Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
164


__ADS_3

Fatima mendorong tubuh Syakir dengan keras hingga tubuh kekar lelaki itu pun terhuyung ke belakang dan mundur beberapa langkah hingga keluar dari kamar itu. Fatima mengunci rapat-rapat pintu kamar dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar itu.


Hanya bisa menangis, menyesali semua yang terjadi.


"Fatima ..." lirih Syakir sambil mengetuk pintu kamar tidur itu beberapa kali dengan pelan.


Fatima memerosotkan tubuhnya hingga terduduk dan tetap bersandar pada pintu kamar dengan kedua kaki ditekuk dan kepalanya di rebahkan padavkedua lututnya.


"Pergi!! Kembalilah kepada istri kesayanganmu itu!! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku mulai saat ini!!" terima Fatima frustasi.


"Fatima, apa yang terjadi padamu, Mas Syakir ingin berusaha untuk mencintai kamu, dan itu sudah mulai tumbuh, biarkan namamu juga menetap selamanya di hati Mas, walaupun bukan menjadi yang pertama dan satu-satunya bagi Mas, tapi Mas berusaha untuk adil," ucap Syukur dengan pelan menjelaskan.


Syakir merasa sangat berdosa telah membuat hubungan Fatima dan kedua orang tuanya menjadi tidak baik karena permasalahan mereka.


Syakir pun terduduk dan merebahkan tubuhnya yang mulai terasa lelah di depan pintu kamar itu. Dingin suhu ac yang keluar dari celah bawah pintu pun membuat separuh tubuh Syakir sedikit menggigil.


Jarinya masih mengetuk pelan ke arah pintu kamar itu.


"Pergi!! Tidak perlu memperdulikan aku lagi, sudah cukup penantian Fatima yang tidak pernah berujung sedikitpun," ucap Fatima setengah berteriak.


Hati dan pikiran Fatima sudah sangat kacau, tidak lagi bisa berpikir jernih karena isi otaknya hanya terpenuhi rasa cemburu, tidak ikhlas, kecemasan, ketakutan dan kesalahan yang dilakukan.


"Luapkan semuanya dan Mas akan tetap berada disini, menunggumu sampai kamu mau menerima Mas kembali," ucap Syakir pelan.


Fatima sudah tidak bisa berkata-kata lagi, untuk apa meneruskan cintanya bila suatu hari Fatima akan dihempaskan karena dosa yang diperbuatnya.


Waktu terus bergulir hingga keduanya pun lelah dan terlelap di tempat mereka duduk. Sisa air mata Fatima sudah mengering di pipinya. Tak terasa malam ini sudah larut, dan sudah sangat gelap sekali karena lampu-lampu belum dinyalakan.


Fatima membuka matanya perlahan menatap ke depan lalu mengedarkan pandangannya yang terlihat sangat gelap hingga tidak bisa memandang ke arah depan. Hanya ada sinar menyorot tipis yang masuk dari celah-celah kaca jendela apartemen sederhananya itu.


KLURUK....


Bunyi perut Fatima yang sudah terasa sangat lapar sekali. Saat ini yang membutuhkan asupan makan bergizi bukan hanya Fatima tapi juga bayi yang kini ada di dalam perutnya pun sudah harus di beri asupan makanan bergizi agar tumbuh dan kembang dengan sempurna.


Fatima menyalakan lampu kamarnya, terdengar suara lirih dengkuran halus dari celah bawah pintu kamar tidurnya.


'Itu pasti Mas Syakir, ternyata dia masih ada disini, bahkan tertidur di depan. Apa yang harus aku lakukan, kenapa sulit sekali untuk berkata jujur, atau memang aku sulit melepaskan Mas Syakir, aku yang sulit mengikhlaskan, tapi kalau aku hanya diam, perutku akan terus membuncit, dan itu akan menjadi sebuah masalah besar,' batin Fatima di dalam hatinya.

__ADS_1


Pintu kamar tidur itu pun di buka, fatima melihat Syakir yang tergeletak di depan kamar dengan begitu pulas.


"Fatima ..." lirih Syakir memanggil nama Fatima.


Fatima yang sudah berjalan menuju dapur pun menoleh ke arah Syakir dan menatap lekat kedua mata yang masih terpejam.


'Mas Syakir itu memanggilku atau hanya mengigau?' gumam Fatima di dalam hati.


Lagi-lagi lirih Syakir memanggil nama istrinya.


"Kirana ..." lirih Syakir kemudian dan masih memejamkan kedua matanya.


Langkah kaki Fatima terhenti saat mendengar rintihan terdengar liruh itu. Nama yang paling dibenci oleh Fatima ketika selalu disebut oleh Syakir dalam setiap waktu.


Fatima membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk membuat susu.


Kepalanya sudah berputar pening sekali. Meja makan yang masih berantakan belum sempat dibereskan sesaat ada beberapa persoalan yang membuat mood Fatima juga jadi memburuk.


"Fatima!!" panggil Syakir tiba-tiba setengah berteriak sambil mengucek matanya dan menatap ke arah Fatima dengan lekat.


Fatima terkejut dan menatap Syakir dengan cemas, sambil membereskan pecahan gelas yang berserakan dan mengelap lantai yang basah karena susu.


