Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 26


__ADS_3

Deli, loe ke kantor sama siapa?" tanya Dian yang sudah siap siap mau berangkat menuju kantornya. Dian hanya tinggal memakai sepatunya saja lagi nanti di depan pintu rumah.


" Gue bawa mobil Kak Hendri. Emang kenapa?" jawab Deli sambil menatap Dian. Deli memasukkan semua barang barangnya ke dalam tas kerjanya.


"Kalau nggak bawa mobil gue anter. Tapi kalau loe bawa mobil, gue berangkat duluan" ujar Dian yang ada meeting pagi ini di dekat kantor Deli. Meeting dengan perusahaan yang mengajukan kerjasama yang cukup membuat perusahaan Dian memiliki untung yang besar.


"Arah perusahaan kita berbeda Nona cantik. Gue ke utara loe keselatan." kata Deli sambil menjitak kepala Dian.


"Gue ada meeting dengan perusahaan lain di dekat kantor loe. Makanya loe gue ajak sama dengan gue." kata Dian sambil berjalan keluar dari kamar.


"Oooo. Makanya loe ngajak gue gitu. Kalau gitu Kita sama aja perginya. Tetapi mobil beda beda." ujar Deli sambil mengikuti Dian yang berjalan keluar kamar.


Deli dan Dian pamit kepada Bunda, mereka kemudian pergi menuju kantor masing masing. Dina jangan ditanya, dari subuh dia sudah pulang karena harus terbang ke negara A mendadak. Dina ditemani oleh Felix ke negara A. Semenjak ada Felix, Bunda dan Ayah tidak lagi cemas melepas Dina melakukan perjalanan bisnis keluar negeri.


Deli melajukan mobilnya menuju kantor. Dia beriring iringan dengan Dian. Deli tidak lupa membawa sarapan untuk bosnya karena tadi Tuan Felix sudah menghubunginya. Jero memesan katupek gulai tunjang serta gorengan. Sarapan yang selalu dipesan oleh Jero melalui Felix. Jero sebenarnya ingin memesan sendiri, tetapi dia segan dan malu kepada Deli.


Setelah berkendara selama tiga puluh menit, Deli sampai di parkiran kantor. Dia turun dari dalam mobil membawa tentengan yang akan disajikannya untuk bos besarmya.


Deli naik lift khusus menuju ruangan direktur. Dia kemudian menuju pantry yang ada di bagian belakang lantai khusus CEO itu. Deli mengambil tiga buah piring dan membuat kopi untuk bosnya.


Deli menyiapkan semua menu sarapan untuk Jero. Dia menata di atas meja, Deli meletakkan sepiring katupek, sepiring gorengan dan secangkir kopi hangat.


Setelah menata semua sarapan, Deli keluar dari ruangan Jero. Dia kembali menuju meja karjanya. Jero terlihat baru datang, dia langsung menuju meja Deli.


"Sarapan saya bagaimana?" tanya Jero kepada Deli.


"Sudah ada di meja Tuan." jawab Deli sambil tersenyum.


Jero kemudian masuk ke dalam ruangannya. Dia melihat di atas meja sudah ada menu sarapan yang akan dinikmatinya. Jero meletakkan ponselnya di atas meja. Dia membuka kancing jasnya, dia kemudian memakan sarapan yang sudah disediakan oleh Deli.


Setelah selesai memakan sarapannya, Jero menghubungi Deli. Dia meminta Deli untuk membersihkan piring kotornya. Deli membawa piring kotor itu setelah digunakan oleh Jero untuk dibawa ke belakang.


Jero kemudian melanjutkan pekerjaannya. Hari ini dia akan bekerja sendirian karena Felix tidak ada. Felix menemani Dina melakukan perjalanan bisnis menuju negara A.


Tok tok tok. Deli mengetuk pintu ruangan Jero.


"Masuk Deli. Ada apa?" tanya Jero.


"Ada Nyonya Besar Tuan." ujar Deli memberitahukan kepada Jero siapa yang datang.


"Oke. Suruh Mami masuk." ujar Jero.


Deli membuka pintu ruangan Jero besar besar. Dia mempersilahkan Nyonya Besar untuk masuk ke dalam ruangan Jero.


"Ada apa Mi?" tanya Jero sambil duduk di sofa sebelah Mami.


"Nggak ada, tadi Mami kebetulan lewat sini. Jadi, Mami mampir sebentar." kata Mami.


" Mami sama sopir?"


"Kebetulan sopir udah Mami suruh pulang. Apa kamu masih ada pekerjaan?" tanya Mami.


