Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 14


__ADS_3

Jero sudah bangun subuh subuh, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Jero tidak berendam di bathup seperti kebiasaannya. Dia sangat takut untuk terlambat. Jero tidak ingin memancing kemarahan Felix di pagi hari. Jero takut membuat Felix emosi. Selesai mandi Jero memakai stelan hitamnya. Jero dan Felix selalu bersepakat kalau untuk melakukan presentasi kerjasama mereka akan memakai baju serba hitam. Kecuali kemeja, baru berwarna putih. Jero sudah terlihat sangat rapi. Setelah yakin dengan penampilannya dia langsung berjalan keluar kamar menuju meja makan.


Felix yang juga sudah memakai stelan serba hitam termasuk dengan kemeja yang juga hitam keluar dari kamarnya menuju meja makan. Felix juga sudah membawa laptop untuk presentasi. Felix sudah membaca dan mengulang ulang apa yang akan dipresentasikannya nanti. Saat di anak tangga tengah Felix sudah melihat Jero duduk di meja makan dengan kopi dan roti bakar.


Felix tidak melihat ada tanda tanda pembantu yang ada di rumah. Jadi siapa yang membuat sarapan roti bakar dan kopi. Felix duduk di kursi meja makan, mereka berdua berhadap hadapan.


"Sarapan dulu Lix" kata Jero memecah kesunyian.


"Siapa yang masak? Gue nggak ada melihat pelayan di dapur" kata Felix melihat ke arah dapur.


"Gue yang masak khusus untuk loe. Karena loe akan presentasi nanti. Ini adalah suporrt dari gue untuk elo" kata Jero sambil membanggakan dirinya. Sebenarnya itu adalah ucapan permintaan maaf yang terselubung dari Jero.


"Alah bilang aja loe mau minta maaf ke gue tapi masih takut. Kebanyakan gaya loe" jawab Felix yang sudah tau maksud Jero.


"Jer jer, loe kira gue nggak tau maksud loe. Kita udah lama bersahabat Jer. Busuk gaya loe" kata Felix


"Hahahahahaha. Maaf gue Lix. Gue janji nggak akan ngilang lama lama lagi" ujar Jero yang niatnya sudah terbaca oleh Felix


"Yup. Cepat makan kita meeting jam delapan. Tempatnya lumayan jauh"


Jero dan Felix menyantap makanan yang ada dengan begitu lahap, mereka tidak mau terlambat untuk hadir di acara meeting hari ini. Hanya dalam waktu tiga puluh menit Jero dan Felix menyelesaikan sarapan mereka. Mereka berdua langsung pergi menuju tempat meeting hari ini. Jero membawa mobil dengan kecepatan sedang, hari ini jalanan begitu ramai oleh kendaraan.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, Jero dan Felix sampai di sebuah perusahaan yang dari gedungnya saja sudah terlihat kemewahan. Gedung lima belas lantai yang semua dindingnya terbuat dari kaca tebal. Sebuah perusahaan yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Dina. Jero dan Felix melangkah masuk ke dalam gedung megah itu.


"Permisi kami sudah ada janji dengan CEO untuk meeting." kata Felix kepada resepsionis.


" Tuan Jero dan Tuan Felix dari negara I?" kata resepsionis menanyakan identitas dua pria tampan di depannya ini.


"Ya benar, kami berdua itu" jawab Felix.


"Silahkan ikuti saya Tuan. Saya akan mengantar ke ruang pertemuan. Kebetulan CEO dan Asisten sudah berada di ruangan" kata resepsionis.


Jero dan Felix langsung melihat jam mahal mereka. Mereka belum sama sekali telat malahan lebih cepat tiga puluh menit dari jadwal.

__ADS_1


"Apa benar CEO sudah berada di ruangan meeting?" tanya Jero kembali untuk memastikan.


"Benar tuan. Mari ikut saya." kata resepsionis menuju lift yang langsung terhubung ke ruang meeting di lantai lima belas.


Jero dan Felix saling pandang, kalau di negara mereka yang namanya CEO pasti datang lambat. Ternyata di perusahaan ini tidak berlaku. CEO mereka datang tetap pagi, malahan sebelum karyawan datang semua.


"Patut ditiru Jer"


"Setuju. Kita ubah semua maidset kantor utama dan kantor cabang" jawab Jero.


Mereka akhirnya sampai di lantai lima belas gedung. Lantai tempat pertemuan diadakan. Resepsionis membukakan pintu ruangan.


