Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 58


__ADS_3

Jero mengangguk menyetujui Deli untuk pergi dengan adiknya itu. Jero tidak mau Felix salah membeli barang nantinya.


Felik dan Deli kemudian pergi menuju mall. Sedangkan Jero melanjutkan membaca dokumen untuk meeting besok. Jero tidak bisa mengandalkan Felix untuk meeting besok hari.


Felix dan Deli kemudian masuk ke dalam mobil, mereka akan menuju ke mall membeli apa yang menurut Deli adalah kesukaan bagi Dina.


"Tuan, boleh saya bertanya hal yang serius kepada Tuan? Tapi sebelumnya saya minta maaf karena rasanya ini bukanlah ranah saya untuk bertanya kepada Tuan" ujar Deli kepada Felix. Deli tidak mau nanti Felix berpikiran kalau dia ingin ikut campur dalam permasalahan Felix dengan Dina


"Silahkan Deli tanyakan saja, saya akan menjawab semua pertanyaan kamu" ujar Felix.


Deli terdiam sesaat. Dia berusaha memilih kata kata yang tepat untuk bertanya kepada Felix. Kata kata yang tidak akan membuat Felix menjadi tersinggung karena kata katanya itu nantinya.


"Tuan, Saya dan Dian bermohon kepada Tuan, untuk tidak membuat luka di hati sahabat kami. Kalau seandainya Tuan melihat bagaimana hancurnya Dina saat kejadian itu, jangankan untuk mendiamkannya, tidak menyapanya dalam hitungan detik aja akan membuat kita terluka Tuan" ujar Deli memulai perkataannya.


"Aku pribadi saat kita di negara J. Ingin rasanya memukul kepala Tuan dengan tangan saya sendiri. Tuan benar benar keterlaluan, Tuan mendiamkan sahabat saya. Tuan seperti menghukum sahabat saya." lanjut Deli sambil mengusap air matanya.


"Padahal Tuan sendiri yang pengen tahu apa kejadian yang terjadi sebenarnya. Saya sangat kecewa saat itu dengan Tuan. Saya tidak menyangka Tuan akan berbuat seperti itu Tuan." ujar Deli mengeluarkan semua isi hatinya.


"Padahal Tuan, ini jujur dari kami semua, saat Tuan menjalin hubungan dengan Dina, kai semua sangat senang sekali, karena bagaimanapun juga Dina pasti akan bahagia saat bersama dengan Tuan" Lanjut Deli.


Deli benar benar mengeluarkan semua isi hatinya. Dia sama sekali tidak menahan sedikitpun kata kata yang akan dikeluarkan oleh dirinya.


"Tapi ternyata hal ini yang terjadi. Kami sungguh kecewa Tuan. Tapi, untung saja sahabat saya tidak menjadi down kembali saat keributan yang terjadi antara Tuan dengan Dia. Dia hanya sempat mengurung diri hanya sata pulang makan malam saat kita berada di negara J." lanjut Dina mengutarakan isi hatinya.


"Jadi, saya mohon Tuan, kami sekeluarga sudah membujuk Dina untuk mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan siang ini. Jadi, jangan kecewakan kami Tuan" kata Dina menatap Felix.


Felix terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Deli. Dia benar benar tidak menyangka efek dia diam saat di negara J memiliki efek yang sangat luar biasa ternyata.


"Tenang saja Del, saya akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik baiknya. Saya tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang diberikan Dina." ujar Felix.


"Saya juga mengucapkan terimakasih banyak atas bantuan kamu dan keluarga kamu untuk meyakinkan Dina agar memberikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi saat kita di negara J" lanjut Felix meyakinkan Deli kalau dia akan berusaha untuk berbaikan dengan Dina kembali.


"Terimakasih Tuan. Kami sangat berharap Tuan bisa lanjut dengan Dina. Karena selama Dina bersama Tuan dia terlihat sangat bahagia sekali" lanjut Deli.


Tak terasa mereka sudah sampai di mall terbesar ibu kota. Felix dan Deli kemudian turun dari dalam mobil. Mereka harus bergegas membeli jam tangan dan tas dengan brand favorit dari Dina.