"Masih ada sedikit lagi Mi. Aku terusin dulu ya. Mami mau duduk di sini silahkan, mau keliling keliling juga boleh." ujar Jero


"Mami ngobrol dengan sekretaris kamu saja Jer." ujar Mami.


Mami kemudian keluar menuju tempat Deli berada. Mami ingin bertanya tanya tentang Dina kekasih Felix.


"Deli." sapa Mami kepada Deli yang sedang serius menatap agenda Tuan Jero esok hari.


"Eh Nyonya, ada apa Nyonya." ujar Deli langsung berhenti dari kegiatannya.


"Kamu sedang sibuk? " tanya Mami.


"Tidak Nyonya. Saya sedang tidak sibuk. Ada apa Nyonya?" tanya Deli sambil berjalan menemui Nyonya Besar Edwardo.


"Duduk sini. Saya mau berbincang bincang saja dengan kamu. Saya sedang menunggu Jero lepas dari pekerjaannya." kata Mami sambil bergeser ke kursi sebelahnya.


Deli duduk di sebelah Nyonya Edwardo. Deli sudah tau apa yang akan ditanyakan Nyonya itu kepada dirinya.


'Pasti Dina.' ujar Deli dalam hati dan pikirannya sendiri.


"Kamu anak tunggal keluarga Bramantya?" tanya Mami membuka percakapannya dengan Deli. Mami tidak mungkin bertanya langsung tentang kehidupan Dina, dia harus memulai menanyakan tentang Deli terlebih dahulu.


"Iya Nyonya. Saya anak satu satunya dari keluarga Bramantya." ujar Deli sambil memainkan jari jarinya. Deli terlihat gugup saat berbicara dengan Nyonya besar itu.


"Sudah berapa lama kamu menjadi sekretaris anak saya?" lanjut Mami bertanya perihal pekerjaan Deli.

__ADS_1


"Sudab sekitar enam bulan Nyonya." jawab Deli masih dengan nada gugup.


"Sudah nggak usah gugup. Santai aja. Saya tidak makan orang kok. " ujar Mami sambil memegang tangan Deli.


"Ngomong ngomong Deli, kenapa perusahaan keluarga kamu bisa bangkrut?" tanya Mami selanjutnya. Mami tidak tau lagi bagaimana cara membawa Deli supaya bisa berbicara lancar dengan Mami. Deli masih terlihat membatasi dirinya dengan Mami.


"Saat itu Ayah ada rencana untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan temannya Nyonya. Tapi ternyata perusahaan itu menipu Ayah. Sehingga membuat perusahaan kami jatuh bangkrut. Kemudian perusahaan Ayah diakuisisi oleh perusahaan temannya itu." ujar Deli berbagi cerita dengan Mami perihal perusahaan ayahnya yang bangkrut.


"Terus kalian membuka usaha kafe itu ide dari siapa?" tanya Mami lagi.


"Ide dari kami sekeluarga Nyonya. Kami tidak ingin berpangku tangan. Makanya kami membuat kafe itu." lanjut Deli bercerita awal mula mereka membuka kafe.


"Ooo. Saya kira kalian memang sudah dari dulu memiliki kafe itu." ujar Mami.


"Tidak Nyonya. Kami baru membuka kafe itu saat perusahaan Ayah sudah jatuh bangkrut." jawab Deli.


"Oh ya Deli, ini maaf ya, bukan maksud saya mencari tahu lewat kamu. Tapi ya saya memang ingin tau lebih banyak tentang Dina kekasih Felix." ujar Mami yang akhirnya sudah tidak tahan lagi. Dia harus bertanya tentang Dina kepada Deli.


"Ada apa Nyonya? Apa yang ingin Nyonya ketahui dari Dina?" kata Deli memandang ke arah Nyonya Edwardo dengan tatapan tidak percaya kalau Nyonya Edwardo akan menanyakan tentang Dina kepada Deli.


"Kamu jangn berpikiran buruk dulu. Saya menyetujui hubungan mereka berdua. Saya dan suami Saya tidak memandang harta dan kedudukan sama sekali tidak. Bagi kami yang penting perempuan itu layak untuk anak kami, maka kami akan menerima dia." ujar Mami sambil menatap Deli.


"Jadi?" ujar Deli yang sudah bisa bersikap normal saat berbincang bincang dengan Nyonya Edwardo itu.


