Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku
BAB 49


__ADS_3

Deli melakukan panggilan video dengan Dian. Deli dengan sabar menunggu panggilannya diangkat oleh Dian. Setelah dua kali telpon masih tidak ada juga jawaban dari Dian.


"Loe kemana Dian" ujar Deli jengkel dengan Dian.


" Udah dua kali gue telpon elo, tapi nggak ada jawaban sama sekali" lanjut Deli mengomel sendirian.


Deli menghempaskan ponselnya ke atas sofa. Dia melihat ke kamar Dina. Pintu itu tertutup dengan sangat rapat.


Dian yang baru selesai dari kamar mandi melihat lampu notifikasi ponselnya menyala. Dian kemudian melihat ponsel miliknya.


"Deli nelpon dua kali? Ada apa coba?" ujar Dian menerka merka ada apa Deli munghubunginya.


Dian kemudian mencoba menghubungi Deli, Deli yang melamun menatap ke arah kamar Dina terkejut saat mendengar dering ponsel miliknya.


"Ini anak tadi orang nelpon ndak diangkat, sekarang dia yang nelpon." ujar Deli geleng geleng kepala melihat siapa nama yang menghubunginya.


Deli keludian mengangkat panggilan dari Dian.


"Hallo Dian, kemana aja loe, gue udah berkali kali menghubungi elo" ujar Deli meluapkan kekesalannya kepada Dian.


"Sorry Del, tadi gue sakit perut. Makanya nggak denger telpon dari elo. Ada apa loe nelpon gue berkali kali, sepertinya penting banget" ujar Dian yang sudah sangat hafal kebiasaan Deli dan Dina yang akan menelpon berkali kali kalau mereka rasa apa yang akan mereka katakan itu tergolong ke dalam hal yang penting.


"Penting banget kalau ndak gue nggak akan menghubungi elo berkali kali kayak gini" ujar Deli setengah kesal menjawab perkataan Dian.


"Oke oke jangan marah. Ada apa?" tanya Dian bertanya kepada Deli dengan nada serius.


"Dina sepertinya ada masalah dengan Felix. Tu sekarang dia berkurung diri di dalam kamar." ujar Deli memberitahukan keadaan Dina yang sekarang berada di dalam kamar sendirian.


"Kok bisa? Loe nggak kenapanya?" ujar Dian mulai terdengar panik saat mengetahui Dina sedang berkurung diri di dalam kamar.


"Pastinya gue nggak tau. Tapi, siang tadi tu, Dina dan Felix sempat bercengkrama membahas tentang kisah masa lalu keluarga Dina dan hukuman apa yang diberikan oleh Dina dan Juan kepada mereka yang telah menghabisi keluarga Dina" ujar Deli mulai menceritakan kepada Dian apa yang diketahui oleh dirinya.


"Menurut loe, Dina yang dengan sukarela bercerita atau Felix yang menginginkan Dina bercerita?" pertanyaan selanjutnya dari Dian.


Deli berpikir sesaat, dia tidak tau pasti siapa yang meminta terlebih dahulu.


"Gue nggak tau pasti siapa yang mintak duluan" ujar Deli menjawab pertanyaan Dian.


"Ini yang susah kalau Dian yang minat duluan bercerita makan Felix tidak salah untuk mengambil sikap diam. Tapi kalau Felix yang minta, dia salah mengambil sikap Diam." ujar Dian mengeluarkan pendapatnya.


"Sekarang bagaimana keadaan Dina?" tanya Dian yang teringat dengan kondisi sahabatnya itu.


"Masih dalam kamar. Gue nggak berani mengetuk pintu kamar." ujar Deli yang sangat tahu bagaimana keadaan Dina kalau dia sedang menahan marah dan kekesalannya.


"Kalau dia masih di dalam jangan ganggu dulu. Loe tau sendirilah gimana tu anak kalau sedang kesal. Apa lagi dalam keadaan seperti sekarang" ujar Dian mencegah Dina untuk mengganggu Dina.


"Jadi, gue harus gimana?" tanya Deli yang tidak tau harus berbuat apa terhadap Dina.


"Loe tenang aja dulu. Tunggu sampai Dina keluar kamar, baru loe ajak dia bicara."


Dian memberikan saran yang dirasanya pas untuk dilakukan oleh Deli saat ini.


Deli terdiam sejenak, dia kemudian berpikir jalan terbaik untuk dirinya menghadapi Dina yang sedang merajuk itu.


"Deli loe masih di sana kan ya?" tanya Dian kepada Deli yang diam saja dari tadi.


"Masih. Gue setuju dengan pendapat loe. Gue akan tunggu Dina keluar kamar, baru gue akan berbicara dengan dia. Kalau sekarang takutnya gue salah ngomong nanti" jawab Deli yang setuju dengan usul dari Dian.


"Oke sip sekarang loe tidur. Besok jam berapa loe terbang?" tanya Dian yang teringat kedua sahabatnya itu besok akan terbang kembali ke negara mereka.


"Kata Dina tadi jam delapan. Jadi kami harus chek out dari hotel jam tujuh" ujar Deli mengatakan jam keberangkatan mereka besok pagi.