Felix dan Deli masuk ke dalam toko tas dengan logo H huruf kapital itu. Felix langsung menuju bagian tempat para pelayan berdiri.


"Selamat datang Tuan Felix" sapa seorang pelayan dengan ramah.


"Tolong keluarkan tas keluaran terbaru." ujar Felix meminta pelayan mengeluarkan tas dengan model terbaru dari brand tersebut.


Para pelayan mengeluarkan semua beberapa model tas terbaru dari brand mereka. Felix dibantu oleh Deli memilihkan tas yang mana yang paling cocok dipakai oleh Dina.


"Ini saja Tuan. Dina belum punya yang ini" ujar Deli memilihkan salah satu tas yang termasuk keluaran terbaru


"Kamu yakin Dina belum punya yang ini?" tanya Felix meyakinkan dirinya kalau Dina memang belum punya yang ini.


"Kalau yang ini kami yakin Nona belum punya Tuan, karena ini model paling terbaru keluar dari brand kami" ujar Pelayan meyakinkan Felix kalau Dina pasti belum punya tas yang dipilih oleh Deli.


"Oke saya ambil yang ini" ujar Felix.


"Tolong bungkus kan rapi rapi. Saya tidak, mau merk nya terlihat." ujar Felix meminta kepada pelayan untuk membungkus tas tersebut dengan sangat rapi dan tidak boleh terlihat merk brandnya.


"Siap Tuan" ujar Pelayan.


Pelayan kemudian memotong label harga tas tersebut dengan hati hati. Setelah itu pelayan baru membungkus tas yang dibeli oleh Felix sebagai hadiah untuk Dina.


"Ini Tuan" ujar Pelayan memberikan paperbag yang telah berisi tas yang dibeli oleh Felix.


"Berapa?" tanya Felix.


"Ini Tuan" ujar kasir menunjukkan layar monitor yang memperlihatkan harga dari tas yang dibeli Felix.


"Oh baiklah. Ini" ujar Felix memberikan kartu debit nya.


Felix menekan PIN atmnya saat kasir meminta PIN milik Felix. Setalah melakukan pembayaran, mereka berdua kemudian berjalan menuju toko yang menjual jam merk R yang sangat terkenal karena kemewahannya.

__ADS_1


Felix dan Deli masuk ke dalam toko tersebut. Mereka menuju pelayan yang berada di balik meja.


"Selamat pagi Tuan Felix" sapa seorang kepala pelayan.


"Selamat Pagi. Bisa saya lihat jam untuk wanita keluaran terbaru?" tanya Felix.


"Bisa Tuan. Sebentar" ujar pelayan yang masuk ke tempat penyimpanan barang barang keluaran baru dari brand ternama itu.


Pelayan keluar kembali dari tempat penyimpanan. Dia membawa tiga buah jam keluaran terbaru dari brand tersebut.


"Ini semua jam keluaran terbaru dari brand kami Tuan" ujar Palayan sambil menjejerkan tiga buah jam keluaran terbaru tersebut.


Felix dan Deli melihat lihat jam yang diletakkan oleh pelayan di depan mereka. Felix dan Deli melihat dengan cermat jam yang mana, yang akan diberikan kepada Dina.


"Kalau yang ini saja gimana Tuan?" tanya Deli sambil menggeser sebuah kotak jam kepada Felix.


Felix melihat jam yang direkomendasikan oleh Deli. Felix mengamati jam tersebut.


'Pilihannya Oke semua' ujar Felix sambil melihat lihat jam yang dipilih oleh Deli.


"Bagus juga Del. Saya juga suka melihatnya" ujar Felix yang setuju dengan jam yang dipilih oleh Deli tersebut.


"Yang ini saja mbak" ujar Felix kepada Pelayan.


"Ukuran berapa Bang?" tanya Pelayan kepada Felix.


"Biarkan saja dulu, besok kalau tidak pas, biar Nona itu ke sini membetulkannya" ujar Felix.


"Label harga tolong dilepas ya. Setelah itu tolong dibungkus dengan rapi." ujar Felix memberikan pesan kepada pelayan untuk membungkus jam yang dibelinya dengan rapi.


Pelayan membungkus jam yang dibeli Felix dengan cantik. Felix kemudian melakukan pembayaran kepada kasir.


