
"Ayah ke belakang dulu ya" ujar Ayah meninggalkan Deli sendirian berada di bagian depan kafe yang sedang sibuk membereskan meja meja dan menata kursi.
Deli kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Ayah dan Kak Hendri berada di belakang untuk melihat sopir meletakkan barang barang yang tadi di beli Ayah.
Mobil pengantar barang telah kembali menuju tokonya. Deli yang juga telah selesai kerja, berjalan menuju Ayah dan Kak Hendri yang terlihat mulai menata bahan bahan bangunan yang dibelinya tadi.
"Ayah mau bikin apa?" tanya Deli kepada Ayah dan Paman Hendri yang terlihat sedang sibuk.
"Ini mau bikin tempat duduk seperti yang sedang viral sekarang itu Del" ujar Ayah mengatakan apa yang akan dibuat olehnya.
"Maksud Ayah seperti apa?" tanya Deli yang tidak tau Ayah mau membuat seperti apa tempat duduk yang diceritakan oleh Ayah kepada Deli.
"Itu pakai payung payung. Nanti kursinya di buat dari semen. Di lukis sederhana kayak grafiti gitu" ujar Ayah memberitahukan kepada Deli seperti apa furnitur baru yang akan dibuat oleh Ayah dan Kak Hendri.
"Deli yang lukis Ayah" ujar Deli yang sangat suka menggambar itu.
"Ya kamulah emang siapa lagi yang akan ngelukis. Kamu dan Dian lah. Kalau Dina, Ayah ragu dia bisa ngelukis" ujar Ayah menyetujui keinginan Deli untuk melukis kursi dan juga payung payung, serta rumah jamur yang akan dibuat oleh Ayah.
"Sip Ayah." jawab Deli.
Deli kemudian kembali ke dalam rumah. Dia akan membantu Bunda mengeluarkan semua masakan yang telah di buat serta bahan bahan masakan yang akan dimasak nanti saat ada pesanan dari tamu.
Saat Deli dan Bunda sibuk menata makanan yang akan dijual, Dina dan Dian baru keluar dari kamar setelah mereka berdua telah selesai mandi dan bersiap siap.
"Deli mandi sana. Biar gue dan Dian yang gantian bantu bunda!" ujar Dina meminta Deli untuk mandi dan bersiap siap.
"Oke sip. Kalian berdua udah mandi?" tanya Deli sambil menatap ke arah Dina dan Dian.
"Udah. Kami udah selesai. Tinggal loe satu satunya yang belum. Sana mandi." ujar Dina menegaskan kalau mereka berdua telah selesai mandi.
Deli kemudian masuk ke dalam rumah, dia akan mandi dan bersiap siap untuk membantu Bunda menjaga kafe mereka.
"Apalagi Bunda?" tanya Dina kepada Bunda.
"Kamu nggak letih Nak? Baru pulang perjalanan bisnis langsung bantu Bunda di kafe?" ujar Bunda yang tidak ingin Dina terlalu letih.
__ADS_1
"Santai aja Bun, udah kembali fit setelah tidur tadi. Lagian penerbangan empat jam nggak lama juga kali Bun. Di pesawat juga bisa tidur" jawab Dina.
"Oh oke. Kamu tolong tarok semua ini ke setiap meja yang ada ya" ujar Bunda meminta Dina untuk meletakkan semua kecap, saus dan yang lain ke atas meja meja kecil yang ada di kafe.
"Bunda" panggil Dian yang baru masuk ke dalam container yang telah berubah fungsi menjadi dapur.
"Apa?" ujar Bunda kepada Dian.
"Nanti jangan tanya atau cerita Felix ya dekat Dina. Mereka sedang perang ukraina rusia" ujar Dian memberitahukan kepada Bunda untuk tidak membahas masalah Felix kepada Dina nantinya.
"Oh oke. Untung kamu kasih tau. Rencana Bunda memang mau tanya ke Dina, kenapa Felix nggak nganter dia pulang. Biasanya mereka kan seperti lem dan prangko" ujar Bunda kepada Dian.
Bunda memang sudah ada niat untuk menyapa Dina dan bertanya tentang Felix. Untung saja Bunda belum jadi bertanya, kalau sudah, maka tidak tau lagi Bunda apa alasan mau dipakai Bunda kepada Dina.
