
Dian melajukan mobilnya menuju perusahaan Edwardo grub, dia akan menjemput Deli dan langsung menuju mall. Mereka akan menghabiskan malam di mall dengan memanjakan mata mereka.
Deli yang telah selesai bekerja langsung pulang tanpa harus berpamitan dengan bosnya. Kesua bos sudah pulang dari tadi. Mereka memiliki agenda makan malam keluarga saat ini.
Deli melangkahkan kakinya dengan ringan menuju lobby perusahaan. Dia sudah menerima pesan dari Dian yang mengatakan sebentar lagi dia akan sampai di perusahaan. Deli melakukan cheklog pulang. Setelah itu dia berdiri di lobby menunggu sahabatbya menjemput.
Seorang pria berhenti di depan Deli.
"Pulang Deli? Ayok sama saya aja." ujar pria itu kepada Deli.
"Nggak usah aja Bang. Saya udah ada yang jemput. Terimakasih." ujar Deli menolak tawaran yang sudah keberapa kalinya ditawarkan pria itu.
"Oh oke. Baik. Kalau begitu saya duluan." ujar pria itu meninggalkan Deli di lobby kantor.
Setelah pria itu pergi, mobil Dian langsung parkir di depan Deli
"Mall Nyonya." ujar Dian dari dalam mobil.
"Iya Buk. Bisa saya numpang?" Deli mengikuti permainan Dian.
Deli membuka pintu belakang mobil Dian.
"Woi, loe kira gue supir." ujar Dian.
"Nah tadi kan berlagak kayak sopir. Sekarang malah nyalahin gue." ujar Deli tidak terima sudah disalahin oleh Dian.
Deli membuka pintu depan. Dia duduk di sebelah Dian.
"Dina jadi makan malam dengan keluarga Felix?" tanya Dian memastikan keberadaan sahabatnya yang satu itu
"Jadi. Tadi Tuan Felix nawarin ke gue untuk ikut."
"Terus?" tanya Dian dengan semangat.
"Gue tolak la. Masak gue terima. Ngadi ngadi loe." ujar Deli.
Mereka sampai juga di mall setelah melakui beberapa percakapan yang kurang penting.
"Kemana dulu neh?" ujar Dian.
"Terserah. Bebas kemana mau." jawab Deli.
"Main main dulu aja. Keluar masuk toko, nanti sejam mau pulang baru belanja. Gimana?" Dian berkata sambil berharap mendapat respon dan persetujuan dari Deli.
Deli mengangguk. "Setuju. Lagian kalau belanja cepat cepat mana tau nanti di toko lain bangak barang bagus." jawab Deli.
Kedua wanita bersahabat karib itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mall terbesar di ibu kota. Deli dan Dian sama sekali tidak tau kalau itu adalah mall milik sahabat mereka.
__ADS_1
"Del, nama mallnya TriDi. Lucu ya kaya singkatan nama kita. DelI, DIan, DIna." ujar Dian berkata dengan pedenya.
"Kalau yang punyanya salah satu dsri kita bertiga gue bisa yakin kalau nama mall berasal dari singkatan nama kita bertiga. Tapi berhubung ini punya orang lain, maka ya mau tak mau gue jadi nggak yakin dengan singkatan itu." ujar Deli sambil menahan senyumnya.
"Hahahahaha. Gue tau juga kali. Ngadi ngadi ada orang bikin mall dari singkatan nama kita berdua. Mana ada coba." ujar Dian.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mall. Deli dan Dian akan berkeliling menikmati perjalanan malam mereka di mall itu.
"Deli, kita makan dulu lah. Gue laper."
Deli dan Dian masuk ke dalam foodcourt yang ada di mall itu. Mereka akan makan di puja sera itu. Deli dan Dian memilih makanan yang akan mereka nikmati sore ini.
"Del menurut loe Felix serius nggak sih dengan Dina?" ujar Dian yang teringat dengan Dina.
"Menurut gue serius. Gue belum pernah denger kalau dia pernah pacaran dengan orang lain."
"Nah baru kali ini dia pacaran dengan seseorang. Gue yakin kalau kali ini Felix serius dengan Dina." jawab Deli sambil mengaduk soto yang baru datang.
"Semoga mereka langgeng." ujar Dian.
"Terus loe dengan kakak gue serius atau ndak?" tanya balik Deli.
"Kenapa loe tanya itu?" ujar Dian yang kaget mendapatkan pertanyaan yang serupa dari Deli.
"Ya gue nggak mau aja saat hubungan cinta loe dengan Kakak gue selesai, loe nya juga nggak mau temenan dengan gue lagi." ujar Deli yang takut hal itu akan terjadi. Dia tidak mau persahabatannya hancur hanya karena cinta.
"Hahahahahaha. Loe tenang aja, gue nggak akan menghancurkan persahabatan gue saat hubungan cinta gue juga berakhir. Loe adalah sahabat terbaik gue. Jadi nggak akan mungkin bisa hancur seperti itu." ujar Dian.
"Jadi balik lagi ke pertanyaan semula. Loe serius nggak dengan kakak gue?" Deli mengulang kembali pertanyaannya.