"Apa perlu gue jemput elo?" tanya Dian yang tahu sahabatnya itu tidak akan mungkin menumpang pulang dengan Jero bosnya.


"Kalau loe nggak sibuk oke aja. Gue setuju aja loe jemput" kata Deli menjawab pertanyaan Dian.

__ADS_1


"Oke gue akan ke sana sekitar jam empat sore." ujar Dian.


"Sip, makasi sebelumnya" ujar Deli sambil tersenyum bahagia.


"Santai ajalah, kayak sama siapa aja" ujar Dian kepada Deli.


"Udah ah gue tidur dulu, terpaksa gue tidur pake dress makan malam." ujar Deli mengeluh dengan pakaian yang harus dikenakannya untuk beristirahat.


" Sudahlah pake dress, tidurnya di sofa lagi" ujar Dian membuat Deli makin kesal.


"Gimana lagi, pasrah aja" ujar Deli yang takut menganggu Dina yang sekarang dalam kondisi tidak baik baik saja.


"Udah sana tidur. Besok bangun subuh. Nanti loe ditinggal Dina lagi. Bisa berabe loe" ujar Dian mulai usil kepafa Deli.


"Yayaya yayaya. Gue tidur dulu. Gue nggak mau kena tinggal pesawat" jawab Deli.


Deli kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Dian. Dia kemudian memilih untuk memejamkan matanya. Dia tidur memakai dress saat makan malam tadi dan bonus tambahan dia harus tidur di sofa. Benar benar sebuah perjuangan yang cukup berat harus dilalui oleh Deli malam ini.


Dian kembali berbaring di atas ranjang besarnya. Dia kemudian melihat ke arah jam dinding kamar yang ternyata sudah menunjukkan angka dua.


"Yah kalau Deli nah palingan masih jam sebelas. Gue udah jam dua pagi. Mana jam lima harus bangun lagi. Nasib nasib punya sahabat nggak pake mikir waktu saat nelpon" ujar Dian ngedumel sendirian setelah selesai berbicara dengan Deli.


Dian kemudian menarik selimut kembali. Dia akan tidur selama tiga jam lagi. Karena jam lima sudah harus bangun dan bersiap siap untuk ke perusahaan. Dia ada meeting pagi hari ini.


................................................


Pagi harinya Dina bangun dari tidurnya yang nyenyak. Dia sama sekali tidak melihat Deli di sebelahnya. Alas tidur Deli masih dalam keadaan rapi.


"Kemana tu anak? Nggak mungkin dia udah bangun aja" ujar Dina saat melihat jam tangannya menunjukkan pukul empat dini hari.


Dina berjalan keluar kamar, dia bermaksud untuk menuju kamar mandi. Saat itulah Dina melihat Deli tidur di atas sofa depan televisi.


"Ngapain tu anak tidur di sofa?" ujar Dina sambil menatap kearah Deli.


Dina yang sudah tidak tahan lagi untuk mencurahkan perasaannya, langsung berlari menuju kamar mandi. Dia mencurahkan perasaannya terlebih dahulu sebelum berusaha membangunkan Deli.


"Apa?" tanya Deli kepada Dina yang telah membangunkan tidurnya yang terasa damai itu.


"Ngapain tidur sini?" tanya Dina.


"Emang loe nggak ingat apa yang terjadi?" ujar Deli bertanya balik kepada Dina.


"Ingat masak nggak. Ngapain loe nggak masuk aja, mau maunya tidur di sofa. Nggak pegel tuh badan panjang" ujar Dina menggoda Deli.


"Sana pindah ke kamar, masih ada lima jam lagi sebelum kita berangkat ke bandara"ujar Dina sambil menatap jam tangannya yang memperlihatkan kemewahan yang sesuai dengan harga jualnya.


Deli kemudian berjalan terhuyung huyung masuk ke dalam kamar. Dia benar benar mengantuk. Belum lagi pinggangnya yang sakit karena tidur di atas sofa.


Dina hanya bisa meminta maaf di dalam hatinya. Karena dia, Deli terpaksa harus tidur di atas sofa. Kalau dia tidak merajuk tadi malam, maka Deli tidak akan tidur di sofa malam ini.


Mereka berdua kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda karena Dina yang tersesak mau ke kamar mandi dan Deli yang pindah dari sofa ke atas ranjang.


....................................................................


Pagi harinya, Dina sudah bangun terlebih dahulu, dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dina bersenandung saat sedang di kamar mandi. Dia benar benar menikmati air yang mengguyur kepalanya sampai ke ujung kaki.


Setelah selesai mandi, Dina keluar kamar mandi. Dia membangunkan Deli yang masih terlelap itu.


Deli yang merasa badannya diguncang guncang oleh tangan yang basah mengucek matanya. Dia melihat Dina yang masih memakai handuk. Deli kemudian melihat jam tangannya, ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam.


"Loe udah siap mandi?" tanya Deli kepada Dina yang sedang memakai pakaian dalamnya.


