Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 27


__ADS_3

Nggak ada cerita ya Mi, besok Mami ke perusahaan. Mami harus nemani Papi main golf besok." ujar Papi menatap Mami.


"Iya iya, nggak akan pergi lagi. Mami akan menemani Papi. Puaskan ya Pi." ujar Mami sambil menatap dingin ke arah Jero.


"Pi, Jero masuk dulu ya. Jero masih sayang sama nyawa Jero yang satu satunya ini Pi." ujar Jero sambil berdiri dari kursinya.


Jero berjalan ke dalam mansion. Dia tertawa sepanjang jalan menuju kamarnya.


"Mami mami ada ada aja. Masak cari tau tentang calon menantu ke sahabat menantunya, bukan langsung saja sama orangnya. Aneh tuh Mami." ujar Jero sambil berjalan.


Para pelayan yang berselisih jalan dengan Jero menundukkan kepala mereka. Jero menunduk sedikit saja. Dia memang tidaj terkenal ramah di kalangan pelayan. Berbeda dengan Felix yang paling dikenal ramah oleh seluruh pelayan mansion.


"Mami, apa yang Mami tanya sama Deli tadi?" tanya Papi yang ikutan kepo dengan apa yang di diskusikan Mami dengan Deli.


"Mami cuma bertanya kepada Deli, apa Dina serius dengan Felix atau tidak. Eeee ternyata dan ternyata mereka serius Papi." ujar Mami.


"Malahan ya Pi, Dina sudah tau kalau Felix bukan anak kandung kita. Dina menerima Felix dengan apa adanya Pi." lanjut Mami menceritakan apa informasi yang di dapat dari Deli.


"Jadi, Dina sudah tau kebenarannya?" tanya Papi meyakinkan dirinya dengan cerita Mami.


"Iya Pi. Mami pertama kaget juga, tetapi kata Deli, saat Dina katakan cinta kepada Felix, Felix menceritakan semuanya. Malahan ya Pi, kata Deli lagi, Dina nggak butuh harta kita ataupun harta kedua orang tuanya. Dina memiliki usahanya sendiri." ujar Mami.


"Mami bangga dengan Dina Pi. Felix yang nggak anak kandung kita saja bisa membuat bangga kita dengan pilihan pendamping hidupnya. Anak kandung kita Pi. Dia masih tetap sayang dan cinta dengan wanita itu." kata Mami yang nggak habis pikir dengan jero yang sama sekali tidak bisa melihat kekurangan Frenya.


"Sudahlah Mami, kita doakan saja supaya anak kita itu bisa melihat siapa Frenya sebenarnya." kata Papi dengan nada suara pasrah tapi tak rela.


"Kita masuk yuk Pi. Bentar lagi waktunya makan malam." ujar Mami.


Papi dan Mami masuk ke dalam mansion. Mereka membersihkan diri dahulu sebelum melanjutkan makan malam. Setelah membersihkan diri mereka, Papi dan Mami serta Jero sudah duduk di ruang makan. Mereka menunggu para koki menghidangkan makan malam yang akan mereka santap malam ini.


Sedangkan di kafe, Deli dan Hendri serta Ayah sibuk melayani pembeli yang berdatangan. Mereka mengantar makanan yang telah selesai di masak oleh Bunda dan seorang pelayan baru yang direkrut Bunda dan sudah diajarkan Bunda mengolah masakan yang gampang gampang saja.


Berbeda dengan Deli dan juga Jero. Dina dan Felix pesawat yang mereka tumpangi baru saja mandarat di bandara negara A. Dina dan Felix kemudian turun dari pesawat. Sebuah mobil sudah menunggu kedatangan mereka di sana.


"Selamat siang Nona Tuan." sapa sopir yang akan mengantarkan mereka ke hotel.


"Siang." jawab Dina.


Sedangkan Feliz hanya mengangguk saja.


"Kita langsung ke hotel Nona?" tanya Sopir.


"Iya Pak. Antarkan kami ke hotel. Saya rasanya sangat ingin beristirahat." ujar Dina yang merasakan capek dan lelah melanda dirinya.


Penerbangan dengan melewati batas zona waktu yang membuat lelah badan. Berangkat pagi dari negara I sampai di negara A hari masih siang.


Sopir mengantarkan Dina dan Felix menuju hotel milik Dina. Jarak hotel dengan bandara hanya menghabiskan perjalanan lebih kurang tiga puluh menit. Jangan ditanya itu sudah waktu tercepat sampai di kota. Di negara A tidak ada orang mengenal kata macet.


