
Dina sampai di kantor tepat jam sepuluh pagi. Dia sudah telat dua jam dari biasanya dia sampai di kantor. Tetapi demi bertemu dan mengobrol dengan calon mertua, Dina tidak mempersalahkan hal itu.
Tok tok tok. Bunyi pintu ruangan Dina yang diketuk dari luar.
"Masuk" jawab Dina.
Seorang Manager masuk kedalam ruangan. Dia membawa beberapa map yang harus dibaca oleh Dina. Dina sudah siap dengan semua itu.
"Makasi Manager. Apa ada yang lian?" tanya Dina.
"Tidak Nona." jawab Manager.
Manager kemudian keluar dari ruangan. Dia kembali menuju ruangannya. Sedangkan Dina membaca semua laporan yang sekarang berada di atas meja kerjanya itu.
Sedangkan di perusahaan Edwardo. Jero dan Felix terlihat sibuk membaca dokumen dokumen penting. Deli yang semula hanya kebagian tugas mengatur jadwal Jero dan Felix sekarang juga mendapatkan jatah membaca laporan laporan dan dokumen pengajuan kerjasama dari perusahaan lain.
"Huft kerja gue bertambah semenjak Tuan Jero tau siapa bokap gue." ujar Deli sambil menatap dengan nanar tumpukan dokumen pengajuan kerjasama.
"Tapi gue harus mampu. Gue nggak boleh nyerah. Gue harus memperlihatkan kepada kedua boss gue kalau gue mampu." ujar Deli menyemangati dirinya sendiri.
Deli mulai membaca beberapa pengajuan kontrak kerja sama. Deli memberikan catatan rekomendasi untuk Jero dan Felix dalam mengambil keputusan. Nanti setelah dibaca oleh Deli, Jero dan Felix juga akan kembali mengulang membaca dokumen pangajuan kerjasama itu.
Tepat jam makan siang. Deli mengetuk pintu ruangan bosnya itu.
"Tuan, Saya mau keluar membeli makan siang. Apa Tuan mau nitip?" uajr Deli.
"Tidak Deli. Kami juga akan makan keluar. Terimakasih sebelumnya." jawab Felix.
Sedangkan Jero tetap diam seribu bahasa. Dia memang tidak akan ramah apabila sudah berada di perusahaan. Batasan antara pimpinan dan bawahan akan semakin terlihat jelas. Hal yang sama sebenarnya juga berlaku bagi Felix. Tetapi semenjak Felix menjalin kasih denga. Dina, batasan itu perlahan mulai hilang.
Deli pergi meninggalkan kantor. Dia menghubungi Dian sahabatnya selain Dina. Dina tadi sudah dihubungi oleh Deli, tapi Dina tidak bisa ikut makan siang dengan Deli karena lagi ada meeting di kantor. Akhirnya hanya dia dengan Dian saja yang bisa makan siang bersama di luar.
"Hay calon kakak ipar." ujar Deli saat membuka pintu mobil Dian.
"Mulai dah tu calon adik ipar." jawab Dian.
"Oh ya Dian. Ngomong ngomong kok bisa ya loe jadian dengan Kak Hendri. Kenapa?" tanya Deli yang sangat penasaran.
__ADS_1
Dia sudah lama ingin bertanya kepada Dian, tetapi waktu mereka bertemu bisa dikatakan hanya sedikit.
"Kepo ya loe." ujar Dian sambil menjawil hidung Deli.
"Kepo sih tapi dikit." jawab Deli.
"Jadi, gue tu udah lama sekali naksir berat sama Kakak loe yang sok coll dan ternyata oh ternyata nggak se coll yang ditampilka. Hot malahan." ujar Dian membanggakan sosok Hendri yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
"Gue nggak peduli mau dingin, panas, ngilu ngilu kuku. Bagi gue yang penting siapa yang duluan katakan cinta dan kenapa bisa." kata Deli yang geli sendiri saat mengatakan kakaknya hot, coll maupun ngilu ngilu kuku.
"Sabar kenapa. Makan siang dulu baru ngobrol." ujar Dian.
"Eeee kunyuk loe mah iya bisa makan sambil santai. Loe direkturnya. Nah gue bawahan. Habis gue di kunyah Jero nanti." ujar Deli.
