Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 51


__ADS_3

"Oke hati hati. Nona Dina terimakasih atas tumpangannya" ujar Jero mengucapkan terimakasih kepada Dina, karena sudah bersedia menumpangi dirinya dan Felix untuk kembali pulang ke negara I.


"Sama sama Tuan Jero" jawab Dina dingin sedingin es. Dina dari saat sarapan sampai sekarang tidak mengubah aura yang ditampilkan nya. Dia tetap dengan aura dingin sedingin freezer.


Felix merasakan semua itu. Felix ingin berbicara dengan Dina saat inu, tetapi Felix juga tidak sanggup untuk menyapa. Dia tidak ingin semakin membuat Dina marah kepada dirinya. Akhirnya Felix memilih untuk diam saja. Dia memilih untuk membiarkan Dina saja. Felix akan berbicara saat Dina sudah kembali tenang.


Deli dan Dina serta Dian masuk ke dalam mobil milik Dian. Mereka bertiga kemudian meninggalkan bandara menuju kafe Bunda. Mereka bertiga akan menginap di sana untuk beberapa hari ini. Dina sedang butuh kedua sahabatnya. Deli dan Dian juga tidak mau kalau Dina mengadukan semuanya kepada Juan. Mereka sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Juan kepada Felix nantinya. Deli dan Dian meminimalisir hal itu.


Jero dan Felix kemudian masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka berdua menuju mansion keluarga Edwardo yang terletak di pinggiran kota. Mobil melaju dalam kecepatan tinggi di jalan tol menuju pinggiran kota dari bandara. Sebenarnya salah satu hal yang menyebabkan Tuan Besar Edwardo memilih membangun mansion di pinggir kota ya krena ini. Mereka tidak perlu merasakan macet saat menuju bandara maupun sebaliknya.


Setelah berkendara selama emp


at puluh lima menit, mobil akhirnya masuk ke dalam pintu gerbang utama mansion keluarga Edwardo yang sangat megah itu. Siapapun akan tau itu mansion milik siapa saat melihat logo yang terpasang di atas pintu gerbang mewah itu. Serta logo yang berada di dinding pagar.


Jero dan Felix kemudian turun dari dalam mobil. Mereka masuk ke dalam mansion utama, tetapi mereka sama sekali tidak melihat keberadaan Papi dan Mami di dalam mansion.


"Bik, mana Papi dan Mami?" tanya Felix kepada kepala pelayan yang datang menyambut mereka.


"Tuan dan Nyonya besar sedang ada jamuan makan malam di mansion kolega bisnis Tuan BesarBesar, Tuan muda." jawab kepala pelayan memberitahukan dimana keberadaan Papi dan Mami.


"Baiklah terimakasih Bik. Kami ke kamar dulu" ujar Felix.


Jero dan Felix menuju kamar mereka masing masing. Mereka akan beristirahat setelah lelah melakukan penerbangan selama sembilan jam. Kalau Jero bener bener lelah karena lamanya penerbangan, sedangkan Felix bukan lelah karena penerbangan yang lama, tetapi perasaannya yang lelah saat menyaksikan tingkah Dina yang benar benar dingin seharian ini.


Felix berkali kali bolak balik di atas ranjang king sizenya itu. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Felix sudah berusaha mati matian untuk tidur, tetapi mata dan pikirannya sedang tidak sinkron. Makanya dia tidak bisa tertidur.


"Aku harus ke kamar Jero" ujar Felix yang akhirnya menyerah dan akan bercerita dengan Jero. Felix percaya Jero tidak akan menceritakan apapun kepada siapapun.


Felix akhirnya berdiri dari tidurnya. Dia kemudian berjalan keluar kamar. Dia menuju kamar sebelah yaitu kamar Jero.


Tok tok tok. Felix mengetuk pintu kamar Jero. Jero yang baru selesai membersihkan badannya, langsung berjalan menuju pintu kamar saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.