Dina kemudian kembali menuju container.
"Bunda apa lagi?" tanya Dina kepada Bunda.
Dina sama sekali tidak curiga Bunda mengobrol dengan Dian, karena menurut Dina, Dian tidak mengetahui permasalahannya dengan Felix. Padahal Deli sudah memberitahukan kepada Dian kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Felix.
Dina mengambil daftar menu dan juga kertas untuk melakukan pemesanan. Dina mengerjakan semuanya dengan sangat rapi. Sedangkan Dian, dia sibuk membantu Bunda menata bahan yang akan dimasak dan juga bumbu bumbu yang akan dipakai di dekat peralatan masak. Dian dan Dina sangat menyukai pekerjaan mereka ini. Bagi mereka berdua, saat mereka di rumah Deli lah mereka bisa menjadi diri mereka sendiri.
"Bunda beres" teriak Dina dari meja paling ujung.
"Loe kira hutan pake acara teriak teriak segala" ujar Dian menegur Dina yang memang kadang tidak tau waktu.
"Ye, kan orang belum ada" ujar Dina sambil melihat ke sekeliling kafe. Kafe memang belum ada pengunjungnya saat ini. Semua bangku masih sama susunnya dengan yang disusun oleh Deli dan Dina serta di bantu Hendri tadi.
Deli yang sudah siap membersihkan dirinya, kemudian berjalan keluar menuju kafe Bunda. Dia juga akan ikut membantu saat ada pesanan makanan yang datang.
Sekelompok pegawai kantoran terlihat masuk ke dalam kafe. Dina dengan sigap menuju meja yang telah ada penghuninya itu.
"Tuan dan Nona, silahkan pilih mau menu yang mana Tuan dan Nona suka." ujar Dian menerangkan bagaimana cara pemesanan setiap makanan yang mereka sukai
"checklist aja di gambar makanan yang tuan dan nona mau" ujar Dian melanjutkan dengan ramah.
__ADS_1
"Oh baik terimakasih" ujar salah satu pengunjung mengucapkan terimakasih kepada Dian.
Tamu tersebut kemudian sibuk. Melihat Lihat daftar menu yang ada di meja. Mereka akan memilih menu mana yang akan mereka pesan hari ini.
"Kayaknya. Enak semua" ujar salah satu wanita.
"Panggil pelayan aja. Biar dia yang milih kan untuk kita." ujar wanita yang lainnya.
"Gimana?" tanya wanita yang mengajukan saran tadi.
"Setuju" jawab mereka kompak.
"Mbak" panggil salah satu pria kepada Dina yang membelakangi para Tuan dan Nona Nona tersebut.
"Yup, bentar" jawab Dina yang sedang repot mengambil sesuatu dari bawah kursi.
"Ah pelayan aja belagu loe. Kami di sini bayar nggak gratis" ujar salah satu wanita tersebut memaki Dina.
Dina yang mendengar makian dari orang orang itu langsung berdiri dan berbalik menatap ke arah kelompok pembeli yang tidak sopan itu.
Tuan dan Nona yang tadi memaki Dina menjadi kaget saat melihat siapa pelayan yang tadi mereka maki maki. Dina kemudian berjalan menuju pengunjung kafe tersebut.
"Ada apa Tuan, Nona?" tanya Dina dengan nada ramah dan wajah dibuat senyaman mungkin.
"Ng ng ng" ujar salah satu wanita yang tidak bisa berkata kata lagi.
"Apa?" tanya Dina.
Tetapi keempat pengunjung itu tidak mampu menjawab pertanyaan dari Dina. Mereka hanya diam saja. Dina yang sebenarnya ingin marah, memilih untuk pergi dari sana. Dia kemudian menuju dalam rumah. Dia ingin menenangkan hatinya sejenak.
Deli yang melihat apa yang terjadi, menuju meja tersebut. Dia menatap keempat pengunjung yang sudah pucat pasi itu.
"Kenapa?" tanya Deli dengan ramah.
"Bukan urusan loe. Kafe ini bawa sial" ujar salah satu wanita mengata ngatai kafe Bunda.
__ADS_1