"Itu apa?" tanya Syakir pelan sambil meletakkan piring-piring kotor ke wastafel dapur dan ikut membersihkan dapur itu.


"Susu," jawab Fatima singkat.


"Sejak kapan kamu suka susu? Bukankah kamu tidak suka susu?" tanya Syakir menatap Fatima lembut mengingat ucapan Umi Amira yang berkata bahwa Fatima tidak menyukai susu.


Fatima nampak bingung mencari jawaban yang pas dan masuk akal untuk Syakir.


"Aku ingin pulang ke Indonesia," ucap Fatima tiba-tiba mencari topik pembicaraan baru.


Syakir yang baru saja selesai membuat kopi dan duduk di meja makan pun ikut mengangguk pelan tanda menyimak apa yang diucapkan.


"Untuk apa kamu pulang? Mau kemana? Baru saja kita memulai hidup baru kita sebagai suami istri," ucap Syakir pelan sambil menyeruput kopi hitam manis itu.


"Kemanapun itu, Fatima ingin meminta maaf pada Umi dan Aby," ucap Fatima lirih.

__ADS_1


Syakir meletakkan kopi hitamnya dan menatap Fatima lalu memegang tangan Fatima.


Syakir tahu, wanita yang ada di depannya ini sedang banyak beban, pikiran yang terus merajai otakknya hingga kadang mengambil keputusan secara asal.


"Kalau ada sesuatu ceritakan saja, kita berusaha untuk mencari solusi terbaik," ucap Syakir pelan.


"Kalau mengharuskan untuk melepas Mbak Kirana, Mas juga sanggup melakukannya demi aku?" tanya Fatima pelan sambil menatap tajam kedua mata Syakir.


"Mas harus memilih? Tidak ada yang bisa Mas pilih, kecuali salah satunya melakukan kesalahan yang fatal," ucap Syakir pelan menjelaskan.


"Kalau tidak bisa memilih, biar aku yang pergi!!" ucap Fatima pelan.


"Kamu itu kenapa Fatima, Mas merasa sejak kamu bekerja dengan tuan Sulaiman, kamu berubah, kamu lebih ketus dan berusaha menghindari Mas?" ucap Syakir tegas.


"Aku? Aku ingin cerai Mas, ceraikan aku, apapun alasanmu, ceraikan aku!!" ucap Fatima keras.


"Hei.. bicara apa kamu, Fatima!! Mas tidak akan pernah menceraikan kamu, apapun alasannya!!" ucap Syakir tegas.


Selama ini Syakir hanya tahu segala yang baik tentang Fatima. Fatima yang berbakti dan mengabdi pada suaminya. Fatima yang berusaha keras berkerja banting tulang untuk membayar biaya rumah sakit Syakir. Sangat tega sekali bila harus melepaskan berlian yang begitu kemilau dan memukau.


"Aku memang bukan Fatima yang polos dan suci seperti dulu lagi Mas Syakir, jika aku mengungkapkan kisah aku, yang aku jalani, mungkin memandangku saja Mas Syakir sudah jijik. Kenapa aku memelikih mundur dari hati dan kehidupanmu, walaupun aku masih sangat mencintaimu Mas Syakir. Tapi cinta itu sudah ternoda, tentunya melukai perasaan Mas Syakir, walaupun Mas Syakir belum bisa menerima aku dengan baik, hanya rasa kasihan saja. Aku tidak perlu itu semua, cukup Mas Syakir tahu cintaku sebesar apa kepada Mas Syakir, hingga semua pun berani aku korbankan untuk kamu, Mas," jelas Fatima pelan sambil menatap ke arah lain.


Air matanya sudah mengumpul penuh di pelupuk matanya. Mungkin malam inj, semuanya harus diungkap agar jelas dan terbuka, mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil kepitusan terbaik.


'Aku sudah pasrah dengan semuanya, walaupun aku cemburu jika Mas Syakir harus kembali bersanding dengan Mbak Kirana. Betapa beruntungnya perempuan hamil itu, menikah dengan restu dan menjadi yang pertama dan selalu menjadi prioritas, dan mendapatkan benih dari orang yang dicinta,' batin Fatima di dalam hatinya.


Syakir menatap Fatima lalu menghapus air mata yang sempat terteteskan di pipi Fatima dengan lembut. Sentuhan itu, adalah sentuhan yang sangat diinginkan Fatima sejak menikah dengan Syakir. Sentuhan yang sangat lembut dan tulus, terasa menggetarkan jiwa dan raganya.


"Mas Syakir, boleh Fatima jujur?" ucap Fatima pelan sudah tidak sanggup memendam rahasia ini terlalu lama. Sungguh berdosa besar rasanya, menyimpan sampah busuk dalam rumah tangganya.


Syakir mengangguk pelan.


"Apa Fatima? Mas ingin dengar?" jawab Syakir dengan lembut.


"Tapi..." ucap Fatima menelan air liurnya ke dalam kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering dan sangat panas.


"Apa Fatima? Jangan buat Mas semakin penasaran dengan keadaan ini," ucap Syakir lembut sambil menggenggam kedua tangan Fatima dengan sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2