"Haduh Deli sayang, loe kenal gue kan ya. Ada pernah loe lihat gue yang nggak serius saat pacaran???"
"Yang ada malahan mantan mantan gue itu yang nggak serius sama sekali ke gue. Makanya gue afkir mereka dari hidup gue." ujar Dian.
"Jadi intinya loe serius dengan kakak guekan?" Deli kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya.
"Serius lah. Masak nggak. Jangan ngadi ngadi loe." Dian akhirnya menjawab pertanyaan Deli.
"Emang loe nggak malu punya pacar sekaligus calon suami hanya pelayan kafe?" ujar Deli bertanya selanjutnya.
"Emang pernah gue melihat seseorang dari ekonominya?" Dian balik bertanya.
"Kawan seh nggak. Ntah kok calon suami." ujar Deli.
"Hahahahahahaha. Deli sayang. Kita bersahabat sudah sangat lama. Jadi, gue yakin elo tau siapa gue dan Dina. Kami berdua juga tau siapa elo. Jadi, jangan ada lagi pertanyaan bodoh keluar dari mulut loe hasil dari pemikiran elo." ujar Dian.
"Yang jelas keluarga gue sudah tau gue berhubungan serius dengan siapa sekarang ini. Mereka setuju dengan pilihan gue, karena mereka yakin, saat gue menikah dengan Kak Hendri, maka Kak Hendri akan memimpin perusahaan. Gue mah tinggal ngerumpi di kafe Bunda aja lagi tiap hari." ujar Dian menjawab pertanyaan Deli.
__ADS_1
"Dasar loe. Jadi, kakak gue nanti akan memimpin perusahaan loe?"
"Yup. Jadi, gue bisa duduk duduk di kafe Bunda, nunggu suami gue pulang." ujar Dian yang sudah bisa membayangkan bagaimana bahagianya dia saat tidak lagi mengurus perusahaan.
"Yayayayaya. Dasar otak loe ini emang nggak pernah bisa digunakan untuk berpikir keras. Heran gue." kata Deli sambil menatap kepala Dian.
"Gue mau dia di pake lama. Makanya gue makenya nyicil. Nggak sekali banyak." ujar Dian.
Tak terasa semua makanan yang mereka pesan sudah habis.
"Kita mulai cuci mata? Apa yang mau kita ambil. Gue bayarin elo. Gue akan traktir calon adik ipar gue." ujar Dian dengan penuh semangat.
"Jangan semuanya." kata Deli yang tidak ingin dikatakan memanfaatkan sahabatnya yang kaya itu.
Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah toko dari merk terkenal. Deli dan Dian melihat pakaian kantor yang ada di gantungan baju. Deli akhirnya kepincut kepada satu pakaian kerja berwarna putih gading.
"Kalau gue ambil ini bagus nggak?" tanya Deli kepada Dian.
Dian menatap pakaian yang diambil Deli.
"Keren sempurna." ujar Dian yang sangat tau bagaimana selera fasion Deli.
Deli di toko itu hanya mengambil satu stel pakaian kantor. Sedangkan Dian berhasil membeli dua buah jas yang keren keren berwarna monokrom.
Mereka berdua melanjutkan pencarian pakaian ke toko yang lain. Mereka berdua benar benar menikmati cuci mata hari itu. Berbagai jenis pakaian mereka lihat. Akhirnya karena kalap mata, mereka keluar mall dengan menenteng masing masingnya lima paperbag dari merk terkenal.
"Gilak gue harusnya belanja nggak sebanyak ini." ujar Deli berteriak di dalam mobil Dian.
"Hahahaha. Gue juga baru tau loe bisa kalap juga Del. Dulu aja loe sangat jarang belanja lebih dari dua peperbag. Kali ini lima paperbag. Keren. Gue suka itu." ujar Dian yang sangat bersemangat melihat Deli yang semangat belanja.
"Mungkin karena gue udah mampu beli dengan uang gue separo kali ya. Makanya jadi gini." ujar Deli yang masih nggak habis pikir dengan dia yang kalap belanja.
"Hahahaha. Udah jangan pikirin. Sekali sekali nggak apa apa. Sering sering dilarang keras." ujar Dian.
Dian melajukan mobilnya menuju kafe Bunda. Dian berencana untuk menginap hari ini di sana. Dia sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya dari tadi pagi.
Sesampainya di rumah. Deli dan Dian menurunkan barang belanjaan mereka. Bunda sangat heran melihat belanjaan Deli.
"Tumben kalap?" ujar Bunda.
"Hehehehe. Ditraktir calon kakak ipar Bunda." ujar Deli.
"Sana mandi. Terus makan malam. Bunda masak semur sama bacem." ujar Bunda memberitahukan apa yang dimasak bunda untuk menu makan malam.
"Haduh Bunda. Kami udah makan. Besok ajalah ya Bunda." jawab Dian.
"Iya sekarang mandi sana. Kalian bawa omicron dari luar." ujar Bunda.
__ADS_1
"Ye mana ada. Kami pake masker kok ya." ujar Deli.
Kedua sahabat itu masuk ke dalam rumah. Mereka akan bersih bersih dan langsung beristirahat. Mereka lelah habis berbelanja dan lelah habis bekerja.