
"Mama Kiran, maafkan Anna," ucap gadis kecil itu sambil menundukkan kepalanya dengan dalam. Gadis kecil itu merasa sangat bersalah sekali. Saat melihat Kirana nampak kesakitan memegang perut besarnya itu. Duduknya bersandar pada sandaran kursi tunggu di pusat perbelanjaan itu.
Kirana mengusap pipi gembil itu dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Bukan salah Anna, ini dedek bayinya memang lagi nakal, mau ikut jalan-jalan tapi Mama Kirannya malah lelah," ucap Kirana pelan.
Anna mengangkat wajahnya dan kedua matanya berbinar indah.
"Mama Kiran jadi beneran tidak marah kan?" tanya Anna pelan sambil mengulum senyum di wajahnya.
Kirana menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Anna, Sini dekat Mama Kirana," ucap Kirana sambil merentangkan kedua tangannya memeluk Anna.
Fahad datang membeli minuman dan beberapa camilan, lalu memberikan kepada Kirana dan Anna.
"Masih sakit Kirana? Makanlah dulu," ucap Fahad sambil membuka beberapa kue dan makanan ringan lainnya.
"Terima kasih Fahad. Lumayan sudah tidak terasa keram lagi," ucap Kirana pelan masih mengusap lembut perutnya sambil berbicara pelan kepada anak ynag ada di dalam kandungannya.
"Besok kamu periksa, sudah waktunya kontrol itu. Jangan lupa ya," ucap Fahad tegas mengingatkan.
"Aku tidak apa-apa Fahad, jangan terlalu dipikirkan ya," ucap Kirana pelan.
Malam itu mereka bertiga memang terlihat seperti keluarga yang sempurna dan harmonis. Keluarga kecil yang lengkap dengan semua kebahagiaannya.
Kirana dan Anna begitu kompak di dalam taman bermain, tertawa dan berbahagia bersama. Fahad menatap keduanya dengan rasa haru dan penuh kebahagiaan.
Dalam hati Fahad, semua itu tidak ingin berakhir dan tidak ada yang harus diakhiri, kebahagiaan ini harus terus berjalan seiring keintiman mereka bersama.
"Sudah lelah?" tanya Kirana kepada Anna dengan napas sedikit terengah-engah.
"Bukan lelah tapi lapar," ucap Anna dengan sangat polos.
__ADS_1
"Kita cari makan malam, setelah itu kita pulang ya. Kita antar Mama Kirana ke rumahnya biar segera istirahat," ucap Fahad pelan.
"Kok, Mama Kirana pulang? Memang Mama Kirana mau pulang? Pulang kemana? Bukannya kita semua akan bersama-sama dirumah Nenek?" tanya Anna dengan polos.
Kirana menggelengkan kepalanya pelan.
"Mama Kiran harus pulang, kasihan Tante Maya, sendiri di rumah," ucap Kirana menjelaskan pelan.
"Kita makan yuk, nanti bahas pulangnya juga masih lama," ucap Fahad menengahi.
Anna kalau sudah meminta harus dituruti, tidak ada kata tidak. Fahad selalu memanjakan Anna dalam hal apapun. Tidak ada satu pun keinginan Anna yang terabaikan oleh Fahad. Kadang Ibu Mutia mengingatkan bila Fahad terlupa atau sibuk dengan kegiatannya. Hanya saja permintaan kali ini sangatlah berat. Anna menginginkan Kirana menjadi Mamanya selamanya.
Anna mengangguk pelan mendengar ucapan Fahad lalu menggandeng tangan Kirana dengan erat. Persis seperti ini dan anak yang sedang merajuk dan minta di pedulikan.
Sesampai di restoran favorit Anna. Anna hanya terdiam tidak berceloteh dengan lucunya seperti biasa. Ada yang membuat hatinya kembali kecewa dengan penolakan Kirana yang tidak bisa menginap di rumahnya.
"Anna mau pesan apa?" tanya Fahad pelan sambil menatap wajah kusut Anna.
Kirana sejak tadi asyik menatap buku menu dan semangat memilih, rasanya napsu makannya kembali baik dan menginginkan banyak makanan yang segera ingin dihabiskan. Sedikit mengabaikan Anna yang sejak tadi merasa tidak dipedulikan.
Kirana menoleh ke arah Anna dan memeluk gadis kecil yang ingin dimanja itu dengan erat.
"Kalau cemberut aja, nanti cantiknya hilang, dedek bayi juga tidak suka melihat Kak Anna cemberut. Mau makan apa?" tanua Kirana lembut sambil mengecup kepala Anna dengan penuh kasih sayang.
