Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 130


__ADS_3

"Bunda, kita masak apa?" tanya Deli yang sudah memakai apron miliknya dan siap untuk mengeksekusi menu makan siang yang akan disiapkan untuk seluruh anggota keluarga mereka.


"Apa yang ada dalam almari pendingin aja sayang" ujar Bunda menjawab sambil memberikan perintah kepada Deli untuk mengambil semua isi almari pendingin.


Deli mengeluarkan semua lauk yang ada di dalam almari pendingin. Dia juga mengambil bumbu bumbu untuk membuat menu makan siang mereka.


"Bunda, gimana kalau kita masak Nila goreng saus padang, cumi goreng sambal rica rica, ayam mentega." ujar Deli. Menyebutkan masakan apa yang akan mereka buat untuk menu makan siang hari ini.


"Setuju sayang. Nanti sayurnya kita bikin capcay sama sup aja" ujar Bunda yang ikut mengusulkan sayur yang akan di olah oleh Bunda dan Deli.


Dian dan Dina sudah siap dengan pisau di tangan mereka masing masing. Mereka akan selalu mendapat jatah bagian mengupas segala jenis bumbu serta bahan bahan yang memakai kulit. Deli sudah menaruh dalam mangkok mangkok kecil bumbu yang harus dikupas oleh Dina dan Dian.


"Din, loe ingat nggak waktu pertama kali loe gue minta tolong untuk mengupas kentang?" ujar Deli bertanya kepada Dina tentang ingatan masa lalu mereka.


Deli sudah siap dengan batu gilingan, dia akan menggiling sendiri bumbu untuk ayam mentega dan bumbu bumbu yang lainnya. Sedangkan Bunda akan mulai menggoreng semua bahan makanan yang harus di goreng.


"Gue ingatlah. Hari itu gue baru pertama kali pegang yang namanya pisau dapur, mana loe suruh ngupas kentang lagi" ujar Dina yang ingat waktu itu dia mengupas kentang, dari kentang yang sebesar tinju berubah menjadi sebesar wortel.


"Akhirnya kentang dari yang ukuran besar besar berubah menjadi sebesar wortel yang untuk makan kelinci." ujar Deli menyambung kalimat yang tak sudah dari Dina.


"Masih lumayan elo bukak kentang. Gue bukak bawang sekilo di suruh Deli. Jadinya selama gue ngupas bawang, selama itu pula gue nangis tanpa alasan" kata Dian yang mengingat pengalaman buruknya dengan mengupas bawang merah.


"Haha haha haha. Tapi berkat Deli juga kita kalau mau makan mie rebus atau mie goreng nggak perlu teriak, maid buatin mie. Kita bisa bikin sendiri" ujar Dina yang sangat bersyukur karena Deli meminta Dina dan Dian mengupas bawang dan bumbu dapur lainnya, mereka berdua bisa memasak makanan yang bahan bahan dan cara pengolahannya tidak terlalu ribet

__ADS_1


"Bener gue setuju. Kalau nggak belajar dari Deli. Gue ampe sekarang akan selalu teriak maid kalau lapar sebelum saatnya jadwal makan" kata Dian yang juga setuju dengan pendapat dari Dina.


Mereka bertiga mengobrol asik seputar kenang kenangan mereka sewaktu mereka masih dalam masa masa menjadi mahasiswa.


"Kalian bertiga memang keren ya. Ngobrol jalan masak tetap" ujar Mami yang baru kembali dari kamar.


Mami yang sebenarnya bisa masak, tetapi karena sudah tidak mengulang ulang lagi caranya membuat Mami lebih memilih tidak ikut campur dalam urusan dapur. Mami lebih mempercayai hal itu kepada Bunda dan Deli.


"Mami, bisa bantu apa ya?" ujar Mami yang tidak tahu harus berbuat apa.


Dian yang tadi pergi mengambil buah yang mau dikupas, membawa buah cukup banyak.


"Pas, Mami jadi tukang kupas buah ajalah, dari pada dak goyang" ujar Mami yang langsung mengambil posisi untuk mengupas buah.


