
Dua bulan semenjak kejadian Jero meminta maaf kepada Deli. Jero bersikap biasa aja kepada Deli. Jero sama sekali tidak memperlihatkan kebenciannya sedikitpun kepada Deli. Jero memberlakukan Deli seperti biasanya, tidak ada yang berubah sedikitpun dari Jero.
"Mami" ujar Jero memanggil Mami dan Papi saat mereka berada di ruang keluarga mansion Edwardo.
Papi dan Mami menatap ke arah Jero.
"Ada apa Jer? Nggak biasanya kamu memanggil Mami dan Papi dengan nada seperti itu" ujar Mami sambil melihat kearah Jero dan kearah Papi.
"Aku ingin ngobrol serius dengan Mami" ujar Jero dengan nada serius.
"Apa?" tanya Mami penasaran.
"Maukah Mami melamarkan seorang gadis untuk aku?" tanya Jero sambil menatap wajah Mami nya dengan tatapan serius.
"What?" ujar Mami kaget dengan permintaan Jero yang dirasa Mami sangat tidak masuk akal itu.
"Serius Mami. Aku sama sekali tidak berbohong sama Mami. Aku mau Mami melamarkan seorang gadis untuk aku" ujar Jero dengan nada seriusnya.
"Siapa dia sayang?" tanya Mami sambil menatap ke arah Jero.
"Kalau Frenya nggak akan pernah" ujar Mami dengan nada final tidak bisa ditawar tawar lagi.
"Nggak Frenya Mami" ujar Jero.
"Terus siapa?" tanya Mami yang penasaran.
Mami memandang Papi. Papi mengangkat bahunya. Papi tidak tahu siapa wanita itu.
"Maaf ini ya Jer, Papi dan Mami hanya tau kekasih kamu hanya satu itu saja. Tidak ada yang lainnya. Kamu seperti cinta banget dengan dia" ujar Mami menjawab perkataan dari Jero.
"Yah Mami. Kali ini aku serius Mami. Aku memang pengen Mami dan Papi melamarkan wanita itu untuk aku" ujar Jero sambil menatap Papi dan Mami bergantian.
"Pi" ujar Mami memanggil Papi dengan nada tidak tahu harus berbuat apa lagi terhadap kehendak Jero.
__ADS_1
"Jero" ujar Papi.
Sekarang Papi yang akan berbicara dengan Jero. Sedangkan Mami hanya bisa diam saja lagi. Mami tidak tau harus berbicara apa kepada Jero lagi.
Jero menatap Papi. Jero tahu Papi pasti ingin menanyakan apa maksud dari panggilan Papi kepada dirinya.
"Papi mau tanya ke kamu serius. Siapa wanita itu?" tanya Papi sambil menatap kearah Jero.
"Papi dan Mami pasti kenal dengan dia. Saat aku mengatakan namanya, Papi dan Mami pasti akan langsung setuju dengan aku" ujar Jero dengan percaya dirinya mengatakan hal itu kepada Papi dan Mami.
"Siapa?" tanya Papi yang sudah penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Jero.
"Deli Bramantya" ujar Jero dengan nada pastinya.
"Hah?" ujar Papi dan Mami kompak membulatkan mulutnya ke arah Jero.
"Kamu serius Deli Bramantya?" ujar Mami menanyakan kepastiannya kepada Jero.
"Yup. Deli Bramantya. Nggak ada yang lain" jawab Jero menatap ke mata Papi untuk meyakinkan Papi.
"Mami, aku serius Mami. Aku ingin Deli jadi istri aku. Gimanapun caranya" ujar Jero yang keinginannya sudah tidak bisa di tawar tawar lagi.
Mami menatap Papi. Mereka berdua tidak tau bagaimana caranya supaya Deli bisa menerima Jero sebagai calon suaminya.
"Jero berikan kami waktu untuk mendiskusikan hal ini. Kami tidak tau bagaimana harus melamar Deli untuk kamu" ujar Papi yang kehabisan kata kata untuk mengiyakan keinginan Jero.
"Baik Papi. Tapi jangan lama lama. Aku ingin Deli menikah dengan aku." ujar Jero dengan nada mengancam kedua orang tuanya.
Jero kemudian keluar dari dalam ruang keluarga, dia menuju kamar pribadinya yang ada di lantai tiga mansion keluarga Edwardo. Jero akan memikirkan jalan lainnya untuk bisa menikah dengan Deli, walaupun kedua orang tuanya tidak mau melamarkan Deli untuk dirinya.