Jero membuka pintu kamar, dia mengira yang datang adalah kepala pelayan mengantarkan jus jeruk pesanannya dan goreng pisang yang dibuat oleh koki mansion. Tetapi sayangnya tidak.


"Hah? Ada apa?" tanya Jero melihat adiknya yang sudah sangat kusut itu.

__ADS_1


"Boleh gue masuk?" ujar Felix yang sudah tidak tahan lagi untuk berbagi apa yang mengganggu pikirannya saat ini.


Jero membukakan pintu kamar lebar lebar. Felix kemudian masuk ke dalam kamar Jero. Dia kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Saat Jero baru akan menutup pintu, kepala pelayan datang mengantarkan pesanan Jero tadi. Untung saja kepala pelayan juga sudah membuatkan minuman untuk Felix, jadi Jero tidak perlu meminta tambahan minuman lagi.


Jero membawa minuman dan pisang goreng itu ke dalam kamar. Dia meletakkan di atas meja tepat di depan Felix duduk.


"Minum dulu" ujar Jero.


"Gue pakai baju bentar." kata Jero sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan wardrobe miliknya.


Jero memakai pakaian santai rumahan, sebuah baju kaos dan celana pendek levis keluaran rumah mode terkenal. Walaupun terlihat sederhana tapi jangan tanya berapa harga dari total semua yang dipakai oleh Jero. Wah mahal banget.


Felix mengambil segelas jus jeruk dingin yang ada di depannya. Dia meminum jus tersebut. Jero juga melakukan hal yang sama dengan Felix. Bedanya Jero minum karena haus, sedangkan Felix minum karena ingin mendinginkan kepalanya yang sedang pusing itu.


"Ada apa?" tanya Jero kepada Felix.


"Gue mau cerita, tapi loe janji nggak akan menceritakan hal ini ke siapapun, termasuk Papi, Mami dan kekasih loe?" ujar Felix meminta Jero untuk menjaga ceritanya.


"Kenapa?" tanya Jero.


"Oke. Loe bisa pegang janji gue" jawab Jero yang memang selalu memegang janjinya kepada siapapun. Sekarang malahan yang meminta adalah Felix, seorang adik bagi Jero. Apapun akan dilakukan Jero untuk dirinya.


"Ada apa?" tanya Jero kembali.


Felix kemudian menceritakan semuanya kepada Jero. Semua yang diceritakan oleh Dina diceritakan kembali oleh Felix kepada Jero. Jero hanya bisa diam saja saat Felix menceritakan semuanya kepada dia. Jero tidak sekalipun membantah atau menyela pembicaraan Felix.


Akhirnya setelah tiga puluh menit tanpa henti Felix bercerita. Cerita Felix sudah sampai di penghujung. Felix kemudian terdiam, separo dari bebannya dirasa oleh Felix telah terlepas dari otak dan pikirannya.


"Jadi, apa yang harus gue lakukan sekarang Jer?" tanya Felix sambil menatap jauh menembus empat lantai mension keluarga Edwardo.


Jero terlihat berpikir. Di dalam otaknya tergambar bagaimana perlakuan Juan dan Dina kepada semua pembunuh keluarganya. Jero sendiri kalau berada dalam posisi Dina dan Juan akan melakukan hal yang sama dengan mereka bahkan bisa lebih lagi.


"Felix, sejujurnya kalau hal itu terjadi kepada gue, gue akan melakukan hal yang sama dengan Dina dan Juan. Bahkan bisa jadi lebih, karena apa yang mereka lakukan telah membuat Dina dan Juan menjadi yatim piatu disaat mereka masih membutuhkan kedua orang tuanya." ujar Jero memberikan pandangan dan pendapatnya kepada Felix.


"Satu hal lagi Felix, loe nggak berhak marah kepada Dina. Loe nggak boleh menghakimi Dina dan Juan. Sekarang coba loe balikin ke diri loe sendiri kejadian ini. Apa loe juga tidak berniat untuk balas dendam?" tanya Jero keoada Felix.

