Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 86


__ADS_3

"Gue nggak nyangka. Anda yang katanya CEO terhormat Presiden direktur dari sebuah perusahaan ternama bisa mengatakan hal serendah itu terhadap sekretarisnya sendiri" lanjut Dina masih dengan emosinya. Dina menggekeng geleng kan kepalanya. Dia benar benar kesal dengan Jero sekarang ini. Dia ingin sekali menambah tamparan nya ke pipi Jero.


Dina tetap menunjuk nunjuk Jero saat ini. Dina benar benar marah kepada Jero, Dina nggak habis pikir, kenapa Jero bisa serendah itu menilai Deli sahabatnya. Deli adalah wanita paling baik dan tulus yang dikenal oleh Dina. Jangankan untuk memanfaatkan orang lain dengan segala cara, nhinjak semut aja Deli nggak akan mampu.


"Anda tau Tuan Jero Edwardo, pebisnis muda berbakat, Anda menilai kalau sahabat saya bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan proyek kerja sama dengan perusahaan perez grub." ujar Dina dengan setengah murka.


"Jangankan menghalalkan segala cara untuk dia berhasil. Nginjek semut aja dia nggak akan mau, kalau masih bisa dia elakkan. Anda sudah bisa menuduh seseorang dengan sangat rendah" lanjut Dina masih dengan emosinya. Emosi Dina benar benar sudah memuncak dan tidak bisa lagi ditahan oleh Dina. Dina benar benar marah kali ini. Siapapun tidak akan ada yang bisa mengendalikan dan menenangkan Dina saat dia sedang marah seperti saat sekarang.


"Loe jangan samakan sahabat gue dengan Freya kekasih loe itu. Mereka tidak sama. Loe denger mereka tidak sama. Kalau kekasih loe memang menggunakan tubuhnya untuk memperoleh uang, sahabat gue, biarlah dia nggak ada uang dari pada dia menjual dirinya" ujar Dina bener bener kesal dengan Jero.


"Elo yang bodoh, yang mau dibodohi wanita murahan seperti Frenya" ujar Dina murka dan mencaci maki Frenya di hadapan Jero langsung.


Jero sudah memerah wajahnya. Dia benar benar sudah dipermalukan oleh Dina Kusuma Wijaya di depan Demian Perez salah satu rekan bisnis Jwro yang baru.


"Sekarang, loe kan udah berhasil bekerjasama dengan perusahaan Perez Grub. Jadi, gue membatalkan kontrak kerjasama kita yang sudah gue setujui waktu Anda berdua berkunjung ke negara gue. Kontrak kerja ini gue batalin. Gue nggak butuh kerjasama dengan seorang pimpinan yang hanya bisa menjudge jelek anak buahnya. Tanpa memikirkan perasaan orang tersebut. " ujar Dina sambil merobek berkas kerjasama itu di depan mata Jero dan Felix.


Jero dan Felix ternganga melihat apa yang dilakukan oleh Dina.


"Sayang" ujar Felix menahan tangan Dina


"Jangan panggil gue sayang lagi. Loe sama sekali tidak bisa melindungi sahabat gue dari mulut busuk kakak loe. Kita putus. Loe denger, kita putus. Gue benci laki laki yang nggak bisa menghargai wanita" ujar Dina kepada Felix.

__ADS_1


Dina menghempaskan tangan Felix dengan sangat kasar. Dina sama sekali tidak memikirkan perasaannya lagi. Dina benar benar dibuat marah kali ini.


Setelah puas memaki maki Jero dan Felix. Dina kemudian berbalik. Dia melihat sesosok pria lain di dalam ruangan Jero.


"Maaf seharusnya Anda tidak menyaksikan kejadian memalukan seperti ini." ujar Dina meminta maaf kepada laki laki tampan itu.


"Tidak apa apa Nona. Saya bisa memahami kemarahan Nona. Kalau saya di posisi Nona akan melakukan hal yang sama. Kita membela sahabat yang kita sendiri sangat tahu dia memiliki sikap seperti apa." ujar Demian dengan menatap sekilas kepada Jero.


