
Fatima memundurkan langkahnya, namun terasa sulit juga kakinya melangkah mundur.
"Keluarlah, Mas bilang keluarlah Fatima. Mas sedang tidak ingin berbicara kepadamu, biarkan Mas menenangkan diri sejenak, ini bukanlah hal yang mudah," ucap Syakir lembut.
Kepala Syakir di tempelkan pada kaca jendela besar itu dengan kedua tangan di tempelkan pada kaca besar itu.
Sakit tak berdarah dan kecewa tanpa ujung, beban pikirannya malah makin bertambah bukan malah senang bisa melepaskan Fatima dengan mudahnya melalui kata cerai.
Tidak semudah itu, yang paling ditakuti Syakir adalah dosa, dosa zina terlepas memiliki alasan apapun.
'Walaupun Mas dengan mudahnya meridhoi memaafkan semua kesalahan yang kamu buat Fatima, tetap saja, dosa besar itu kita pikul bersama,' batin Syakir dalam hatinya.
Fatima malah maju mendekati Syakir, lalu bersimpuh di dekat kaki Syakir sambil memegangi kedua kaki Syakir untuk meminta maaf.
"Apa yang kamu lakukan Fatima!!" teriak Syakir yang terkejut dengan perlakuan Fatima kepadanya.
Fatima semakin erat memegang kedua kaki Syakir. Tangisannya sudah sejak tadi saat Syakir hanya menyuruhnya keluar tanpa ada emisi sama sekali. Perbuatan bejatnya memang sudah tidak mungkin bisa termaafkan lagi.
"Maafkan aku, Mas Syakir, aku benar-benar hanya ingin membantu Mas saat itu, tidak ada harapan lagi untuk bisa mendapatkan uang sebanyak itu, selain menjual mahkota kegadisannya aku," ucap Fatima pelan sambil sesegukan.
Fatima benar-benar menyesal dengan tindakan bodohnya itu, kenapa tidak berpikir panjang dan apa akibatnya setelah ini. Pikirannya saat itu hanyalah bagaimana agar Syakir sembuh dan mendapatkan perawatan yang terbaik.
Syakir hanya menggelengkan kepalanya pelan dan mencoba mengeluarkan kakinya dari pegangan erat Fatima.
"Mas sudah bilang, keluarlah dulu, biar Mas cari solusi terbaik. Mas harus mengambil keputusan di saat pikiran Mas itu benar-benar jernih," ucap Syakir pelan.
Fatima hanya menunduk dan tetap memegang kedua kaki Syakir dengan erat.
"Ampuni Fatima, maafkan Fatima, Fatima tidak tahu, apa yang harus Fatima lakukan saat ini. Fatima benar-benar menyesali semua perbuatan ini. Mas Syakir mau kan memaafkan semua kesalahan Fatima?!" ucap Fatima pelan dengan derai air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.
Kedua matanya sudah tidak bisa melihat kembali karena terlalu banyak air mata yang menumpuk disana.
__ADS_1
"Cukup Fatima!! Simpan air matamu bukan untuk meminta maaf, tapi memohonkan kepada Allah SWT, agar Allah SWT juga ridho memaafkan semua perbuatan burukmu itu," tegas Syakir kepada Fatima.
Fatima terus menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.
"Tapi ridho Allah SWT, berasal dari ridho suamiku, walaupun suamiku tidak pernah mencintaiku seujung kuku pun," lirih Fatima yang terasa sesak di dadanya.
"Pergilah, sebelum kesabaran Mas habis. Mas, cukup tenang menghadapi masalah ini dan Mas berusaha sabar menjalani takdir ini, Fatima. Tapi, tetap, Mas ini adalah suamimu yang SAH apakah baiknya Mas harus mengambil keputusan dan tindakan yang tepat untuk kita berdua. Jalan perceraian bukanlah keputusan terbaik, dan semuanya harus dipikirkan dengan matang dan tidak terburu-buru," ucap Syakir pelan.
"Fatima tidak akan pernah melepaskan selama Mas Syakir belum memberikan maaf dengan tulus dan ikhlas," ucap Fatima pelan berucap terbata-bata.
"Tunjukkan kepadaku, lelaki mana yang ridho memaafkan istrinya mengandung dengan pria lain!! Walaupun suaminya belum mencintai dan belum pernah menyentuh istrinya!! Tapi, tidak akan ada yang sesabar itu menerima dengan ikhlas, memaafkan dengan tulus? Tidak akan ada, Fatima!!" ucap Syakir setengah berteriak.
Pikirannya mulai kacau sekali, bisa sekali perbuatan buruk seperti itu dilakukan oleh seorang Fatima yang notabene adalah seorang santriwati. Perempuan alim yang sudah sejak kecil mengenal agama dan mempelajari agama dengan baik dan dibesarkan di keluarga baik-baik yang selalu mengajarkan mana hak dan batil, mana yang baik dan yang buruk.
"Tapi ... Fatima melakukan itu semua ada alasannya Mas, bukan hal yang dilakukan dengan kesengajaan atau memang kebutuhan jasmani saja. Fatima bukan perempuan hina seperti itu, Fatima bukan perempuan rendah yang tidak memiliki iman untuk menjual diribuntuk sesuatu hal kesenangan saja," ucap Fatima lirih.
