
Setelah berkutat dengan kemacetan dan panasnya matahari yang tidak bisa di tahan oleh kaca mobil, mobil yang dikemudikan oleh Deli akhirnya sampai juga di pelataran parkir perusahaan. Deli memarkir dengan mulus mobilnya tepat di samping mobil Felix.
Deli mengambil dokumen yang sudah ditandatangani oleh Demian tadi. Deli kemudian turun dari mobilnya sambil senyum senyum bahagia. Dia benar benar diberlakukan seperti seorang ratu oleh Demian sepanjang pertemuan mereka setengah hari tadi. Suatu hal yang belum pernah didapatkan Deli dari laki laki manapun.
Deli tersenyum dan menyapa setiap karyawan yang dikenalnya. Kebahagiaan sangat terlihat jelas dari pancaran wajah dan gestur tubuh Deli.
"Hay Deli, bahagia sekali nampaknya" ujar salah satu karyawan yang sudah biasa mengobrol dengan Deli.
"Hahahaha. Biasa aja. Tapi kalau tampak bahagia, bisa jadi karena dokumen ini" ujar Deli sambil menggoyang goyang dokumen kerjasama perusahaan mereka yang baru.
"Wow. Dokumen kerjasama dengan perusahaan Perez kan ya?" lanjut karyawan tadi dengan nada yang tertular kebahagiaan Deli di dalamnya.
"Yupi" jawab Deli.
"Udah dulu ngobrolnya ya. Gue jalan dulu, udah di tunggu dua bos" ujar Deli yang langsung berjalan menuju ruangannya yang terletak di lantai paling atas perusahaan.
"Cepetan loe jalan sana. Bisa digigit dia bos itu loe nanti kalau kelamaan sampenya" ujar teman Deli tadi, berusaha mengejek Deli.
"Digigit gue robek pake gigi dokumen ini" balas Deli sambil tersenyum penuh arti di ujung kalimatnya itu.
"Haha haha haha. Serah loe Del. Udah sana pergi, jangan sampe tu twins big boss ngamuk ke elo" ujar karyawan kepada Deli.
Deli masuk ke dalam lift khusus untuk kedua big boss tersebut.
"Lama kali Deli sampai. Gue penasaran dengan hasilnya" ujar Jero yang penasaran dengan hasil presentasi mereka hari itu.
"Semoga aja lama karena diterima. Bukan lama karena harus ada yang diperbaiki" ujar Felix menjawab keraguan dari Jero.
"Huft. Ya semoga dan semoga aja" jawab Jero.
Tok tok tok. Bunyi pintu ruangan Jero yang diketuk dari luar. Felix yang berada paling dekat dengan pintu ruangan berdiri untuk membukakan pintu yang diketuk tersebut.
__ADS_1
"Akhirnya" ujar Felix dengan nada seperti lepas dari sesuatu yang menghimpit dadanya sejak tadi saat melihat Deli yang berdiri di depan pintu ruangan Jero.
"Kenapa Tuan?" tanya Deli penasaran saat melihat Felix menarik napasnya dengan sangat lega.
"Seperti bebas dari suatu himpitan" lanjut Deli sambil menatap lama ke arah Felix.
"Tuh orang itu yang dari tadi tidak sabar menunggu kedatangan elo" ujar Felix sambil menunjuk ke arah Jero yang memang dari tadi paling sibuk bertanya Deli kapan datang kenapa lama sekali.
Deli masuk ke dalam ruangan Jero. Dia terlihat membawa dokumen yang dari tadi dirapatkannya ke dada itu.
"Gimana?" tanya Jero menatap ke arah Deli.
"Ini Tuan, silahkan Tuan baca." ujar Deli memberikan dokumen kerjasama itu kepada Jero.
Jero mengambil dokumen yang diberikan oleh Deli. Jero membaca dokumen itu dengan saksama, dia membaca setiap aitem yang ada.
"Gimana?" tanya Felix kepada Jero
"Ini" ujar Jero memperlihatkan tanda tangan Demian kepada Felix.
"Berarti apa yang kita buat sudah sesuai dengan keinginan mereka" ujar Jero merasa bangga dengan dokumen yang mereka buat.