"saya akan dukung Nona. Saya juga tidak Terima kalau orang yang saya sayang direndahkan oleh orang lain yang sama sekali tidak berhak merendahkan dia" ujar Demian dengan tajam dan tepat menusuk ke jantung Jero.


Jero terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Demian. Jero langsung gelisah. Dia tidak mungkin kehilangan dua kontrak kerjasama dari dua perusahaan besar. Bisa jatuh harga saham perusahaan Edwardo kalau hal itu sampai terjadi.


"Silahkan lanjutkan pembicaraan Tuan dengan perusahaan ini. Kalau untuk kerja mereka tidak diragukan lagi. Tapi, saya yang tidak Terima ucapan mereka saja. Jadi, selamat bekerja sama dengan mereka Tuan" ujar Dina kepada Demian da menatap tajam Jero.


Demian kemudian berdiri di depan Jero dan Felix. Demian menatap Jero dan Felix dengan tatapan yang tidak bisa diartikan lagi. Tatapan kemarahan dan kebencian serta kekecewaan bercampur menjadi satu.


"Pantesan tadi Deli mengatakan kepalanya pusing. Ternyata dia kalian berdua tuduh telah berbuat hal di luar batas kepada Saya. Saya tekankan sekali lagi, dia sama sekali tidak melakukan apa yang kalian katakan kepada Saya" ujar Demian dengan menekankan satu persatu kata kata yang dikeluarkan dari mulutnya.


"Saya setuju kerjasama dengan kalian tanpa mengubah kontrak ya memang benar karena Deli. Saya suka dengan sekretaris kalian. Tapi dia adalah wanita baik baik yang tidak mau menggunakan kecantikannya untuk memikat seseorang" lanjut Demian kepada Jero dan Felix.


"Kalian berdua sudah salah menilai dia" lanjut Demian berkata dengan menekankan setiap kata katanya.

__ADS_1


"Kalau Nona Kusuma tadi membatalkan perjanjian kerjasama dengan perusahaan ini. Kalau saya tidak akan membatalkan kontrak kerjasama kita." ujar Demian.


"Tapi kalau saya sampai mendengar kalian bersikap tida ramah dengan Deli, bahkan memecat dia. Saya akan pastikan kerjasama kita akan batal, dan keluarga Edwardo akan menerima akibatnya" ujar Demian.


"Saya permisi dulu" ujar Demian.


Demian kemudian keluar dari ruangan Jero. Dia menuju mobil dan akan mengantarkan Deli pulang ke rumahnya.


Felix menatap Jero. Dia tidak menyangka Dina akan mengetahui hal fatal ini.


"Kamu yang ngasih tahu Dina apa yang gue katakan ke Deli, Felix?" tanya Jero yang melihat surat kontrak kerja sama yang di robek oleh Dina tadi.


"Tidak Jero. Sama sekali tidak. Malahan gue berusaha supaya Dina tidak tahu. Tapi ternyata malah sebaliknya. Gue juga pusing siapa yang memberitahukan semuanya kepada Dina" kata Felix yang tidak bisa menebak siapa yang memberitahukan semuanya kepada Dina.


"Huft, gimana ini Felix. Kerjasama dengan perusahaan KW Grub juga termasuk kerjasama yang paling penting bagi kita." kata Jero yang terlihat menyesal dengan apa yang telah dikatakannya kepada Deli.


"Apa gue harus minta maaf sama Deli?" tanya Jero kepada Felix.


"Sepertinya memang gitu. Kita harus ke kafe hari ini juga. Gue akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Deli" ujar Jero yang tidak mau perusahaannya merugi gara gara mulutnya yang asal ngomong saja.


Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan. Saat mereka serius bercerita. Tiba tiba pintu dibuka dengan sangat keras dan tergesa gesa dari luar.

__ADS_1


Dua orang manager masuk ke dalam ruangan Jero.


"Ada apa" tanya Jero melihat kepanikan di mata dua orang manager


__ADS_2