"Udah. Sana mandi, mau ditinggal?" ujar Dina sambil tetap memakai pakaiannya.


"Ogah gue ditinggal" ujar Deli sambil bangun dari tidurnya dan mengambil handuk yang ada di atas pintu kamar mandi.

__ADS_1


Deli berlari menuju kamar mandi, dia tidak ingin ditinggal oleh Dina dan yang lainnya. Deli mandi dengan sangat cepat tidak sampai sepuluh menit Deli sudah selesai mandi.


"Hah tumben loe ligat mandinya?" tanya Dina melihat Deli yang telah selesai mandi.


"Hahahahaha. Gue takut ditinggal" ujar Deli yang bergegas memakai pakaiannya dan berhias.


Dia semakin gerak cepat saat memastikan Dina telah selesai memakai pakaian dan berhias.


Setelah selesai bersiap siap Deli dan Dina keluar dari kamar mereka. Mereka langsung menuju restoran tanpa singgah ke kamar Jero dan Felix. Deli sebenarnya ingin singgah tetapi Dina lurus saja tanpa singgah di kamar Felix, jadi ya Deli terpaksa mengikuti Dina.


Mereka berdua telah sampai di restoran. Deli dan Dina mengambil sarapan mereka. Tiba tiba saat Deli sedang mengambil makanan ponsel miliknya bergetar. Deli melihat Felix menghubungi nya.


"Din, gue ke sana bentar. Ada yang menghubungi gue" ujar Deli sambil berjalan ke ujung restoran.


Dina mengangguk, dia sedang dalam mode tidak perduli dengan siapapun.


"Hallo Tuan Jero, ada apa?" tanya Deli saat mengangkat panggilan dari Jero.


"Kalian berdua dimana?" tanya Felix kepada Deli.


"Kami sudah di restoran Tuan, ini sedang mengambil sarapan." jawab Deli.


"Oke kami ke sana sekarang" ujar Felix.


Felix memutuskan panggilannya dengan Deli. Felix dan Jero kemudian pergi menyusul Deli dan Dina menuju restoran untuk sarapan.


"Huf gue kemari susah" ujar Deli yang berada di posisi serba tidak enak.


Satu sisi Dina adalah sahabatnya yang selalu ada untuk dia. Sedangkan sisi yang lain ada Felix yang terhitung sebagai bosnya di kantor.


Deli menyusul Dina yang sudah duduk di sebuah meja yang berada di luar restoran.


"Felix yang nelpon tadi?" tanya Dina memastikan siapa yang menghubungi Deli barusan.


"Iya, dia nanyak kita dimana, gue jawab aja di restoran mau sarapan." ujar Deli memberitahukan kepada Dina apa yang ditanyakan oleh Felix kepada dirinya.


"Ooo" ujar Dina.


Dina tidak membahas apapun lagi, Deli juga tidak ingin membahas masalah Dina. Deli takut salah mengambil sikap, makanya dia memilih untuk diam saja.


Jero dan Felix masuk ke dalam restoran, mereka mengambil menu sarapan, setelah itu mereka mencari keberadaan Deli dan Dina.


"Mereka di sana" kata Jero yang melihat Deli dan Dina duduk di luar restoran.


Mereka berdua menuju Deli dan Dina.


Mereka berempat makan dalam diam. Felix sebenarnya ingin menyelesaikan masalah antara dirinya dengan Dina, tetapi melihat Dina dalam kondisi tidak ramah membuat Felux mengurungkan niatnya.


"Kami duluan" ujar Dina saat dirinya melihat Deli telah selesai makan.


"Yup. Kita bertemu di lobby hotel saja. Saya sudah meminta layanan antar ke bandara." ujar Jero memberitahukan kalau mereka akan pergi bersama sama menuju bandara.


Deli dan Dina kemudian kembali ke kamar mereka. Mereka akan mengambil barang barang milik mereka dan akan langsung melakukan chek out ke resepsionis.


Deli dan Dina kemudian mengambil barang barang mereka, mereka kemudian melakukan chek out, setelah itu Deli dan Dina menunggu Jero dan Felix di sofa yang ada di lobby.


"Sepertinya Dina bener bener marah sama loe . " ujar Jero sambil berjalan menuju resepsionis.


"Yup. Besok gue selesaikan. Gue nggak mau dia marah dan ninggalin gue" ujar Felix menjawab pertanyaan Jero.


"Biar gue aja yang chek out. Loe langsung aja ke mereka berdua" kata Jero meminta Felix untuk menuju ke tempat Dina dan Deli.


Felix menuju ke tempat Dina dan Deli. Ingin rasanya Felux menyapa kekasihnya itu. Tetapi saat melihat wajah Dina yang tidak bersahabat membuat Felix membatalkan niatnya.


Jero yang telah selesai melakukan chek out, kemudian menuju Felix.

__ADS_1


"Oke mobil sudah di teras lobby, mari kita pergi" ujar Jero memberitahukan mobil sudah menunggu mereka di teras lobby.


Mereka berempat kemudian menuju mobil yang telah menunggu. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak meninggalkan hotel menuju bandara.


__ADS_2