Jam satu siang, semua masakan sudah berpindah posisi ke meja makan. Dina dan Dian kebagian untuk menata di meja makan. Sedangkan Bunda dan Deli pergi menukar pakaian mereka yang sudah bau bawang dan segala jenis bumbu dapur ke kamar mereka masing masing.


Bunda dan Deli yang menukar pakaian sudah sampai kembali di lantai satu rumah peristirahatan milik Dian. Semua anggota keluarga juga sudah mulai duduk di kursi meja makan.


Para istri mengambilkan makanan untuk suami suami mereka. Sedangkan Hendri nasinya diambilkan oleh Dian. Juan dan Felix diambilkan oleh Dina.


"Yang masak Bunda dan Deli?" tanya Papi saat melihat menu makan siang yang sudah ada di atas meja makan untuk saat ini.


"Siapa lagi Papi. Mami tentu saja tidak mungkin. Besan dan menantu kita yang masak" ujar Mami menjawab pertanyaan dari Papi tentang siapa yang telah memasak semua menu makan siang mereka kali ini.

__ADS_1


"Hem pasti enak" ujar Papi yang sudah bisa membayangkan bagaimana rasa masakan yang sekarang tersaji di depan wajah Papi.


"Coba dulu Papi, baru nilai enak atau tidaknya" ujar Mami sambil menaruh Ayam mentega ke piring Papi.


"Tidak perlu di coba lagi Mi. Papi pastikan semua ini lezat" kata Papi sambil menyuap satu sendok nasi ke dalam mulut Papi.


Papi mengunyah makan siangnya itu dengan pelan. Papi benar benar merasakan setiap kunyahan nya itu seperti seorang chef ternama.


"Benerkan enak" ujar Papi kepada semua orang.


"Haha haha haha. Papi seperti seorang juri dari acara master chef" ujar Dina yang langsung tertawa ngakak saat melihat cara Papi meresapi dan menghayati setiap kali Papi mengunyah makanan itu.


Mereka semua kemudian makan dalam diam. Ntah kenapa kali ini tidak ada satupun yang bersuara. Mereka makan dengan lahap makanan yang telah berada di piring mereka masing masing.


Setelah semua anggota keluarga selesai menikmati makan siang mereka. Mereka semua kemudian masuk ke dalam kamar masing masing. Mereka berencana untuk istirahat siang. Sedangkan Deli dan Dina serta Dian terlihat membersihkan meja makan. Mereka memang hanya membersihkan saja meja makan itu, sedangkan untuk mencuci semua peralatan yang kotor akan dibantu oleh para maid yang bekerja di sana.


"Sana ke kamar, Jero sudah berada di kamar" ujar Dian meminta Deli untuk masuk ke dalam kamarnya.


Jero tadi memang sudah terlebih dahulu ke kamar saat selesai makan siang. Dia ada perlu ke kamarnya. Jero berharap Deli untuk tidak masuk ke dalam kamar juga.


"Nanti sajalah Yan. Gue mau duduk duduk di sini sebentar. Palingan Jero sekarang juga sedang istirahat. Ngapain gue nungguin orang yang sedang beristirahat. Kurang kerjaan bener gue" ujar Deli yang malas untuk masuk ke dalam kamar.


Apalagi di kamar sudah ada Jero. Makhluk yang paling malas di lihat Deli untuk saat ini. Apalagi mengingat apa yang dilakukan oleh Jero sejak mereka selesai mengucap janji setia untuk saling mencintai, saling melindungi dan saling mendukung. Hal itu sama sekali tidak ada dilakukan oleh Jero. Malahan Jero sendiri yang membuat Deli menjadi sakit hati. Tetapi Deli tidak mau hal ini terlihat oleh anggota keluarganya. Makanya Deli bersikap seperti orang yang berbahagia dalam pernikahannya itu. Padahal kalau mereka tahu apa yang terjadi dengan Deli semalam, sudah bisa di pastikan Edwardo Grub akan langsung dinyatakan bangkrut.

__ADS_1


__ADS_2