Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 93


__ADS_3

Dina yang baru masuk gerbang utama mansion melihat ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan pagar mansion utama. Sopir memberhentikan mobil mereka agak jauh dari pintu gerbang mansion.


Dua orang pengawal yang memang ditugaskan menjaga mansion utama menyusul ke arah mobil Dina.


Dina membuka kaca mobil.


"Nona muda, di mobil depan ada Tuan Jero dan Tuan Felix Edwardo, mereka sudah dari siang tadi berada di sana" ujar pengawal memberi tahukan kepada Dina mobil milik siapa yang berhenti di depan pagar mansion utama.


"Tuan muda Edwardo? Ngapain mereka ke sini?" tanya Dina kepada kedua pengawalnya itu.


"Maafkan kami Nona Muda. Kami tidak tau Nona Muda, mereka sudah dari tadi siang berada di situ" ujar pengawal kepada Dina.


"Baiklah, sopir kita ke mansion" ujar Dina memerintahkan sopir untuk masuk ke dalam mansion.


Dina seakan tidak perduli dengan mobil Jero Edwardo yang parkir di depan pagar mansion dan sudah menunggu Dina terlalu lama di sana.


Mobil Dina yang terlihat masuk ke dalam mansion, diiringi oleh mobil yang dikemudikan oleh Felix. Pengawal yang menunggu di pos penjagaan menghentikan mobil Felix yang akan masuk ke dalam mansion.


"Maaf Tuan, Anda apa sudah punya janji dengan Nona Muda?" tanya pengawal yang memberhentikan mobil yang dikendarai oleh Felix.


"Sudah, tolong katakan kepada Nona Muda kalau saya Tuan Felix Edwardo datang menemui Nona Muda" ujar Felix kepada pengawal.


Pengawal kemudian menghubungi ke mansion utama. Mereka harus memberitahukan kepala pelayan kalau Tuan Felix Edwardo akan menemui Nona muda dan sudah membuat janji temu.


Felix menunggu beberapa saat sampai pengawal itu memberikan Felix akses untuk masuk ke dalam mansion utama.


"Tuan Felix, silahkan masuk, Nona sudah menunggu Anda di mansion" ujar pengawal kepada Felix.


"Terimakasih" jawab Felix yang memang baru kali ini datang berkunjung ke mansion milik Dina yang luar biasa luasnya itu.


Menurut pebinis yang pernah datang ke mansion utama keluarga Edwardo, mereka menganggap mansion itu yang paling besar. Ternyata lebih besar dan sangat luas mansion milik Dina.

__ADS_1


Felix kembali melajukan mobilnya menuju mansion utama yang masih berjarak sekitar dua ratus meter dari gerbang utama.


"Gila ni mansion, apa nggak capek tukang kebunnya?" ujar Jero yang melihat begitu luas dan besarnya mansion milik Dina.


"Nggak mungkin juga tukang kebun satu. Loe nggak tengok tuh orang yang sedang nyiram bunga dan tumbuhan lainnya berapa orang" ujar Felix menyuruh Jero melihat ke kaca samping mobilnya.


Dari dalam mobil dapat dilihat ada sekitar sepuluh orang yang sedang menyiram bunga dan tumbuhan lainnya di taman mansion itu.


"Ramenya" ujar Jero yang baru kali ini terlihat norak seperti itu.


Felix kemudian memarkir mobilnya di depan mansion. Terlihat beberapa mobil mewah berwarna hitam dove parkir di lapangan parkir yang cukup luas. Plat nomor mobil itu sama semua KW.


"Plat mobilnya KW semua. Bener bener lah ini keluarga" ujar Jero.


Dua orang pengawal berjalan mendekat ke arah Jero dan Felix.


"Selamat malam Tuan Muda dari keluarga Edwardo. Nona muda sudah menunggu kedatangan kedua Tuan Muda di ruang makan" ujar salah satu pengawal.


Jero dan Felix mengikuti langkah kaki pengawal menuju ruang makan. Jarak dari pintu utama mansion dengan ruang makan lumayan jauh pula. Jero hanya bisa geleng geleng kepala melihat kemewahan rumah itu.