"Pergilah, cukup dengan semua pembelaanmu itu Fatima. Biarkan Mas sendiri," ucap Syakir melemah. Sudah sulit rasanya berteriak dan marah-marah seolah tidak ada tenaga dan tidak ada gairah untuk melakukan itu semua kepada Fatima. Lebih baik memang diam dan tidak melakukan apa-apa, menenangkan hati dan pikiran, itu saja.
Syakir tetap teguh pendirian dengan menggelengkan kepalanya pelan. Bukan berarti tidak memaafkan, tapi semua itu proses.
"Memaafkan itu mudah, kalau hanya memaafkan saja saat ini pun bisa Mas lakukan, tapi memaafkan dengan tulus itu butuh kelapangan dada dan hati yang begitu luas. Kesalahanmu ini fatal Fatima, terlepas ada maksud dan tujuan didalam sana. Mas Syakir lebih baik mati karena sakit, bila harus menanggung dosa besarmu itu, Fatima!!" ucap Syakir dengan tegas.
"Fatima tahu Mas!! Tapi itu semua untuk kamu, Mas!! Karena Fatima tidak ingin kehilangan kamu, Mas!! Sebisa mungkin Fatima berusaha walau jalan yang ditempuh Fatima itu adalah salah dan bahkan salah besar!!" ucap Fatima pelan menjelaskan.
"Cukup Fatima, cukup semua penjelasanmu itu, Mas sudah paham!! Bahkan sangat paham!! Tapi Mas itu butuh sendiri, butuh tenang, kamu itu paham gak sih?!!" teriak Syakir mulai terbawa emosi.
Sudah ditahan emosinya, kemarahannya sejak Fatima jujur, namun semakin wanita itu merengek minta maaf, semakin kesal juga Syakir terbakar api cemburu yang tiba-tiba merasuki hatinya.
Wanita yang dihargai untuk tidak disentuh karena belum bisa mencintai secara utuh, harus dilepaskan karena kesalahan dosa besar yang harus ditanggung oleh Syakir.
Fatima semakin merengek dan meraung-raung dalam tangisannya yang sedikit keras. Hatinya tulus meminta maaf dan meminta untuk dimaafkan secara ikhlas. Apapun yang terjadi Fatima akan menerima semuanya dengan ikhlas.
__ADS_1
"Berikan Mas waktu, dua hari untuk berpikir, dan jangan bicara dulu, sebelum Mas yang memulainya. Camkan semua kata-kata Mas, jangan buat Mas kecewa terlalu dalam lagi dengan semua perbuatannya itu, Fatima," ucal Syakir lantang dan tegas.
Syakir menarik kakinya dan keluar dari kamar itu lalu masuk ke dalam kamar kosong yang berhadapan dengan kamar tidur itu dan mengunci kamar itu.
Syakir duduk di tepi ranjang, pemandangan dari kamar itu tidak seindah kamar yang ada di depannya. Bahkan tidak ada balkon untuk sekedar menghirup napas panjang.
Fatima menatap punggung Sakit yang semakin menjauh dengan nanar. Hatinya sudah patah seeprti tulang belulang yang tidak bisa disatukan lagi, perasaannya sudah retak bagaikan kaca yang menunggu hancur berkeping-keping dan cintanya seolah musnah dengan perbuatan kejinya berzinah.
Harapan Fatima pupus seketika, mencintai tanpa didasari iman dan ilmu yang berakhir bencana bagi dirinya sendiri.
Menikahi lelaki yang amat Fatima cintai, namun semuanya sirna dengan kekecewaan yang mungkin berujung pada kebencian.
Fatima terduduk, merasakan keram di perutnya yang semakin terasa sakit. Punggungnya di sandarkan di ranjang tidur itu sambil menahan rasa sakit dan nyeri yang luar biasa.
Pikiran berat dan beban hidup yang membuat dirinya semakin stres dengan keadaan ini.
Kepalanya di sandarkan ke ranjang tidur mengenai kasur dan mendongak ke atas merasakan sakit di perutnya yang begitu melilit.
Ponsel Fatima berbunyi sangat nyaring, tuan Sulaiman yangbsudah berhari-hari tidak menghubunginya pun saat ini menghubungi Fatima kembali.
Fatima hanya menoleh sekilas melihat nama Sulaiman muncul dilayar ponselnya dan mengabaikan sambungan telepon itu.
Laki-laki baik yang mau membeli mahkota kegadisannya dengan uang yang begitu banyak dan berlebih itu ternyata malah menghancurkan rumah tangganya yang sedang di perbaiki. Tapi, kini semuanya sudah tidak ada harapan, jiwa Syakir Menag ada dan tetap disini bersama Fatima tapi tidak dengan hati dan pikiran Syakir.
Ponsel itu terus berdering, tangisannya semakin lirih dan terdengar menyakitkan sekali. Fatima pun berusaha menenangkan hatinya agar tidak terlihat sednag bersedih.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Fatima dengan sopan kepada tuan Sulaiman.
"Waalaikumsalam, Fatima dari mana saja, kenapa baru kamu angkat telepon dariku?" tanya tuan Sulaiman yang sedikit posesif.
Fatima menarik napas panjang sambil memejamkan kedua matanya. Ada rasa rindu dan seketika keram di perutnya pun hilang tak terasa lagi.
__ADS_1