Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 110


__ADS_3

Setelah melakukan perawatan, Dian, Dina dan Deli kemudian keluar dari dalam salon. Merea bertiga menuju mobil yang diparkir Dina di tempat biasa Dian manaruh mobilnya kalau dia berkunjung ke salonnya yang itu.


"Kita kemana lagi?" tanya Dina saat mereka sudah duduk di dalam mobil Dian.


Dian mengangkat pundaknya. Dia tidak tahu mau kemana lagi.


"Deli, kita kemana lagi?" tanya Dian kepada Deli yang sibuk melihat ponsel miliknya.


"Kalau menurut gue, lebih baik kita pulang. Udah maghrib masalahnya. Nanti Ayah dan Bunda cariin kita lagi" ujar Deli yang memilih untuk pulang ke rumah dari pada melanjutkan untuk pergi ke tempat lain.


"Oke. Kita juga harus bersiap siap untuk besok" ujar Dian yang juga setuju dengan pilihan dari Deli.


"Berarti ke rumah kan ya?" tanya Dina memastikan sekali lagi keinginan Deli dan Dian.


"Yupi. Kita langsung pulang" ujar Deli menjawab pertanyaan dari Dina.


Dina kemudian menghidupkan mobilnya. Dia mengarahkan mobil ke arah rumah Deli. Mereka akan pulang menuju rumah Deli.


"Sekalian ya, kita minta Bunda, Ayah dan Kak Hendri pakaian yang kita bawa dari butik. Kalau kekecilan atau ke besaran masih bisa kita tukar ke butik" ujar Dian yang ingat kalau pakaian yang dibawanya tadi bukanlah ukuran langsung Ayah dan Hendri.


"Bener itu. Jadi, kalau nggak muat bisa di tukar dulu ke butik, dari pada Ayah dan kak Hendri pakai baju kebesaran atau kekecilan nggak lucu juga. Jadi, bagus juga di cobain sama Ayah dan Kak Hendri terlebih dahulu" ujar Dina yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian tadi.


Dina mengemudikan mobil dalam kecepata sedang. Dina tidak bisa menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi karena jalanan yang begitu padat karena banyak karyawan yang baru pulang dari tempat mereka bekerja.


"Gila rame banget ini jalan sekarang. Apa semua orang masuk kerja hari ini? Nggak ada yang dinas luar apa?" ujar Dina mengeluh dengan keadaan jalanan yang begitu padatnya.


"Adalah cuma kan nggak banyak. Loe nya aja yang nggak pernah di jam segini. Makanya nggak tau apa apa. Loe ngomong orang nggak ada yang dinas luar" ujar Dian menjawab apa yang dikatakan oleh Dina tadi.

__ADS_1


"Aku kira kok nggak ada yang dinas luar, sakit, izin atau apanya. Ternyata gue selama ini kalau nggak pulang kecepatan pulang paling akhir. Untung nggak pernah pulang jam segini. Kalau pernah bisa ngamuk ngamuk gue di mobil" ujar Dina yang memang paling tidak suka dengan kemacetan yang bisa membuat dia menjadi lambat sampai di rumah Deli atau mansion miliknya.


"Nggak mau macet naik helikopter aja" ujar Dian menjawab keluhan Dina.


"bisa dipertimbangkan" ujar Dina saat mendengar masukan dari Dian.


Dina kemudian mengambil ponsel miliknya yang diletakkan di dekat handle gigi mobil. Dina menekan angka dua yang akan langsung terhubung ke ponsel Juan. Dina menunggu sampai kakaknya itu mengangkat panggilan telah dari dirinya.


"Hallo Din, ada apa?" tanya Juan yang suaranya dengan jelas terdengar oleh Dian dan Deli.


Dina memakai speaker untuk berbicara dengan Juan, segingga apa yang akan dibicarakan nya dengan Juan akan terdengar oleh Deli dan Dian.


"Kak, helicopter kita yang satu nggak dipakai kakak kan?" tanya Dina kepada Juan.


Deli dan Dian yang mendengar pertanyaan dari Dina kepada Juan langsung melongo dan saling bertatapan tidak percaya mendengar apa yang ditanyakan oleh Dina kepada Juan.