"Saya hanya ingin tahu apakah Dina serius dengan Felix? Bukannya apa apa Deli, Felix baru sekali ini jatuh cinta kepada seorang wanita." kata Mami memandang jauh ke depan. Deli dapat menangkap kekhawatiran seorang Ibu kepada anaknya. Itu terlihat dari mata Nyonya Edwardo.


"Nyonya, Dina juga baru kali ini jatuh cinta kepada seseorang. Semenjak kami kenal sejak di bangku kuliah, Deli tidak pernah melihat Dina mencintai seorang pria." jawab Deli sambil menatap lurus ke depan.


"Kalau Dina main main dengan sikapnya, dia tidak akan mungkin mengatakan cintanya kepada Tuan Felix. Deli tau siapa Dina." lanjut Deli.


"Deli dan Dian juga menanyakan hal yang sama kepada Dina saat Dina pulang makan malam di rumah Nyonya. Jawaban Dina sama dengan yang Deli katakan kepada Nyonya. Dina sangat serius dengan hubungannya ini." kata Deli kembali meyakinkan Nyonya Edwardo.


"Saya sangat senang mendengarmya Deli. Saya tidak ingin anak saya itu jatuh saat Dina membuangnya. Kamu tau Deli bahwasanya Felix bukan anak kandung kami?" tanya Nyonya Edwardo.


Deli mengangguk. Dia sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Tuan Felix saat Dina mengutarakan rasa cintanya saat itu.


"Kami sudab tau Nyonya. Tuan Felux menceritakan siapa dirinya kepada Dina." ujar Deli.


"Maksud kamu Deli?" tanya Mami yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Deli.


"Jadi gini Nyonya. Hari itu Dina menyatakan cintanya kepada Tuan Felix dihadapan kami semua. Termasuk di depan Tuan Jero. Saat itulah Tuan Felix mengutarakan siapa dirinya kepada Dina. Kami mendengar semuanya." ujar Deli.


Deli ingin melanjutkan ceritanya. Tetapi pintu ruangan Jero terbuka lebar. Jero sudah bersiap siap untuk pulang. Jero melihat Mami bercerita asik dengan sekretarisnya itu.


"Mami ayuk pulang. Deli, kamu juga sudah boleh pulang." ujar Jero.


Jero menggandeng tangan Maminya. Nyonya Edwardo menatap Deli.


"Saya pulang dulu. Besok besok kita akan lanjutkan ceritanya lagi." ujar Mami.


"Siap Nyonya." jawab Deli.


Jero menatap Deli.


"Besok katupek gulai toco tambah gorengan seperti tadi." kata Jero memberikan menu sarapan yang harus dibawakan Deli dari rumah.


"Mami juga mau Jer. Mami ikut sama kamu ke kantor besok." ujar Mami dengan semangat saat mendengar pesanan sarapan Jero.


"Hah?" jero menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mami.


Seorang Nyonya Edwardo yang sudah lama tidak menginjakkan kakinya di perusahaan. Sekarang malah meminta ikut. Jero benar benar tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak Mami saat ini.


"Jero." ujar Mami lagi yang masih belum mendapatkan tanggapan apapun dari Jero.


"Iya Mami boleh datang lagi besok." jawab Jero.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam lift. Deli terlihat juga telah selesai berkemas kemas.


"Deli ayuk sekalian turun dengan kami." ujar Mami sambil menahan lift mereka.


Deli menatap lama Jero. Jero mengangguk menandakan Deli boleh ikut dengan mereka berdua turun ke lobby perusahaan.


"Mami besok boleh ikut, tetapi ada syaratnya." ujar Jero.


Deli.mencuri curi dengar percakapan CEO nya dengan Nyonya Edwardo.


"Apa?" tanya Mami menatap Jero.

__ADS_1


"Mami nggak boleh mengganggu sekretaris Jero saat bekerja. Nggak boleh menggosip lagi berdua." ujar Jero.


Deli yang berada di depan kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Jero. Dia tidak menyangka Jero akan mengatakan hal itu kepada Nyonya Bramantya.


"Hahahaha. Jadi dari tadi kamu ngintipin Mami?" ujar Nyonya Edwardo.


Ting pintu lift terbuka. Deli turun di lobby kantor. Sedangkan Jero dan Mami melanjutkan menuju parkiran.


"Yah nggak bisa mendengar lanjutan ceritanya." ujar Deli patah semangat.


Deli kemudian masuk kedalam mobilnya. Dia melajukan mobil menuju rumah. Pekerjaan lain sudah menantinya di kafe.