"Gue kira mansion kita paling mewah dan canggih serta semuanya di lakukan oleh mesin. Tengok mansion ini, lampu gantung kristalnya aja belinya nggak main main ini" ujar Jero kepada Felix saat mereka masih berjalan menuju ruang makan.


"Silahkan tunggu sebentar Tuan. Saya akan menyampaikan kepada Nona Muda kalau Tuan sudah berada di depan pintu ruang makan" ujar pengawal kepada Jero dan Felix.


Pengawal meminta mereka menunggu sebentar. Padahal pengawal tidak akan memberitahukan apa apa kepada Dina. Selama ini tidak ada satupun tamu yang diperlakukan seperti itu oleh pengawal.


Tetapi berita begitu cepat sampai ke mansion utama. Makanya semua pengawal kompak mengerjai Jero dan Felix dengan semua tingkah aneh mereka.


Pengawal memang masuk ke dalam ruang makan, tetapi dia tidak ada mengatakan apa apa kepada Dina. Pengawal hanya duduk dengan tenang dan bermain ponsel.


Saat dirasa pengawal sudah saatnya mereka mengakhiri prosedur aneh itu berjalan kelaur dari ruang makan.

__ADS_1


"Tuan muda Edwardo silahkan masuk ke dalam ruang makan. Nona muda kami sudah menunggu di sana" ujar pengawal meminta Jero dan Felix untuk masuk ke dalam ruang makan.


"Dina" ujar Jero ingin cepat menyelesaikan masalah saham perusahaan Edwardo yang turun drastis.


"Sabar Jero. Saya tau kenapa anda berdua susah susah untuk menemui saya. Tetapi perut saya sedang lapar, saya mau makan dulu bolehkan? Anda berdua juga silahkan makan kalau Anda lapar" ujar Dina yang sengaja mengulur ngulur waktu.


Dina ingin tahu sampai di batas mana kesabaran Jero dan Felix. Selama ini yang selalu sabar dan berusaha sabar adalah Dina, sedangkan Jero dan Felix adalah manusia yang pikir sekarang, laksanakan sekarang, untung rugi hitung kemudian.


Beberpa koki mengantarkan menu makan malam Dina. Felix melihat tingkah kekasihnya itu. Tingkah Dina sungguh luar biasa aneh. Tidak biasanya Dina melakukan hal ini. Felix sebenarnya ingin bertanya kepada pihak sekolah. Tapi, Felix tidak mau memperkeruh suasana, dia lebih memilih untuk diam.


Pelayan mengambilkan makan malam miliknya ke tas piring.


"Tuan muda Edwardo, silahkan ambil apa yang dimau. Tidak usah sungkan sungkan. Nikmati aja apa yang ada di depan mata" ujar Dina kepada Jero dan Felix.


Felix yang memang sudah laper, mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Jero akhirnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Felix. Jero juga merasakan lapar tak terhingga hari ini.


Mereka bertiga kemudian menyantap makan malam yang sudah disediakan oleh Dina untuk Jero dan Felix. Biasanya kalau dia tinggal sendirian, maka para pengawal dan para maid akan bergantian makan semeja dengan Dina. Kalau tidak maka Dina tidak akan makan sampai ada yang mau makan siang dengan dirinya.


"Ini benar benar enak Nona Dina, saya tidak pernah mencoba makanan seenak ini" ujar Jero berusaha untuk membuka percakapan dengan Dina.


"Ah biasa aja Tuan Jero. Lebih enak masakan di mansion keluarga Edwardo dari pada di sini" jawab Dina yang tidak mau dikatakan oleh orang lain kaya tapi sombong.


"Tidak Nona Dina, ini benar benar enak" lanjut Jero yang sama sekali tidak mau disalahkan kalau dia benar.


"Terserah Tuan Muda Edwardo saja" ujar Dina.


Para pelayan kemudian membersihkan ruang makan.


"Saya mandi bentar ya Tuan muda." ujar Dina berpamitan untuk membersihkan dirinya.


"Yah" ujar Jero dan Felix sambil bersandar ke meja bersih ini.

__ADS_1


__ADS_2