
Bunyi ponsel Felix memecah kesunyian di siang hari itu. Felix dan Jero yang sedang menikmati makan siang mereka langsung menatap ponsel Felix bersamaan. Karena layar ponsel Felix menampilkan wajah seorang pria yang mereka sangat kenal. Pria yang telah lama tidak ke negara I. Pria tersebut dan wanitanya memilih tinggal di Negara B.
Felix menatap ke Jero, meminta persetujuan apakah telpon tersebut perlu diangkat atau tidak.
"Angkat aja kalau telpon lagi. Gue mau denger apalagi yang mau dikatakan bokap dan nyokap. Apakah masalah Frenya lagi atau yang lainnya." kata Jero yang sudah bosan tiap kali dia melakukan perjalanan ke negara ini, pasti dia akan kena khotbah jumat karena bertemu dengan Frenya.
Ternyata memang benar Papi Jero menghubungi Felix kembali. Felix langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo Pi. Ada apa Pi?" tanya Felix kepada Papi.
"Kalian pulang kapan ke rumah?? Papi dab Mami ada di rumah. Kami berdua sudah menetapkan hati akan kembali tinggal di rumah tidak lagi di negara B" kata Papi mengutarakan maksudnya menghubungi Felix.
"Kami akan pulang besok pagi Pi." jawab Felix.
"Felix mana Jero, Papi mau bicara dengan dia. Papi tidak akan membahas wanita pujaan hatinya itu. Papi udah bosan membahas dia." kata Papi yabg tau Jero sangat enggan berbicara dengan Papi kalau membahas masalah Frenya.
Felix memberikan ponselnya kepada Jero. Jero yang tau Papi selalu memegang kata katanya langsung saja menerima ponsel Felix.
"Hallo Pi. Ada perlu apa Pi? Kapan Papi sampe dari negara B?"
"Baru sampe tadi pagi. Saat masuk rumah ketua Maid mengatakan kalau kalian sedang ada perjalanan bisnis. Mami yang tidak sabar menunggu kalian berdua meminta Papi menghubungi kamu" kata Papi.
"Jadi ada apa Pi??? Nggak mungkin kan kangen??? Kita tidak anak kecil lagi Pi." kata Jero yang tau Papi dan Mami pasti meminta sesuatu kepada dirinya.
" Papi mau kamu membelikan Papi coklat dari daerah Y. Coklat di sana terkenal sangat lezat" sahut Papi sambil membayangkan coklat tersebut di makan papi.
"Hahahahahaha, baiklah Papi sayang, kami akan ke daerah Y sekarang. Aku akan belikan coklat dari daerah Y itu sekarton."
"Jangan sekarton Jero." kata Papi.
"Oke lima karton" jawab Jero yang tau Papi sangat suka coklat tersebut.
"Keren. Kamu memang yang terbaik, kecuali yang itu tu." kata Papi sengaja tidak melanjutkan perkataannya.
Papi yang tau Jero udah kesal langsung saja memutuskan panggilannya. Papi tidak mau menerima sumpah serapah dari Jero. Papi sangat kenal siapa itu Jero. Anak keras kepala dan keras hati. Berbanding terbalik dengan Felix.
"Lix kita pergi ke daerah Y. Papi minta coklat lima karton" kata Jero kepada Felix.
"Gini aja, loe beli lima karton. Gue beli lima karton. Nanti karena kita numpang, Nona Dina kita kasih satu karton." kata Felix yang memiliki maksud terselubung dalam masalah coklat.
"Yayayayayaya. Loe kira gue nggak tau maksud loe bray." sahut Jero sambil langsung berdiri dari meja nya.
"Bayar Jer." jawab Felix yang memang males membayar makanan ke kasir.
Dari tadi wanita di kasir itu menatap terus ke arah mereka berdua. Felix sangat risih dengan hak itu. Dia menyesal tidak mengambil ruangan VIP saat mereka akan makan siang tadi.
Jero yang memang sudah berniat untuk membayar makan siang mereka langsung menuju kasir. Dia membayar dengan uang yang berlebih sekalian untuk tip.
"Hai Nona, lain kali jangan menatap pria dengan tatapan seperti itu. Mereka akan lari terbirit birit." kata Jero kepada kasir.
Kasir yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jero langsung menundukkan kepalanya dalam dalam. Dia tidak berani menatap Jero. Dia sudah salah menatap lama lama kepada pengunjung. Jero yang melihat wanita kasir sudah menahan malu, langsung melanglahlan kakinya menuju parkiran mobil. Felix sudah menunggu dia di dalam mobil.
"Loe emang lah ya Lix. Sangat nggak suka ditatap wanita. Aneh loe. Laki laki lain akan senang saat ditatap wanita, bukan malah marah kayak elo" kata Jero sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Yang boleh natap gue lama lama adalah Dina. Untuk yang lain maaf. Mereka sudah tertutup peluang" kata Felix sambil mengarahkan mobilnya menuju daerah Y tempat penghasil coklat terenak di dunia.