Sopir menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk hotel. Seorang belboy mengangkat kedua koper milik Felix dan Dina. Manager hotel menyambut langsung Dina di depan hotel. Mereka mengalungkan bunga ke leher Felix dan Dina.


"Sayang, kenapa mereka mengalungkan bunga ke kita?" tanya Felix yang lupa membaca nama hotel tempat mereka menginap itu.


"Sayang, kamu nggak baca kita nginap dimana?" tanya Dina balik.


Felix menggeleng.


"Dasar." ujar Dina.


"Kita nginap di KW Hotel." ujar Dina sambil menunjuk tulisan KW Hotel yang besar di depan pintu lobby.


"Waduah." ujar Felix yang nggak nyangka dia bisa juga ceroboh seperti Aris.


"Maaf sayang, aku tadi tidak membacanya, karena fokus melihat jalan." ujar Felix yang selalu saat berpergian dengan siapapun dia akan fokus melihat situasi dan jalanan.


"Nggak apa apa sayang." jawab Dina.


Dina menscan kartu khusus milik keluarganya yang sekarang hanya ada pada dirinya dan Juan. Kartu akses masuk ke dalam semua hotel milik Dina dan keluarga.

__ADS_1


Dina dan Felix masuk ke dalam lift. Mereka akan menuju lantai yang khusus hanya bisa di datangi orang yang memiliki kartu khusus. Pintu lift terbuka, Dina dan Felix keluar dan berjalan menuju kamar mereka.


"Sayang, aku kemaren nggak sempat meminta Juan mengirimkan kartu miliknya, karena perjalanan kali ini betul betul di luar perencanaan, jadi kalau kita satu ruangan besar tidak apa apa kan?" tanya Dina sambil menatap Felix di depan pintu ruangan yang akan menjadi tempat mereka menginap selama dua malam.


"Tidak apa apa sayang. Aku akan tidur di luar kalau kamu risih ada aku di samping kamu." jawab Felix sambil tersenyum.


"Bukan, bukan begitu sayang. Nggak akan ada yang tidur di sofa atau di luar." jawab Dina.


Dina membuka pintu ruangan, dia memperlihatkan ruangan yang begitu besar. Dimana di dalam ruangan terdapat dua kamar tidur serta satu pantry yang semua bahan makanannya sudah ada di dalam lemari pendingin, kalau memang mau memasak.


"Sayang kamarnya ada dua?" ujar Felix yang lega saat melihat ada dua kamar di dalam ruangan yang luas itu.


"Iya sayang, ada dua kamar, makanya tadi aku mengatakam tidak akan ada yang tidur di luar atau di sofa." ujar Dina sambil teesenyum menatap Felix.


"Itu kamar untuk kamu sayang." ujar Dina memberikan kamar terluas untuk Felix. Kamar yang biasa dipakai oleh Dina sendiri. Sedangkan Dina akan memakai kamar sebelahnya yang ukurannya lebih kecil. Biasanya di pakai para asisten yang menemani perjalanan Dina saat ke negara A.


"Kita istirahat sebentar sayang. Aku kelelahan" ujar Dina sambil menatap Felix.


"Iya sayang. Cup." sebuah ciuman mendarat mulus di puncak kepala Dina.


Dina tersenyum bahagia kepada Felix. Dia mendapatkan seorang kekasih yang sangat luar biasa sayang kepada dirinya.


Dina masuk ke kamarnya terlebih dahulu, sedangkan Felix setelah memastikan Dina masuk ke dalam kamar, dia juga ikut masuk ke kamar untuk dirinya.


Felix merapikan pakaiannya. Dia menggantung semua pakaian yang akan dikenakannya saat menemani Dina melakukan meeting esok hari.


Setelah memastikan semua pakaiannya sudah rapi, Felix kembali ke luar kamar. Dia menuju pantry yang ada di kamar itu. Pantry yang letaknya terpisah dengan ruangan lainnya.


Felix membuka almari pendingin. Dia melihat di sana ada berbagai macam bahan makanan yang bisa diolahnya menjadi menu makanan santap malam mereka berdua nanti.


Felix mengeluarkan daging dan juga sayuran segar yang terdiri dari jagung manis, paprika hijau dan merah, dan baby potato serta daun pitercherry.


