus menjawab apa kepada pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja tersebut. Apalagi bagi setiap kepala ruangan, mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit itu. Mereka berdua sama sama buta dengan keadaan administrasi rumah sakit. Mereka hanya tau bagaimana keadaan ruangan dan juga dokter serta suster yang berada di ruangan mereka masing masing.
Brak. Sebuah pukulan yang sangat keras terdengar di dalam ruangan tersebut. Juan memukul dengan sangat kuat meja yang berada di depannya saat ini. Juan sudah tidak bisa lagi menahan emosi yang ada di dalam dirinya. Dia melepaskan sedikit emosinya dengan menggebrak meja yang ada di depannya saat ini.
Semua kepala yang ada di ruangan itu sontak menunduk saat melihat Juan yang sudah sangat emosi. Mereka semua tidak menyangka Juan akan memukul meja dengan sangat kuat. Untung saja meja itu tidak di lapisi oleh kaca, kalau sempat meja itu memakai kaca di atasnya, maka sudah bisa dipastikan kaca itu akan pecah dan bisa mengakibatkan tangan dari Tuan muda itu luka dan pastinya butuh perawatan melihat bagaimana kencangnya Juan memukul meja tersebut.
"Saya tanya kepada Anda satu kali lagi. Apakah benar rumah sakit ini sudah berubah kepemilikan atau berubah tujuan?" kata Juan kembali bertanya kepada semua orang yang ada di sana.
Juan menatap mereka satu persatu anggota dewan direksi yang bersalah itu. Tetapi anggota dewan direksi masih tetap kekeh untuk tidak membuka mulut mereka. Mereka masih tetap dengan prinsip dan pandangan mereka sendiri. Mereka berprinsip tidak akan mengaku sampai semua bukti bisa di dapatkan oleh Juan Kusuma Wijaya itu. Semua anggota dewan direksi beranggapan kalau Juan tidak akan bisa menemukan bukti yang bisa dilihat secara nyata.
Dina sudah mulai tidak sabar lagi. Dia sudah ingin berdiri dan menarik salah satu dewan direksi yang tadi ketahuan berbuat curang tersebut. Tetapi, Juan menahan Dina untuk tidak mengeluarkan emosinya saat ini. Cukup Juan saja yang sedang dalam keadaan emosi dan sudah dilihat oleh semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Tetapi setelah Juan mengeluarkan sedikit emosinya dihadapan semua orang, tetapi mereka tetap tidak bergeming. Mereka tetap dalam posisi diam saja. Mereka sama sekali tidak menanggapi pertanyaan dari Juan. Hal ini semakin membuat Juan emosi.
__ADS_1
"Kalian semua memang benar benar menguji kesabaran saya ya. Oke mari kita lihat hasil akhirnya. Saya tidak akan membutuhkan dan mendengarkan penjelasan dari kalian semua lagi. Hari ini juga nasib kalian akan saya putuskan sendiri tanpa ada pembelaan sama sekali" kata Juan yang sudah habis kesabarannya.
"Sudah cukup kalian mempermainkan saya. Saatnya saya akan membuat kalian bermain main di luar sana" ujar Juan yang sudah tidak bisa lagi di tawar tawar. Dina pun hanya bisa diam saja kalau Juan sudah memutuskan suatu hal yang tidak akan bisa di tawar oleh siapaun, ntahlah kalau suatu saat Juan menemukan seorang wanita yang dicintai dan mencintai Juan.
"Untuk semua kepala ruangan, saya minta kalian semua untuk mendengar dan memperhatikan serta tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang akan kalian dengar sebentar lagi" ujar Juan yang sudah siap untuk membuka semua aib dari para dewan direksi yang berada di ruangan itu.
"Din, apa semua rekaman sudah ada sama kamu Dik?" tanya Juan kepada Dina yang duduk dengan tenang di sebelah Juan.