__ADS_1


Felix terdiam cukup lama. Dia menganalisa semua perkataan dan pendapat yang dikemukakan oleh Jero.


"Ya gue bahkan bisa lebih kejam lagi. Apalagi Juan, kedua orang tua angkatnya yang telah membawa dia dari dunia kelam menjadi orang terpandang, tentu dia akan emosi seperti itu." ujar Felix yang bisa merasakan menjadi seperti Juan.


"Makanya Felix, loe nggak berhak marah yang berlebihan kepada Dina. Loe mestinya bersyukur Dina bisa seperti sekarang, Dina bisa berubah, Dina bisa membangun perusahaannya sendiri." ujar Jero memberikan nasehatnya kepada Felix.


Felix terdiam. Dia memang salah sudah mendiamkan Dina. Padahal saat Dina telah selesai bercerita, Felix mengatakan kalau dia tidak akan marah kepada Dina dan Juan.


"Sekarang, biarkan Dina tenang dulu. Besok loe harus menjelaskan semuanya kepada Dina. Atau loe mau kehilangan Dina?" tanya Jero kepada Felix.


"Ogah. Gue cinta mati sama dia. Mana mau gue kehilangan dia" ujar FelixFelix yang telah sangat yakin dengan perasaannya kepada Dina.


"Nah itu kuncinya kalau loe udah yakin. Ngapain loe ragu dengan masa lalu dia. Hajar aja. Kan dia nggak ngapa ngapain dengan laki laki lain. Dia cuma membalaskan rasa sakitnya kepada orang yang telah menyebabkan dia sakit." ujar Jero selanjutnya.


"Oke makasih. Besok gue akan ke kantor dia." kata Felix yang sudah mulai tenang.


Jero dan Felix menikmati pisang goreng dan juga jus jeruk yang ada di depan mereka saat ini.


"Jero, gimana dengan manager yang telah berani bermain api dengan perusahaan kita?" tanya Felix yang ingat dengan kasus yang sedang ada di perusahaan Edwardo.


"Gue akan pecat dan menyita semua asetnya, gue akan mengambil sesuai dengan berapa yang telah diambilnya dari perusahaan. Gue nggak akan ambil lebih, tapi akan ambil sama." ujar Jero mengutarakan kepada Felix apa yang akan dilakukannya besok saat sampai di perusahaan.


"Gue setuju, agar semua ini menjadi pelajaran bagi semua manager dan karyawan di perusahaan. Biar mereka berpikir ulang untuk melakukan hal itu. " ujar Felix yang mendukung sikap dan tindakan yang akan diambil oleh Jero.


"Menurut gue, dia nggak kerja sendirian Jer. Pasti ada orang lain yang mendukung dari belakang" ujar Felix.


"Gue juga berpikir demikian Felix. Gue akan bertanya kepada manager itu sebelum hukuman gue berikan. Kita akan mengajak dia berbicara pagi harinya. Elo kan nggak pagi ke kantor Dina?" tanya Jero yang ingat Felix akan pergi ke kantor Dina besok.


"Nggak, gue ke sana sebelum makan siang aja" ujar Felix menjawab pertanyaan dari Jero.


"Loe tanya dulu ke Deli bagaimana keadaan Dina. Loe tanya, kalau Dina merajuk bagaimana cara membujuknya. Nah baru deh loe bisa melakukan sesuatu." kata Jero memberikan usulan ide tambahan kepada Felix.


"Bener juga ya. kok nggak kepikiran Deli dari tadi gue" ujar Felix yang memang sama sekali pikirannya tidak sampai kepada Deli.


"Biasalah orang lagi panik karena cinta, otaknya memang nggak nyampe" jawab Jero mulai meledek Felix.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan ringan seputar perusahaan. Mereka tinggal menunggu panggilan makan malam dari Ketua pelayan. Mereka akan makan malam berdua saja karena Papi dan Mami ada acara jamuan makan malam di luar.


__ADS_2