"Silahkan masuk Tuan" kata resepsionis.


Jero dan Felix masuk ke dalam ruangan meeting. Ternyata memang benar, mereka berdua telah ditunggu oleh tim yang akan mengadakan meeting.


"Maaf Nyonya, kami kira pertemuan jam delapan" kata Jero yang terlihat segan.


"Wah ini sesuatu yang bisa kami terapkan di perusahaan Nyonya Dina. Pengalaman baru dan menjadi acuan." ucap Jero.


"Terimakasih atas sanjungannya Tuan Jero. Mari silahkan duduk, kita bisa memulai meeting. Sebelumnya maaf Tuan Jero dan Tuan Felix mau minum apa?" tanya Dina.


"Kami sudah minum tadi Nyonya." jawab Jero.


"Kalau begitu teh dari negara kami terkenal sangat lezat. Bagaimana kalau Tuan mencoba teh tersebut." kata Dina mempromosikan teh negaranya.


"Boleh juga Nyonya. Kami sungguh terhormat bisa menyecipi teh terlezat di negara ini? Kata Jero berbasa basi


Mereka memulai meeting tentang pembangunan mall baru perusahaan milik Jero. Perusahaan Jero menawarkan kepada perusahaan Dina dalam pembangunan mall tersebut. Mereka meeting selama lebih kurang tiga jam. Felix mempresentasikan perencanaan mall tersebut dengan begitu lancar dan tanpa ragu. Begitu juga dengan Gina menampilkan rancangan bangunan mall dengan sangat detai. Mulai dari bentuk, pembagian ruang sampai dengan bahan bahan yang dipakai. Dina yang melihat cara Felix mempresentasikan langsung setuju dengan penawaran dari perusahaan milik Jero. Begitu juga dengan Jero langsung setuju dengan rancangan bangunan mall yang dibuat oleh Dina. Dina memandang lama Felix, begitu juga dengan Felix yang memandang lama krpada Dina. Mereka berdua sama sama menaruh hati.


"Gue harus tanya Deli tentang laki laki tampan ini." kata Dina dalam hatinya.


"Terimakasih atas kerjasamanya Nyonya Dina. Kami sangat senang dengan kerjasama kita" kata Jero sambil menjabat tangan Dina.

__ADS_1


"Terimakasih Tuan Felix atas kerjasama kita. Oh ya sahabat saya adalah sekretaris di kantor utama namanya Deli" kata Dina.


"Ya benar. Deli adalah sekretaris kami yang baru. Dia sangat berkompeten di bidangnya. Kalau saya boleh tau bersahabat bagaimana Nyonya dengan Deli?" tanya Felix.


"Dia adalah sahabat baikku semenjak kelas tiga sma. Dia seseorang pekerja keras. Jadi perusahaan tuan tidak menyesal telah menerima Deli untuk bekerja di sana" jawab Dina.


"Baiklah Nyonya Dina, kami permisi dulu. Kami harus ke kantor." kata Jero yang melihat Felix dan Dina mulai terlihat akrab.


"Baiklah. Terimakasih atas kerjasama kita" jawab Dina.


"Mari saya antarkan Tuan tuan ke lobby kantor" Dina menawarkan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya kepada rekan meeting yang lain.


"Oh ya Tuan Felix, apakah kapan rencana berangkat kembali ke negara I?" tanya Dina kepada Fekix yang tepat berada di sebelahnya.


"Berkemungkinan dua hari lagi Nyonya."


"Tuan Felix jangan panggil Nyonya, tapi cukup Nona saja. Saya belum menikah"


"Baiklah Nona Dina. Kami dua hari lagi pulang kenegara I"


"Kalau begitu sama saya saja. Saya juga akan ke negara I dua hari lagi" Dina menawarkan tumpangan kepada Felix dan Jero.


"Tergantung Tuan Jero, Nona" kata Felix.


"Saya setuju Nona Dina. Kami akan kenegara I menumpang pesawat Nona"


Tak terasa mereka sudah sampai di libby. Jero dan Felix langsung naik ke mobil yang sudah terparkir tepat di depan pintu masuk perusahaan. Jero dan Felix langsung pergi menuju perusahaan mereka.


"Sepertinya Dina naksir kamu Lix"


"Biarin ajalah Jer. Terpenting kerjasama kita lancar." jawab Felix


 Dina mengantar Jero dan Felix menuju lobby perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2