Felix memarinage kedua daging steak itu memagai garam, lada halus dan perasan jeruk lemon. Felix kemudian memotong paprika merah dan kuning dengan bentuk memanjang serta memotong jagung manis yang masih muda. Sedangkan untuk baby potato Felix mencucinya sampai bersih. Sedangkan daun pitercherry diiris halus oleh Felix.


Setelah semua bahan makanan selesai di siapkan, Felix menghidupkan oven. Felix menata semua sayur di atas loyang pemanggangan dan menaburnya dengan garam, dan lada bubuk serta tidak lupa memberikan perasan air lemon dan juga minyak zaitun.


Sambil menunggu sayurannya masak, Felix memindahkan potongan daging steak ke atas loyang pemanggangan yang lain. Felix kembali membuka ovennya dia menusuk baby potatonya. Setelah mendapatkan kematangan yang diinginkan, Felix mengeluarkan loyang yang berisi sayur dari dalam oven. Felix kemudian memasukkan loyang yang berisi daging steak ke dalam oven.


Setelah memasukkan daging steak ke dalam oven dan mengatur lamanya pemanggangan, Felix mengeluarkan buah yang ada dari dalam kulkas. Felix membuka kulit buah buahan itu dan memotongnya menjadi kecil kecil. Jadi, nanti saat mereka akan makan buah tinggal tusuk dan memasukkannya ke dalam mulut.


Sambil menunggu daging steaknya masak Felix membersihkan semua bagian pantry. Felix mencuci semua peralatan yang dipakainya tadi. Felix juga mencuci piring, gelas, sendok, garpu dan pisau steak yang akan mereka gunakan nanti saat makan malam.


Felix menjamin semua alat kebersihan yang akan dipakai mereka untuk makan nanti malam. Felix tidak mau ada yang kotor satupun.


Felix membawa semua peralatan makan ke meja makan yang ada di balkon kamar. Dia berencana akan mengajak Dina makan malam di balkon hotel. Felix menata semuanya dengan begitu rapi. Felix memastikan tidak ada salah letak peralatan makan.


"Wah bunga yang kurang." ujar Felix.


Felix ingin memesan bunga, tetapi dia malas turun ke lobby saat akan mengambil bunga tersebut. Jadi, Felix membiarkan saja makan malam mereka tidak ditemani sekuntum bunga.


Felix mendengar bunyi oven yang berdenting menandakan kalau masakan yang ada di dalamnya sudah masak sesuai keinginan dari yang punya makanan. Felix memindahkan potongan steaknya ke atas hot pan. Nanti saat akan makan malam Felix tinggal memanaskan saja sebentar hot pan yang lainnya.


Felix telah menyelesaikan masakannya. Dia kembali ke kamar dan melihat pintu kamar Dina masih tertutup rapat. Felix melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam waktu setempat. Felix kemudian membersihkan tubuhnya, dia memakai pakaian santai rumahannya.


Setelah memastikan kalau dia sudah siap, Felix mengetuk pintu kamar Dina. Dina yang juga telah selesai bersiap siap membuka pintu kamar. Dina terlihat sangat rapi.


"Kita makan di luar aja ya sayang. Aku ketiduran jadi nggak sempat masak." jawab Dina.


"Oke." jawab Felix.


"Tapi aku ke belakang dulu. Kebelet." ujar Dina yang tiba tiba kebelet ingin kebelakang dan mengeluarkan semua isi yang sudah penuh itu.


Felix memanfaatkan kesempatan Dina masuk kembali ke kamarnya untuk menyiapkan semua makanan yang sudah dibuatnya tadi. Untung saja tadi Felix sudah menata semuanya dengan rapi, jadi sekarang hanya tinggal meletakkan di atas meja balkon saja.


Felix menata semuanya di atas meja dengan tataan yang rapi dan menarik. Setelah itu dia kembali ke dalam. Dina sudah duduk di sofa ruangan.


"Sayang ayok berangkat." ajak Dina menggandeng tangan Felix.

__ADS_1


"Ayuk. Tapi temani aku mengunci pintu balkon dulu ya." ajak Felix yang menggandeng tangan Vina menuju pintu balkon yang sengaja di buka oleh Felix.


Dina mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju balkon. Betapa kagetnya Dina saat melihat sudah ada makan malam di meja yang berada di balkon.


Dina mengingat ingat kalau dia tidak ada memesan makanan. Dina menatap ke arah Felix. Felix tersenyum.