"Anna ingin makan tapi Mama Kirana berjanji untuk menginap malam ini di rumah," ucap gadis kecil itu pelan namun mengancam.
Kirana menatap lekat ke arah Anna dan mengendurkan pelukannya.
"Anna sayang, Mama Kirana belum bisa menginap di rumah Anna. Apa nanti kata orang ada tamu yang menginap?" tanya Kirana pelan sambil membuka pikiran Anna agar dapat memahami secara perlahan.
"Ya sudah, Anna juga tidak akan makan," tegas Anna sambil menyandarkan tubuh kecilnya di kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Kirana langsung menatap Fahad, ingin mencari solusi dari lelaki itu. Fahad sendiri hanya mengangkat bahunya pelan dan memasang wajah bingung.
__ADS_1
Kirana hanya menarik napas panjang dan menghembuskan napas itu perlahan.
"Baiklah, Mama Kirana akan menginap tetapi hanya untuk satu malam saja, tidak menambah waktu karena kedai Hapsa masih membutuhkan Mama Kirana untuk memasak. Anna paham?" tanya Kirana pelan.
Wajah Anna seketika langsung sumringah bahagia dan tersenyum lebar.
"Mama Kirana janji, dan tidak berbohong kan?" tanya anna memastikan. Dirinya memang anak-anak yang kerap kali sering dibohongi dan diberi janji palsu oleh para orang dewasa agar Anna tidak terus merajuk yang akhirnya hanya menambah rasa kecewa Anna.
Kirana tersenyum lebar dan mencubit gemas pipi gembil itu.
"Mama Kirana janji, Anna sayang. Tapi, sekarang makan yang banyak ya," ucap Kirana pelan memujuk Anna.
Anna pun langsung bersemangat dan mengangguk antusias kepalanya. Anna memilih beberapa makanan kesukaannya.
Malam itu sungguh berbeda dari malam biasanya. Semuanya terasa begitu mengalir bagaikan air yang mengalir di sungai. Tidak ada beban dan tidak direncanakan. Semua berjalan ala adanya sesuai rencana Allah SWT kepada hambanya.
Berbeda dengan Syakir yang merasakan kegundahan setelah melihat Kirana sore tadi. Hatinya kecewa dan menyesal sekali.
'Apa kamu sudah melupakan Mas, Kirana?' lirih Syakir di dalam kamar apartemen sambil menatap ke arah luar jendela.
Niat untuk memperbaiki hubungannya dengan Kirana dan ingin hidup bersama dan mendampingi Kirana yang sedang hamil tua. Tapi, jelas dengan mata kepala sendiri, Kirana sudah dengan yang lain dan begitu terlihat sangat harmonis dan intim.
'Bahkan Mas, belum menceraikan kamu, Kirana. Mengapa kamu tega melakukan itu. Kira baru saja berpisah jarak hanya beberapa bulan, dan dengan mudahnya kamu meninggalkan janji suci kita,' lirih Syakir sambil memukul-mukul punggung tangannya yang terkepal di dinding apartemen.
"Arghhhh .... " teriak Syakir dengan suara keras dan lantang.
"Kenapa ini semua harus terjadi padaku, Ya Allah!! Apa salah dan dosa ku sehingga kedua istrimu dengan mudahnya berbuat dosa besar, lalu aku sebagai suami harus menanggungnya?!!" ucap Syakir dengan keras.
Dirinya benar-benar kecewa tanpa alasan dan tanpa mengetahui kebenarannya. Emosi jiwa dan hasutan setan dalam tubuhnya sudah membuat akal sehatnya tidak berjalan dengan baik. Pikirannya seolah tertutup hingga tidak bisa berpikir dengan sangat jernih.
"Kenapa kamu begitu tega, KIRANA!!" teriak Syakir keras.
Jantungnya langsung berdegup dengan kencang dan seaakndi dadanya mulai terasa hingga napasnya pun terasa sangat memburu karena murka. Emosi yang tidak tertahankan betapa Syakir telah merindu istri dan anaknya tetapi berbeda dengan kenyataan yang dilihatnya.
__ADS_1
Seolah memang Kirana tidak pernah memikirkan Syakir apalagi merindu lelaki hebat itu.
"Mas bertahan demi kamu, Kirana hingga Fatima pun ikut rela berkorban demi kesembuhan Mas, namun Mas justru menyakiti tubuhnya dan hatinya. Apa yang yang ada dalam pikiranmu Kirana!!" teriak Syakir berulang kali.