Setelah melakukan pembayaran Felix dan Deli berjalan keluar menuju parkiran. Tiba tiba saat mereka sedang berjalan menuju parkiran, ponsel milik Deli kemudian bergetar di dalam saku rok span di atas lututnya yang berwarna dongker itu. Deli mengeluarkan ponselnya dan melihat Bestie Dina menghubungi.


"Tuan, Dina yang nelpon." ujar Deli mengatakan kepada Felix kalau yang menghubunginya adalah Dina. Orang yang dari tadi menjadi bahan utama topik pembicaraan antara dirinya dengan Felix


"Angkat Del" ujar Felix kepada Deli meminta supaya Deli mengangkat panggilan telpon dari Dina.


"Hallo, Deki, dimana loe?" tanya Dina kepada Deli.


"Sedang keluar ada perlu, ada apa Din?" tanya Deli kepada Dina.


"Gue ada berita bahagia untuk elo" ujar Dina dengan nada bahagia yang terlihat jelas dari suaranya yang terdengar oleh Deli.


"Ada apa? Loe bagi bagi dengan gue lah. Apa berita bahagianya" ujar Deli dengan semangat bertanya kepada Dina. Padahal Deli sudah mengetahui apa yang akan diceritakan oleh Dina kepada dirinya.


"Loe jangan syok seperti gue nanti ya. Gue aja syok saat menerimanya" ujar Dina


Felix menarik tangan Deli masuk ke sebuah kafe yang ada di dekat mereka berdiri.


"Loudspeaker Del" ujar Felix menunjuk ke tombol loudspeaker ponsel Deli.


Deli menekan tombol loudspeaker di ponselnya. Felix ternyata kepo dengan apa yang akan diceritakan oleh Dina kepada Deli.


"Apa loe katakan ke gue tadi Din?" tanya Deli yang pura pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Dina kepada dirinya tadi.


"Huf Elo bener bener merusak kebahagiaan gue. Untung aja loe sahabat gue, kalau nggak, gue akan bener bener murka ke elo" ujar Dina setengah kesal karena Deli menyuruh dia mengulang apa yang dikatakannya tadi.


"Gue tadi ngomong. Elo jangan syok saat mendengar apa yang mau gue omongin ke elo. Karena gue aja saat menerimanya tadi juga syok setengah mati." ujar Dina kembali mengulang apa yang dikatakannya tadi kepada Deli.


"Oke sip. Gue akan menetralkan telinga gue saat mendengar apa yang loe katakan" ujar Deli yang memang tidak akan syok saat mendengar apa yang akan diceritakan oleh Dina. Berbeda kalau Deli tidak tahu, maka dia akan langsung teriak saat mendengar apa yang akan diceritakan oleh Dina kepada dirinya.


"Tau loe, tadi saat gue sampai kantor dan baru mau membaca dokumen perusahaan, gue mendapatkan kiriman bunga kesukaan gue. Gue sangat suka dengan bunga itu" ujar Dina setengah berteriak karena kebahagiaannya menerima buket bunga favoritnya itu.


"Untung aja pake loudspeaker kalau nggak budek gue denger teriakan orang lagi bucin" ujar Deli pelan yang hanya bisa didengar oleh Felix saja.


Felix menahan tawanya mendengar omelan dari Deli. Dia tidak menyangka Deli bisa juga ngomel seperti itu.

__ADS_1


"Siapa yang ngirim Din? Target baru elo lagi?" tanya Deli sengaja memancing Dina.


"Mana ada target baru. Loe dan Dian tau kan ya gue cintanya sama siapa, jadi mana ada target baru" ujar Dina menjawab pertanyaan dari Deli.


"Ya dari Tuan Felix nggak mungkin, loe kan sedang perang Dingin sama dia" ujar Deli menggoda Dina.


Felix memberikan dua jempol tangannya ke hadapan Deli. Dia sangat suka dengan cara Deli menggoda Dina.


"Yey." ujar Dina menjawab pertanyaan Deli.


Dina malas menjawab pertanyaan Deli dengan serius, karena Dina tau kalau Deli sedang menggoda dirinya.