"Makasih sayang. Kamu yang capek dan letih sehabis penerbangan jauh masih menyempatkan diri untuk memasak menu makan malam kita. Seharusnya aku sayang." ujar Dina menangis sambil menyandarkan kepalanya ke dada bidang Felix.


Dina meneteskan air matanya di pakaian Felix.


"Hay jangan menangis. Aku tidak ingin membuat kamu menangis. Aku berjanji dalam hidup aku untuk membuat kamu bahagia selalu, bukan membuat kamu menangis." ujar Felix.


Felix mengusap air mata kekasihnya itu. Dia tidak ingin Dina larut dalam kesedihannya.


"Ayuk kita makan malam, nanti ke buru dingin makanannya." ujar Felix.


"Tapi kapan kamu mempersiapkan semua makanan ini sayang?" tanya Dina yang penasaran kapan Felux mengerjakan semua ini.


"Nanti ceritanya. Kita makan malam dulu. Kalau cerita dulu maka makanannya akan menjadi dingin dan tidak enak lagi." ujar Felix mencegah Dina untuk bertanya terlalu banyak.


Felix membantu Dina untuk duduk dengan nyaman. Setelah memastikan Dina duduk, barulah Felix duduk di depan Dina.


"Maaf nggak ada bunganya." ujar Felix kepada Dina.


"Tidak apa apa sayang. Aku bukan suzana yang hobby memakan kembang." ujar Dina sambil memberikan senyuman terbaiknya untuk Felix.


Mereka kemudian menyantap makan malam dengan menu steak dan potongan sayur. Mereka menikmati makan malam itu. Sepanjang makan malam Dina tidak.henti hentinya tersenyum kepada Felix. Dina sangat bahagia hari ini. Dia sekarang semakin yakin dengan cinta mendadak antara dirinya dan Felix.


"Gimana rasa makanannya?" tanya Felix kepada Dina.


Dina meremas tangan Felix. Dia menatap dan memandang ke dalam mata Felix.


"Rasanya luar biasa enak dan semakin enak karena kamu menambahkan satu bumbu yang tidak ditambahkan koki terbaik di dunia ini." ujar Dina masih dengan menatap wajah kekasihnya itu.


"Apa?" tanya Felix yang tidak tau akan maksud perkataan Dina.


"Cinta" jawab Dina dengan pasti dan meyakinkan.


"Hahahaha. Kamu bisa aja sayang." kata Felix sambil mengalihkan pandangan matanya dari wajah Dina.


"Ye dia malu." kata Dina sambil menggoda Felix yang membuang wajahnya dari menatap Dina.


Selesai makan malam mereka mengobrol ringan di balkon kamar.


" Apa kamu sudah membaca kembali materi meeting besok?" tanya Felix sambil menatap kota di malam hari.


" Sudah, tadi aku hanya istirahat sebentar, kemudian melanjutkan membaca materi meeting." kata Dina yang memang selalu membaca dan memahami materi meetingnya.


"Keren." ujar Felix.


"Makasi sayang. Tapi kamu yang lebih keren." lanjut Dina.


"Tunggu sini bentar. Aku mau ambil buah." ujar Dina yang berjalan masuk ke dalam ruangan kembali dan menuju pantry.


"Sayang udah ada yang aku kupas tadi. Aku tarok dalam kotak." ujar Felix kepada Dina.


"Baik sayang. Kamu memang paling rajin dan terbaik." ujar Dina.


Dina mengambil kotak penyimpanan buah yang dikatakan oleh Felix tadi. Dia kemudian mengambil satu buah garpu untuk mengambil potongan buah. Dina kemudian kembali menuju balkon, tetapi ternyata Felix sudah masuk dan duduk di depan televisi yang sudah menyala menyiarkan sebuah sinetron drama keluarga yang sedang booming itu.


"Kamu suka film ini sayang?" tanya Dina sambil duduk di sebelah Felix.


"Nggak juga sayang. Tetapi aku nggak tau mau menonton yang mana lagi." jawab Felix.


Mereka berdua kemudian menonton acara televisi itu sampai pukul sepuluh malam.


"Ayuk istirahat. Besok tapi meeting jam sembilan." ujar Felix mengajak Dina untuk beristirahat.

__ADS_1


Felix mengecup puncak kepala Dina. Dia membawa Dina kedalam pelukannya. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar masing masing.


__ADS_2