Felix melajukan mobilnua melewati kebun coklat kiri dan kanan. Setiap tanah hanya ditanami pohon coklat. Semua dilakukan oleh tenaga manual. Semua dilakukan oleh manusia, sampai mengolah biji coklat menjadi coklat siap makan adalah manusia. Mungkin karena itu coklat dari daerah Y selain di kenal dengan kenikmatannya dan juga dikenal dengan kemahalannya.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam Jero dam Felix sampai juga akhirnya di tempat pengolahan coklat. Sebuah pabrik yang sangat besar, Felix memarkir mobilnya di parkiran samping toko yang menjual hasil olahan coklat. Jero dan Felix turun dan melangkahkan kakinya menuju tempat penjualan coklat. Betapa terkejutnya Jero dan Felix saat melihat Dina berada di tempat penjualan coklat.
"Permisi Nona Dina" sapa Jero.
Felix yang sebenarmya ingin menyapa tetapi sangat malu itu hanya bisa menyapa dengan menganggukkan kepalanya saja. Jero yang melihat tingkah Felix hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Berdua aja Tuan Jero?"
"Iya Nona Dina. Kami di surah papi dan mami untuk membeli coklat di daerah sini karena terkenal dengan rasanya yang autentik" kata Jero.
Dina yang melihat Felix hanya diam saja berusaha mengajak Felix untuk berbicara.
"Tuan Felix sedang mencari coklat untuk kekasih ya?" tanya Dina yang mengajak Felix untuk memulai percakapan.
"Tidak Nona Dina, saya tidak punya pasangan" jawab Felix.
"Nona, Felix itu jomblo akut" kata Jero mengejek kejombloan Felix.
Felix menatap tajam ke arah Jero yang sudah membuka aibnya kepada Dina. Felix takut nanti Dina beranggapan kalau dia tidak laku. Tetapi apa yang ditakutkan oleh Felix sungguh tidak terjadi malahan Dina sangat bersyukur kalau Felix masih jomblo.
"Tenang aja Tuan Felix, saya juga jomblo akut" jawab Dina sambil tersenyum.
"Kalau begitu pas dong. Kalian bisa jadian. Sama sama jomblo kan ya." kata Jero tanpa basa basi.
Felix menginjak kaki Jero dengan kakinya. Dia sangat kesal dengan mulut Jero yang sangat lemes itu.
"Oh ya Nona Dina. Nona kesini mau membeli oleh oleh coklat juga?" tanya Felix kepada Dina.
"Maaf Nona, ada telpon dari suplayer biji coklat. Kata mereka coklat mereka belum kering benar, makanya mereka belum bisa kirim." kata salah seorang anggota Dina.
Dina kemudian mengambil telpon tersebut. Dia lalu melakukan panggilan dengan suplayer biji coklat pabrik mereka.
Jero dan Felix langsung paham kalau Dina adalah pemilik pabrik coklat terbesar di daerah Y.
"Maaf Tuan Jero dan Tuan Felix, tadi suplayer biji coklat, mereka tidak bisa mengirimkan biji coklat hari ini karena belum kering. Mereka masih perlu satu hari lagi untuk proses penjemuran biji" kata Dina menjelaskan kepada Jero dan Felix.
"Jadi Nona Dina yang punya pabrik dan perkebunan di sini?" tanya Felix.
"Yup benar. Oh ya gimana kalau kita saling panggil nama saja. Panggil saja saya Dina" kata Dina.
"Kalau Felix tidak apa apa Nona. Kalau saya jangan, saya tidak mungkin memanggil CEO dengan panggilan nama" kata Jero menolak permintaan Dina.
"Bagaimana Tuan Felix setuju memanggil saya Dina?" kata Dina dengan menatap memohon kepada Felix agar mengabulkan permintaannya.
"Baiklah saya setuju" jawab Felix kepada Dina.
Jero yang memang sangat usil pura pura menerima panggilan dari kantor. Dia sebenarnya ingin meninggalkan Felix dengan Dina berdua saja.
"Nona Dina, anda bawa mobil kan ke daerah sini?" tanya Jero kepada Dina, Jero berharap Dina mengatakan ya.
__ADS_1
"Ya, saya hari ini bawa mobil sendiri. Tanpa supir. Ada apa Tuan Jero?"
"Bigini Nona, sebentar ini orang kantor menelpon saya, katanya saya harus kembali ke kantor karena ada urusan." Jero menjelaskan kepada Dina.
Felix yang tau Jero bohong langsung memperbesarkan matanya kepada Jero.
"Loe nggak ada janji dengan Frenya kan ya Jer?" tanya Felix di depan Dina.