Sedangkan di ruang keluarga, Papi dan Mami masih duduk berdua di sana. Mereka berdua juga terlihat berpikir keras atas permintaan yang diajukan oleh Jero tadi.
"Papi, menurut Papi, kenapa Jero tiba tiba ingin melamar Deli menjadi kekasihnya. Ada apa ini Papi?" tanya Mami kepada Papi.
__ADS_1
"Mami nggak habis pikir Pi. Mereka berdua sama sekali tidak dekat. Malahan bisa dikatakan hubungan mereka hanya sekedar atasan dan bawahan saja" ujar Mami mengutarakan apa yang ada dalam pikiran Mami saat ini kepada Papi.
"Papi juga tidak mengerti Mi. Kenapa bisa Jero berpikiran untuk menikah dengan Deli. Kita tidak memandang status seseorang. Tetapi kita juga tahu Jero hubungan dengan Deli hanya sebatas hubungan kerja saja" ujar Papi yang juga nggak tau apa alasan sebenarnya Jero ingin menikah dengan Deli.
Tuan dan Nyonya besar Edwardo terlihat berpikir keras. Mereka berdua saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan untuk anaknya itu.
"Gimana kalau Mami membujuk Jero untuk menikah dengan anak kawan Mami yang lain saja Pi. Mami akan memperlihatkan fhoto fhoto nya kepada Jero" ujar Mami memberikan solusi kepada Jero.
"Kita coba saja Mami. Semoga Jero mau pada salah satunya" jawab Papi sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Mami nggak habis pikir, kenapa dia minta dinikahkan dengan Deli" ujar Mami sambil melihat ke arah Papi.
"Menurut Papi, apa yang terjadi Pi?" tanya Mami lagi.
"Yah Mami, tapi udah Papi bilang, Papi nggak tau Mami. Mami masih juga tanya ke Papi" jawab Papi sambil menatap ke arah Mami.
"Tanya Felix Pi" ujar Mami yang ingat dengan anak nomor duanya itu.
"Mami, tapi Felix sedang fokus mengurus perusahaan di negara A. Kita hanya beri dia waktu cuma tujuh hari kan ya. Masak sekarang sudah kita pusingkan pula dengan urusan ini" ujar Papi mencegah Mami untuk bertanya kepada Felix tentang keinginan Jero.
"Mami pusing Papi. Anak kita yang satu itu ada ada aja keinginannya" ujar Mami sambil geleng geleng kepala karena permintaan absurd dari Jero.
"Itulah Mami apa yang harus kita lakukan. Kita tidak mungkin mewujudkan keinginannya itu. Kita tidak tau harus memberikan alasan seperti apa kepada keluarga Bramantya" ujar Papi yang ikut pusing memikirkan alasan apa yang akan disampaikan oleh Papi dan Mami kepada keluarga Bramantya saat akan melamar Deli.
"Tapi kalau tidak kita wujudkan Papi juga tahukan bagaimana sikap dan keras kepalanya Jero" ujar Mami kepada Papi.
"Bagaimana kalau kita cari saja jalannya Mami." ujar Papi yang akhirnya harus pasrah dengan kehendak Jero yang aneh itu.
"Maksud Papi gimana?" tanya Mami yang tidak paham dengan keinginan Papi.
"Maksud Papi, kita harus membuat sandiwara supaya Deli mau menikah dengan Jero. kita harus libatkan Jero dalam cerita ini" ujar Papi yang akhirnya harus memakai cara seperti itu agar Deli mau menikah dengan Jero.
"Baiklah Papi, Mami akan pikirkan jalan cerita sandiwara itu. Beri Mami waktu berpikir Papi" ujar Mami yang akhirnya menyetujui rencana yang diajukan oleh Papi.
__ADS_1
"Sudah malam Mami. Kita istirahat dulu aja" ujar Papi yang sudah mengantuk itu.
Tuan dan Nyonya Besar Edwardo kemudian pergi beristirahat ke kamar mereka. Mereka sekarang dihadapkan ke posisi yang sulit oleh Jero. Anak mereka sendiri yang menginginkan sesuatu yang kedua orang tuanya agak ragu mewujudkan. Tapi kasih sayang orang tua membuat kedua orang tuanya mengambil keputusan final, mereka akan mewujudkan keinginan dari Jero Edwardo