"Jadi, siapa yang ngirim loe bunga favorit loe yang terkenal sangat mahal itu" ujar Deli kembali bertanya.


Deli sengaja terus bertanya agar orang di sebelahnya yang juga mendengar telpon dari Dina merasa sangat puas.


"Siapa lagi kalau bukan kekasih gue yang baik itu. Tidak untuk hari waktu sebelum kita pulang ke sini. Biasanya dia sangat baek. Kalau kemaren dia seperti orang kemakan kain lap. Hahahahaha" ujar Dina tertawa karena telah mengatakan Felix memakan kain lap, makanya jadi jutek nggak jelas.


"Felix maksud loe?" tanya Deli memastikan.


"Iya siapa lagi. Kekasih gue cuma satu Deli" ujar Dina.


"Pasti loe bahagia kan? Gue aja yang dengernya bahagia. Traktir gue sama Dian, oke" ujar Deli mulai menggoda Dina.


"Tenang. Nanti malam semua pengunjung kafe yang makan gue traktir. Kalau loe berdua khusus tempatnya" ujar Deli dengan nada bahagia yang tidak bisa lagi ditutup tutupi nya. Dia benar benar bahagia.


"Udah dulu ya. Gue mau kerja lagi. Gue happy banget" ujar Dina.


"Aits tunggu dulu. Loe utang cerita ke gue" ujar Deli.


"Sip" jawab Dina.


Dina memutuskan panggilan telponnya dengan Deli. Dia luar biasa bahagia saat ini. Senyum selalu terkembang di bibirnya.


"Langkah satu sukses Tuan, langkah kedua dan selanjutnya tergantung Tuan lagi" ujar Deli memberitahukan kepada Felix kalau bunga yang diberikan Felix sudah membuat Dina begitu bahagianya.


"Saya akan pastikan langkah berikutnya aman Deli. Tapi yang saya pikir sekarang gimana cara membawa Dina ke restoran. Saya pengennya bukan saya yang membawa dia ke sana." ujar Felix memberitahukan keinginannya kepada Deli.


"Gampang Tuan, Biar Saya saja ke perusahaan Dina sekarang, nanti saya yang akan membawa dia ke sana." ujar Deli memberikan ide kepada Felix.


"Keren.Oke saya setuju. Terimakasih banget karena kamu sudah mau repot repot membantu saya Deli" ujar Felix mengucapkan terimakasih nya dengan sangat tulus kepada Felix.


"Apapun Tuan, demi kebaikan kedua sahabat saya, pasti akan saya lakukan" ujar Deli yang memang mementingkan kebahagiaan keluarga dan juga kedua sahabatnya sejak dulunya.


"Aku berhutang banyak kepada kamu Deli. Suatu saat pasti akan aku bayar lunas. Kamu membuka semua pikiran aku dengan ucapan ucapan kamu saat kita pergi tadi. Sekarang kamu mau susah susah datang ke perusahaan Dina hanya untuk membawa Dina ke restoran. Aku nggak tau lagi harus bayar pakai apa Deli" ujar Felix bersungguh sungguh.


"Suatu saat kata Tuan, Tuan akan tau bagaimana membayarnya. Satu lagi Tuan, antara sahabat tidak ada yang namanya utang. Kita akan saling membantu saat ada yang membutuhkan" ujar Deli menjawab Felix.


"Udahlah Tuan, jangan bahas lagi, sekarang mari kita pergi. Saya akan naik taksi ke tempat Dina. Tuan pastikan restoran sudah siap. Nanti kirim pesan aja ke saya." ujar Deli.


"Oke sip" jawab Felix yang setuju dengan ide dari Deli.


Mereka berdua kemudian pergi ke tujuan masing masing. Felix menyerahkan ke Deli bagaimana cara Deli membawa Dina ke restoran tempat mereka akan makan siang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Bagaimanakah makan siang antara Felix dengan Dina akan berjalan?


** Apa yang terjadi saat meeting yang dilakukan oleh Dian dan Hendri?


Stay cun di Novel aku ya kakak. Tunggu notifnya. Nantikan episode berikutnya kakak.


singgah di


My Affair


It's My Dream

__ADS_1


Kepahitan Sebuah Cinta


Kesetiaan Seorang Istri**


__ADS_2