"Bentar lagi, Bram akan datang mengantar, Bram sudah di depan pintu ruangan" ujar Dina mengabarkan kepada Juan dimana asisten pribadi Juan yang paling mengerti dengan Juan dan paling tau dengan apa yang dibutuhkan oleh Juan saat Juan akan memberikan hukuman kepada orang orang yang telah dengan sengaja dan berani melakukan kecurangan dan berkhianat kepada Juan dan Dina Kusuma Wijaya.
Bram kemudian masuk ke dalam ruangan. Semua orang yang berada di sana langsung melihat ke arah pintu masuk saat pintu itu terbuka dengan lebar. Mereka semua melihat ke arah pintu yang terbuka itu. Mereka melihat seorang pria tampan keturunan luar negeri berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah laptop yang sangat tipis sekali.
"Selamat datang bro. Kejutan apa yang kamu temukan untuk membuat semua orang yang berada di ruangan ini menjadi diam dan tidak lagi bisa mengeluarkan suara mereka untuk membela diri mereka sendiri" ujar Juan saat menyapa Bram yang sekarang sudah berada di posisi sebelah kiri Juan.
"Banyak sekali Tuan muda. Mereka saya pastikan tidak akan bisa mengelak lagi dari semua bukti bukti yang telah saya kumpulkan ini." jawab Bram dengan nada dingin yang tak kalah dinginnya dari suara Juan.
"Mendengarkan asisten Tuan Juan ngomong aja sangat dingin, gimana nggak akan dingin suara Tuan Juan. Rasa di kutub saja" ujar salah satu kepala ruangan kepada tetangga bangkunya.
__ADS_1
"Yup, bener bener serasa di kutub sekarang" ujar kepala ruangan yang lain.
Juan dan Bram serta Dina menatap satu persatu wajah dewan direksi. Sekarang mereka bertiga sama sekali tidak melihat kepada kepala ruangan. Mereka bertiga hanya fokus kepada wajah wajah dewan direksi yang berada di depan mereka pada saat ini.
"Bisa saya tayangkan Tuan Muda?" ujar Bram meminta izin kepada Juan untuk bisa menayangkan hasil temuannya yang hanya diberi waktu cuma satu jam oleh Juan melalui Dina, nona muda yang sama sama memiliki sifat yang luar biasa saat sedang memerintahkan satu perintah kepada Bram.
"Tunggu sebentar Bram" ujar Juan yang masih ingin memberikan kesempatan kepada semua dewan direksi yang berada di sana, yang merasa memiliki kesalahan untuk mereka bisa mengaku dan jujur dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Bram kembali menutup laptopnya, Bram mengurungkan niatnya untuk memutar video pertama yang akan menjadi video pengejut setiap yang dilakukan oleh orang orang yang telah berkhianat kepada Tuan dan Nona mudanya itu.
"Saya tanya sekali lagi. Siapa yang mau mengatakan apa yang terjadi, atau kalian lebih memilih untuk melihat aib kalian sendiri sendiri?" ujar Juan yang kembali memberikan kesempatan kepada semua dewan direksi yang ada di sana.
Tetapi masih sama dengan yang tadi, tidak ada satupun dewan direksi yang membuka mulutnya untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh Juan kepada setiap makhluk yang ada di ruangan itu.
"Udahlah Bang, mereka tetap akan tutup mulut, tampilkan aja lagi, biar mereka tau rasa" ujar Dina yang sudah sangat muak melihat tingkah semua dewan direksi itu.
"Aku mau pulang lagi. Felix udah menunggu aku di rumah Bunda" lanjut Dina memberitahukan kepada Juan kenapa dirinya pengen buru buru menyelesaikan permasalahan itu.
__ADS_1
Juan kemudian menghadap kepada Bram. Juan mengangguk memberikan kode kepada Bram. Juan memberikan izin kepada Bram untuk menayangkan apa apa saja yang telah ditemukan oleh dirinya, yang berjuang hanya dalam waktu satu jam saja. Seperti judul lagu dangdut yang terkenal pada masanya itu.
Bram kemudian menanyangkan sebuah video percakapan antara ketua dewan direksi dengan dua orang anggota dewan direksi yang lainnya. Video yang sangat jelas terdengar percakapan antara tiga orang dewan direksi tersebut.