Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 67


__ADS_3

"Biar kakak aja yang ngantar barang barang yang terjual itu Del. Kan kakak kerja nggak seperti kalian" ujar Hendri menawarkan diri untuk mengantarkan barang barang yang dibeli.


"Nggak" jawab Dian dengan sangat lantang.


Semua orang menatap Dian lama. Dian langsung saja menjawab dengan kata tidak.


"Kenapa sayang? Kamu malu punya kekasih kurir barang barang preloved?" tanya Hendri kepada Dian.


"Bukan, bukan begitu Sayang. Kemaren Papi nelpon, dia meminta kamu untuk menjadi CEO di perusahaan Sanjaya." ujar Dian yang akhirnya mengatakan hal itu kepada Hendri. Padahal rencananya Dian akan mengatakannya tidak sekarang, melainkan saat mereka berdua saja.


"Apa sayang? Jadi CEO di Perusahaan Sanjaya? Kamu bercanda Sayang" ujar Hendri yang sangat tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Dian.


"Bentar ya. Aku hubungin Papi dulu" ujar Dian yang langsung menghubungi Papinya lewat panggilan video.


Papi dan Mami yang sedang duduk duduk santai mengangkat panggilan telpon dari Dian.


"Hallo sayang, ada apa?" tanya Papi kepada Dian.


"Papi, kalau anak nelpon bukan tanya ada apa, tapi sehat sayang, udah makan sayang. Gitu, nggak peka banget sih Pi jadi orang tua. Mana anak di tinggal sendiri lagi" ujar Dian yang langsung ngomel saat Papi mengangkat telpon dari dirinya.


"Hahahahaha. Sayang sayang, Papi yakin kamu bisa mengurus diri kamu sendiri. Belum lagi menantu Papi yang sangat overprotective itu. Papi semakin yakin pasti dia sangat mengawasi kamu sekarang." ujar Papi yang yakin kalau Hendri adalah sosok terbaik untuk anaknya.


"Nah kebetulan Papi, ini ada menantu Papi itu. Tadi udah Dian omongin sama Menantu Papi, kalau dia akan menjadi CEO di Sanjaya Grub, tapi menantu Papi sama sekali tidak percaya" ujar Dian mengadukan hal itu kepada Papi.


"Hahahahaha. Kamu pasti ngomongnya dengan tergesa gesa. Mana ada yang percaya sayang. Capek aja kamu jadi presdir Beautiful tapi nggak paham cara negosiasi" ujar Papi yang paham kalau Dian pasti ngomong dengan sangat tergesa gesa.


"Nggak juga. Papi ngomong sendiri aja ya. Tu ada orangnya" ujar Dian sambil memajukan mulutnya.


"Oke sayang. Kasih ke menantu Papi itu ponsel mu" ujar Papi kepada Dian.


"Papi mau ngomong" ujar Dian kepada Hendri.

__ADS_1


"Bisa Ayah dulu Yan?" tanya Ayah yang ingin berbicara dengan Papi sebelum Hendri yang berbicara.


"Bisa Ayah. Ini" ujar Dian memberikan ponselnya kepada Ayah.


"Hallo Sanjaya, masih ingat saya?" tanya Ayah kepada sahabat lamanya itu.


"Bramantya, aku selalu ingat sama kamu. Tidak mungkin nggak Bramantya." jawab Papi.


Dua orang sahabat lama saling menyapa. Mereka sama sama melepas kangen karena sudah lama tidak bertemu lagi.


"Boleh saya bertanya Sanjaya, apa dasarnya kamu mengambil anak saya sebagai CEO di perusahaan Sanjaya Grub?" tanya Ayah kepada Papi.


"Ooooo. Itu hal yang gampang saya jawab Bramantya. Hendri, siapa yang tidak tau dengan dia. Saya sangat yakin, perusahaan Sanjaya di tangan dia akan berkembang Bramantya. Kamu tau sendirilah putri saya yang juga sudah jadi putri kamu itu. Ke Sanjaya bisa dihitung dengan jari. Makanya saya meminta Hendri untuk menjadi CEO di Sanjaya Grub." ujar Papi mengatakan hal apa yang mengakibatkan dia meminta Hendri menjadi CEO di sana.


"Saya mohon Bramantya tolong izinkan putra kamu itu menjadi CEO di perusahaan Saya. Kamu jangan berpikiran aneh aneh Bramantya, kamu tau saya dan istri saya tidak tipe seperti itu" ujar Papi yang tau kemana arah pikiran Ayah dan Hendri.


"Hahahahaha. Sabar Sanjaya. Saya juga tidak berpikiran seperti itu. Saya paham dengan maksud kamu. Kalau dari saya dan istri saya menyerahkan semuanya kepada anak anak kita itu tentang hubungan yang mereka jalin. Sedangkan untuk menjadi CEO di perusahaan Sanjaya saya serahkan kepada Hendri. Saya tidak akan menghambat karier putra saya sendiri Sanjaya." ujar Ayah yang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ingin ditanyakan nya kepada Papi.