"Iya Kakak. Daerah sini macetnya bener bener gila gilaan. Panjang dan lama. Aku nggak kebayang kalau harus melalui macet itu saat pulang dari perusahaan" ujar Dina menceritakan kepada Juan bagaimana parahnya macet yang harus dilalui oleh Dina kalau dia harus pulang bertepatan dengan semua pekerja pulang dari tempat kerja mereka.


"Jadi, kamu mau beli sebuah Helicopters?" tanya Juan yang mengerti maksud dari pertanyaan Dina.


"Bukan beli baru. Helikopter yang nggak kakak pakai saja kasih aku satu" ujar Dina mengutarakan keinginannya kepada Juan.


"Kalau kamu memang mau, nggak usah yang ini. Besok kakak belikan yang baru. Tapi kakak harus pastikan dulu di mansion ada nggak helipad nya. Nanti kalau tidak ada dimana mau di mendaratkan. Mau turun pake tali kayak tentara itu?" ujar Juan yang menanggapi serius keinginan adik semata wayangnya itu. Apalagi Dina adalah adik angkatnya yang notabene pewaris sah KE Grub.


"Kakak kakak, aku nggak serius kakak. Lagian kalau aku kena macet pulang, aku berenti aja di tempat makan, terus tunggu macetnya selesai baru pulang" jawab Dina yang tidak menyangka Juan akan menanggapi dengan serius kata kata yang disampaikan oleh Dina tadi.


"Serius juga nggak masalah. Kakak yang beli bukan kamu" ujar Juan berkata kepada Dina.

__ADS_1


"Ogah lah kakak. Dimana mau ditarok coba di mansion. Lagian nanti kalau aku mau ke rumah Deli gimana? Nggak mungkinkan aku yang cantik begini turun pake tali kayak tentara. Bisa bisa di ketawain Ayah dan Kak Hendri aku kakak" uajr Dina berusaha menolak keinginan Juan untuk membelikannya Helicopters.


Juan mendengar semua yang dikatakan oleh Dina kepada dirinya. Setelah mendengar semua alasan yang diberikan oleh Dina, Juan menjadi yakin kalau memang itu buka keinginan Dina. Tetapi hanya menyampaikan unek uneknya saja.


"Baiklah Din. Besok kalau kamu berubah pikiran dan juga udah suntuk dengan kemacetan ibu kota, kamu telpon kakak lagi ya." ujar Juan kepada adiknya itu


"sip kakak. Kakak sedang ngapain?" tanya Dina yang dari tadi lupa bertanya Juan sedang dalam keadaan seperti apa.


"Ini sedang di depan empat orang pengusaha yang sedang menunggu kakak melakukan presentasi Din" ujar Juan sambil menatap empat orang pengusaha yang sedang menunggu Juan yang akan melakukan presentasi itu


Tetapi mereka terpaksa menunggu karena bagi Juan mengangkat telepon dari Dina adalah suatu hal yang paling penting di atas yang terpenting. Bagi Juan biarlah kehilangan kerjasama dari salah satu perusahaan dari pada tidak mengangkat panggilan dari adiknya itu.


"Kakak kenapa nggak ngomong kalau lagi sedang kerja. Kalau kakak ngomong dari tadi aku kan nggak akan ngomong yang aneh aneh sama kakak" ujar Dina yang menyesal telah menelpon kakaknya tanpa melihat jam terlebih dahulu.


"Haha haha haha. Tidak apa apa Dina. Kalau kamu yang telpon kakak, walaupun posisi kakak sedang bicara dengan kepala negara, kakak akan tetap mengangkat telpon dari kamu terlebih dahulu" ujar Juan kepada adik semata wayangnya itu


"Kakak. Udah dulu ya. Aku matikan dulu. Aku akan dah sampai di rumah Deli ini. Bay kakak" ujar Dina mengakhiri percakapannya dengan Juan.


"Bay Dina. " jawab Juan.


"Loe ada ada aja. Makanya nelpon itu tengok tengok dulu jamnya. Jangan asal telpon aja" ujar Dian sambil menahan senyumnya.


"mana gue tau dia lagi apa." jawab Dina sambil cengengesan.


"Dina dina memang nggak ada berubah ya elo" ujar Deli dari belakang.


"Emang satria baja hitam berubah" jawab Dina.

__ADS_1


Dina tetap fokus mengemudi menuju rumah Deli yang hampir sampai lebih kurang dua kilometer lagi dari posisi mereka sekarang


__ADS_2