Jero dan Mami juga masuk ke dalam mobil. Jero melajukan mobilnya menuju mansion yang terletak di luar kota.


"Mami, ada dengarkan ya apa yang aku katakan tadi." ujar Jero mengingatkan kepada Maminya.


"Nggak." jawab Mami.


"Mami" ujar Jero geram dengan sikap Mami.


"Iya iya. Besok Mami hanya akan cerita dikit saja dengan Deli." ujar Mami yang ngeyel dan tetap ingin bercerita panjang lebar dengan Deli.


"Serah Mamilah kalau gitu. Aku nggak akan larang larang lagi." ujar Jero setengah kesal dengan keinginan Mami yang nggak bisa do larang itu.


"Hahahaha. Dilarang kesal presdir nanti cepat tua. Dibuang kamu sama wanita itu." ujar Mami yang nggan menyebut nama kekaaih Jero.


"Mami, namanya Frenya Mami. Frenya." ujar Jero menekankan setiap huruf dari nama Frenya.


"Serah mau siapa namanya. Nggak ambil pusing." jawab Mami yang sampai saat ini tidak tau bagaimana harus mengatakan kepada Jero siapa Frenya sebenarnya.


Tak berapalama Deli sudah sampai di rumah. Dia melihat tidak ada mobil Dian. Deli memarkir mobilnya.


"Oh kelihatannya dia pulang ke rumahnya." ujar Deli.


Deli kemudian masuk ke dalam rumah. Dia melihat Bunda sedang sibuk mengambilkan pesanan para tamu kafe. Deli meletakkan tas kerjanya di kamar, setelah itu dia kembali ke kafe.


"Bunda sini Deli yang bawa." ujar Deli sambil meraih nampan yang berisi menu makanan. Deli melihat tanda delapan di atas nampan.


Deli mengantarkan pesanan ke meja yang diminta.


"Deli?" ujar salah seorang menyapa Deli.


Deli menatap orang yang menyapanya, dia melihat lama ke orang tersebut. Deli berusaha mengingat ingat, siapa yang menyapanya.


"Kita satu kantor, tetapi beda bagian. Kami orang dari bagian pemasaran." kata seseorang yang memanggil Deli tadi.


"Maaf saya tidak tau. Bukan disengaja atau bagaimananya. Bener bener saya tidak tau." lanjut Deli dengan nada rasa bersalah.


"Tidak apa apa Deli. Kami maklum kok." jawab orang yang menyapa Deli tadi.


"Saya lanjut kerja dulu ya." ujar Deli.


Deli kembali ke tempat Bunda berada. Dia kembali mengangkat pesanan. Deli mengantarkan pesanan itu. Setelah tidak ada lagi pengantaran pesanan yang menumpuk Deli masuk ke dalam rumah. Dia akan bersih bersih dulu, setelah itu barulah dia akan kembali membantu Bunda di kafe.


Sedangkan di mansion utama keluarga Edwardo. Papi sudah duduk menunggu kedatangan istri tercintanya yang katanya pamit sebentar tetapi nggak pulang pulang. Malahan sopir pulang sendirian tadi.


Jero dan Mami turun dari mobil. Mereka berdua bersalaman dengan Papi. Mami dan Jero kemudian duduk di kursi yang masih kosong.


"Kok bisa pulang dengan Jero Mi?" tanya Papi.


"Mami ke perusahaan tadi Pi. Bentar." jawab Mami.


Mami memberikan kode kepasa Jero untuk tidak mengatakan hal apa apa ke Papi. Tetapi sayangnya Jero tidak mengindahkan kode dari Mami.


"Mana ada Pi." ujar Jero.


"Yang ada malahan Mami mengajak sekretaris Jero untuk bergosip." ujar Jero bercerita kepada Papi.


"Hah? Hobby baru Mi?" tanya Papi yang tidak percaya kalau istrinya juga bisa bergosip.


"Mana ada. Jero ngasal." jawab Mami.


"Ye nggak ngaku. Mami ngorek ngorek informasi tentang Dina dari Deli Pi. Deli sekretaris Jero kan sahabat baik Dina." ujar Jero.


Mami hanya bisa pasrah mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada Papi. Mami benar benar nggak habis pikir, Jero bisa mengadukan semuanya kepada Papi.


"Malahan ya Pi. Besok Mami minta ikut lagi ke perusahaan." ujar Jero.

__ADS_1


"Oh nggak ada cerita. Besok Mami harus nemani Papi main golf. No ke perusahaan." Kata Papi melarang Mami ikut dengan Jero.


__ADS_2