"Silahkan Sanjaya. Malahan lebih bagus, kalau kamu yang bertanya sendiri dari pada saya yang menjawabnya. Jadi, kamu akan puas saat mendengar jawaban itu langsung" ujar Ayah kepada Papi.


Ayah memberikan ponselnya kepada Hendri. Hendri mengambil ponsel milik Dian yang diberikan oleh Ayah kepada dirinya.


"Hallo Tuan" ujar Hendri nampak gugup harus berhadapan walau lewat panggilan video dengan calon mertuanya itu.


"Jangan panggil Tuan Nak. Panggil Papi saja" ujar Papi kepada Hendri.


"Panggil Mami ya bukan Nyonya" ujar Mami yang menyerobot ponsel Papi.


"Baik Tu, eh maaf Papi Mami" ujar Hendri yang masih grogi mengubah panggilannya kepada Tuan dan Nyonya Sanjaya.


"Nah gitu baru bagus" ujar Papi memuji Hendri.

__ADS_1


"Jadi gimana Hendri, Papi meminta kamu untuk menjadi CEO di perusahaan Sanjaya. Papi harap kamu mau membantu Papi mengurus dan memimpin perusahaan itu" ujar Papi meminta dengan sangat kepada Hendri untuk mau menjadi CEO di perusahaan Sanjaya.


"Papi maaf bukan menolak. Tapi apa Papi dan Mami serta Dian sudah yakin dengan menunjuk Aku sebagai CEO di sana?" tanya Hendri kepada Papi.


"Sudah Hendri, semua sudah kami pikirkan dengan sangat matang dan cermat. Kami juga memikirkan apa tanggapan orang." ujar Papi menjawab perkataan dari Hendri.


"Tapi satu hal yang pasti Hendri. Saat kita memikirkan perkataan dan pemikiran orang lain. Maka saat itu pulalah kita tidak akan pernah maju. Jangankan untuk berlari Hendri melangkah saja kita tidak akan bisa." ujar Papi memberikan nasihatnya kepada Hendri.


"Maka dari itu Hendri, berhentilah memikirkan orang lain. Pikirkan diri kita sendiri saja. Terserah mereka, mereka mau ngomong apa terpenting kita tidak melakukan itu dengan dasar yang mereka katakan. Sudah selesai masalah" ujar Papi kepada Hendri.


"Lagian ya Hendri. Mulut botol yang bisa kita sumpel, sedangkan mulut manusia tidak akan pernah bisa" ujar Papi kepada Hendri.


Hendri melihat ke arah Ayah dan Bunda, mereka berdua mengangguk setuju untuk Hendri menjadi CEO di perusahaan Sanjaya. Selain menatap ke arah Ayah dan Bunda, Hendri menatap kekasihnya. Dian mengangguk meminta Hendri untuk menerima permintaan Papi.


"Baiklah Papi, Aku menerima tantangan yang Papi berikan. Tapi, bisa Aku memohon sesuatu kepada Papi?" ujar Hendri mengajukan salah satu permintaannya kepada Hendri.


"Apa Hendri?" tanya Papi yang menerima tantangan dari Hendri.


"Aku minta, Papi setuju dan merestui hubungan aku dengan Dian. Walaupun Papi mengatakan tidak, maka aku akan tetap mencintai dengan sungguh sungguh anak Papi" ujar Hendri yang ternyata hanya minta kepada Papi untuk merestui dirinya.


"Papi kira apa yang kamu minta Hendri. Papi dan Mami sudah merestui kalian berdua. Papi dan Mami tidak akan pernah menentang hubungan kalian." ujar Papi kepada Hendri.


"Papi, bisa nggak waktu hari pertama Aku jadi CEO, Papi memperkenalkan aku sebagai CEO yang baru. Aku takutnya nanti dewan direksi atau manager manager menolak dan bertanya tanya kenapa Saya bisa menjadi CEO." ujar Hendri kepada Papi.


"Baik pas kamu pertama masuk kantor, Papi akan hadir saat itu. Papi akan langsung mengumumkan kalau kamu adalah CEO baru di perusahaan. Senen depan, jadi ada beberapa hari kamu membaca dokumen dokumen perusahaa." ujar Papi kepada Hendri.


"Makasi Papi, aku akan mempelajari semuanya mulai besok. Aku akan minta Dian membantu aku dalam mengetahui seluk beluk perusahaan" ujar Hendri dengan semangatnya.


"Ya udah Hendri. Besok kami akan terbang kembali ke negara I. Kita akan bahas di sana besok." ujar Papi yang juga tidak tega Hendri hanya belajar dari Dian. Papi ingin membantu langsung karena Papi yang minta.


"Baiklah Papi. Aku sangat senang Papi mau langsung pulang ke sini" ujar Hendri yang menghargai Papi mau kembali ke sini karena suatu hal.

__ADS_1


Setelah itu telpon antara Papi dan Hendri diakhiri oleh Papi. Mereka kemudian kembali bercerita tentang toko preloved milik Deli, Dina dan Dian yang dalam sehari sudah bisa menjual dua ts brended


__ADS_2