"Nggak. Gue beneran mau ke kantor. Ada bahan yang tertinggal yang mau kita bawa besok kembali ke negara." kata Jero yang memang ada niat untuk mengambil beberapa dokumen dari ruangannya.
"Oke baiklah. Hati hati di jalan. Jangan ngebut. Loe jadi beli coklat lima kardus kan ya?"
"Jadi. Neh kartunya" kata Jero sambil memberikan kartunya kepada Felix.
Felix menerima dengan senang hati, jadi dia tidak perlu mengeluarkan uangnya untuk membeli coklat. Jero sudah meninggalkan senjata andalannya. Setelah memberikan atmnya Jero langsung mengemudikan mobil kembali menuju pusat kota. Dia akan ke kantor setelah itu pulang. Jero sangat lelah. Sekarang yang ada di otaknya hanya kasur.
"Felix, tadi kata kamu Jero ingin menemui Frenya." kata Dina yang teringat dengan salah satu temannya dahulu di negara ini. Tetapi Frenya sudah berubah, karena pengaruh gaya hidupnya yang kelas wahid, membuat dia mau menjadi sugar daddy beberapa pengusaha tua.
"Yup Frenya adalah pacar atau kekasih dari Jero. Apa kami kenal?" tanya Felix yang penasaran. Sepertinya Dina kenal dekat dengan Frenya.
" Nanti lah aku lihatin fotonya. Sekarang kamu mau beli apa aja untuk di bawa pulang ke negara I?" tanya Dina kepada Felix yang memang niat kesini adalah untuk membeli cklat pesanan Papi.
"Nggak tau mau beli apa. Berhubung sedang berbicara dengan ownernya, bagaimana kalau owner yang memilihkan. Pokoknya semuanya sembilan kardus." kata Felix mengatakan jumlah yang diinginkannya.
" Kok sembilan kenapa nggak sepuluh aja, namggung kan ya sembilan." kata Dina kepada Felix.
"Mestinya tadi sepuluh."
"Terus kenapa kurang satu?" tanya Dina yang penasaran.
"Yup, karena satu kardus yang hilang aturannya untuk dirimu. Tetapi berhubung kamu ownernya, maka dengan berat hati aku nggak jadi ngasih coklat ke kamu satu kardus" kata Felix dengan entengnya.
"Wow dasar menyebalkan" ucap Dina.
"Hahahaha. Emang nggak bosan makan coklat?" tanya Felix yang menatap Dina dengan tatapan tajam dan memuja.
"Bosan. Tapi kalau kamu yang belikan nggak bosan" jawab Dina sambil merayu Felix.
"Hahahahahahaha, ngegombal banget ya kamunya" kata Felix.
"Kalau gitu sepuluh. Semua kamu yang pilih. Aku nyerah" kata Felix sambil mengangkat kedua tangannya.
Dina tersenyum bahagia. Pembicaraan ringan yang membuat dia makin akrab dan tau kepribadian Felix. Dina memilih semua coklat terbaik hasil produksi pabriknya. Setelah sepuluh kotak itu selesai di packing, Dina meminta karyawannya untuk memasukkan kardus kardus tersebut ke atas mobilnya. Dina sendiri yang akan mengantar kardus kardus berisi coklat itu ke bandara.
"Felix yuk pulang. Perjalanan masih jauh" kata Dina.
"Kamu yang nyetir ya." Lanjut Dina sambil menyerahlan kunci mobil kepada Felix.
Felix kemudian melajukan mobilnya kembali menuju pusat kota. Sepanjang berjalanan kembali ke kota Felix dan Dina samling bercerita. Semuanya diceritakan oleh Felix, termasuk dia yang merupakan anak angkat dari Papi dan Mami Jero. Dina yang mendengar siapa Felix yang sebenarnya langsung merasa bahagia. Dia tidak salah pilih untuk dijadikannya kekasih dan kalau bisa sekalian untuk jadi suami.
Jero yang sudah sampai di rumah dari kantor, langsung membersihkan badannya. Jero memasukkan semua barangnya ke dalam koper. Saat sedang merapikan barang tiba tiba Frenya menghubungi Jero.
"Sayang, kamu besok pulangkan ya. Kenapa hari ini nggak kesini sayang?" tanya Frenya dengan nada yang sok manja.
__ADS_1
"Oh nggak bisa sayang, aku harus ngepak baju sendiri. Mana nanti ada pertemuan lagi dengan perusahaan yang membangun bangunan mall itu. Jadi maaf aku nggak bisa ke sana" kata Jero.
Sebenarnya Jero sangat ingin kesana sambil menikmati candu dunia. Tapi apalah daya Jero tidak mungkin melanggar janjinya kepada Papi dan Felix. Makany Jero bertahan untuk tidak ke rumah Frenya.