"Menurut gue bukan itu Jer. Tapi karena yang pergi ke sana adalah Deli. Kamu tau sendirilah ya, gimana Demian menatap ke arah Deli kemaren" ujar Felix mengingatkan Jero bagaimana sikap Demian terhadap Deli.
Jero menatap sekretarisnya itu. Deli menatap ke dirinya sendiri.
"Maaf Tuan kenapa Tuan menatap saya seperti itu?" tanya Deli kepada Jero yang menatapnya seperti mau dimakan saja.
"Kamu tidak di apa apakan oleh Demian kan Deli? Kamu juga tidak menghalalkan berbagai cara supaya dokumen kerjasama ini diterima tanpa ada perbaikan" tanya Jero kepada Deli. Jero tidak menyadari kalau pertanyaan dari dirinya membuat Deli tersinggung.
"Tidak Tuan. Saya baik baik saja Tuan" jawab Deli.
__ADS_1
"Tuan Demian memperlakukan saya dengan sangat sopan, tidak seperti yang Tuan pikirkan." lanjut Deli yang sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Jero barusan.
"Lagian maaf sebelumnya Tuan, Saya juga masih punya harga diri Tuan. Jadi, tolong jangan Tuan samakan saya dengan sekretaris yang lain." kata Deli dengan nada yang tersinggung.
"Saya permisi ke kantin dulu Tuan."
Deli langsung saja memutar badannya tanpa mendengar persetujuan dari Jero maupun Felix. Deli benar benar marah dan tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Jero barusan. Deli berjalan ke luar dari ruangan Jero.
"Sepertinya dia marah" kata Jero yang tidak menyadari perkataannya tadi sudah menyinggung perasaan Deli.
"Mending dia langsung pergi. Kalau gue jadi dia, gue tabok mulut loe yang asal mangap itu" ujar Felix murka kepada Jero.
"Lah kok?" tanya Jero yang memang tidak menyadari apa kesalahannya.
"Jero Jero. Loe tadi ngomong ke Deli mempertanyakan kalau Deli tidak melakukan hal aneh aneh untuk membuat kerjasama itu menjadi berhasil" ujar Felix kepada Jero.
Jero terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Felix. Dia tidak menyadari telah mengatakan hal sensitif itu kepada Deli.
"Ngapain loe diam? Baru sadar kalau tu mulut udah asal ngomong aja" ujar Felix yang memilih untuk keluar dari ruangan Jero.
Felix tidak menyangka Jero, akan mengatakan hal serendah itu kepada Deli. Kali ini Jero benar benar sudah keterlaluan. Bukan hanya sikap tetapi ini telah merendahkan orang lain dengan menuduh seseorang melakukan hal yang sifatnya rendahan itu.
Felix tidak habis pikir dengan apa yang Jero katakan kepada Deli. Sebuah kalimat yang tidak seharusnya dikatakan oleh seorang CEO yang sudah sangat lama terjun ke dunia bisnis.
"Jero memang kurang etika banget. Bisa bisanya dia menanyakan hal menjijikkan itu kepada Deli. Padahal dia tau Deli itu anak siapa. Pengen rasanya nonjok tu mulut. Bikin kesal aja."
Felix merasa kesal sendiri dengan kelakuan Jero tadi. Kelakuan yang membuat Deli sangat marah. Tidak hanya Deli, siapapun yang berada di posisi Deli pasti akan marah.
"Gue harus mencari Deli. Gue nggak mau dia keluar dari perusahaan ini. Gue yakin, kalau Demian menerima semua kontrak kerjasama tanpa ada merevisi, itu berkat Deli. Karena Deli"
"Lagian, siapa saja orang dalam dunia bisnis ini tau kalau Demian bukanlah seseorang pria rendahan, yang mau mengganggu setiap wanita. Dia bukan seorang pebisnis seperti itu" lanjut Felix yang sudah mencari tahu tentang Demian.
__ADS_1
"Demian seorang CEO yang sama sekali tidak pernah membawa wanita ke jamuan makan malam bisnis. Pasti dia bisa menghargai wanita, itu sudah pasti. Kali ini Jero memang harus minta maaf kepada Deli. Karena sudah menuduh Deli dengan perkataan tidak baiknya"
Felix keluar kembali dari ruangannya. Dia harus mencari keberadaan Deli. Deli harus mendengar apa yang akan dijelaskan oleh Felix.