"Hahahahaha. Makanya ditawatin pindah ketempat gue atau nggak tempat Dina nggak mau. Masih mau kerja di perusahaan Edwardo." ujar Dian.
"Hay gue nggak mau KKN makanya gue pengen kerja tempat lain dulu. Nah saat gue udah rasanya di kenal orang baru gue pindah keperusahaan elo atau ndak Dina." jawab Deli.
Deli kemudian menyuap makan siangnya. Dia benar benar kehabisan waktu karena Dian menjawab pertanyaannya dengan bertele tele.
"Deli, gini aja. Nanti sepulang dari kantor kita ke mall dulu. Dina kan mau ke rumah calon mertuanya. Nah dari pada kita berdua garing nggak jelas. Kita negmall aja. Udah lama kali kita nggak jalan berdua." ujar Dian.
"Gimana kalau gue yang traktir loe." ujar Dian.
"Dalam rangka apaan? Kalau nggak ada tema ogahmah gue." jawab Deli yang memang tidak suka memanfaatkan kekayaan sahabat sahabatnya.
"Dalam rangka gue jadian dengan kakak loe." jawab Dian dengan gampangnya.
"Oke sip." ujar Deli.
"Gue jemput loe." ujar Dian.
Mereka kemudian kembali ke kantor. Dian mengantarkan Deli ke kantornya terlebih dahulu. Setelah itu Dian tidak kembali ke kantornya. Dia menuju kafe Bunda.
"Bunda" teriak Dian.
Tiba tiba sebuah tengan besar mengacak rambut Dian. Siapa lagi kalau bukan Hendri.
__ADS_1
"Rambut aku." ujar Dian cemberut.
"Biar ini otak steril lagi. Mana ada coba CEO teriak teriak kayak orang gila gitu." ujar Hendri sambil kembali merapikan rambut kekasihnya.
"Sayang, aku jadi CEO di perusahaan. Inikan bukan perusahaan. Jadi, CEO nya ilang." ujar Dian yang tetap keras kepala.
"Terserah kamu sayangku. Cup." sebuah kecupan mendarat di bibir Dian yang mengerucut itu.
"Ehem." ujar Bunda yang dianggurin sepasang anak remaja yang sedang dimabuk cinta itu.
"Hahahaha. Maaf Bunda. Kami kira tadi udah ke belakang." ujar Hendri sedikit malu dengan tingkahnya main sosor mulut Dian saja.
"Kamu udah makan Dian?" tanya Bunda.
Hendri sudah meluncur mengantarkan pesanan para tamu.
"Udah Bunda. Tadi makan siang dengan Deli di luar." ujar Dian menjawab pertanyaan Bunda.
"Oooo. Kok kamu nggak balek lagi ke kantor?"
"Males Bunda. Kerjaan udah selesai. Lagian hari ini nggak ada meeting penting. Jadi ya mendingan ke sini, bantu bantu Bunda." jawab Dian.
"Bantu bantu Bunda atau mau nengok Hendri." ujar Bunda sambil tersenyum menggoda Dian.
"Hahahaha. Sekalian Bunda. Sekalian mengawasi tu calon suami agar tidak nakal melihat lihat wanita lain." ujar Dian.
"Hahahahaha. Kamu memang lah ya." ujar Bunda yang mendengar jawaban Dian cukup membuat telinga Bunda geli sendiri.
Seseorang datang memesan makanan yang akan dibawa pulang. Dian dengan cekatan menyiapkan semua makanan yang di pesan.
Dian membantu Bunda menyiapkan semua pesanan. Dian melihat jam tangan miliknya. Hari sudah tepat pukul setengah lima sore.
"Bunda, aku jemput Deli dulu, sekalian mau ke mall" ujar Dian.
"Oke hati hati ya. Pulang jangan kemaleman. Dina tidak kalian ajak sekalian?" ujar Bunda mengingat Dina tidak disebut sebut oleh Dian.
"Tapi dia ke rumah calon mertuanya Bun." ujar Dian.
__ADS_1
"Oh ya lupa Bunda. Kalian berdua hati hati. Jangan pulang kemaleman. Dari pada nanti Bunda suruh Hendri untuk jemput kalian berdua ke mall." ujar Bunda.
Dian melajukan mobilnya menuju perusahaan Edwardo grub, dia akan menjemput Deli dan langsung menuju mall. Mereka akan menghabiskan malam di mall dengan memanjakan mata mereka.